Pertemuan Tetua

1130 Kata
Seoul, Korea Selatan Pertemuan para tetua itu berlangsung di sebuah ruang makan bermeja kayu panjang, sekitar delapan belas orang tetua tengah berkumpul, duduk membentuk persegi panjang. Mereka semua mengunakan pakaian kasual, di depan mereka terdapat untuk masing-masing mereka cangkir teh yang tidak tersentuh dan sejumlah makanan kecil. Mereka datang dari beberapa provinsi berbeda, tapi kedatangan mereka telah diatur dengan diam-diam oleh seorang tetua senior. Pada pertemuan itu, para penjaga bersenjata khusus mengawal mereka memasuki rumah besar tempat pertemuan itu diadakan, dan ketika tetua terakhir muncul, pintu ruangan itu segera dikunci dan para penjaga mengambil tempat, bersiaga dan waspada terhadap adanya tanda-tanda penguntit, bahkan pengacau. Meski di wajah mereka tampak jelas kerutan karena usia, namun jelas mereka adalah orang-orang yang mempunyai kekuasaan penuh dan jabatan dalam keluarga. Perkumpulan itu hanya seperti makan malam biasa tapi pembahasan mereka bukan untuk makan malam hangat dan bersenang-senang antara sesama keluarga. Pertemuan itu sudah berlangsung hampir tiga jam dan pembicaraan mereka baru menyelesaikan tahap awal. Berhubungan dengan politik, pemerintahan dan tentu saja perusahaan. Meski tidak semua orang di ruangan itu secara langsung bekerja untuk perusahan keluarga, tapi mereka orang-orang yang cukup berpengaruh di pemerintahan. Perusahan keluarga yang dahulunya hanya berupa toko obat kecil itu telah berubah menjadi sebuah kerajaan bisnis yang besar. Akhirnya, ketua kelompok itu memutuskan bahwa telah tiba saatnya untuk membahas perihal paling utama, yakni pemulangan Tuan Putri, putri satu-satunya Presdir Lee ke Korea Selatan. Tuan putri yang mereka maksud adalah pewaris satu-satunya kekayaan Tuan dan Nyonya Lee, yang merupakan pemilik saham terbesar di perusahaan keluarga itu. Tuan Putri mereka bernama Lee Se Ra. Pada awalnya tidak ada yang tahu kemana Tuan Putri di kirim, karena di tahun itu terjadi beberapa kali penculikan Tuan Putri, sehingga keberadaan di rahasiakan. Banyak orang memandang Tuan dan Nyonya Lee agak kejam dan tak berperasaan. Mengirim putri mereka sendiri ketempat antah berantah dan tak pernah menghubunginya selama bertahun-tahun. Perusahaan bernama Hachi itu, sekarang tak hanya bergerak di bidang obat-obatan dan kosmetik, melainkan juga mulai bergerak di bidang retail. Pembahasan pemulangan itu tentu saja telah diatur seseorang. Setelah mendengar kabar batalnya pernikahan putri Presdir Lee, seseorang kepercayaan langsung terbang menuju Indonesia detik itu juga menjemput tuan putri, bahkan dengan paksa sekalipun, dan pertemuan itu segera di atur. Tak ada yang menyangka pembatalan pernikahan itu, terjadi diluar rencana yang telah diatur sedemikan rupa. Salah seorang tetua berdeham “Sebagaimana kita ketahui, Tuan Lee dan Nyonya Lee" katanya dan ia menoleh kepada pasangan paling muda diantara mereka, pasangan paling kaya dan berpengaruh di pertemuan itu. Tetua itu mengalihkan pandangan kepada semua peserta pertemuan yang mengangguk kecil kearahnya lalu melanjutkan "Kita tidak bisa melepas begitu saja cucu tertua Tetua Kim" katanya mengarah pada seorang tetua berkacama dengan tubuh gempal dan buncit yang duduk berseberangan dengan pasangan paling muda tadi. "Tujuan utama pemulangan tuan putri telah sama-sama kita ketahui, cucu Tetua Kim sudah waktunya menikah. Kesempatan itu tidak bisa kita lepas kepada orang lain diluar keluarga” jelas tetua senior itu. Meski rambutnya sudah sepenuhnya dipenuhi uban dan tubuhnya yang sudah nampak rapuh karena usia, tidak berpengaruh besar terhadap suaranya yang tetap lantang dan berwibawa. Cucu tertua Kim bernama Kim Hyun So, seorang yang digadang-gadangkan menjadi sarjana emas kota Seoul. Bujangan yang paling banyak di incar dan di jadikan calon menantu idaman. Pada awalnya perusahaan keluarga, Hachi, hanya memilik satu keluarga, yaitu keluarga Choi, namun karena semakin besarnya perkembangan Hachi, dan semakin banyak anggota keluarga, maka pembagian kekuasaan dan saham tak bisa terhindari. Karena semakin diperlukan dukungan luar, pernikahan politik pun sudah kerap dilakukan. Dan perjanjian pernikahan politik pun kerap menggunakan tawar menawar saham, sehingga saat ini pemilik saham Hachi bukan lagi hanya keluarga Choi seutuhnya. Tertua Kim menahan senyumnya, ia tahu ia telah memenangkan satu tujuannya. "Aku tidak bermaksud kasar Tuan Lee, tapi, mungkinkah cucu tertua kami tidak memenuhi kriteria calon suami tuan putri?” tambah Tetua Kim bertanya pada pasangan Lee. Apa yang ia rencanakan selama ini telah berjalan dengan mulus, kecuali satu hal. Nyonya Lee menoleh pada suaminya, lalu beralih memandang kepada semua orang “Tetua Kim, kami tahu dan semua orang juga mungkin tahu. CEO Kim telah menjadi bujangan paling diincar di Seoul, dari segi fisik ia sempurna, dari segi materi pun ia berlimpah. Jika ia menjadi menjadi suami putri kami, tentu kami tidak keberatan sama sekali. Jika para tetua beranggapan kami sengaja mengulur waktu kepulangan putri kami, sejujurnya itu memang benar. Lebih baik kita saling berkata jujur, bukan? Kami selalu menjadikan putri kami sebagai prioritas, ia selalu di nomor satukan dalam hal apapun” jelas Nyonya Lee puas. Kim Hyun So atau lebih dikenal CEO Kim, cucu salah satu tetua di pertemuan itu, Tuan Kim, pemuda paling potensial untuk menikahi Tuan putri. Para Tetua tidak mau jika kesempatan emas itu jatuh keluar keluarga besar, karena sudah menjadi tradisi dari dahulunya. Kim Hyun So adalah orang yang menduduki kursi pemimpin perusahan besar itu, mengantikan posisi Tuan Lee beberapa tahun lalu. Sudah matang untuk menikah, dan sudah menjadi kesepakan bahwa mereka berdua harus dinikahkan demi kepentingan perusahaan. Wajah Tetua Kim mengeras karena tersinggung “Apa maksud anda Nyonya Lee?” tanyanya dengan tidak senang. Nyonya Lee memandang para tetua dan tersenyum pada suaminya “Tiga tahun yang lalu, Ketua Kim mengatakan bahwa CEO Kim tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Kami dan para tetua yang lain tentu percaya akan hal itu” tetua lain nampak mengangguk samar menyetujui ketika Nyonya Lee melanjutkan “Putri kami sudah dipersiapkan untuk kembali, tapi tiga hari sebelum keberangkatannya kami mendengar kabar bahwa CEO Kim sudah menjalin hubungan dengan seorang artis terkenal selama tiga tahun. Kami tidak perlu menyebutkannya, karena Tetua Kim sudah pasti mengetahuinya. Dan selama tiga tahun selanjutnya, kami terus mengulur waktu kepulangan putri kami, berharap CEO Kim akan segera mengakhiri hubungannya itu. Namun, ternyata kami salah. Hubungan itu ternyata makin serius. Secara pribadi kami tentu merasa kecewa. Tapi, karena tetua mendesak putri kami agar di pulangkan, maka kami akan memastikan putri kami sudah sampai di korea bulan depan. Dan jika selama satu tahun CEO Kim belum bisa menjadikan putri kami satu-satunya, maka dengan sangat terpaksa kami menerima lamaran seorang Menteri di negara ia berada sekarang" Jelas Nyonya Lee. Dia tidak tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya, Lee Se Ra bukanlah putri kandungnya, tapi anak suaminya dengan wanita lain. Meski dia membenci wanita itu, tapi dia tidak pernah membenci Lee Se Ra, bukan karena dia begitu baik hati dan murah hati, tapi mungkin karena gadis kecil itu miliki kemiripan dengan pria yang disukainya, atau dia merasa Lee Se Ra tidak bisa disalahkan oleh kesalahan orang tuanya. Yuara Weng yang masih tenggelam dalam rasa sakit ditinggalkan dan dikhianati calon suami berserta sahabatnya dan Kim Hyun So yang masih asik bersama kekasihnya, Kang Tae Ri, tidak tahu bahwa nasib mereka telah di tentukan oleh para tetua dalam keluarga. Pernikahan mereka telah menjadi kepastian meski terjadi perdebatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN