Kali ini Airin menepati janjinya, dia pulang jam dua kebih awal dari biasanya. Setelah rapat selesai dia langsung pulang ke rumah yang lain juga seperti itu makanya dia berani melakukannya jika Pak Ahmad kembali lagi ke kantor dia juga akan pulang ke kantor bukan ke rumahnya. Wanita itu membuka pintu utama dan tersenyum simpl ketik mendengar celotehan Marvel yang sangat ramai di dalam rumah.
Marvel membulatkan kedua matanya ketika melihat Airin ada di hadapannya, dia sangat senang karena basanya Tante kesayangannya akan pulang ketika langit sudah malam. Marvel berlari ke arah Airin dan memluknya dengan erat.
“Marvel senang banget karena hari ini Marvel jadi berangkat beli mainan sama Tante Airin, biasanya kan Tante sibuk kerja.”
Airin terkekeh mendengarnya kemudian menggendong Marvel dan berjalan menuju dapur yang di sana ada Endang sedang menyiapkan makanan. “Rin, biasanya setelah rapat suka langsung ke kantor. Kenapa hari ini bisa langsung pulang?”
“Pak Ahmad ada keperluan jadi dia langsung pulang. Karena itu aku bisa pulang cepet,” ujarnya sambil terkekeh pelan.
Endang sudah membuatkan teh untuk Airin dan menyajikannya dengan cantik di hadapannya. “Cobain Rin, kata temen Ibu teh ini enak sekali makanya Ibu beli.”
Airin menganggukkan kepalanya dan tersenyum simpul ketika merasakan rasa teh yang ada di mulutnya. “Enak Bu, seperti ada bunga bermekarang di dalam mulut Airin.”
Endang tersenyum senang ketika mendengar pujian itu. “Berarti benaar kata teman Ibu, Ibu nggak mneyesal deh udah beli banyak.”
Airin hanya terkekeh pelan kemudian memberikan teh itu sedikit kepada Marvel yang sedari tadi melihatnya meminum teh itu. “Gimana enak?”
Marvel menganggukkan kepalanya dan memamerkan giginya yang sudah tidak lengkap. “Enak.”
Airin dan Endang terkekeh karena melihat wajah lucu Marvel ketika meminum teh itu. Setelah itu Theo datang sambil sibuk menjawab telepon dari kantor. Sudut bibirnya tertarik ketika melihat Airin sudah ada di rumah. Lelaki itu langsung menutup sambungan teleponnya dan bergabung bersama Endang dan Airin.
“Berarti hari ini jadi Rin pergi ke mall?” tanya Theo setelah meneguk teh yang disiapkan Endang untuknya.
“Enak Bu,” komentarnya untuk teh yang dibuat oleh Endang. Ibunya tersenyum senang dan merasa bahagia menerima pujian dari anaknya.
“Jadi Kak. Aku mandi dulu ya.” Airin menurunkan Marvel agar duduk sendirian di kursi. Dia mencium kening anak itu dan pergi meninggalkannya.
Marvel tidak berkomentar apa-apa karena memang Airin dan Theo sudah berjanji akan mengajaknya pergi ke mall. Bahkan Marvel dan Theo sudah mandi dan bersiap duluan sebelum Airin datang agar jika wanita itu datang mereka sudah siap dan hanya perlu menunggu Airin bersiap.
Revan merasa bosan tinggal di rumah ini sendirian, padahal bayangannya jika rumah dia berdekatan dengan rumah Airin sahabatnya itu akan selalu datang ke sini. Faktanya tidak, malahan Airin akan berkunjung jika teman-teman kantornya datang kemari.
Revan menghela napas kesal ketika melihat ponsel pintarnya dipenuhi oleh pesan dari Luna, kenapa malah gadis itu yang sangat bergebu-gebu mendekatinya? Kenapa bukan Airin? Revan juga tidak mengerti dengan dunia ini.
Pandu
Van, gue ada temen cewek yang masih jomblo. Lo mau kenalan nggak sama dia? Kalau mau kita janjian di mall.
Revan mengernyitkan dahinya, kenapa Pandu sangat bergebu-gebu mencarikannya jodoh untuknya. Dia hanya ingin Airin tidak yang lain.
Revan
Nggak.
Pandu
Yaudah, kalau nggak mau datang ke mall. Gue ada uang lebih dan ingin traktir lo makan.
Membaca pesan dari Pandu membuat Revan tersenyum simpul, dia juga sudah bosan sendirian di rumah tanpa ragu Revan menjawab oke kepada Pandu dan segera membawa kunci mobil miliknya. Hari ini dia akan bersenang-senang sedikit melupakan masalah percintaanya dengan Airin.
Pandu membawanya makan ke restoran jepang. Memesan ramen paling pedas agar bisa membangkitkan semangatnya dan menyembuhkan rasa pening di kepala Revan.
“Lo ada angin apa traktir gue? Biasanya gue terus yang traktir lo,” ujar Revan sambi menunggu ramen yang dipesannya datang.
“Kepala gue mau pecah mikirin kerjaan. Apa gue pindah haluan jadi Youtuber? Akhir-akhir ini banyak banget yang hidup senang dari uang Youtube.”
Revan tertawa mendengar perkataan Pandu. “Nggak segampang itulah Ndu. Youtuber terkenal juga bisa seterkenal itu harus menunggu tiga atau satu tahun. Paling cepat itu satu tahun sih, itu juga kalau artis. Rakyat biasa kayak kita itu minimal tiga tahun.”
“Ada masalah apa sih Ndu?” tanya Revan.
“Gue capek banget jadi wakil direktur. Apalagi keputusan gue nggak pernah ada yang mendengar. Lo tahu sendiri kan gimana hubungan gue sama kakak gue?”
“Padahal kita itu satu bapak. Cuma beda ibu doang tapi membuat dia kesal banget sama gue. Gue juga nggak paham sama isi kepala dia.”
“Kenapa lo nggak keluar aja dari perusahaan itu dan mendirikan perusahaan baru? Menurut gue lo jago banget dalam pemasaran dan akhir-akhir ini banyak banget kan artis yang buka toko sendiri? Kenapa lo nggak dagang aja?”
“Lo kan suka sablon kaos, dan menurut gue sablon yang dari lo itu bagus banget. Nggak mudah luntur dan tahan lama. Kenapa nggak coba itu aja?”
Pandu tersenyum senang karena mendapatkan pencerahan dari sahabatnya. Dia bahkan tidak punya ide yang mengarah ke sana.
“Tapi jangan langsung keluar dari perusahan bapak lo. Sebelum perusahaan lo menghasilkan duit yang bisa menampung semua biaaya hidup lo, lo harus tetap jadi wakil direktur di sana. Nah, setelah kira-kira perusahaan lo ada tanda-tanda menguntungkan baru lo keluar dan hidup sendiri,” sambung Revan sambil mengaduk ramennya yang sudah datang.
“Ide lo memang menakjubkan Van. Thanks.”
Revan tersenyum dan memakan ramen itu. Kepalanya terasa kembali segar ketika merasakan pedas yang ada di dalam makannya. Pedas memang cocok dimakan ketika kepala sedang pening atau perasaan dalam keadaan buruk.
“Van, bukannya itu Airin?” tunjuk Pandu ke arah belakang Revan, di sana ada Airin yang sedang tertawa bersama dengan Marvel.
Revan merasa terbakar cemburu melihat mereka bertiga yang terlihat seperti keluarga bahagia. Dia memnghentikan makannya dan memutuskan untuk berdiri serta membawa mangkuk ramennya bersama dengannya.
“Sorry Ndu, gue nggak bisa sampai selesai makan sama lo. Gue harus memperjuangkan cinta gue sampai titik darah penghabisa,” ucap Revan dan berjalan mendekati Airin.
“Rin,” sapa Revan dan membuat wanita itu tersenyum lebar karena bisa bertemu dengan sahabatnya di restoran.
“Sama siapa Van? Sendirian?” tanya Airin sambil menggeserkan duduknya agar revan bisa duduk.
“Sama pandu. Gue boleh gabung di sini kan?”
Airin menganggukkan kepalanya. “Boleh dong. Pandu juga ajak makan di sini Van biar ramai.”
Revan tersenyum simpul kemudian memanggil Pandu. Theo hanya terdiam sambil menatap tingkah laku Revan. Jika Theo yang melihat Revan duluan dia akan pindah tempat makan dan memilih makan di tempat yang lain.
***