Malamnya Marvel menceritakan semua kejadian Airin yang diselamatkan oleh Theo ketika jatuh di lantai kepada Bakti. Bahkan Bakti mengehentikan kegiatan makannya untuk mendengarkan semua cerita yang dikatakan oleh cucunya. Marvel sangat antusias ketika menceritakan semuanya apalagi dia sangat senang melihat bagaimana Daddynya menolong Tante kesayangannya.
“Makanya Marvel harus melindungi Tante Airin, jadi ketika Daddy tidak ada Marvel bisa menjaga Tante Airin dengan baik,” ujar Bakti agar mulai dari kecil Marvel sudah bisa menjaga Airin dengan baik.
Marvel menganggukkan kepalanya dengan semangat. Dia akan menjada Tante Airin dengan baik karena mulai sekarang cita-citanya akan menjadi Superman. “Marvel akan jaga Tante Airin karena mulai sekarang cita-cita Marvel adalah ingin menjadi Superman.”
Sontak semua yang ada di sana tertawa mendengar cita-cita Marvel yang akan menjadi Superman. Kebanyakan menonton televisi sepertinya membuat Marvel tidak bisa membedakan tokoh fiksi dan nyata. Namun, perkataan itu membuat Airin terharu dibuatnya.
“Kalau Marvel ingin menjadi Superman, Marvel harus banyak makan. Nggak boleh susah makan dan selalu menjaga kesehatan. Nggak boleh makan yang manis terlalu banyak dan kurangi minuman dingin,” ucap Airin mengingatkan kepada keponakannya yang suka makanan manis dan minuman dingin agar mulai sekarang bisa mengurangi memakan semua itu.
Marvel cemberut, dia tidak mungkin mnegurangi semua makanan yang sangat dia sukai. Anak itu pun menatap Theo meminta pertolongan kepada Daddynya.
Theo tersenyum tipis menyadari tatapan Marvel yang sedang meminta tolong kepadanya. Kenapa anaknya sangat lucu sekali ketika meminta sesuatu?
“Betul kata Tante Airin, Marvel harus mengurangi makan makanan manis dan minuman dingin. Soalnya Superman nggak suka makanan itu.”
Marvel terkejut mendengarnya, padahal semua makanan dan minuman itu adalah yang terbaik di muka bumi. Kenapa Superman tidak menyukainya?
“Kenapa Superman nggak suka?”
“Karena kalau Superman suka makanan manis, badannya akan obesitas dan nanti nggak bisa terbang ke sana ke mari. Terus kalau terus-menerus minum minuman dingin maka tenggorokannya akan terganggu terus pas terbang batuk-batuk karena sakit tenggorokan. Masa Superman kayak gitu, menjaga kesehatan aja nggak bisa apalagi menjaga semua orang?” jelas Theo membuat semua yang ada di sana kagum dengan penjelasannya. Marvel terdiam dia sedikit tidak mengerti dengan penjelasan Daddynya. Intinya dia tidak boleh makan makanan manis dan minum minuman dingin.
Endang terkekeh ketika melihat ekspresi Marvel yang terlihat kebingungan. “Kamu itu, Marvel umurnya baru aja lima tahun, nggak akan mengerti dengan semua ucapan kamu tadi. Percuma berbicara panjang lebar kalau yang dinasehati nggak mengerti sama sekali.”
Marvel menggelengkan kepalanya. “Marvel mengerti kok Nek. Marvel nggak boleh makan makanan manis dan minum minuman dingin. Benar kan Dad?”
Theo tertawa mengingat anaknya masih berumur lima tahun dia rasa anaknya sudah besar dan bisa mengerti dengan semua perkataanya. Dia menganggukkan kepala ketika mendengat perktaan Marvel.
Feronika yang sedari tadi memperhatika keluarga ini menjadi iri karena tidak bisa begitu dekat dengan keluarga suaminya. Apalagi kedua mertuanya tinggal diluar negeri membuat dia dan suami tidak bisa menikmati waktu bersama dengan mertuanya.
Sekertaris Theo tidur bersama denga Airin dan Marvel dia menata foto pernikahan Tendi dan Airin yang masih terpasang di kamar itu.
“Kak Airin cantik banget di foto itu,” ucap Feronika sambil menyelimuti dirinya, Marvel sudah tertidur sedari tadi tersisa Airin dan Feronika yang masih membuka kedua matanya.
Airin menatap fotonya bersama dengan Tendi, dia memang cantik pada hari pernikahannya begitu pula dengan Tendi yang menurutnya lelaki paling ganteng di muka bumi ini sayangnya mereka harus dipisahkan oleh kematian, dan Airin selalu berdoa jika mereka akan dipertemukan lagi di alam sana.
“Kak Theo di kantor giaman Fer. Galak nggak?”
Feronika terkekeh mendengarnya. Menurutnya Theo adalah pimpinan paling pengertian selama dia bekerja dengannya. Kadang Theo tidak tanggung-tanggung memberikan bonus kepada karyawan jika hasilnya memuaskan.
“Namanya juga manusia Kak Airin, pasti ada positif dan negatifnya. Kadang Boss bisa jadi pimpinan yang galak dan kadang berubah menjadi super baik. Tergantung situasi dan kondisi.”
Airin setuju dengan ucapan Feronika. Pak Ahmad juga kadang bisa menjadi baik dan juga malah sebaliknya. Bahkan dia sering puji Pak Ahmad den besoknya mengumpat karena kesal dengan sikapnya yang membuatnya darah tinggi.
“Dan menurut saya semua yang dilakukan pimpinan itu ujungnya demi kebaikan bersama. Agar semua pegawai nyaman dan betah bekerja di sana. Banyak banget yang menggantungkan hidupnya ke Pak Theo maka dari itu Pak Theo akan melakukan apa pun agar sumber kehidupan seluruh pegawainya tidak hilang.”
Airin menganggukkan kepalanya dia setuju dengan ucapan Feronika. Dia juga kagum kepada Theo karena bisa menjadi Daddy yang selalu ada di samping Marvel dan pimpinan yang dengan segenap jiwa menjaga mata pencaharian karyawannya.
Cerita dari Feronika membuat Airin memikirkan kembali pernyataan cinta Theo kepadanya, jika seperti itu tidak mungkin kan Theo mempermainkan hatinya? Dia juga tidak mungkin menikah dengannya hanya agar Marvel tidak kesepian.
Revan mengelus puncak kepala Luna yang sedang membalas chat Lusi kembarannya. Lelaki itu baru mengetahui jika Luna mempunyai kembaran.
“Jadi kamu adiknya Lusi?”
Luna menggelengkan kepalanya. “Kita berdua nggak mau jadi kakak dan adik, makanya kita dari kecil selalu nolak jika mau dipanggil dua kata itu.”
“Jadi dari kecil panggil nama aja?”
Luna mengangukkan kepalanya. “Iya. Kadang lo gue. Seenaknya aja sih. Dulu aku pernah berantem sama dia sampai hidung aku berdarah.”
Revan mengecup dahi Luna pelan. Dia tidak tahu bagaimana rasanya mempunyai saudara karena dari dulu dia selalu sendirian. Resiko anak tunggal memang seperti itu. Kadang juga menyenangkan karena tidak mempunyai saingan di rumah.
“Tapi sekarang nggak kayak begitu kan?”
Luna menggelengkan kepalanya. “Nggak dong, dia baik banget sama aku. Besok kita akan ketemu. Kamu mau ketemu sama dia?”
Revan menganggukkan kepalanya. “Mau dong.”
Luna pun tersenyum simpul dan menyimpan ponselnya di meja. “Gimana kalau sekarang kita ciuman? Kamu nggak bosen kita dari tadi berbicara terus?”
Revan terkekeh mendengat pertanyaan Luna. Dia pun menarik gadis itu akan duduk sejajar dengannya. “Aku nggak bosen hanya berbicara sama kamu, malahan aku seneng karena bisa terus dengar suara kamu.”
Luna memukul pundak Revan dan tersenyum simpul ketika merasakan deru napas lelaki itu. Dia merasakan kecupan singkat di bibirnya kemudian memejamkan kedua matanya ketika merasakan lumatan lembut yang dilakukan oleh lelaki itu. Ketika Revan menciumnya Airin selalu merasakan ribuan kupu-kupu terbang di dalam perutnya membuatnya merasakan sensasi aneh yang menggairahkan. Kini posisi gadis itu sudah berada di bawah Revan, lelaki itu menatap Luna dengan pandang lembut.
“Kita tidur ya, nggak baik kalau diterusin.”
**