Bab 62

1172 Kata
Revan menunggu kedatangan Jihan di statisun kereta, lelaki itu sudah tidak bisa membiarkan Theo terus bisa berdekatan dengan Airin. Revan harus bisa memisahkan mereka berdua dan cara ini lah yang dipilihnya. Menjelaskan semuanya kepada Jihan agar beliau tahu bahwa keluarga Theo sudah berbohong kepadanya. Revan tersenyum simpul ketika melihat dari jauh Jihan sedang berjalan menuju kepadanya. Ketika sudah ada di hadapannya lelaki itu memberikan salam dan mengambil alih barang yang dibawa oleh Jihan. “Perjalanannya lancar Mah? Nggak ada masalah apa pun kan?” “Alhamdulillah lancar. Van, Mamah mau denger lagi semu yang kamu jelaskan di telepon.” “Baik Mah, Papah nggak ikut Mah?” tanya Revan karena tidak melihat Papah Airin. Jihan menggelengkan kepalanya. “Nggak, dia lagi ada urusan di Aceh. Mamah juga ke sini hanya bilang mau jenguk Airin. Dia belum tahu soal ini.” Revan terdiam, padahal jika Papah Airin tahu semua ini maka rencananya akan sangat berjalan lancar. Akan tetapi dengan Jihan yang tahu semua itu juga bisa dipastikan Airin akan keluar dari rumah itu. Dia muak dengan semua perhatian yang diberikan Endang kepada Airin, wanita tua itu sengaja membuat Airin merasa nyaman agar tidak meninggalkan anaknya yang sudah mati. Lalu karena Airin tidak mungkin menjadi janda selamanya wanita tua itu malah akan menjodohkannya dengan anaknya yang lain. “Setelah Tante pulang dari rumah itu, Theo kakak laki satu-satunya Tendi datang sama anaknya. Revan Kira Theo hanya sementara di sini. Namun, setelah beberapa hari kemudian dia tidak pulang-pulang ke Singapura. Apalagi anaknya sangat manja banget sama Airin malahan nggak maunya terus-terusan deket sama Airin. Pokoknya nggak bisa dipisahkan Tante.” Penjelasan Revan sembari menyetir mobil menuju kediaman Airin membuat Jihan sangat marah. Apalagi Endang berjanji akan memisahkan Theo dan Airin jika lelaki itu ada di Indonesia. Kenapa besannya itu berbohong kepadanya? “Lalu apa yang dilakukan Airin?” tanya Jihan sambil melirik Revan yang sedang fokus menyetir. “Airin senang karena Marvel sangat menyukainya. Tante tahu kan Airin itu sangat mengidamkan seorang anak setelah Tendi meninggal? Apalagi keinginan terakhir Tendi adalah ingin memiliki anak.” Jihan termenung, dia sangat menyesal karena membiarkan anak bungsunya untuk tetap berada di rumah itu. Seharusnya ia membawa Airin bersamanya ke Yogyakarta memulai kehidupan yang baru tanpa bayang-bayang Tendi dan mertuanya yang ingin selalu menguasai anaknya. Pajero Sport yang dikendarai oleh Revan masuk ke halaman rumah Endang. Jihan sudah tidak sabar untuk segera membawa ankanya keluar dari rumah itu. Bahkan sepetinya rumah ini sangat cocok untuk disebut penjara yang membuat anaknya tidak bisa hidup dengan bebas. Revan membukakan pintu untuk Jihan. Wanita kepala lima itu turun dan berjalan dengan tegap menuju pintu utama. Revan memencet bell rumah tersebut kemudian mereka berdua bisa melihat Endang dengan wajah terkejutnya menatap mereka berdua. “Jihan? Kenapa ke sini?” tanya Endang sambi tersenyum simpul. Dia harus menekan reaksi terkejutnya agar Jihan tidak mencurigainya. “Saya nggak boleh ketemu anak kandung saya?” Endang menggelengkan kepalanya kemudian menggeserkan tubuhnya agar Jihan bisa masuk ke dalam rumahnya. “Airin sedang berada di kamarnya, saya panggilkan dulu ya.” “Nggak usah, saya bisa jalan sendiri. Saya ibu kandungnya jadi saya berhak kan masuk ke dalam kamar anak saya sendiri?” Theo sedang mendengarkan Feronika yang sedang menjelaskan apa saja materi rapat internal besok. Per tiga bulan sekali mereka akan melakukan rapat kajian ulang apakah pekerjaan mereka sudah maksimal atau belum. Bahkan kadang Theo akan memberikan saran dan cara mengatasi masalahnya agar para karyawannya tidak terlalu memberatkan dirinya masing-masing. Setelah rapat selesai, Theo juga akan memberikan sesi curhat yang berguna untuk mengetahui semua yang terjadi di divisi masing-masing. Bahkan tahun lalu ada yang curhat tentang perseteruannya bersama dengan rekan satu divisi, mengetahui hal itu Theo langsung memberikan solusi setelah itu karyawannya kembali bersama dan tidak ada konflik apa pun lagi. Kedua mata Theo membulat ketika melihat Jihan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Kenapa Ibunya Airin ada di sini? Di semakin panik ketika Revan ada dibelakang Ibu Airin. “Feronika, saya ada urusan mendadak. Besok kalau saya nggak kasih kabar ke kamu berarti rapat dibatalkan,” ujar Theo lantas berdiri dan mengejar JIhan yang sudah naik menuju kamar Airin. Theo mengikutinya sampai tiba di kamar Airin. Wanita itu sama terkejutnya ketika melihat ibu kandungnya ada di kamarnya. “Mamah? Sama siapa ke sini?” tanya Airin setelah beranjak dari kasurnya. Dia dan Revan sedang menuggambar sambil tiduran agar membuatnya terasa nyaman. “Kenapa? Mamah nggak boleh ke sini?” Jihan melotot tajam karena reaksi Airin yang tidak senang dengan kedatangannya. Airin menggelengkan kepalanya. “Bukan begitu maksudnya Mah. Sama siapa ke sini? Papah ikut juga?” Airin membiarkan Airin masuk dia juga bingung karena ada Revan. “Kenapa Lo ada di sini Van? Ada apa?” “Papah nggak ikut karena ada urusan pekerjaan. Makanya Mamah ke sini sama Revan. Naik kereta dan dijemput di stasiun,” jelas Jihan sambil duduk di kasur dan menatap Marvel yang sedang duduk menatapnya. “Kamu anaknya Theo?” Theo yang merasa Jihan mulai mendekati Marvel segera masuk ke dalam kamar Airin. “Iya Bu. Dia anak saya. Marvel beri salam ke Ibu Jihan.” Marvel tersenyum simpul dan duduk sambil menyalami tangan Jihan. “Nama aku Marvel Ibu Jihan.” Jihan tersenyum simpul, dia sangat senang melihat tingkah laku Marvel yang sopan kepadanya. Jihan mengusap rambut anak itu. Theo yang sadar Jihan dan Airin butuh waktu berdua segera menggendong anaknya. “Marvel, kita ke bawah ya? Bukannya Marvel pengen nonton Doraemon?” tanya Theo berusaha membujuk Marvel agar ikut bersamanya ke lantai bawah. “Ada Doraemon?” “Ada,” jawab Theo dengan antusias. Mereka berdua pun pergi dari sana hanya tinggal Airin, Revan, Jihan dan Endang yang tersisa di kamar itu. “Saya butuh waktu berdua sama Airin. Bu Endang boleh keluar dulu dari kamar ini?” tanya Jihan karena Endang terus menerus ada di kamar ini. Sebenarnya Endang tidak mau meninggalkan Airin berduaan bersama dengan Jihan. Dia takut jika Jihan mencuci otak Airin agar meninggalkan rumah ini. Endang tidak sanggup untuk ditinggalkan oleh menantunya. Airin sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri bahkan dia lebih menyanyangi menantunya ketimbang anaknya kandungnya sendiri. Airin tersenyum simpul sembari mendekat ke arah Endang. “Bu, bisa tinggalin aku dan Mamah berdua?” Endang memegang tangan Airin dengan erat dan mengangguk singkat. Dia ingin sekali mengajak Airin untuk meninggalkan kamar ini hanya saja apa daya dia hanya mertua dan tidak bisa melakukan apa pun. Setelah mertuanya keluar dari kamarnya, Airin menatap Revan dengan penuh tanda tanya. “Kenap lo di sini?” “Biarkan Revan di sini Airin.” Airin menatap Mamahnya dengan tatapan tidak percaya kenapa Endang harus keluar sedangkan Revan boleh berada di sini. “Mamah perlu pendapat Revan mengenai masalah ini.” “Masalah apa Mah?” tanya Airin dengan tidak sabar. “Masalah kamu yang masih tinggal di rumah ini, Tendi sudah meninggal Airin. Kenapa kamu masih tinggal dengan mertua kamu? Kalau kamu punya rumah sendiri Mamah bisa terima akan tetapi ini di rumah mertua kamu. Kamu satu atap sama Kakak ipar kamu yang statusnya sama kayak kamu!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN