Bab 67

1081 Kata
Setelah pulang kerja semua teman-teman divisi keuangan ditraktir makan oleh Revan, tentu saja mereka semua harus makan di rumah lelaki itu. Revan sudah memesan berbagai makanan cepat saji yang bisa membuat perut semua temannya kenyang. Berbagai pilihan seafood tersedia di meja makan, udang, kepiting, lobster, cumi goreng, kangkung dan nasi sebagai pelengkap yang sangat mantap. Bagi perempuan hari ini adalah hari paling sial dan beruntung karena bisa makan dengan sepuasnya hanya saja diet mereka hari ini akan gagal. Airin memakan dengan lahap udang dan cumi goreng yang ada di piringnya, rasanya memang benar-benar sangat mantap lidahnya seperti menari merasarakan bumbu pedas dan segar seperti ini. Acara pun dilanjutkan dengan mengobrol santai di depan rumah Revan. Semua anak-anak saling melemparkan lelucon tentang pasangan yang baru jadian ini dan salah satu dari mereka menanyakan kapan hubungan Luna dan Revan melangkah menuju pelaminan. “Sabar Bro, semuanya butuh proses. Benarkan Lun?” lirik Revan kepada Luna yang sedang duduk di sampingnya. Revan juga ada rencana untuk segera menikahi gadis itu hanya saja bukan sekarang. Mungkin mereka harus saling mengenal lebih dekat terlebih dahulu selama empat atau dua belas bulan. “Iya, nggak boleh terburu-buru. Semuanya harus ada prosesnya dulu.” Revan menganggukkan kepala setuju dengan perkataan Luna entah kenapa gadis itu terlihat dewasa dari sebelumnya. Pandangan Revan jatuh kepada Airin yang sedang menegukkan air mineral, tadi dia sempat melihat wanita itu sedikit melamun. Ada apa dengan Airin? Apakah ada masalah besar yang menimpanya? Jam dua belas malam semuanya baru meninggalkan rumah Revan termasuk Airin. Untung saja sahabatnya itu merupakan tetangganya jadi dia tidak terlalu jauh untuk pulang ke rumahnya. Wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan memandang Revan dan Luna dari dalam. “Thanks, buat makanannya. Gue kenyang banget. Mantul deh.” “Sama-sama Rin, kalau mau makan lagii gue bisa kasih tahu nama rumah makannya,” jawa Revan dia tahu Airin pasti sudah ketagihan dengan makanan yang tadi dibelinya. Airin mengangkat kedua jempolnya tanda berterima kasih kepada Revan. “Gue pulang dulu.” Airin menyalakan mesin mobilnya dan menjauh dari pekarangan rumah Revan. Revan memandang mobil Airin yang semakin menjauh, dia akan menanyakan masalah apa yang sedang dialami oleh wanita itu mungkin besok. Pandangannya teralihkan ketika merasakan sentuhan yang ada di lengannya. “Kak Revan, hari ini aku pulang atau nginap di sini?” Revan tersenyum simpul dan memegang lengan mungil itu dengan lembut. “Temani aku aja gimana?” Luna terkekeh dan menganggukkan kepalanya. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan. Revan bersyukur karena tidak terlambat untuk menyadari jika didekatnya masih ada gadis yang sangat mencintainya. Tengah malam seperti ini adalah waktunya untuk tidur, termasuk seluruh penghuni rumah Airin. Maka dari itu dia turun dari mobilnya dan berjalan menuju pagar. Untung saja Pak Satpam rumahnya masih terbangun. Airin pun tersenyum tipis dan kembali ke mobilnya hanya saja sebelum masuk dia melihat beberapa lelaki yang sedang berkeliling melakukan pos malam. “Saya kira Airin itu anak baik-baik. Nggak nyangka hobi ke club juga,” ujar seoarang bapak-bapak yang umurnya sama dengan Ayah mertuanya. “Makanya harus punya suami biar bisa bombing ke jalan yang benar.” Tentu saja semua perkataan itu terdengar oleh indeera pendengarnya. Airin mengepalkan kedua tangannya dan menahan emosinya untuk tidak meledak saat itu juga. Wanita itu kembali masuk ke mobil dan meningglkan bapak-bapak yang sedang bergosip itu. Sudah dia duga seluruh penghuni rumah sudah sibuk dengan mimpi masing-masing. Dia menutup pintu utama dengan pelan lalu berjalan dengan mengendap-endap agar tidak membuat Endang dan Bakti kaget dan terbangun. “Tante kemana aja? Kok baru pulang?” Airin tersentak mendengar suara Marvel yang masih terjaga. Dia melirik ke arah kiri dan tersenyum simpul melihat Marvel dan Theo yang sekarang menatapnya dengan lekat. “Tante ada acara kantor makanya pulangnya larut,” ujar Airin sambil mendekat kepada Mavel. Kedua mata Airin menatap Theo seperti bertanya kenapa Marvel masih terbangun. Theo yang mengerti dengan maksud tatapan wanita itu mengangkat kedua pundaknya lelaki itu juga bingung kenapa Marvel bersikeras untuk menunggu Airin pulang. “Kita tidur ya.” Airin menggendong Marvel dan berjalan menuju kamarnya. “Lain kali Marvel jangan tunggu sampai Tante pulang. Kalau misalnya Tante nggak pulang sampai pagi bagaimana? Masa Marvel nggak akan tidur? Nanti bisa sakit dan nggak bisa main sama Tante dong.” Digendongan Airin Marvel langsung terlelap membuat Theo yang melihatnya dari belakang menatap anaknya dengan raut wajah sedih. Jika saja dia bisa menjadikan Airin sebagai Ibu sambung untuk Marvel mungkin anak itu akan sangat bahagia. “Seharusnya Kak Theo jangan membiarkan Marvel terjaga sampai tengah malam, kalau dia sakit bagaimana?” tanya Airin yang sedang menyelimuti Marvel agar merasa hangat. “Dia nggak mau ke kamar sebelum kamu pulang. Ibu dan Ayah sudah membujuk Marvel dengan segala cara dan dia tetap maunya tidur sama kamu Rin,” jawab Theo yang ikut masuk ke dalam kamar Airin. Suasana pun menjadi hening. Theo dan Airin hanya duduk di ranjang yang sedang dipakai tidur oleh Marvel. Kedua mata lelaki itu melirik Airin yang sedang terdiam. “Kamu kemana?” “Revan traktir makan semua divisi keuangan.” Theo menganggukkan kepalanya. Mendengar nama Revan disebut entah kenapa membuat hatinya bergejolak tidak suka. Dia takut jika Airin membuka hatinya untuk lelaki itu. “Kenapa Kak Theo nggak hubungi aku? Kalau tahu Marvel tungguin aku, aku pasti akan langsung pulang.” Airin marah karena tidak ada satu pun dari penghuni rumah ini yang berusaha untuk menghubunginya. “Kamu nggak mau ganggu kamu.” Tatapan mereka bertemu. Airin sejenak terdiam memandang ketulusan yang ada pada raut wajah Theo lalu dia merasakan sentuhan yang ada pada kedua tangannya. “Kita takut membuat kamu merasa tidak nyaman. Apalagi setelah pernyataan rasa suka aku kepada kamu Rin. Aku nggak mau membuat kamu semakin menjauh dari aku.” Airin menggigit bibirnya. Dia belum ada jawaban untuk membalas pertanyaan Theo kemarin. Apakah dia benar-benar mencintai Theo? Apakah di hatinya ada nama Theo? Airin belum tahu dan masih bingung. Sebenarnya hanya nama Tendi yang selalu ada di dalam hatinya. “Aku juga nggak maksa kamu buat jawab hari ini. Sampai kamu belum merasa yakin kamu nggak boleh jawab apa pun.” Karena jika Airin menolaknya dia akan membawa Marvel untuk kembali tinggal di Singapura. Sepertinya mereka berdua sudah ditakdirkan untuk hidup tanpa sosok seorang ibu dan istri di sampingnya. Airin menganggukkan kepalanya. Dia juga masih bingung dengan jawabannya. Masalahnya hati dan pikirannya masih dipenuhi oleh Tendi. Airin pun masih berharap Tendi masih hidup dan sedang berjuang untuk kembali kepadanya. Hanya saja apakah itu mungkin? Atau malah sebaliknya? **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN