Jakarta, Indonesia.
'PULANG!!!'
Hanya satu kata.
Yuara Weng baru mengaktifkan ponselnya setelah sampai di apartemennya, ketika satu kata dalam bentuk pesan itu merayap ke ponselnya.
Tapi efek dari satu kata itu sungguh luar biasa. Yuara serasa dihempaskan kebatuan karang. Tubuhnya gemetar hebat.
Ponsel itu berdering lagi, membuat Yuara terkesiap dan merinding, Bukan ayahnya. Sehingga ia bisa kembali bernafas dengan benar.
"Halo, Pak" katanya setelah mengatur nafas.
"Dari mana saja kamu? Dari tadi siang saya hubungi ngak masuk-masuk. Kamu niat kerja ngak sih..."
"Besok saya kirimkan surat pengunduran diri" sela Yuara dengan suara lesu "Selamat malam, Pak"
Tak sampai satu detik setelah sambungan itu terputus, ponsel ditangan Yuara langsung melayang ke dinding dan berubah menjadi menyedihkan.
Tapi setelah itu Yuara agak menyesal melakukannya. Karena di ponselnya ada banyak hal-hal penting dan tak penting.
Foto-foto penuh aib teman-temannya, screenshot sesuatu yang penting, dan dia menyesal.
Setelah perlahan tenang dan menerima kenyataan, Yuara Weng mulai membatalkan semua persiapan pernikahan mereka, mulai dari gedung, gaun pengantin yang meski sudah dibayar lunas tidak bakal pernah ia kenakkan, membakar undangan yang belum sempat dibagikan, hal terberat dalam rangkain kemalangan kisah cintanya.
Setelah mengepak semua barang-barangnya di apartemennya, yang telah ia tempati bersama Tania beberapa tahun terakhir, tidak lupa juga mewek-mewek banci melihat semua kenangan mereka berdua, ia berangkat menuju lembah sebelum Tania pulang.
Ia belum sanggup berbicara dengan wanita itu setelah apa yang terjadi, sebab ia merasa begitu tertekan dengan keadaannya dan sebelum suruhan ayahnya menyeretnya dengan paksa.
"Ibu, dimana Ayah?" tanya Yuara Weng setelah mendaratkan kaki dihalaman rumahnya. Dia celinguk-celinguk mencari sosok ayahnya, yang biasa akan muncul didepan dengan ikat pinggang ketika sedang marah.
"Ayahmu masih di London" jawab ibunya sambil merangkul dan mencium puncak kepala anak kesayangannya itu.
Yuara Weng menghembuskan nafas lega "Lalu kenapa ayah menyuruhku pulang?" tanyanya.
"Masuklah dulu, seseorang didalam akan menjelaskan padamu, Sayang" kata Miranda tidak menjawab langsung pertanyaan Yuara Weng.
Semua pandangan tertuju kepada Yuara ketika ia muncul diambang pintu rumah bersama ibunya. Tiga orang tengah berada di ruang depan, nenek, bibinya yang paling bungsu dan salah satu dari mereka tidak dikenalnya, seorang lelaki yang wajahnya bukan Indonesia.
Laki-laki berkacamata bersetelan rapi itu tersenyum ramah kepadanya, lalu berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya "Nona Lee Se Ra-Ssi?" sapa laki-laki itu dalam bahasa Korea.
Apa?
"Ya, saya Lee Se Ra" Yuara Weng hanya tersenyum sopan menerima uluran tangan itu.
Nama aslinya memang Lee Se Ra, tapi ia lebih dikenal dan lebih suka dipanggil Yuara Weng.
Ia putri Xu Ming Weng, bukan Tuan Lee yang ia tidak tahu siapa dia, bahkan sekalipun laki-laki itu belum pernah menghubunginya jangankan bertegur sapa.
"Saya Min Dhakwan. Sekretaris pribadi Ayah anda. Anda bisa panggil saya sekretaris Min" Jelas lelaki itu
"Silahkan duduk" kata Yuara tidak menyulitkannya, meski dia membenci Tuan Lee dalam hatinya, tapi dia tidak akan membalaskan kepada orang tak bersalah.
"Mommy, ada apa?" bisik Yuara ketika berhasil duduk di samping ibu angkatnya, Miranda Xu.
"Nona Lee Se Ra-Ssi, saya diamanahkan ayah anda untuk membawa anda pulang hari ini juga" Jelas Sekretaris Min sebelum Miranda bisa menjawab pertanyaan Yuara.
"Pulang?" tanya Yuara dengan wajah takjub tak percaya.
Dua puluh tahun lebih dia di buang ke Indonesia, dan tiba-tiba saja diminta pulang. Yuara Weng belum bisa menerima fakta itu.
"Ya benar, Nona Lee. Sesuai perjanjian, Anda seharusnya pulang dua tahun lalu. Tapi karena Tuan Xu meninta tenggak waktu, jadilah di undur hingga sekarang" Jelas Sekretaris Min.
Apa yang tidak Yuara tahu, keluarga kandung Yuara, keluarga Lee dan keluarga angkatnya, Keluarga Xu, mempunyai sebuah perjanjian, jika saja Lee Se Ra belum juga menikah dengan pilihan sendiri di usia yang ke dua puluh enam, maka ia harus kembali ke Korea untuk menikah dengan pilihan keluarga kandungnya, dan Keluarga Xu hanya bisa membesarkan Lee Se Ra selama dua puluh tahun, setelah dia bisa mandiri dan mengurus diri sendiri, dia harus kembali ke Korea Selatan jika dia tidak menikah dengan pilihannya sendiri.
Dan sekarang sudah lewat dua tahun dari tenggak waktu yang seharusnya sebab Yuara selalu meyakinkan Xu Ming Weng bahwa ia akan menikah dan bahagia dengan kekasihnya, Oliver Prasetyo. Dan Xu Ming Weng juga berusaha menyakinkan pihak keluarga Lee di Korea Selatan.
Miranda Xu merangkul putri kesayangannya, lalu mencium puncak kepalanya ketika membisikkan "Keluargamu memintamu kembali sekarang sayang. Kau akan pulang untuk..."
Dia tidak mendengar lagi kelanjutan kata-kata ibunya. Ia melepaskan diri dan segera menuju kamarnya, karena dia sudah tahu jawaban, pernikahan politik, perjodohan kelas atas.
Teka-teki yang selama ini ia tanyakan dalam diam akhirnya terjawab sudah. Keluarga kandungnya di Korea Selatan menginginkannya kembali hanya untuk menikah.
Mereka tidak menginginkan sebelumnya, dan sekarang mereka hanya menginginkannya untuk keuntungan mereka.
Menikah?
Tidak di situasi seperti ini!!!
Yuara Weng tahu konsekuensi dari batalnya pernikahannya dengan Oliver Prasetyo, mau atau tidak ia harus setuju dengan perjodohan keluarganya di Korea.
Keluarganya memang tidak benar-benar menyetujui pernikahannya dengan Oliver, hanya karena Yuara bersikeras akhirnya mereka setuju. Lagipula keluarga calon mertuanya juga tidak begitu menyukai Yuara Weng.
Yuara telah dibutakan cinta yang palsu sangat lama, cinta yang ia perjuangan mati-matian dan cinta itu sendirilah yang mengkhianatinya, yang menghancurkannya jadi berkeping-keping.
Tangisnya kembali pecah.
Seharusnya ia sudah mencurigai dari awal keberadaan Tania di antara mereka. Ia seharusnya sudah menyadari saat gadis bertubuh sintal itu juga ikut acara makan malam mereka, bagaimana ia juga ikut serta perayaan ulang tahunnya.
Harusnya Yuara Weng juga menyadari ketidaksukaan keluarga Oliver kepadanya, tapi berkebalikan sikapnya kepada Tania. Ketidaksetujuan keluarganya kepada Oliver sangat besar, dan Yuara di tempatkan di tempat yang sulit selama bertahun-tahun, menguatkan dirinya dari berbagai tekanan dari segala sudut. Mengingat betapa ramainya orang dalam hubungannya, membuat dadanya makin sesak.
Memang bukan tanpa alasan Oliver bermain di belakangnya, dan Yuara tahu benar alasannya. Ia yang terlalu sibuk dan ambisius dengan pekerjaan hingga tidak punya banyak waktu untuk dihabiskan dengan kekasihnya itu.
Ditambah dengan kenyataan bahwa sahabatnya memang terkenal dengan julukan Couple Breakers. Tidak diragukan kenapa seorang pembohong ulung bisa serasi dengan play girl dari lahir itu.
Dia tidak diinginkan calon suaminya, dikhianati oleh sahabatnya sendiri dan sekarang keluarganya yang tidak pernah menginginkannya, meminta kembali hanya untuk menikah.
Apa kehidupan seorang Yuara Weng tidak sepenting itu?
Mengapa semua orang tidak mempertimbangkan keberadaannya dan menganggap sesuatu yang penting?
Buang ketika harus di buang dan ambil ketika harus di ambil.
Setelah tamu mereka pergi, Miranda Xu masuk ke kamar Yuara. Dia berbicara kepadanya, berusaha menjelaskan segala hal yang sebenarnya terjadi, tetapi apapun yang dikatakan tak lantas membuat Yuara langsung percaya.
"Mom, katakan ini hanya lelucon. Katakan ini kejutan atau apapun. Kumohon, katakan ini hanya.." katanya terputus oleh tangisnya yang pecah.
Miranda Xu merangkul lalu membawa Yuara kedalam dekapan kasih sayang "Jangan minta Mommy mengatakan sesuatu yang mustahil untuk dikatakan sayang" katanya lembut.
"Calon suami dan sahabatku berkhianat, lalu sekarang keluargaku memaksaku menikahi laki-laki tua. Lalu setelah ini apa lagi mom? Dunia serasa tidak mengizinkanku memiliki kehidupan yang aku angan-angankan" katanya dramatis.
Calon suaminya, yang berusia lima tahun lebih tua darinya, sudah dipilih sejak dua tahun lalu dan mereka sudah bertunangan, tapi Yuara baru mengetahuinya hari ini karena ia terlalu sibuk menyakinkan diri dan keluarganya bahwa Oliver akan membahagiakannya.
Harapan.
Harapannya yang terlalu besar untuk Oliver telah menghempaskan dia ke batuan karang.
Perjuangan yang terlalu besar telah mejadi asam dan garam di lukanya yang terbuka lebar. Dia kesakitan.
"Kami tidak pernah membohongimu sayang, kami hanya belum punya waktu yang tepat untuk membicarakan denganmu"
Yuara tertawa dalam tangisnya yang histeris "Waktu yang tepat?" ia menekan nada kasar dalam bicaranya "Itu seperti alasan yang sangat menyakitkan, Mom"