Bab 66

1189 Kata
Bisa dibilang Airin selalu menghindar dari masalah seperti biasa dia akan melewatkan sarapan pagi dan langsung berangkat menuju kantor. Kemarin dia benar-benar tidak keluar kamar dengan beralasan bahwa banyak tugas kantor yang harus segera diselesaikannya padahal dia tidak mau membahas hubungannya dengan Theo terlebih dahulu. Kepalanya pening untuk memikirkan masalah itu belum lagi Jihan yang mendadak menjadi sangat posesif kepadanya. Mamahnya tidak pernah lelah memuji Revan agar dia bisa menerima lelaki itu sebagai pasangannya nanti. Dia dan Revan hanya sahabat tidak akan lebih dari itu. “Terima kasih,” ujar Airin setelah es americano miliknya sudah jadi. Wanita itu menatap gadis yang sudah lama menjadi pegawai di sini. “Untuk kamu.” Airin menyerahkan salah satu es americano yang ia pesan dari awal dia memesan dua karena akan diberikan kepada gadis itu. “Kamu kelihatan mengantuk, makanya saya kasih salah satunya.” Gadis itu memasang wajah terkeju dan selanjutnya tersenyum simpul sembari menatap Airin penuh dengan perasaan berterima kasih. “Minum es amaericano pagi-pagi memang enak. Bisa membuat otak berjalan dengan benar. Terima kasih kak.” Airin menganggukkan kepalanya kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Ruang kerjanya pasti masih kosong apalagi jam masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Dia meneguk sedikit kopi itu dan meletakkannya kembali ke atas meja. Kedua tangannya dengan lincah mengoperasika Ipad yang dibawanya. Dia membaca seluruh pekerjaan yang harus diselesaikannya hari ini. Menghela napas lega ketika mengetahui sebagian sudha dikerjakan oleh Revan. Kedua matanya menangkap Revan dan Luna yang sedang bergandengan tangan. Dia tersenyum simpul menyadari sepertinya mereka berdua sudah resmi berpacaran. “Revan!” Airin memanggil Revan dan membuat lelaki itu berhenti. “Airin! Kapan pulang?” “Kemarin.” Airin menatap tautan tangan Luna dan Revan dengan wajah bahagia. “Kalian resmi pacaran?” Revan menganggukkan kepalanya. “Setelah pulang kantor gue akan ajak lo makan. Kita makan bertiga, kalau lo mau ajak Theo dan Marvel juga nggak masalah.” Airin terkekeh mendengarnya. “Sebelum itu harusnya gue yang traktir kalian. Makasih ya udah ngerjain tugas gue.” “Nggak masalah Rin, Lo masih sahabat gue meski pun sedikit menyebalkan,” ujar Revan dengan wajah bahagianya. Entah kenapa dia benar-benar bahagia telah merelakan Airin untuk hanya menjadi sahabatnya mungkin memang mereka berdua hanya cocok untuk menjadi sahabat. Luna tersenyum simpul melihat Revan yang sudah tidak memandang Airin dengan tatapan penuh cinta. “Gimana kalau Kak Airin traktir kita es americano. Udah lama kan nggak nongkrong bareng.” Airin setuju dengan usulan dari Luna dia pun kembali duduk di tempatnya tadi sambil berbincang mengenai liburannya kemarin. Sebenarnya dia sudah membelikan oleh-oleh khas Yogyakarta untuk semuanya hanya saja tertinggal di rumah. “Padahal gue udah beli kaos buat anak-anak kantor tapi masalahnya ketinggalan di rumah. Lo pasti suka deh Lun.” “Tenang aja nanti Luna akan ke rumah gue Airin mengangguk singkat. Dia bahagia sekali melihat Revan akhirnya bisa menemukan seseorang yang bisa terus di sisinya. Dia semakin lega saat tahu gadis itu adalah Luna. Luna tidak akan pernah meninggalkan Revan apalagi selama ini gadis itu selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian Revan. Setelah asik bercengkraam ria di kantin bawah Airin dipusingkan dengan laporan keuangan yang ada di komputernya. Saat Pak Ahmad masuk ke dalam kantor kedua matanya sudah melihat kepada Airin dia dengan tidak berperasaan menyuruh Airin untuk menyelesaikan laporan untuk dibawa ke rapat besok. Padahal semua pekerjaannya sudah dikerjakan oleh Revan hanya saja kenapa dia rasa pekerjaannya semakin menumpuk. “Pak, data barang sudah dikirim,” ucap Airin sambil duduk di kursi kerjanya, dia tidak ada tenaga untuk berjalan menuju meja Pak Ahmad dan atasannya juga sudah terbiasa dengan sikap kurang ajar dari semua karyawannya. “Oke, saya cek.” Airin merentangkan tangannya ke atas dan menghela napas lega, akhirnya sebagian pekerjaanya sudah selesai. Punggungnya ia sandarkan kepada kursi dan menatap Revan yang sedang fokus bekerja. Pikirannya melayang kepada hari ketika Theo megatakan perasaanya. Apa yang harus dijawab olehnya? Apakah dia harus menerimanya atau menolaknya. Lagi pula sekarang Revan sudah memiliki Luna, Mamahnya tidak mungkin memaksanya untuk menkah dengan lelaki itu. “Berarti minggu depan saya harus ke Singapura?” “Betul Pak. Soalnya mitra kerja bapak yang baru menginginkan bertemu secara langsung dengan Pak Theo. Jika menolak maka dia akan membatalkan semua kerja sama.” “Yasudah kamu ubah jadwal saya. Sekalian saya juga akan berada di sana selama satu minggu.” Feronika menganggukkan kepalanya dan menuliskan sesuatu ke dalam Ipad yang ada di atas meja. Dia juga mengumumkan ke semua perusahaan yang bekerja sama dengan Theo bahwa atasannya akan berada di Singapura selama satu minggu tentunya melalui asisten masing-masing. “Lalu adakan rapat internal perusahaan. Pokoknya setiap saya ke Singapura rapat bersama internah perusahaan harus selalu diadakan.” “Siap Pak.” Feronika tersenyum simpul mendengar penjelasan itu. Bisa dibayangkan teman-temannya akan menjerit frustasi karena harus ada rapat interna perusahaan. Mungkin mereka akan berdoa supaya Theo betah di Indonesia dan tidak kembali ke Singapura dalam waktu dekat. “Fer, tolong kirimkan laporan keuangan bulan kemarin dan tahun kemarin ya.” Feronika menganggukkan kepalanya. “lewat email atau saya kirim langsung ke Indonesia Pak?” Theo terdiam kemudian menatap Feronika. Asistennya ini memang kadang akan mengajukan pertanyaan yang bisa menambah pening di kepalanya. “Kirim langsung dong Fer, kamu tahu sendiri kan saya nggak suka file penting dikirim secara sembarangan seperti itu?” “Baik Pak. Saya yang akan mengirimkan file itu langsung kepada Bapak.” Theo menganggukkan kepalanya. Kadang dia bisa menjadi atasan yang baik dan bisa juga semena-mena seperti ini. Lelaki itu tidak pernah mau menerima file penting yang dikirimkan melalui email. Theo kadang masih tidak percaya dengan teknologi yang sudah canggih seperti sekarang. Jika ada yang membajak emailnya bisa gawat, perusahaannya akan hancur dalam hitungang cepat. Maka dari itu dia lebi memilih cara yang lama untuk menghindari masalah. Theo menutup laptonya dan menyandaran punggungnya kepada kursi. Sekarang dia masih berada di kamarnya mungkin sudah lima jam dia berada di sini. Lelaki itu memejamkan kedua matanya untuk menghilangkan rasa pusing dikepalanya. Apalagi tadi pagi Airin kembali menghindarinya, dia juga tidak mau diantar olehnya seperti biasa. “Theo, waktunya makan siang.” Ibunya mengetuk pintu dia sangat khawatir jika anaknya jatuh sakit jika terus bergelung dengan pekerjaanya itu. Theo membuka pintu dan tersenyum simpul memandang ibunya yang sangat perhatian kepadanya. “Iya Bu. Menu makan siang hari ini apa?” “Ayam kecap, tempe goreng dan sambel kesukaan kamu,” jelas Endang sambil melangkahkan kakinya menuju dapur. Theo tergiur mendengar penjelasan Endang. Setiap kali ibunya yang memasak memang selalu tidak ada tandingannya. Bahkan rumah makan bintang lima yang selalu dikunjunginya ketika berada di Singapura kalah dengan masakan Ibunya. “Tahu nggak Bu, masakan Ibu itu paling enak di dunia ini nggak ada yang bisa menandinginya. Theo udah makan di tempat makan bintang lima, bintang tiga dan nggak ada yang berhasil menyaingin masakan Ibu.” Endag tergelak mendengar perkataan Theo. “Bisa aja kamu. Jangan gombal terus, cepat makan.” Theo terkekeh dan menarik kursinya dan duduk di sana. Dia bersyukur karena kedua orangtuanya berumur panjang dan selalu sehat. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jika dia hidup sendirian di dunia ini mungkin Theo tidak akan berhasil seperti sekarang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN