Bab 63

1152 Kata
“Kamu nggak seharusnya masih tinggal di sini Airin!” ucapan Jihan membuat Airin kaget mendengarnya. Jihan berdiri dan menghampiri Airin yang berdiri tidak jauh dari Revan. Ia menggenggam tangan anaknya dan menatapnya dengan wajah penuh permohonan. “Mamah mohon untuk kali ini saja kamu turutin permintaan Mamah. Ayo kita ke Yogya, kita mulai semunya dari awal. Kamu, Mamah dan Papah. Kita berdua akan selalu ada di samping kamu sampai kamu bisa merelakan semuanya Rin.” “Mamah butuh kamu Rin. Papah dan Mamah nggak bisa jauh dari kamu.” Perkataan terakhir Airin sukses membuat wanita itu menitikkan air mata. Dia tidak menyangka bahwa di sini yang membutuhkannya bukan hanya mertuanya dan Marvel. Ibu kandungnya pun sama membutuhkan dirinya. “Sekarang kita pulang ke Yogya ya? Papah juga sangat kangen kepada anaknya.” Airin mengangguk pelan dan memeluk Jihan dengan erat. Dia berharap Mamahnya tidak merasa tidak dipedulikan olehnya. Dari dulu dia ingin menjadi anak yang berbakti kepada mereka berdua Ibu yang sudah melahirkannya dan Ayah yang sudah berusaha untuk memenuhi semua yang dibutuhkan olehnya. “Untuk sekarang Tante dan Airin bisa menginap di rumah saya. Supaya besok kalian bisa saya antar ke stasiun,” ujar Revan yang berhasil membuat Airin melepaskan pelukannya kepada Jihan. Airin menatap Jihan yang setuju dengan ucapan Revan. “Kenapa nggak menginap di sini? Nggak enak Mah sama Ibu. Kalau dia merasa tersinggung karena kita lebih memilih menginap di rumah Revan bagaimana?” Jihan menggenggam tangan Airin dengan erat. “Nggak apa-apa. Mamah yang akan bilang kepada mereka kalau kita akan menginap di rumah Revan.” Jihan takut jika Endang berhasil mempengaruhi Airin seperti dahulu dan membuat anak perempuannya lebih memilih tinggal di sini daripada tinggal bersama dengannya. “Sekarang kamu kemasi semua barang-barang kamu,” sambung Jihan sambil membuka lemari Airin dan menurunkan koper besar yang ada di sana. Airin terdiam. Apakah semua ini adalah tindakan yang benar? Bagaimana jika karena ini Endang, Theo dan Marvel sakit hati? Dia juga tidak punya pilihan lain. Airin tidak mungkin membiarkan Jihan kembali sakit hati karenanya. Marvel sudah tertidur sejak dia menonton Doraemon. Theo masih membiarkan anak itu tertidur di sofa, sekarang yang lebih ia khawatirkan adalah Ibunya yang sedari tadi mondar-mandir ke sana kemari karena tidak bisa tenang dengan kedatangan Jihan. Lelaki itu sudah mengetahui apa yang tujuan Ibunya Airin datang ke sini. “Ibu. Jangan terlalu khawatir.” Theo berusaha membuat Ibunya tenang. Jika terlalu berpikiran negatif darah tinggi ibunya akan naik dan itu tidak bagus untuk kesehatannya. “Kalau Airin keluar dari rumah ini bagaimana? Ibu nggak mau itu terjadi.” Theo menghela napas pelan. Sudah dia duga Ibunya tidak mungkin bisa merelakan Airin dibawa oleh Ibu kandungnya. Masalahnya wanita itu tidak hanya sementara tinggal di rumah kedua orangtuanya akan tetapi akan tinggal selamanya di sana apalagi Tendi sudah meninggal dan itu membuat tidak ada alasan yang kuat untuk Airin tetap tinggal di sini. “Ibu nggak boleh seperti ini. Airin bukan anak kandung Ibu dan Ibu harus merelakannya. Jika Ibu Jihan tahu dia akan sebal melihat tingkah Ibu yang seperti ini.” Endang terpaku dengan ucapan Theo. Benar dia hanya ibu mertua bagi Airin dan yang lebih berhak atas menantunya adalah Ibu kandungnya. Apalagi Tendi sudah meninggal dan membuat Airin tidak bisa selamanya tinggal di sini. “Padahal Ibu ingin Airin terus tinggal bersama kita. Meski pun nanti Airin menikah dengan orang lain Ibu ingin tetap Airin menjadi menantunya. Apakah itu tidak bisa?” Theo miris mendengar ucapan Endang. Ibunya memang benar-benar sangat mencintai Airin bahkan dia rela mengorbankan semuanya jika itu bisa membuat Airin bahagia. Entah apa yang telah dilakukan wanita itu sampai-sampai Ibunya sangat peduli kepadanya. “Saya dan Airin akan memutuskan untuk menginap di rumah Revan besoknya kami akan pulang ke Yogyakarta.” Perkataan Jihan sukses membuat Endang mengangkat kepalany dan memandang Airin dengan tatapan sedih. Kenapa mendadak sekali? Kenapa mereka tidak menginap saja di sini? “Jihan kenapa nggak menginap di sini? Theo dan saya bisa mengantar kalian ke stasiun besok.” Endang berusaha untuk merubah keputusan Jihan. Besannya itu benar-benar marah kepadanya. “Saya takut jika seseorang di rumah ini membujuk anak saya kembali untuk tetap tinggal di rumah ini. Saya Ibunya dan lebih berhak atas Airin daripada kalian.” Airin yang berada di sisi Jihan menarik baju Mamahnya agar berhenti berbicara yang bisa membuat Endang sakit hati. “Ibu, Mamah penasaran dengan rumah baru Revan. Makanya sekarang mau menginap di sana karena besok harus kembali ke Yogyakarta. Nggak apa-apa kan Bu?” tanya Airin sambil tersenyum simpul kepada Endang. Endang menatap Airin dengan pilu kemudian mengangguk singkat karena tidak mengeluarkan kata-kata sedikit pun. Akhirnya Airin berhasil keluar dari rumah itu. Endang menitikkan air mata ketika melihat mobil Revan semakin menjauh dari rumahnya. “Kalau Marvel bertanya kemana Airin kamu akan jawab apa Theo?” tanya Endang kepada Theo yang berdiri di sampingnya. “Theo akan kembali ke Singapura Bu. Mungkin Theo dan Airin memang bukan jodohnya dan kita harus menerima semua kenyataan itu.” Besoknya Airin dan Jihan pulang ke Yogyakarta diantar oleh Revan tanpa ditemani oleh Endang dan Theo. Wanita itu terus saja memikirkan Marvel. Apa anak itu baik-baik saja setelah dia tidak ada di rumah itu? Masalahnya dia pergi tidak pamit kepada Marvel Airin takut jika itu membuat Marvel sedih. “Papah pasti senang kamu pulang Rin.” Airin tersenyum tipis sambil memandang pemandangan diluar kereta, sudah tiga puluh menit mereka ada di kereta dan pikiran Airin masih terus memikirkan keadaan Marvel. “Soal pekerjaan kamu lebih baik bekerja di perusahaan Papah. Mamah sudah bilang ke Papah kamu dan dia sangat senang mendengarnya,” sambung Jihan menjelaskan rencana kehidupan yang akan dijalani oleh Airin. “Revan itu baik kenapa kamu nggak pacaran aja sama dia? Mamah lihat dari semenjak kalian SMA anak itu sudah menaruh suka kepada kamu.” Airin mendengus kesal. “Semua teman laki-laki Airin juga baik-baik Mah, terus Airin harus pacaran sama mereka semua? Ya nggak lah.” “Airin sudah dewasa dan masalah percintaan Airin nggak bisa diatur sama Mamah begitu aja.” Jihan terdiam kemudian berdecak kesal. “Kamu kenapa jadi marah sama Mamah? Mamah kan hanya kasih saran aja. Coba kalau Endang yang kasih saran pasti langsung diterima.” Airin tidak menjawab apa pun, dia tidak mau pertengkarannya dengan ibu kandungnya harus melibatkan ibu mertuanya yang jelas-jelas sangat baik kepadanya. Kedua tangannya mengeluarkan ponsel pintar yang di simpan di tas mungilnya dna membuka aplikasi chat. Revan Aku udah urus semua surat izin kamu untuk ke kantor. Jadi kamu nggak boleh memikirkan masalah kerjaan oke! Jangan lupa bakpianya. Airin Thanks. Oke! Gue akan kasih lo bakpia yang banyak biar perut lo buncit! Airin terkekeh membaca pesan dari Revan. Meskipun laki-laki sukses membuatnya kesal hanya saja dia tidak bisa megabaikannya. Lalu kedua matanya memandang sedih ketika menerima pesan dari seseorang yang palin ia sayangi Theo Tante kemana? Kok pergi nggak bilang Marvel? Marvel buat Tante kesal ya? Makanya Tante kabur dari rumah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN