Airin tersenyum simpul ketika melihat Feronika sedang duduk di ruang tamu. Dia mendekat kepada asisten Theo dan menyambutnya dengan senyuman hangat. Meski pun Feronika besar dan tinggal di luar negeri yang katanya dalam berpakaian memiliki tingkat kesopanan yang minim akan tetapi sekertaris Theo ini benar-benar menyesuaikan kebiasaan di sini.
“Ada keperluan mendesak ya? Sampai harus ke Indonesia?” tanya Airin kemudian duduk di hadapan Feronika yang kembali duduk di kursinya.
Feronika menganggukkan kepalanya. Keperluan mendesak itu adalah memberikan secara langsung file penting yang katanya tidka boleh dikirim lewat jasa apa pun. Padahal jika Theo mengijinkannya untuk mengirimkan file itu melalui kurir perusahaan tidak perlu mengeluarkan dana untuk dinas luar negerinya ini.
“Kirim berkas penting.”
“Padahal lebih praktis dikirim lewat email kan? Nggak perlu susah untuk datang ke sini.” Benar apa yang dikatakan Airin. Dia juga sering mengirimkan data-data lewat email kepada Pak Ahmad.
“Seharusnya seperti itu. Hanya saja kata Pak Theo saya harus mengirimkan file ini secara langsung,” jelas Feronika sambil memasang senyum lebar miliknya.
Airin hanya terkekeh sepertinya semua karyawan sepertinya akan mengalami siksaan kejam seorang atasa. Dulu juga Airin pernah ditemani di kantor sampai larut malam agar bisa dengan segera menyelesaikan laporan keuangan. Padahal rapat dengan direktur akan diadakan dalam seminggu ke depan.
Theo mendekati Airin dan Feronika dengan memakai setelan jas hitam senada dengan dres panjang milik Feronika yang berwarna hitam. Lelaki itu terlihat gagah apalagi d**a bidangnya terlihat jelas membuat siapa pun wanita akan tergoda untuk membelainya.
“Karena saya takut file itu tersebar. Kamu pernah dengar kan banyak file yang bocor di internet. Kalau itu terjadi perusahaan akan rugi besar dan saya terancam bangkrut,” ujar Theo setelah mendengar perbincangan kedua wanita itu.
Airin tidak pernah berpikiran sejauh itu. Apa itu bisa terjadi? Setahunya semua aplikasi sudah mempunyai keamanan yang berjanji akan melindungi semua data-data pengguna. “Tapi kasihan Feronika kalau harus bolak-balik untuk kasih file itu saja.”
Feronika yang tahu situasi akan memanas memasang senyum lebar. “Saya tidak apa-apa Kak Airin. Ini sudah jadi tugas saya dan juga saya bisa sekalian liburan.”
Airin hanya terdiam mendengar jawaban dari Feronika begitu pula dengan Theo yang ikut terdiam. Kedua mata Airin melirik Theo dengan tatapan menusuk. Dia sebal dengan tingkah lelaki itu yang semena-mena kepada karyawan.
Hari tanggal merah membuat Airin terus berada di rumah tanpa ingin melakukan aktivitas di rumah. Theo juga sedang sibuk berdiskusi dengan Feronika sedangkan Marvel sedang asik berenang di belakang rumah bersama dengannya.
Endang ikut bergabung dengan membawa dua s**u cokelat hangat untuk Airin dan Marvel. Dia tersenyum tipis melihat kedua orang yang ia sayangi tengah asik menikmati hari libur mereka. Jika Bakti ada mungkin akan lebih ramai, sayangnya kakek tua itu memilih untuk membereskan urusan kantor hari ini agar cepat terselesaikan.
“Marvel mau ke nenek?” tanya Airin ketika melihat anak it uterus tersenyum ke arah Endang, Marvel tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya. Airin pun mengangkat anak itu ke atas dan melanjutkan kembali acara berenangnya.
Airin sangat suka berenang, bahkan dulu jika ada Tendi mereka akan berenang bersama-sama dan sesekali melakukan lomba jika Airin tiba diujung terlebih dahulu maka dia akan mendapatkan hadiah dari suaminya. Sayangnya itu dulu, kini dia hanya ditemani Marvel untuk melakukan hobinya ini.
Ketika mengangkat kepalanya dari air, Endang dan Marvel sudah tidak ada. Kemana mereka? Mereka tega sekali meninggalkannya. Airin pun berjalan ke tangga dan naik untuk menyusul Marvel. Untung saja Airin memakai pakaian renang yang tertutup jadi ketika dia bertemu dengan Theo tidak akan membuatnya malu.
“Udahan?” tanya Theo ketika melihat Airin sedang berada di dapur.
Airin menganggukkan kepalanya. “Lihat Ibu dan Marvel? Tadi mereka nggak ada di luar.”
Theo menggelengkan kepalanya. Dia tidak melihat Ibu dan anaknya mungkin karena terlalu fokus membahas dana keuangan perusahaan bersama dengan Feronika. Hanya saja fokusnya sekarang kepada Airin yang sedang basah kuyup sehabis renang. Dia takut jika wanita itu terjatuh karena lantai menjadi licin akibat air dari baju renangnya.
Theo pun memutuskan untuk mendekati Airin yang sedang berdiri di depan kulkas. “Nggak dingin?”
“Nggak,” jawab Airin sambil memilih minuman dingin yang bisa menyegarkan tenggorokannya. Pilihannya jatuh kepada Teh kotak dan kembali menutup pintu kulkas.
Airin pun berjalan meninggalkan Theo karena harus pergi ke kamar mandi. Sayangnya karena lantai menjadi licin Airin tidak bisa mempertahankan keseimbangannya, tubuhnya melayang ke atas dan untungnya ada seseorang yang langsung berada di bawahnya.
Suara gaduh pun terdengar, membuat Feronika yang sedang mengetik langsung berlari ke sumber suara bersama dengan Marvel dan Endang yang keluar dari kamar Endang.
“Astaga! Kalian kenapa?” tanya Endang ketika melihat anak dan menantunya sedang tiduran di lantai. Theo ada dibawah Airin seperti mencegah agar kepala wanita itu tidak berbenturan dengan lantai. Sayangnya Theo yang menggantikannya membuat Airin khawatir dibuatnya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Airin dan Theo berbarengan. Keduanya terdiam kemudian tertawa mengingat aksi yang tadi mereka lakukan.
“Kenapa jadi pada ketawa? Airin kamu nggak apa-apa?”
Airin menggelengkan kepalanya kemudian dibantu berdiri oleh Feronika sedangkan Theo bisa berdiri dengan tenaganya sendiri, tenang kekuatan Theo tidak akan habis jika untuk melindungi seseorang yang ia sayangi.
“Makanya kalau habis berenang itu langsung pergi ke kamar mandi, bukannya ke dapur.” Endang sangat kahwati melihat Airin mengalami kecelakaan kecil seperti ini. Bisa saja kan menantunya mengalami hilang ingatana dan mengakibatkan dia tindak mengenal keluarganya sendiri? Endang tidak mau hal itu terjadi.
“Airin, nama ibu siapa?”
Sontak semuanya terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Endang. Airin menatap lekat ibunya dan tersenyum lebar.
“Ibu…. Aku masih normal.”
“Ibu Endang, Marvel, kak Theo dan Feronika yang cantik,” sambungnya dengan menyebutkan semua nama orang yang ada di sini.
Endang menghela napas lega dan menarik Airin di sana. “Kamu harus segera mandi Rin, kamu nggak kedinginan?”
Theo tersenyum tipis melihat raut wajah khawatir yang dimiliki ibunya untuk Airin. Ibunya benar-benar sangat menyanyangi menantunya jarang sekali ada mertuanya yang baik seperti Endang.
“Pak, Bu Endang sangat sayang sekali kepada Kak Airin ya? Jarang banget ada mertua yang seperti itu.”
Theo setuju dengan ucapan Feronika. Hanya saja satu dari seribu mertua di dunia ini yang memiliki sifat baik seperti Endang. Di masa mendatang dia juga belum tentu bisa baik kepada menantunya.
“Marvel,” panggil Theo kepada anaknya yang masih berdiri di dekat Feronika.
Marvel mendekati Theo dan memeluk Daddynya untuk digendong olehnya. “Daddy Tante baik-baik saja kan?”
Theo menganggukkan kepalanya. “Daddy kan udan lindungi Tante Airin, pasti dia akan baik-baik saja.”
Marvel menganggukkan kepalanya. “Tadi itu Daddy keren, kayak Superman yang selalu menolong orang.”
Theo terkekeh dan kembali menuju ruang tamu bersama dengan Feronika yang mengikuti dari belakang.
*