Sudah tiga hari Airin berada di Yogyakarta. Dia sangat suka tinggal di sini lebih sejuk daripada di Jakarta. Selama tinggal di sini Airin banyak berpergian mengunjungi candi-candi yang terkenal di kalangan masyarakat. Dia tidak sendirian, Mamahnya selalu bersamanya kadang kalau Papah sedang sempat dia akan ikut bersama mereka. Hubungannya dengan Marvel pun masih berjalan mulus, dia sering mengirimkan pesan kadang video call untuk memastikan jika anak itu baik-baik saja.
Hari ini adalah hari terakhirnya di Yogyakarta dia hanya izin tiga hari mengambil izin besok dia akan bekerja kembali. Maka dari itu pagi ini dia sudah berada di stasiun bersama dengan kedua orangtuanya.
“Kamu harus dengerin perkataan Mamah semalam. Revan itu anak baik dia pasti akan membimbing kamu agar bisa melupakan Revan,” ujar Jihan sambil memegang kedua tangan Airin dengan lembut.
“Mamah tahu laki-laki mana yang bisa membuat kamu bahagia,” sambung Jihan sambil terus menatap anaknya dengan tatapan lembut.
Airin hanya terdiam, sebenarnya dia ingin menjawab perkataan Jihan dan mengatakan bahwa dia tidak membangun pernikahan dulu. Setelah kematian Tendi hatinya susah untuk berpaling ke laki-laki lain hanya saja jika dia berkata seperti itu Jihan akan marah dan semakin mendesaknya untuk segera menikah atau parahnya Mamahnya akan menyalahkan Endang karena telah berhasil mencuci otaknya agar tidak melupakan Tendi.
“Yaudah aku berangkat dulu.” Airin memeluk Papahnya dan dia sangat terharu ketika mendengar bisikan yang menenangkan dari sang Papah.
“Kamu harus bahagia Airin.”
Airin menatap Papahnya dan tersenyum simpul. Dia pasti bahagia, Airin yang akan memegang kendali hidupnya sendiri tanpa ada aturan dari orang lain termasuk Mamahnya.
Kereta pun berjalan menjauh, Airin mengambil ponselnya yang ada di dalam tas kecil berwarna hitam dan mengirim pesan kepada Marvel.
Theo
Marvel…. Tante udah naik kereta.
Sekilas kedua matanya membac pesan dari Revan yang menanyakan apakah dia sudah naik kereta atau belum akan tetapi pesan itu dia abaikan apalagi mengingat Jihan yang selalu ingin menjodohkannya dengan Revan dan itu membuat Airin sebal kepada lelaki itu. Di lubuk hatinya masih tersimpan nama Tendi sepertinya nama itu tidak bisa digantikan oleh siapa pun.
“Jadi Kak Airin itu enak ya, padahal dia lagi liburan tapi semua pekerjaannya Kak Revan yang kerjain,” ujar Luna smabil membawa berkas yang diperlukan oleh Revan.
Revan tidak menjawab perkataan Luna dia masih sibuk mengetikkan angka ke dalam komputer. Kepalanya terasa meledak bukan karena pekerjaan Airin yang ia kerjakan saat ini penyebabnya adalah Arin yang belum mengirim kan pesan apa pun kepadanya. Padahal di berharap setelah pulang dari Yogyakarta wanita itu akan berubah dan mengerti perasaanya.
Malam harinya Revan mabuk berat. Dia mengajak Pandu untuk berpesta dengannya. Kali ini lelaki itu sangat kacau bahkan terlihat putus asa menghadapi Airin yang selalu bertingkah seenaknya. Musik kencang terdengar di seluruh penjuru ruangan wanita berpakaian seksi terlihat sibuk melayani pelanggan yang datang. Revan dan Pandu duduk di kursi dekat meja bar sembari menonton wanita yang sedang menari meliukkan badannya di tiang panjang.
“Jadi Lo ajak gue ke sini karena Airin?” tanya Pandu lelaki itu meneguk sedikit wine dan kembali fokus menatap wanita seksi di hadapannya.
Rahang Revan mengeras ini semua memang gara-gara Airin yang tidak bisa ia raih sedikit pun. Apakah hari ini adalah waktu yang tepat untuk menyerah?
“Menurut Lo Luna gimana?”
“Menurut gue Luna itu cantik. Sayangnya terlalu kurus makanya badannya nggak montok kayak cewek di sana.” Tunjuknya kepada wanita yang masih meliukkan badannya di tiang panjang.
“Lo udah sadar kalau Airin nggak bisa Lo raih?” Pandu menatap Revan dan terkekeh pelan ketika bisa membaca raut muka sahabatnya itu.
“Sebelum Luna menyerah kayak Lo, Lo harus kejar dia. Jangan sampai Lo kehilangan seseorang yang ternyata sangat berharga bagi Lo.”
Revan meneguk kembali wine miliknya dan menganggukkan kepala. Mulai saat ini Airin tidak akan lagi bisa menyakiti dirinya. Lelaki itu sudah terlalu lelah untuk mengejar wanita yang jelas tidak menyukainya, selama ini dia terus bertahan karena yakin wanita itu sadar akan perhatiannya dan memilih untuk berada di sisinya. Hanya saja semakin lama Airin tidak menunjukkan ketertarikan kepadanya dan itu membuat Revan muak.
“Kak Revan?” Luna terkejut melihat Revan ada di sini. Padahal jam menujukkan puluh dua pagi.
Luna menggeser badannya agar Revan dan Pandu bisa masuk. Gadis itu menutup pintu dan berlari menghampiri kedua lelaki yang sedang tidur di sofa miliknya.
“Kalian mabuk?”
Revan membuka matanya sedikit. “Cuma sedikit, tapi ini masih sadar kok.”
Luna tersenyum simpul dan kembali berlari ke kamarnya untuk membawa selimut. Ketika berada di dekat Revan gadis itu menyelimuti lelaki itu dan mengelus puncak kepala Revan. Namun, dia kembali terbangun dan menatap lekat gadis itu.
“Maaf,” lirih Revan mengingat bagaimana jahatnya dia kepada Luna padahal jika dipikir-pikir gadis itu yang selalu ada ketika dia terpuruk.
Revan mendekatkan wajahnya kepada Luna, dia bisa merasakan aroma vanilla yang menguar dari tubuh gadis itu. Lelaki itu mengecup bibir mungil itu dia merasakan perasaan nyaman bahkan hatinya berbunga-bunga ketika merasakan balasan Luna. Mereka berdua terhanyut dalam keintiman bahkan sekarang kedua lawan jenis itu sedang berbagi kehangatan di kasur yang sama.
Theo dan Marvel menepati janjinya untuk menjemput Airin. Bahkan sekarang mereka berdua sedang berada di mobil untuk pulang ke rumah.
“Makasih ya Kak Theo udah jemput aku,” ujar Airin sambil menepuk-nepuk Marvel yang kembali tidur karena mengantuk. Jam dua pagi anak itu harus bangun karena ingin sekali menjemputnya.
“Sama-sama. Gimana Yogya kamu betah liburan di sana?”
Mobil berbelok jalanan pun sepi karena sebagian penduduk bumi memilih untuk berada di rumah bergelung di bawah selimut yang hangat dan beristirahat karena setelah melakukan aktivitas yang padat.
“Seru, kapan-kapan kita semua harus liburan bersama.”
Theo menganggukkan kepalanya. Dia merasa senang karena bisa kembali berbincang secara langsung dengan Airin. Padahal sebelumnya lelaki itu khawatir jika wanita itu akan memilih bersama dengan kedua orangtuanya.
Mereka sudah berada di depan rumah. Theo tidak membuka kunci mobil lelaki itu menatap Airin yang sedang menggendong Marvel.
“Rin, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.”
Airin menatap Theo dan mengerutkan kedua alisnya. “Ada apa Kak?”
Theo terdiam. Ini adalah waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Dia juga sudah mendiskusikannya dengan Bakti dan Endang mereka pun sangat setuju dan mendukugnya. Bahkan Endang snagat senang karena Airin akan kembali menjadi menantunya.
“Aku juga nggak tahu perasaan ini tumbuh semenjak kapan hanya saja melihat kamu sedih, menangis dan terluka membuat hati aku sesak dan entah kenapa aku ingin sekali mengembalikan senyum kamu. Kamu nggak perlu jawab sekarang.”
“Airin, maukah kamu jadi pendamping hidup aku selamanya?”
Kedua mata Airin membulat dia tidak menyangka Theo memiliki ketertarikan kepadanya. Apakah karena dia dekat dengan Marvel membuat Theo menginginkan dia menjadi ibu dari anak ini?
“Nggak perlu dijawab sekarang kan?”
Theo menganggukkan kepalanya kemudian membuka kunci mobil. Wanita itu langsung meninggalkan lelaki yang sedang menatap nanar kearahnya. Semoga Endang bisa menyakinkan Airin untuk memilih hidup bersama dengannya.
**