“Maaf ya Pak saya jadi pinjam baju Pak Theo, solanya baju saya basah dan kebetulan sekali saya memakai baju berwarna putih dan membuat isi dalam baju saya kelihatan.”
Theo tersenyum lebar mendengar perkataan frontal yang dikeluarkan oleh gadis yang ada di hadapannya. Bisa ia tebak jika gadis ini masih berkepala dua karena terlihat dari gaya berpakaian yang terlihat modis dan warna rambut yang di warnai dengan warna pink. Gadis ini adalah satu-satunya wanita yang bertenampilan sangat mencolok seperti ini.
“Bapak Daddy nya Marvel kan?” tanya gadis itu kepada Theo.
Theo menganggukkan kepalanya. Kemudian melirik gadis itu dengan tatapan penasaran. “Kamu kenapa kenal sama anak saya?”
Gadis itu tertawa memamerkan giginya yang dibehel berwarna pink senada dengan rambut pendeknya. “Saya itu wali kelasnya Marvel. Pak Theo pasti nggak akan tahu karena dari awal masuk Bu Endang yang selalu mengantar dan menjemput Marvel.”
Theo menganga tidak percaya. “Serius?”
“Kenapa? Bapak ngggak pecaya karena tampilan saya yang kayak begini kan?”
Theo menggelengkan kepalanya. “Bukan, saya kira kamu sedang menunggu keponakan yang sedang belajar. Dandanan kamu berhasil menipu saya,” ujar Theo sambil terkekeh pelan dia tidak menyangkan wali kelas Marvel bisa berdandan nyentrik seperti ini.
“Jarang loh ada guru warna rambutnya pink, kayaknya kamu satu-satunya soalnya saya tidak pernah menyangka bahwa kamu itu seorang guru.”
Gadis itu tertawa kemudian menatap Theo dengan lekat. “Perkenalkan nama saya Lusia Tama Bapak bisa panggil saya Lusi, saya wali kelas Marvel dan soal dandanan saya sebenarnya tidak ada yang pernah mengatakan jika seorang guru rambutnya tidak boleh berwarna pink,” ujar Lusi dan berjalan meninggalkan Theo yang terdiam mendengar perkataan wali kelas anaknya itu.
Marvel dengan antusias keluar dari kelasnya sambil membawa pesawat yang terbuat dari kertas lipat. Dia berjalan dengan langkah cepat menuju kepada Daddynya. “Daddy! Lihat Marvel buat apa.”
Theo tersenyum simpul ketika melihat Marvel membawa pesawat yang dibuat dari kertas origami. Anak itu naik kepangkuan Theo dan dia tersenyum lebar.
“Dady hari ini kita jadi kan jemput Tante bersama-sama?” tanya Marvel dan dibalasa anggukan kepala oleh Theo.
“Marvel udah mau pulang?” Lusi keluar dari kelas dan menghampiri Theo dan Marvel.
Marvel menganggukkan kepalanya tangannya menggenggam erat tangan Theo memintanya agar digendong oleh Daddynya. Merasakan hal itu Theo langsung mengerti dan menggendong Marvel sambil mengelus rambutnya.
“Boleh saya numpang sebentar? Kebetulan mobil saya ada di bengkel depan dan sayangnya dari tadi ojol nggak ada yang mau anterin saya. Boleh kan Pak?”
“Boleh,” jawab Theo dengan santai. Dia tidak mungkin tidak memberikan pertolongan kepada wali kelas anaknya sendiri.
Theo, Marvel dan Lusi pun berjalan menuju tempat parkir mobil di dalam mobil sesekali Lusi mengajak Marvel berbicara atau pun menyanyi lagu anak-anak yang sangat disukai oleh anaknya. Suasana di dalam mobil pun sangat ramai seperti ketika bersama dengan Airin.
Sampai di bengkel depan Theo memutuskan untuk melihat keadaan Lusi terlebih dahulu jika mobilnya sudah bisa ditumpangi maka dia akan meninggalkannya jika tidak dia akan mengantarkannya ke rumah gadis itu.
“Lusi,” teriak Theo dari dalam mobil ketika melihat gadis itu keluar dari dalam bengkel tanpa mengemudikan mobilnya.
Lusi berlari mendekati Theo yang ada di sebrang jalan. “Pak Theo belum pulang?” tanya Lusi karena ia kira Theo duah pulang ke rumahnya.
“Mobil kamu gimana?”
“Belum selesai, makanya saya mau naik taxi.”
“Saya antar kamu ke rumah. Tunggu taxi lama, apalagi cuaca sudah mendung seperti ini,” jelas Theo sambil memandang ke atas, langit sudah menunjukkan tanda-tanda akan hujan apalagi angin sudah berhembus dengan kencang.
Lusi tersenyum simpul dan menganggukkan kepala. “Makasih Pak.”
Airin terdiam ketika Revan membelikannya satu mangkuk mie goreng dan es amercano kesukaannya. Lelaki itu memamerkan giginya sambil menatap lekat kepadanya. “Ini sebagai permintaan maaf gue karena udah bikin keributtan di rumah lo. Gue janji gu nggak akan kayak gitu lagi.”
Airin membalas tatapan Revan. “Janji?” tanya wanita itu dengan pandangan serius.
Revan menganggukkan kepala. “Janji,” jawabnya dengan serius kali ini dia akan main dengan aman, tanpa membuat Airin kesal kepadanya. Dia akan belajar untuk bisa menahan emosinya agar wanita itu merasa jika dia adalah laki-laki yang baik.
Mendengar jawaban dari Revan membuat Airin tersenyum dan memakan mie goreng yang ada di hadapannya. Ketika makan wanita itu teringat sesuatu. “Luna jadi sewa apartemen kamu?”
“Jadi, lumayanlah uangnya buat traktir kamu Rin.”
“Kenapa aku?” tanya Airin.
Revan terkekeh, “Biar bisa traktir kamu makan gratis Rin. Kamu sebut aja mau makan di mana, atau mau barang apa nanti aku pasti belikan.”
“Beneran?” tanya Airin dengan antusias.
Revan menganggukkan kepalanya. “Asalkan Airin menjauh dari Marvel dan Theo dia akan memberikan semua yang diinginkan oleh waita itu,” ucapnya dalam hati.
“Asalkan Lo nggak ketus sama gue, gue akan kasih apa pun yang lo mau.”
Revan dan Airin sudah baikan seperti dahulu, teman-temannya di kantor sudah biasa melihat mereka yang kadang bertengkar dan beberapa hari kemudian akan kembali akur seperti adik dan kakak. Tanda-tanda mereka sudah baikkan adalah Airin yang meminta bantuan kepada Revan.
“Van lo bisa nggak telepon pihak gudang biar cepet laporan persediaan barang ke gue?”
Revan menganggukkan kepalanya dan segera menghubungi pihak gudang melalui telepon kantor. Akhir bulan sudah beberapa hari lagi dan dia harus segera melaporkan laporan bulan ini kepada Pak Ahmad, jika terlambat maka dia harus lembur bahkan bisa kena omelannya karena tidak bisa mengerjakan laporan tepat waktu.
Setelah Revan selesai berbincang dengan pihak gudang, Airin menerima email yang berisi data persediaan gudang bulan ini. “Makasih Van,” ujar Airin sambil terseyum simpul.
Sebenarnya Airin bisa melakukannya sendiri hanya saja kepalanya sudah pening dan emosinya sedang naik dia takut akan memarahi rekan kerjanya dan membuat mereka sakit hati, maka dari itu dia menyuruh Revan karena lelaki itu emosinya sedang biasa saja.
“Santai Rin,” jawab Revan dengan tatapan lembut. Jika saja yang ada dihadapannya Luna maka gadis itu akan meleleh bahkan tidak bisa fokus bekerja sayangnya ini Airin dan wanita itu sangat sulit menyadari jika Revan sangat mencintainya.
Luna berdecak kesal melihat Revan dan Airin kembali seperti semula padahal dia sangat senang ketika mereka berdua tidak saling sapa seperti kemarin. Bahkan dia berharap Airin selamanya akan jutek kepada Revan dan membuat lelaki itu sadar Airin tidak mencintainya jika seperti itu Revan akan mencari wanita lain yang jelas akan mencintainya dengan tulus.
**