Jika Yuara Weng ingin berperang dia harus mengetahui keadaan musuh.
Strategi itu juga berlaku jika dia ingin berdebat dengan ayahnya, Xu Ming Weng, dia harus mengetahui susana hati ayahnya.
Jika ayahnya sedang dalam suasana hati yang baik atau biasa saja, dia bisa bermain imut dan berdebat jika perlu, mengutarakan berbagai alasan yang menyakinkan dan menyanggah dengan berbagai teori yang menurutnya benar.
Jika ayahnya tengah dalam suasana hati buruk, dia akan berprilaku sangat baik. Diam mengakui kesalahan, atau menatap ayahnya dengan mata besar berkaca-kaca, mendengar semua ceramah panjang lebar ayahnya dengan sabar.
Jadi untuk mengetahui situasi ayahnya, dia menghubungi kekasih kakak laki-lakinya, Kathryn van Wray, yah seperti namanya, Kathryn adalah keturunan Belanda-Indonesia, wajahnya kebarat-baratan dan sangat cocok dengan kakak lelakinya, Rihito Xu.
"Tumben nongol. Mau kirim undangan ya?" tanya Kathryn tanpa sapaan apapun, dan mereka sudah terbiasa akan hal itu "Sekalian baju seragamnya jangan lupa" tambahnya.
"Undangan apaan, saya batal kawin Mbak!" kata Yuara Weng pahit.
"Hah? kok bisa. Jangan bercanda kamu" balasnya, suara Kathryn terdengar curiga dan ragu-ragu.
"Ini serius. Ribuan serius malah" Ujar Yuara dengan amat dipaksakan, dia berusaha menutupi kesedihan hatinya dengan candaan yang abstrak.
"Lah, kok bisa begitu?" tanya Kathryn seolah-olah belum bisa menerima fakta didepannya "Kalian itu gimana. Pernikahan kok kaya permainan. Nikah dadakan, batalnya juga dadakan. Nikah bukan permainan anak-anak"
"Dianya selingkuh Mbak" aku Yuara dengan air mata mengalir di sudut matanya.
"Selingkuh? Astaga. Aku ngak nyangka Oliver yang alim dan kaya anak baik-baik bakal lakuin kaya gitu. Dia beneran selingkuh? ngak cuma gosip miring,kan? atau mungkin ucapan ngak bertanggungjawab orang-orang?" Ujar Kathryn masih tampak tidak menerima fakta pembatalan pernikahan yang dadakan. Dia tahu kalau Yuara punya kewarganegaraan Korea Selatan, dan pernikahan beda negara tidak semudah itu untuk mengurus perizinannya. Untuk benar-benar batal, itu sungguh sangat disayangkan. Selain itu Yuara agak kurang dewasa dan suka bercanda, dia takut tena tipu.
"Engga Mbak, dia benar-benar selingkuh. Selingkuh di depan mata kepala aku sendiri. Dan cewek selingkuhnya itu Tania, sahabat aku" jelas Yuara Weng dengan suara bergetar dan air mata makin banyak meluncurkan membasahi pipinya "Mereka ciuman dan peluk-pelukan di depan aku Mbak"
"Aduh" desah Kathryn van Wray tidak tahu harus berkata apa "Gawat itu" katanya.
Mereka hening sesaat, hanya isak dan tangis Yuara yang terdengar.
"Ya sudah, ngak usah nangis. Ini ganti pembelajaran untuk ke depannya buat Yuara, kamu cari cowok nanti benar-benar di lihat dulu. Jangan terlalu sedih, ambil baiknya aja, syukur syukur tahunya sekarang. Kalau sudah nikah kan nanti urusannya susah. Apalagi kalau sudah punya anak. Sebagai perempuan pasti kita punya banyak pertimbangan" saran Kathryn dengan lembut. Meski usia mereka hampir sama, tapi Kathryn nampak lebih dewasa darinya, dan itulah yang membuat Yuara lebih bisa mengeluarkan unek-unek kepadanya.
"Iya, tahu Mbak" kata Yuara perlahan tenang, "Mbak lagi dimana?"
"Bogor. Ayo sini, aku kenalin sama banyak satwa"
"Mbak, aku gagal nikah. Masa di kenalin sama satwa liar bukannya cowok ganteng" kata Yuara bercanda "Ngomong-ngomong abang aku ngapain di London?" tanyanya
"Persentasi" Jawab Kathryn, tidak ada tanda-tanda ada masalah dengan nada bicaranya dan membuat Yuara makin penasaran apa yang terjadi dengan ayahnya yang marah-marah.
"Ngak ada masalah, kan?" tanya Yuara lebih menyakinkan.
"Kayanya engga deh. Katanya dia sibuk sih, nanti aku tanyain. Mau apa? Nitip bule Inggris? atau mau dibungkusin satu buat bawa pulang, mainin di rumah. Ini ada satu, dari Amerika. Mau?"
"Satwa lagi?" tanya Yuara.
"Pintar"
"Ah, pada sedeng semua punya kenalan" desah Yuara dramatis.
____
Seoul, Korea Selatan.
Kim Hyun So melempar map yang di berikan kakeknya geram "Persetanan dengan Lee Se Ra dan urusan perusahaan" teriaknya menggema ke seluruh ruang kerja Kakeknya.
Laki-laki berkacama bulat yang seluruh kepalanya sudah di tumbuhi uban itu tak bergeming sedikitpun "Kau bisa menjadikan Lee Se Ra sebagai istri sah, dan pacarmu itu sebagai selir" usul Tetua Kim tak kalah sengit.
Ia sudah kenal cucu semata wayangnya itu dari bayi. Dan ia hanya ingin yang terbaik untuk cucu kesayangannya itu sebelum ia menutup mata untuk selamanya. Seorang wanita baik-baik dari keluarga baik-baik pula, bukan wanita tidak baik yang hanya memanfaatkan kekayaannya saja, seperti kekasih Kim Hyun So sekarang.
Kim Hyun So memejamkan matanya geram dan mendesah keras "Kakek pikir aku ini apa?" katanya lirih menyandarkan punggung ke kursi di ruang kerja kakeknya.
Dari dahulu hanya perkataan kakeknya yang tidak pernah bisa ia bantah. Sebab hanya laki-laki tua itulah yang selalu ada untuknya. Mengantikan sosok ayah yang selalu sibuk bekerja, sekaligus ibu yang sudah lama meningal dunia.
Karena Ayahnya menolak menikah lagi, maka dengan rela Kakek lah yang akhirnya menikahi seorang wanita muda demi memberikan rasa memiliki seorang ibu untuk Kim Hyun So, mengabaikan hujatan dan hinaan orang-orang di luar sana atas dirinya.
Tapi kali ini lain, perjodohan bukan hal yang ingin dilakukan Kim Hyun So. Pernikahan itu pilihan hidupnya sendiri. Meski dia belum memantapkan pilihan pada kekasihnya, Kang Tae Ri, tapi dia tidak akan menikah siapapun karena perjodohan sialan itu.
"Ini bukan tetang apa kamu, Kim Hyun So. Umurmu sudah berapa. Kau perlu melanjutkan nama Keluarga. Aku tahu kamu masih bersikeras dengan idemu, tapi keadaanmu sekarang di perusahaan di pertanyaannya. Posisinya mudah goyah. Usiamu masih muda, sehingga kemampuanmu selalu dipertanyakan. Aku tidak menyangkal kerja kerasmu selama ini, tapi tidak semua orang bisa menerima usia mudamu, dan fakta bahwa orang-orang hanya hormat kepadamu karena aku dibelakangmu" Jelas Tetua Kim mencoba bicara dari hati ke hati, yang moga-moga akan meluluhkan keras kepala Kim Hyun So.
Dia pun melanjutkan "Aku sudah terlalu tua Hyun So, dan orang-orang seusiaku seharusnya sudah pensiun dan menikmati usia tua. Tapi aku masih tidak bisa melihatmu berjuang sendirian di kandang serigala. Aku sudah lelah dan ingin menyerah kursi dewan. Ketika saat itu tiba, kursimu mungkin tidak bisa dipertahankan lagi. Dan kita butuh Keluarga Lee untuk mempertahankan dan memperkuat posisimu" tambah Tertua Kim dengan alasan yang wajar dan menyakinkan.
Dan Kim Hyun So tahu bahwa kakeknya mengatakan yang sebenarnya, lima tahun lalu ayahnya meninggal ketika kakeknya tengah mengalami operasi jantung, dan dia sendiri harus mendukung posisi di perusahaan hingga kakeknya stabil.
Bukannya beristirahat, setelah keluar dari rumah sakit Kakeknya malah menjadi pilar kokoh dibelakangnya. Meski saat itu dia juga bersedih karena kematian anak lelaki satu-satunya.
Tapi meski begitu, Kim Hyun So masih belum bisa menerima pernikahan politik. Dia menolak dari hatinya yang paling dalam. Bukan karena dia cinta mati pada Kang Tae Ri, tapi dia tidak tahu apa alasan pastinya.
"Tapi..." Kim Hyun So masih mencoba menyangkal dengan alasannya sendiri.
Sebelum Kim Hyun So bisa menyangkal, Kakaknya lebih dahulu memotong "Aku juga pernah muda Hyun So, Pernah terlibat cinta anak anjing sepertimu. Tapi pernikahan bukan hal yang sepele Hyun So. Pernikahanmu ini akan menentukan sebagai besar jalan hidupmu kedepannya, jika kamu hidup cukup lama, kau akan selalu berada di puncak rantai makanan. Tae Ri tidak mampu mendukungmu. Karirnya sama sekali tidak mendukungmu, bahkan mungkin menarikmu kebawah"
"Aku tahu, aku tahu" kata Kim Hyun So, tapi wajahnya masih penuh penolakan.
Tertua Kim mendesah tak berdaya tapi masih melanjutkan ceramahnya "Apakah kau pikir akan mencintainya selamanya? jangan naif. Dalam pernikahan, mungkin awalnya penuh cinta, tapi makin lama akan menjadi rutinitas dan muncul kebosanan. Saat itu kamu mungkin menyesal Hyun So. Kamu sudah terlalu tua untuk menikah dengan keluarga kuat yang mendukungmu, sedangkan karirmu dalam ambang kehancuran karena tidak ada penolong, dan akan muncul konflik tanpa akhir dalam pernikahanmu. Aku tidak ingin kamu menjadi seperti itu. Hancur dalam karir dan kehidupan pribadi"
"Tapi pernikahan politik belum tentu baik" kata Kim Hyun So masih keras kepala "Ibuku..."
"Sayapmu keras" Tertua Kim berdecih dan sangat marah "Kamu merasa sudah berada di posisi tinggi sekarang dan tidak memandangku sebagai kakek"
"Kakek aku tidak bermaksud begitu" kata Kim Hyun So bersalah. Tapi Tertua Kim tidak mau mendengar lagi dan meminta pergi.