Melega, Marsha langsung melanggung punggung ke sandaran kursi bus. Napasnya tersengal-sengal, gadis itu bisa tenang setelah berusaha keras untuk keluar dari para murid yang gemar karena dirinya terutama Nabila yang enggan melepaskan sampai matahari naik menjadi siang yang terik. Berhasil mengatur napas, Marsha melongokkan wajah menatap keluar jendela bus. Angin sepoi-sepoi menerbangkan anak rambut yang menutupi kedua mata. "Harus bersiap-siap buat bahaya yang menunggu di depan." Dia terus bergumam nyaris setengah berbisik. Marsha tak mau lengah hanya karena sebuah lentera yang berusia tua dan mengandung keanehan berbau mistis. Itu tak biasa, bahkan terlampau menyeramkan. Entah apa maksud tersembunyi sang kakek mewariskan benda yang tak jelas asal-usulnya pada Marsha tanpa berniat memb

