Bab 57

1071 Kata
Kedua mata itu terbuka ketika dirasakannya sesuatu yang basah terasa ditubuhnya. Airin menatap langit-langit kamarnya kenapa dia berada di sini? Kemudian memori di dalam kepalanya berputar ketika Airin tebangun di tengah malam. Semalam dia memutuskan untuk keluar kamar karena ia merasa tenggorokannya terasa kering kemudian ketika dia sedang meminum air Theo muncul sembari melayangkan tatapan aneh kepadanya. Mungkin lelaki itu merasa aneh tengah malam dirinya berada di dapur bukannya berada di dalam kamar. Setelah itu Airin dan Theo duduk berdua di ruang tamu dia menceritakan semua keluh kesahnya karena Theo bersedia mendengarkan ceritanya, dan dia memang menepati janjinya lelaki itu tidak memotong perkataan Airin atau pun menasehatinya. Theo benar-benar bisa menjadi pendengar yang baik. Airin memegang erat kepalanya ketika dia gagal mengingat kejadian setelahnya. Dia ingat! Setelah itu dia tertidur di sofa hanya saja kenapa besoknya dia bangun di kamarnya? Siapa yang memindahkannya? Bukan Theo kan? Semalam dia dan Theo tidak melakukan hal yang aneh kan? Daripada dia terus memikirkan hal yang tidak pasti dia akan bertanya kepada Theo nanti akan tetapi sebelum itu dia harus mengurus Marvel yang berhasil mengompol di atas kasurnya. “Sayang, bangun. Hari ini Marvel sekolah kan?” tanya Airin sambil mengelus kepala Marvel dengan lembut. Marvel hanya menggeliat dan kedua matanya terbuka karena terkejut menyadari dirinya mmengompol di atas kasur. “Tante Marvel ngompol ya?” Marvel memasang wajah ingin menangis dia takut membuat Airin marah dan kembali menjauh seperti kemarin-kemarin. Airin tersenyum simpul. “Iya, makanya sekarang Marvel bangun dan mandi. Marvel juga harus sekolah, kalau terlambat bisa membuat Ibu guru marah. Marvel nggak mau kan dimarahi sama Ibu guru?” Marvel menggelengkan kepalanya. “Tante nggak marah kan sama Marvel?” Airin menganggukkan kepalanya. “Nggak dong,” ujarnya sambil menggendong Marvel kemudian mencium anak itu dengan rasa sayang yang melimpah. “Kalau Tante Marah, Tante nggak akan cium kamu.” Marvel tersenyum lebar dan mengeratkan pelukan Airin. Marvel sangat senang karena mempunyai Tante yang sangat baik seperti Airin berbeda dengan teman-teman Marvel yang selalu dimarahi ketika berbuat satu kesalahan. Setelah selesai membersihkan dirinya dan Marvel, Airin turun dan di sana semua orang sudah berada di kursi masing-masing. Menu masakan kali ini hanya ayam goreng, sepertinya Endang sedang dalam mode tidak baik makanya tidak ada makanan lain selain ayam goreng. Airin terus saja memikirkan kejadian semalam, kedua mata cokelatnya menatap Theo yang masih setia menyantap masakan Endang. Sebelum dia berangkat bekerja Airin harus mengetahui kejadian apa yang sudah dia lakukan bersama dengan Theo. “Kak Theo bisa bicara sebentar?” tanya Airin membuat semua orang yang ada di sana terdiam dan wanita itu berhasil menjadi pusat perhatian satu keluarganya. Airin lantas berdiri dan berjalan ke belakang rumah disusul oleh Theo yang sudah menyelesaikan sarapan paginya. “Ada apa Rin?” Airin tidak suka berbasa-basi. “Pagi ini kenapa aku terbangung di kamar aku? Masalahnya semalam aku kan sibuk curhat ke Kak Theo lantas nggak mungkin kan aku tiba-tiba tidur di kamar akau sendiri?” Mendengar perkataan itu membuat Theo tertawa terbahak-bahak. Kedua matanya menyipit karena bahagia melihat Airin dalam jarak yang cukup dekat. “Semalam kamu tidur sambil jalan, untung saja ada aku jadi kamu sampai ke kamar dalam keadaan selamat.” Airin terdiam bahkan dia menatap Theo dengan pandangan tidak percaya, benarkah dia melakukan itu semua? Dari kecil sampai sekarang kedua orangtuanya dan Tendi tidak pernah menceritakan kebiasaan tidurnya yang suka berjalan ketika tidur. “Kakak berbohong ya? Mana mungkin aku berjalan ketika tidur. Tendi juga tidak pernah bercerita tentang kebiasaan tidur aku yang seperti itu.” Nada bicara Airin kentara sekali bahwa dia tidak pernah setuju dengan semua perkataan Theo. “Yaudah kalau nggak percaya, aku lo yang lihat kamu berjalan sambil tidur,” ujar Theo sambil meninggalkan Airin di halaman belakang rumah. Dia takut jika semakin Airin mendesaknya lelaki itu akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada wanita itu. Sepanjang perjalanan Theo tidak membuka suaranya kedua matanya fokus menatao jalanan hanya suara Marvel lah yang terdengar di dalam mobil itu kadang Airin akan menjawab perkataan anak itu mungkin tidak tega membiarkan Marvel berbicara sendiri. Theo memberhentikan mobilnya di depan kantor Airin, kedua matanya melotot ketika melihat Revan berjalan berdampingan bersama dengan Luna. “Revan udah punya pacar?” tanya Theo kepada Airin. Airin yang sudah membuka sabuk pengamannya menatap Theo dan kedua matanya mengikuti arah tatapan Theo yang menuju Revan dan Luna. “Bukan, itu teman kerja kita namanya Luna tapi nggak tahu juga mereka udah jadian atau belu setahu aku sih Luna suka sama Revan.” Theo menganggukkan kepalanya. “Dan Revan suka sama kamu.” Perkataan itu berhasil membuat Airin terdiam. Apakah Theo juga menyadari tingkah Revan yang sangat aneh akhir-akhir ini? Berarti ia tidak salah menganggap bahawa setelah kematian Tendi cowok itu sedikit berubah. “Om Revan nggak boleh suka sama Tante Airin yang boleh suka sama Tante hanya aku,” ujar Marvel sambil tersenyum dan memeluk Airin. Theo mengacak-acak rambut anaknya dan mengangkat anak itu dari pangkuan Airin kemudian memindahkannya untuk duduk di bangku depan. “Tante Airin mau bekerja, jadi kamu nggak boleh tahan dia terlalu lama di dalam mobil, kalau Tante Airin telat dia akan dimarahi sama atasannya.” Marvel menganggukkan kepalanya dan Airin hanya tersenyum sambil mendekatkan wajahnya untuk mencium kening Marvel. “Tante bekerja dulu ya, belajar yang giat Marvel biar kamu jadi anak yang pintar, amin.” Setelah Airin keluar mobil yang dikendari oleh Theo menjauh dari sana dan pergi menuju tempat belajar Marvel. Endang sedang ada urusan mendadak makanya ibunya tidak bisa menemani Marvel untuk sekolah. “Fer, tolong kamu jadwalkan rapat dengan tim marketing, saya merasa kecewa karena target bulan ini tidak tercapai,” kata Theo yang sedang berada di kantin sekolah Marvel. Sembari menemani anaknya sekolah dia juga menyempatkan untuk bekerja. “Siap Pak.” Theo kembali membaca laporan bulan ini yang ada di dalam gadgetnya. Dia sangat kecewa dan tidak bisa menyalahkan siapa pun bahwa target jual properti bulan ini sangat anjlok dari biasanya. Mungkin strategi yang salah yang membuat angka penjualan menurun. “Pokoknya kalau ada apa-apa kamu harus menghubungi saya.” Feronika mengangguk paham. Semenjak Theo ada di Indonesia sekertarisnya itu selalu melaporkan semuanya dan tidak ada yang pernah dia tutupi. Theo menutup laptopnya dan bergegas untuk kembali duduk di depan kelas Marvel, hanya saja ketika laki-laki itu berjalan ada seseorang yang menabraknya. “Ibu tidak apa-apa? Maafkan saya karena membuat Ibu terjatuh,” ucap Theo karena wanita itu sampai terjatuh setelah dia bertabrakan dengannya. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN