Otak Yuara serasa lumpuh, ia tidak tahu lagi harus berfikir atau melakukan apa lagi.
Ia memang tidak dibesarkan orang tua kandungnya dan tak pernah menanyakan alasan di baliknya. Sebab ia tidak ingin menyakiti perasaan keluarga angkatnya dan tidak ingin menyakiti diri sendiri.
Xu Ming Weng dan istrinya, Miranda Xu, sudah membesarkannya seperti putri kandung mereka sendiri, sebab sampai saat ini mereka belum juga dikarunia buah hati karena sebuah insiden yang tak ingin sedetikpun di ingat Miranda Xu.
Pasangan suami istri yang sibuk berinvestasi disejumlah perusahan besar maupun penyedia dana untuk konservasi alam, sengaja pindah ke Indonesia puluhan tahun lalu untuk kepentingan penelitian mengikut sertakan Yuara dalam kepindahan itu.
Miranda Xu, gadis berketurunan Indonesia, pecinta akut lingkungan alami. Kecintaan itulah yang mempertemukannya dengan Xu Ming Weng di Jepang saat terjadi sebuah kecelakaan penelitian yang didanai keluarga Xu.
Lalu sekarang apa? Kekasihnya sudah pergi bersama sahabatnya. Yuara kehabisan alasan untuk mengulur dan memberikan janji lagi. Ia juga sudah terlalu tua untuk mencari dan memulai lagi, bisa-bisa Ia menjadi perawan seumur hidup.
Memangnya aku Siti Nurbaya pakai acara di jodoh-jodohin? Beda generasi kali.
Menyewa kekasih gadungan memang pernah terbesit di benaknya, tapi ayahnya, Xu Ming Weng terlalu cerdas untuk bisa di kelabui.
Keputusan Yuara Weng untuk kembali ke Korea Selatan sudah bulat. Ia pikir keputusan terbaik dalam situasinya sekarang adalah menjauh dari segala masalahnya di Indonesia.
Melarikan diri, lebih tepatnya.
Satu-satunya yang ia syukuri, jika bisa disebut bersyukur, ia bisa menjauhkan diri dari Oliver Prasetyo dan semua masalah yang selalu mencekiknya.
Dan mengawali hidup baru di negeri ginseng itu. Kehidupan percintaannya bisa ia atur ulang. Sedang pernikahan tidak dia inginkan mungkin bisa ia batalkan, bagaimana pun caranya.
Ketika tiba di bandara, Yuara sudah ditunggu banyak orang memakai setelan rapi, membungkuk hormat, mengawal dan memperlakukannya bagaikan seorang yang amat penting lalu mengiringnya keluar.
Seorang pengawal dengan sopan membukakan pintu mobil SUV hitam untuknya.
Gadis cantik itu mau tak mau merasa kikuk dan canggung, ia seorang yang mandiri, semua hal ia coba lakukan sendiri. Tiba-tiba saja semua hal kecil dan sederhana yang dia bisa lakukan sendiri itu dilakukan orang lain, sungguhlah asing baginya.
Di dalam mobil itu ia bisa melihat keberadaan seorang wanita paruh baya menggunakan setelan formal, rambutnya disanggul rapi, wajahnya di poles make-up tipis duduk dengan kedua kaki bersilangan. Ia tersenyum ramah kearahnya.
"Bagaimana penerbanganmu, anakku?" tanya wanita itu kaku, meski Yuara Weng sudah lebih terbiasa dengan bahasa Indonesia, ia tahu kalimat barusan di ucapkan seolah-olah baru pertama kali keluar dari mulut pemiliknya.
Sekretaris Min Dhakwan, laki-laki berkacamata yang menemani penerbangannya dari Indonesia menuju Amerika baru setelahnya terbang ke korea telah mengenalkan orang tuanya lewat foto mereka.
Dan wanita yang sekarang duduk di sampingnya dikenalkan sebagai ibunya, Choi Jae Jeong, putri keluarga Choi yang terkenal dan salah satu pemilik saham besar Hachi Medicine, perusahaan farmasi besar Korea Selatan dan salah satu anak perusahaan dari Hachi Grup.
Dia adalah anak perempuan satu-satunya dari keluarga Choi yang awalnya memiliki tokoh obat kecil, lalu menjadi tokoh berantai, usaha semakin besar dan seorang investor Jepang berinvestasi sehingga nama toko obat itu memiliki nama Jepang. Tapi, semakin lama kekuasaan pihak Jepang di Hachi Grup makin menurun. Tapi nama Hachi makin terkenal, dan keluarga Choi salah pemilik terbesar sahamnya, diikuti keluarga Kim yang mengambil alih investasi pihak jepang dan Keluarga Lee karena hubungan pernikahan.
Yuara Weng mendesah berlebihan dan menyandarkan kepalanya yang sedikit pusing, ia belum bisa membiasakan diri dengan perkembangan bahasa korea, semuanya terlalu mendadak untuk di cerna otaknya "Melelahkan, sangat melelahkan. Terbang berjam-jam ke Amerika, lalu berjam-jam lagi menuju Korea. Kenapa penerbangannya harus ke Amerika, tidak bisakah pesawat pribadi itu lepas landas dari Indonesia?" keluhnya.
Wanita itu menjawab pertanyaan yang lebih mirip gerutuan Yuara dengan senyum kecil "Kau akan tinggal di kediaman ayahmu di Gangnam. Dialah yang lebih berhak menjelaskan apa baik dan tidaknya untuk kau ketahui dan lakukan" katanya.
What?
Kediaman ayahnya yang dimaksud adalah sebuah rumah besar dan megah yang memiliki banyak pekerja.
Yuara hanya mampu gelang-gelang kepala saat ia memasuki halaman rumah, para pekerja itu berbaris dari gerbang menunggu kedatangan Yuara, membungkuk hormat saat Yuara melewati mereka.
Dulu, Ia pernah berimajinasi hidup layaknya Putri-putri raja di buku ceritanya, punya ratusan gaun indah berenda, sepatu kaca, serta para pelayan yang membungkuk hormat padanya, juga para pengawal yang selalu siap sedia tapi itu hanya impian seorang anak perempuan dua puluh tahun lalu.
Sekarang dia wanita berusia dua puluh delapan tahun, tidak punya mimpi-mimpi aneh anak kecil yang punya daya imajinasi berlebihan.
Ia hanya seorang wanita seperti kebanyakan wanita dewasa lainnya, mengharapkan bertemu cinta sejati yang akan membina bahtera rumah tangga dengannya, punya anak-anak lucu dan mengemaskan, dan hidup bahagia sampai kakek nenek. Simpel bukan?
Tapi sekarang ia malah terjebak ke dalam dunia khayal anak kecil.
Dengan dikawal Ia diantar menuju ruang keluarga, warna dinding, langit-langit dan lantai ruangan itu didominasi warna putih seperti kebanyak ruangan yang ia lewati tadi.
Di ruangan besar dan mewah itu ia ditunggu seorang laki-laki yang dikenalkan sebagai ayahnya, Lee Ki Ho dan seorang wanita yang usianya tidak terpaut jauh dengan Yuara, dikenalkan sebagai kekasih ayahnya.
Wanita berpakaian mencolok itu menggamit lengan ayahnya, seakan-akan mencoba menegaskan bahwa laki-laki itu adalah miliknya.
Choi Jae Jeong dan Lee Ki Ho memang sudah lama tidak tinggal serumah, tetapi mereka tidak bercerai demi kepentingan perusahan.
Perusahaan, perusahaan. Lagi-lagi perusahan. Lebih penting dari apapun. Lebih utama dibandingkan siapapun.
Saat Yuara Weng berhasil duduk di salah satu kursi dan ditinggalkan hanya dengan mereka berdua, Ayahnya bertanya remeh-temeh, mencoba mencairkan suasana kaku antara mereka.
Tapi usaha itu tentu gagal, lukisan kuda besar yang di pajang didinding berdetail warna emas di belakang ayah dan kekasihnya, lebih menarik perhatian Yuara,
"Kupikir sebaiknya kau istirahat dahulu di kamarmu, lalu besok kita bisa ke salon, berbelanja. Kita bisa lakukan banyak hal menyenangkan" Usul kekasih ayahnya dengan nada kelewat riang, terlalu berusaha keras memecah suasana kaku di ruangan besar itu.
Yuara Weng mengalihkan pandangannya dari dinding di sisi kanan ruangan yang di buat semi transparan dengan pembatas berpola "Tunggu" selanya dengan nada hati-hati rencana kekasih ayahnya "Tidak perlu buru-buru. Aku tidak akan tinggal disini sampai..."
"Sampai apa?" sela kekasih Lee Ki Ho kelewat cepat, merasa sangat tersinggung. Wanita itu melepaskan diri dari kekasihnya, lalu mendekap tangannya dan menatap Yuara tidak suka.
Sang Tuan Putri telah kembali, dan artinya ia bakalan kehilangan kekuasaan di rumah mewah yang beberapa tahun terakhir ia tempati. Ia tidak senang dengan kenyataan itu. Ia yang berusaha mati-matian tapi wanita yang tak melakukan apa-apa itulah yang malah mendapatkan semua impiannya. Harusnya gadis itu tidak pernah kembali.
Yuara tidak langsung menjawab, ada jeda beberapa saat. Ia menarik nafasnya menahan gugup. Keberadaan wanita itu sedikit menganggu "Sampai hasil tes DNA selesai. Maksudku, sebaiknya kita melakukan tes DNA. Bukannya aku ingin bermaksud kasar. Tapi, aku harap ada kesalahan disini" jelasnya, lalu menatap sekilas lampu gantung besar dan berwarna senada. Ia benar-benar berasal dari keluarga kaya raya, pikirnya.
Tapi dia di lempar ke kehidupan keras di Indonesia.