Bab 61

1102 Kata
mmSetelah selesai makan bersama, Revan terus saja mengikuti Airin, Theo dan Marvel. Sekarang lelaki itu sedang melihat-lihat mainan kaena Marvel ingin sekali membeli mainan. Sepertinya tujuan Airin ke mall juga karena wanita itu ingin membelikan anak itu mainan. “Setelah ini mau ke mana Rin?” tanya Revan ketika mereka sudah berada di luar toko mainan. “Pulang Van,” jawab Airin dia melirik Revan dan Pandu yang masih mengikuti mereka. “Kalian janjian sama Luna?” tanya Airin sambil menatap Luna yang berjalan menuju kearahnya. Revan berbalik dan mengikuti arah pandang Airin. dia membulatkan kedua matanya ketika meliihat Luna berada di sini. Ia mendekati Pandu dan berbisik kepadanya. “Lo kasih tahu Luna kita mau makan di sini?” Pandu menggelengkan kepalanya. “Gue nggak punya nomor hapenya Luna. Gue tahu Luna kan pas kita temenin benerin air.” Benar apa yang dikatakan oleh Pandu hanya saja kenapa gadis itu ada di sini? Siapa yang memberitahukannya? “Hai Kak Revan, kebetulan banget ya kita ketemu di sini,” sapa Luna setelah berada di dekat Revan. Kemudian dia menatap Airin dan tersenyum simpul. “Kak Airin lagi ngapain di sini?” “Beli mainan, kalian janjian?” Luna menganggukkan kepalanya dengan semangat, “Maaf ya Kak Revan karena udah tunggu lama.” Pandu syok karena sejak kapan Revan janjian dengan Luna, bahkan lelaki itu datang ke sini juga karena dia yang ajak. “Kapan lo janjian sama Luna?” Revan tidak menjawab perkataan Pandu. “Rin gue duluan ya,” pamitnya kepada Airin lantas pergi dari sana meninggalkan Luna dan Pandu yang masih terdiam di tempat. “Pandu cepetan!” “Rin, gue duluan ya.” Pandu lantas berlari ke arah Revan dan meninggalkan Luna yang masih berada di belakang. Theo tidak berkomentar apa pun malahan dia sangat senang karena tanpa diusit olehnya Revan sudah menjauhkan diri terlebih dahulu. Airin mendekati Luna. “Kenapa ngak dikejar Lun?” Luna tersenyum simpul. “Kita udah janjian di tempat lain kak. Aku duluan ya Kak.” Airin menganggukkan kepalanya sambil menatap Luna yang pergi menjauh darinya. Dia harus bertanya kepada Revan apakah dia dan Luna memiliki hubungan yang lebih dari teman atau tidak. Jika iya dia akan senang sekali karena sahabatnya yang sudah lama menjadi jomblo sejati akhirnya mempunyai pasangan. “Dia pacarnya Revan?” tanya Theo. Akhirnya lelaki itu membuka suaranya dari sejak mereka bertemu dengan Revan Theo berubah menjadi batu tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Airin mengelengkan kepalanya. “Nggak tahu.” Dia juga tidak tahu apakah Revan dan Luna sudah jadian atau belum yang dia tahu Luna memang menyukai Revan. “Tante kita pulang ya? Revan udah nggak sabar buat buka mainan,” pinta Marvel sambil menarik baju Airin. Theo, Airin dan Marvel sudah bersiap untuk pulang mereka sudah mengenakan sabuk pengaman masing-masing, hanya saja ketika ada ketukan di jendela mobil membuat mereka mengalihkan perhatian. “Siapa?” tanya Airin kepada Theo. Theo tersenyum simpul ketika melihat kembali wali kelas Revan, kenapa Lusi ada di sini? Lelaki itu berbalik ke arah belakang dan menatap Airin yang memasang wajah dengan penuh tanya. “Dia wali kelasnya Marvel Rin, namanya Lusi. Mau kenalan?” Ah, gadis yang diantar ke rumah oleh Theo ya. Airin menggelengkan kepalanya. “Nggak usah. Aku di dalam mobil aja ya? Marvel juga udah mengantuk.” Theo menatap Marvel yang sudah berada di pelukan wanita itu, anaknya terlihat sangat nyaman berada di pelukan Airin. “Aku keluar sebentar ya.” Airin hanya mengangguk dan kembali menepuk-nepuk pelan punggung Marvel agar anak tidurnya kembali nyenyak. Theo membuka pintu dan menatap Lusi yang berada di depannya. “Ada apa Lusi. Kenapa kamu ada di sini?” Lusi tersenyum simpul. “Mau balikin jaket, kebetulan jaketnya ada di mobil dan pas lihat Pak Theo ada di sini yang langsung saja mengembalikkannya kepada Pak Theo.” Theo menerima jaket itu. “Yaudah saya pulang ya.” “Bapak sama siapa? Calon istri?” tanya Lusi ketika melihat seorang wanita sedang duduk di belakang, berarti Pak Theo sudah mempunyai pasangan? Theo terdiam kemudian tersenyum simpul kemudian masuk ke dalam mobilnya dan memasang sabuk pengaman tanpa mengatakan hal apa pun. Menurutnya Lusi tidak bisa mengorek lebih dalam kehidupan pribadinya. Sedari tadi Airin hanya terdiam sambil menatap keluar mobil yang sedang diguyur oleh hujan lebat bahkan guntur sampai terdengat kedalam kedua telinganya. Kedua mata Theo menatap Airin lewa kaca mobil tengah. “Rin,” “Iya?” “Nggak jadi.” Airin memindahkan arah pandangnya kepada Theo. “Kenapa Kak?” Theo menggelengkan kepalanya dia kembali fokus melihat jalanan di depan. Lelaki itu ingin sekali menanyakan kepada wanita itu apakah Airin cemburu atau tidak suka melihatnya bersama dengan Lusi atau tidak dan jawaban pastinya adalah tidak. Di hati Airin masih tersimpan nama Tendi dan adik iparnya itu tidak ada niatan untuk memberikan peluang kepada laki-laki lain untuk masuk ke dalam hatinya. Setibanya di rumah Marvel sudah tertidur digendong oleh Airin dan ketika sampai di dalam rumah digendong oleh Bakti menuju kamar Airin. Airin memutuskan untuk langsung beristirahat sedangkan Theo masih berada di ruang tamu membawa belanjaan Marvel. “Kamu beli apa buat Ibu?” tanya Endang ketika keluar dari kamarnya. Theo menggelengkan kepalanya. “Beli mainan aja Bu, keburu ada Revan jadi nggak mood buat belanja lain.” “Ada Revan?” Theo menganggukkan kepalanya. “Untung aja ada pacarnya Revan jadi lelaki itu nggak terus nempel sama Airin.” Endang penasaran siapa pacar Revan dia mendekati anaknya yang duduk di sofa. “Siapa?” “Nggak tahu namanya siapa. Airin juga nggak tahu itu pacarnya atau bukan.” Endang mendengus kesal. “Kalau cerita yang bener, jangan nggak jelas seperti ini tadi bilang ada pacarnya Revan sekarang bilang nggak tahu itu pacarnya atau nggak.” Theo hanya terkekeh dan memutuskan untuk menyalakan televisi. Pikirannya kembali berkelana pada ekspresi Airin yang melihatnya berduaan bersama dengan Lusi. Wanita itu terlihat biasa saja, apakah tidak ada harapan untuk dirinya masuk menjadi bagian hidupnya? Luna termenung ketika sudah dimarahi oleh Revan karena selalu mengikutinya, padahal dia bertemu dengannya secara tidak sengaja karena kebetulan bertemu makanya dia memutuskan untuk menghampiri lelaki itu. Namun, dia menjadi sasaran empuk kemarahan Revan. “Luna,” panggil gadis berambut pink yang menghampirinya dengan terburu-buru. “Maaf ya, tadi ada urusan sebentar.” Luna tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya. “Lo memang kembaran paling menyebalkan yang ada di dunia ini.” Lusi terkekeh dan duduk di hadapan Luna. Dia segera memesan menu makanan yang ada di atas meja. Setelah itu dia menatap Luna yang memasanga wajah sedih. “Kalau ada masalah jangan sungkan minta bantuan gue Lun. Gue akan selalu ada buat lo.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN