Kedua mata Airin masih terbuka dia masih setia berbaring di kasur empuknya meskipun cahaya matahari sudah menerobos ke sela-sela gorden kamarnya pandangan matanya mengarah kepada foto pernikahan dia dan Tendi. Wanita itu masih syok mendengar pernyataan cinta Theo yang tiba-tiba seperti itu. Ada apa dengan lelaki itu? Apakah itu bohongan? Bisa jadi kan Theo hanya bercanda agar merasa tidak canggung jika berdekatan dengannya? Airin memejamkan matanya ketika merasakan ada seseorang yang membuka pintu kamarnya.
Marvel berjalan ke sisi tempat tidur Airin dan menatap Tantenya yang masih tertidur pulas. Kemudian di kembali keluar dan terdengar teriakan dari anak itu yang mengatakan jika Airin masih tertidur. Wanita itu kembali tertidur dan mengubah posisinya menjadi menyamping. Sepertinya hari ini dia tidak akan masuk kerja untung saja dia meminta izin empat hari itu semua dia ambil dari jatah cutinya yang tidak pernah diambil maka dari itu Pak Ahmad mengizinkannya.
Pikirannya kembali bekecamuk memikirkan jawaban apa yang pas untuk Theo. Jika dia menikah dengan lelaki itu maka dia tidak akan keluar dari ini hanya saja tidak ada sedikit pun rasa cinta untuk lelaki itu.
“Kamu udah bilang kepada Airin?” tanya Endang yang sangat penasaran dengan kejadian Theo menyatakan perasaanya kepada Airin.
“Sudah, hanya saja dia nggak jawab apa pun karena Theo bilang Theo nggak butuh jawabannya sekarang. Theo tidak mau terkesan menekan Airin untuk segera menjawabnya.”
Endang setuju dengan ucapan Theo anaknya tidak boleh terlalu menuntut agar Airin tidak merasa tidak nyaman jika bertemu dengan lelaki itu. Dirinya juga akan mendukung Theo untuk mendapatkan Airin karena menurutnya menantunya itu adalah sosok ibu dan istri yang cocok untuk anak dan cucunya. Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang baik dan sopan seperti Airin.
“Kalau kamu sudah mengatakannya maka ini saatnya bagian Ibu. Ibu yakin Airin akan percaya semua apa yang dikatakan oleh Ibu.”
Theo menganggukkan kepalanya kemudian menatap Marvel yang sedang fokus memakan serealnya. Bakti yang sedari tadi mendengarkan semua percakapan antara Ibu dan anak itu melipat korannya dan mamandang Endang dengan lekat.
“Ibu juga nggak boleh terlalu memaksakan Airin. Jika Airin memang tidak mau menikah dengan Theo maka Ibu harus menerimanya. Yang akan menikah dan membangun rumah tangga itu bukan Ibu melainkan Airin dan Theo jadi biarkan mereka yang menyelesaikannya. Ibu nggak boleh ikut campur dengan urusan mereka berdua,” ujar Bakti dia memang selalu sedikit bicara kadang tidak akan berkomentar apa pun semua keputusan diserahkan kepada Endang hanya saja untuk kali ini dia tidak mau istrinya terlalu masuk ke dalam hidup anak dan menantunya.
“Ibu hanya kasih saran saja Pak. Bahwa Theo itu anak yang baik. Dia tidak akan menuntut apa pun kepada Airin bahkan jika Airin masih mencintai Tendi Theo tidak akan memaksanya untuk melupakan Tendi. Seiring berjalannya waktu Airin pasti akan menerima kematian Tendi Theo juga tidak bisa menghapus kenangan Tendi dari hati Airin.”
“Coba kalau Airin menikah dengan Revan atau laki-laki lain pasti mereka akan menuntut Airin untuk segera melupakan Tendi bahkan mereka akan memutuskan tali silaturahmi antara kita dengan Airin,” sambung Endang menjelaskan bagaimana keadaan Airin jika menikah dengan laki-laki lain selain Theo.
Bakti terdiam kemudian membuka kembali korannya. “Terserah Ibu saja.”
Luna tersenyum simpul melihat Revan berada di kasur miliknya. Semalam mereka tidak berbuat apa pun hanya saling peluk dan kadang-kadang berbagi kecupan mesra yang membuat hatinya berdegup kencang. Hari ini mereka tidak berangkat ke kantor dengan alasan sedang tidak enak badan. Kedua ponsel mereka pun dimatikan menghindari telepon mendadak dari kantor.
Telunjuk Airin menulusuri bibir lalu ke hidung mancung laki-laki itu dan mengusap kedua alis tebalnya. Dia tersenyum simpul ketika mengingat semua perlakuan Revan dia juga bersyukur karena laki-laki itu sudah menyadari jika ia satu-satunya perempuan yang mencintainya dengan apa adanya. Airin pura-pura tertidur ketika melihat penggerakan mata Revan dia tidak mau terciduk telah memadang lekat wajah tampan milik laki-laki itu.
Revan membuka kedua matanya dan tersenyum simpul ketika melihat sosok gadis yang semalam telah membuatnya sadar jika Airin bukan wanita yang seharusnya dia harapkan. Ternyata selama ini ada gadis yang telah menunggunya, memperhatikannya. Bodohnya dia malah mengejar wanita yang sama sekali tidak menganggapnya.
Revan mengusap wajah gadis itu dan mengecup keningnya pelan. Dia tidak berniat untuk membangunkannya maka dari itu dia turun dari kasur dan berjalan menuju dapur. Sepertinya mereka memburtuhkan asupan makanan.
Ketika di dapur dia melihat Pandu yang sedang menuangkan segelas air minum ke dalam gelas. “Enak ya Lo, gue tidur di atas sofa yang keras sedangkan Lo tidur di kasur yang empuk sambil peluk guling lagi. Benar-benar kacang lupa kulitnya.”
Revan terkekeh kemudian membuka kulkas dan mengambil satu botol air dan langsung diminumnya. “Lo nggak kerja?”
“Nggak ada urusan penting. Kalau ada baru mereka akan cari gue. Lo juga nggak kerja?”
Revan menggelengkan kepalanya. “Nggak lah, mana mungkin gue menjauh dari momen indah seperti ini? Nggak boleh di sia-siakan.”
Pandu mengumpat mendengar perkataan Revan. “Dulu kemana aja Lo? Baru sadar kalau lo butuh Luna?”
“Kalau Airin nggak mencampakkan Lo gue yakin seratus persen Lo akan pilih dia daripada Luna. Benar kan?”
“Jaga bicara Lo. Kalau Luna sampai denger mati Lo di tangan gue.” Revan takut jika gadis itu mendengarkan ucapan Pandu yang berpontensi menyakiti perasaan gadis itu. Airin adalah masa lalunya dan dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Terdengar suara pintu terbuka dan itu membuat Revan memusatkan perhatiannya kepada manusia yang sedang berdiri di sana. “Kenapa bangun? Udah nggak ngantuk lagi?”
Luna menggelengkan kepalanya dan melangkah kakinya mendekati Revan, dia duduk di depan meja panjang yang ada di dapur. “Kak Pandu nggak kerja?”
“Lo ngusir gue?”
“Yaudah gue pergi dari sini,” sambung Pandu sambil berjalan keluar dari apartemen itu sebenarnya dia juga sudah ada niatan untuk pulang ke rumahnya sendiri.
Revan hanya melihat kepergian Pandu dari dapur tidak ada niatan untuk mengantar laki-laki itu pulang. Kedua matanya kali ini berpindah kepada Luna yang sedang duduk di hadapanya. Kedua sudut bibirnya tertarik mengingat bahwa hari ini mereka memliki hubungan yang berbeda dari sebelumnya.
“Mau makan apa? Nanti aku buatkan.”
Luna tersenyum simpul ketika mendengar kata aku keluar dari mulut Revan, biasanya kan dia manggil Luna dengan sebutkan Lo Gue. Kadang suka kasa tapi saat ini semuanya berubah dan itu berhasil membuat hatinya berdegup dengan kencang.
Luna turun dari kursinya dan memposisikan dirinya dibelakang Revan. Dia memeluk era laki-laki itu merasakan punggung tegap yang biasanya hanya bisa ia pandang dari jauh.
“Aku sayang banget sama Kak Revan. Aku juga bersyukur banget karena Kakak berubah drastis seperti sekarang. Aku nggak peduli apa yang menyebabkan semua ini terjadi yang aku pedulikan hanya satu, sekarang Kak Revan jadi lebih lembut dan sayang kepada Aku.”
Revan menggenggam tangan Airin yang memeluk tubuhnya dia menarik tangan itu dan menatap Luna dengan tatapan lembut. “Karena saat itu Kakak nggak sadar bahwa Kakak sebenarnya lebi butuh kamu daripada yang lain.”
**