Cantika terkejut mendapati wajah Marsha yang basah beruraikan air mata mendatangi beliau dengan langkah ketakutan. "Kamu kenapa?" "Le-lenteranya ...." Marsha memeluk tubuh ringkih sang nenek seerat yang dirinya bisa. Suara gemetar miliknya berusaha diredam. Gadis itu tak mau menunjukkannya pada Cantika agar wanita tua itu tak merespon dengan hiperbola hingga penyakit beliau kambuh. Beberapa minggu terakhir, penyakit Cantika telah jarang kambuh, tak sesering seperti dulu ketika Marsha masih duduk di bangku SMA kelas X. Tak mungkin dia tega membuat satu-satunya orang yang tulus merawat dan menemani di saat ayah dan ibunya dinas menderita, kan? Marsha menggigit bibir bawahnya sebentar, menyiuk sekali. Setelah itu, gadis itu memberanikan diri untuk menatap dan mengatakan sejujurnya. "Kezi

