Bab 59

1086 Kata
“Tante, kenapa rambut Tante Airin nggak berwarna pink?” tanya Marvel ketika dia dan Airin sedang duduk di sofa ruang tamu sambil mengajarkan anak itu mewarnai gambar rumah.” “Karena dari lahir warna rambut Tante Airin itu hitam, Tante juga nggak ada keinginan untuk rubah warna rambut. Memangnya siapa yang rambutnya pink?” Airin menghentikan kegiatan menyerut pensil warna milik Marvel dan menatap anak itu dengan lekat. “Ibu guru Marvel warna rambutnya pink, katanya dari lahir udah kayak begitu. Terus juga tadi guru Marvel diantar sampai ke rumah sama Daddy.” Endang yang ada di sebelah Airin menghentikan acara makan apel manisnya dan memasang wajah serius sambil menatap cucunya. “Kenapa Daddy nya Marvel nganterin Ibu guru?” Endang tidak terima jika Theo berpaling dari Airin. “Nggak tahu,” ucap polos Marvel berhasil membuat emosi Endang naik. Apakah Theo sudah menyerah mengejar Airin dan memilih untuk mencari yang lain?” “Ibu, kopi yang aku beli kemarin di simpan di mana?” Theo muncul setelah membersihkan tubuhnya dia berjalan ke dapur sambil mencari kopi yang baru saja dia beli. “Theo kamu tadi anterin ibu gurunya Marvel?” Endang tidak mau jika Airin menjadi salah paham dan berpikiran bahwa Theo mulai tertarik kepada wanita lain. “Oh, wali kelasnya Marvel Bu, mobilnya mogok makanya Theo anterin ke rumahnya,” jawab Theo sambil kembali mencari kopi miliknya. “Ibu, kopi Theo mana. Ibu simpan di mana?” tanya Theo dengan mendekat kepada Endang karena kesal pertanyaan mengenai kopinya yang disimpan di mana tidak dijawab. Endang kembali menatap Marvel yang masih semangat mewarnai. “Marvel, benar mobil Ibu gurunya Marvel mogok?” Marvel terdiam kemudian menatap Endang. Dia berusaha mengingat kembali kejadia tadi siang. “Mobilnya Ibu guru Marvel mogok dan katanya lagi dibenerin di bengkel, terus Daddy antar ke rumahnya karena kata Daddy udah mau hujan.” Mendengar hal itu Airin hanya tersenyum simpul dan bahagia karena Theo sangat baik kepada semua orang. Dulu juga almarhum Tendi sangat baik kepada semua orang mungkin karena mereka adik dan kakak jadi sifat mereka berdua hampir sama. “Ibu kopi Theo di simpan di mana?” Theo sampai di sebelah Endang dan terkejut ketika melihat ekspresi wajah jutek yang dipasang oleh Ibu kandungnya. “Cari sendiri! Itu kan kopi kamu bukan kopi Ibu! Kenapa tanya ke ibu?” Airin kaget mendengar Endang marah seperti itu. Bahkan semua yang ada di ruang tamu mendadak mengunci mulutnya karena takut menjadi sasaran amarah Endang. Theo menatap Airin seperti bertanya apa salahnya dan Airin hanya menggelengkan kepala karena ia juga tidak mengetahui apa alasannya. Setelah Endang masuk ke dalam kamar, Bakti keluar sambil berjalan dengan wajah penuh dengan pertanyaan. “Kamu apain Ibu kamu sampai dia kayak begitu?” tanya Bakti menatap Theo dengan tatapan bertanya. “Nggak tahu, Theo cuma tanya kopi yang tadi Theo beli di simpan di mana, eh malah kayak begitu.” “Ayah diusir dari kamar?” sambung Theo sambil terkekeh pelan. “Gara-gara kamu!” Paginya Endang masih tidak menghiraukan Theo malahan sedari tadi dia tidak mengajak bicara anak laki-laki satu-satunya itu. Membuat Theo mati kutu karena diabaikan oleh Endang. “Marvel, hari ini Tante Airin berangkat kerjanya nggak bisa diantar sama Marvel ya. Tante harus rapat dan tempatnya bukan di kantor,” ujar Airin dengan nada kecewa, wanita itu sangat suka ketika Marvel semangat mengantarnya bekerja. Theo yang mendengarkan hal itu menghentikan kegiatan memakan ayam goreng miliknya, kedua matanya menatap Airin yang sedang fokus berbicara kepada Marvel. Kenapa mendadak semua orang menjadi seperti ini kepadanya? Kemarin dia salah apa sih? Ibunya mendadak jadi dingin seperti ini lalu Airin mulai kembali seperti kemarin menolak untuk dia antar. Marvel mengangguk lesu, dia tidak mengerti dengan semua yang diucapkan oleh Airin yang dia tahu dia tidak bisa mengantar Tante kesayangannya bekerja dan itu membuat dia bersedih. “Rapat di mana Rin?” tanya Endang. “Rapat di kantor cabang Bu, kebetulan direkturnya lagi kunjungan ke sana makanya Airin dan Pak Ahmad harus ke sana,” jelas Airin dan membuat Endang mengangguk mengerti. Endang memasang wajah lembutnya dan menatap Marvel yang sedang menunduk lesu. “Marvel kan bisa ketemu lagi sama Tante Airin, kalau rekan kerjanya Tante Airin bisanya ketemu sekarang jadi Marvel jangan sedih ya.” Marvel menganggukkan kepala. “Tapi Tante janji nanti malam harus temani aku mewarnai lagi.” “Pasti,” jawab Airin dengan sungguh-sungguh, dia juga sangat menyukai ketika anak itu belajar bersama dengannya. Setelah semuanya berangkat Endang memutuskan untuk kembali ke kamarnya, berbaring di atas kasur sampai jam dua belas lalu menyiapkan makan siang untuk cucu dan anaknya. Bakti selalu makan diluar karena dia harus lekas kembali bekerja. “Bu.” Endang menatap ke pintu yang memperlihatkan Theo yang sedang berdiri di sana. Lelaki itu berjalan pelan menuju Endang dan duduk diatas kasur. “Ibu, Theo ada salah sama Ibu?” tanya Theo pelan, dia dari semalam sangat penasaran kenapa Endang mendadak marah kepadanya. Endang menatap Theo dengan pandangan serius. “Kamu itu cinta nggak sama Airin?” Theo terdiam kemudian menganggukkan kepalanya. Kenapa ibunya bertanya tentang hal itu? “Kenapa Ibu tanya hal itu?” “Semalam Airin tahu tentang kamu yang antar Ibu gurunya Marvel ke rumahnya. Sudah bisa dipastikan karena semalam Airin jadi nggak mau kamu antar ke kantornya. Dia jaga jarak sama kamu karena takut pacar baru kamu itu cemburu.” Penjelasan Endang membuat Theo mengerutkan kedua alisnya karena tidak mengerti dengan perkataan ibunya. Dia hanya mengantarkan Lusi ke rumahnya bukan b******a dengannya. “Ibu, Airin nggak mungkin menjauh karena aku antar ibu guru Marvel ke rumahnya. Nggak masuk akal bu.” “Kamu memangnya tahu isi hati Airin? Kamu itu laki-laki yang lebih tahu perasaan Airin itu Ibu, kita sama-sama perempuan dan tahu bagaimana perasaan satu sama lain.” Theo tidak menjawab perkataan Ibunya. Dia masih tidak percaya karena hal itu Airin jadi menjauh darinya. Wanita itu tidak mau dia antar karena ada rapat mendadak bukan karena dia mengantar Lusi ke rumahnya. Theo Rin, kamu hari ini pulang sore? Airin membaca pesan itu sambil meminum teh kotak dingin pembelian Revan. Dia duduk di ruang tunggu sembari membalas pesan dari Theo. Airin Hari ini hanya rapat aja Kak. Aku bisa pulang cepat. Ada apa? Theo Marvel mau ditemani sama kamu beli mainan boleh? Airin tersenyum saat mengetahui Marvel ingin ditemani untuk membeli mainan. Dia dengan cepat membalas pesan itu. Airin Boleh Kak :) Theo tersenyum simpul membaca balasan dari Airin, dia akan mencari tahu apakah Airin menjauhinya gara-gara dia mengantar Lusi atau malahan tidak sama sekali. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN