Melihat Marsha yang ambruk di hadapannya, membuat Rey gelagapan. Cowok berjaket biru navy itu banjir oleh keringat, rasanya ia seperti pembunuh bayaran yang tertangkap basah. Di lihat dari segi mana pun, dia tidak seperti orang yang berbahaya, terutama tak membawa s*****a yang tajam. "Mar, Marsha! Lo kenapa?" Rey memegangi pipi Marsha, pipi itu terasa dingin. "Gue harus apa?! Bangke, gue gak bawa mobil ke sekolah!" Rey mengumpat, akan sangat sulit ia membawa Marsha segera ke rumah sakit terdekat. Kekhawatirannya memuncak saat wajah Marsha bertambah pucat layaknya mayat. Rey spontan teringat bahwa rumah sakit terdekat tidak ada sama sekali. s**t, tak ada waktu untuk pergi ke rumah sakit yang terletak di pusat kota Jakarta. Sudah begitu, ditambah pulang sekolah semua murid sudah bergeg

