"Jangan bangun dulu". Seru seseorang di sebelah kiri Karin, ia menoleh.
Benar dugaannya, suara Arya. Karin memang sudah hafal suara berat juga rendah Arya itu. Arya menatap tajam dengan posisi tubuh yang sigap.
"Jangan banyak gerak dulu, istirahat saja". Arya terus melarang Karin yang mulai tidak bisa diam.
"Aww...". Karin meringis kesakitan, sepertinya tanpa sengaja ia telah menarik selang infusnya.
"Kan! saya bilang kamu jangan banyak gerak dulu. Kenapa kamu tuh susah kalau dikasih tau". Arya mulai meradang.
Karin mendengus kesal, bisa-bisanya dia marah pada orang yang sedang sakit begini.
"Saya pegal Pak". Karin cemberut.
"Biar saya naikan kasurnya, supaya kamu nyaman". Arya menekan tombol di sebelah kiri kepala Karin.
Perlahan ranjang itu mulai naik.
"Segini cukup?".
"Naik sedikit lagi Pak".
"Segini?".
"Iya sudah cukup".
Arya pun membenarkan letak bantal Karin kemudian merapikan selimutnya, membuat Karin senyaman mungkin.
"dokter sudah ambil darah kamu, sedang dicek untuk tau penyebab kamu pingsan tadi". Arya menjelaskan sebelum Karin bertanya.
"Memang kamu dari mana? bukannya sekolah pulang sore?". Arya mulai bertanya.
"Saya habis bertemu teman. Lalu kenapa Bapak ada di sana?". Kini Karin balik bertanya, kenapa Arya bisa tiba-tiba datang dan menolongnya.
"Sebenarnya saya jemput kamu tadi ke sekolah tapi ternyata kamu sudah pulang duluan". Masih ada nada kesal pada suara Arya.
"Jemput? kenapa? kan Bapak pernah bilang kalau mau jemput, chat atau telpon saya dulu supaya saya tidak keberatan".
Arya salah tingkah, ternyata Karin masih ingat dengan ucapannya.
"Ya... ya kebetulan saya sedang ada urusan di dekat sana jadi saya pikir untuk jemput kamu saja sekalian". Jawab Arya agak terbata.
Karin menyipitkan matanya, sepertinya ia tak percaya. Arya semakin gelagapan melihat reaksi Karin.
"Benar kok, bukannya kamu harusnya berterima kasih ada saya? Kalau tidak, siapa yang bantu kamu pingsan di jalan seperti itu". Arya mendadak marah untuk menutupi rasa salah tingkahnya itu.
"Iya Pak, terima kasih". Karin menekankan ucapannya.
"Sepertinya tidak ikhlas begitu". Ucap Arya memalingkan wajah.
Karin mendelik.
"Rese banget sih ni orang". Batinnya sebal.
"Terus kenapa Bapak ada di dekat kost saya juga?". Pertanyaan Karin membuat Arya menjadi resah kembali.
"Saya pikir tadi kamu langsung pulang, jadi saya coba ke kost kamu ternyata kamu belum pulang juga. Saya telpon tidak diangkat, wajar saya khawatir. Jadi saya inisiatif untuk tunggu di jalan biasa kamu lewat dan ternyata kamu jalan sempoyongan begitu".
"Khawatir? seorang Pak Arya khawatir sama aku?". Karin tersenyum dalam hati, seperti ada yang menggelitik dadanya.
"Jangan salah paham dulu. Saya memang tipe orang yang punya firasat kuat, tiba-tiba saya khawatir setelah kamu tidak ada di kost dan tidak bisa dihubungi dan kekhawatiran saya ternyata benar, kamu pingsan di jalan".
Karin yang sedang melambung tinggi seperti dihempaskan dengan kuat, hancur berkeping-keping karena ucapan Arya itu.
"Bodoh! jangan suka memikirkan sesuatu yang tidak mungkin". Karin mengutuk dirinya sendiri dalam hati, berkali-kali dia sudah peringatkan dirinya agar tak mengharapkan sesuatu yang lebih antara dia dengan Arya tapi kenapa selalu ia ulangi.
"Selamat malam". Sapa dokter ramah mendekati Karin yang terbaring.
"Selamat malam dok". Jawab keduanya serentak.
"Syukurlah kalau sudah siuman, apa masih pusing atau ada yang dirasakan?". Tanya dokter Reza, namanya tertulis di jas dokternya.
"Gak dok, saya sudah jauh lebih baik". Geleng Karin.
"Bagaimana hasilnya dok?". Giliran Arya yang bertanya.
"Ah ya. Selain hipertensi, pingsannya disebabkan efek samping obat juga kekurangan nutrisi, sepertinya pasien tidak makan, sengaja kah?". dokter Reza mengalihkan pandangannya kepada Karin. Ia merasa tersudut dengan pertanyaan dokter itu.
Karin tertunduk, ia memang cuma makan bubur dengan Rangga pagi tadi. Di sekolah pun ia hanya membeli minum, tak ada makanan yang masuk lagi ke dalam perutnya.
dokter Reza yang tidak mendapat jawaban dari Karin, menanyakan pertanyaan lainnya.
"Apa kamu juga sedang rutin meminum obat-obatan?".
"Iya dok, saya memang diresepkan obat dari dokter saya". Jawab Karin masih menundukkan kepalanya.
"Kalau memang resep dokter, coba minum sesuai dosis, jangan berlebihan".
Karin mengangguk pelan.
"Yang bahaya itu hipertensinya, bila terus seperti itu bisa menyebabkan serangan jantung. Mungkin karena kamu masih muda jadi tidak begitu terasa namun tetap harus waspada, istirahat yang teratur dan yang paling penting jangan stress". Saran dokter Reza.
"Baik dok". Jawab Karin yang kini sudah mengangkat wajahnya.
Sementara Arya hanya menyimak ucapan dokter dan sesekali menoleh pada Karin.
"Baiklah kalau begitu, karena sekarang sudah larut malam. Sebaiknya besok pagi saja baru boleh pulang". dokter Reza melihat arlojinya, sudah jam dua belas lewat sepuluh menit. Kemudian ia pamit dan berlalu pergi.
"Obat yang kamu rutin minum itu maksudnya obat penenang yang sama dengan saya kan?". Arya langsung bertanya begitu dokter pergi.
"Iya". Jawab Karin setelah diam sejenak.
Sebenarnya obat itu sudah lama habis, ia sekarang mengkonsumsi obat yang diberikan dokter setelah ia operasi, juga obat resep dari dokter Maher, yang selalu ia minum setiap nyeri kepalanya kambuh. Karin tak mau Arya sampai tahu bahwa ia baru menjalani operasi otak, ia tak ingin dikasihani.
"Semuda ini kamu sudah hipertensi? kenapa kamu tidak bisa menjaga kesehatan? memang ada yang menjadi beban pikiran kamu?". Tanya Arya heran.
"Mungkin faktor keturunan Pak". Jawab Karin asal.
Mata Arya mendelik mendengar jawaban Karin itu.
"Tadi apa saja ya kata dokter?". Arya mengusap keningnya, ia berpikir.
"Iya, kamu belum makan". Seru Arya sembari menjentikkan jarinya, ia baru ingat.
"Kenapa kamu tidak makan? diet?". Arya tersenyum sinis melihat Karin yang memasang muka cemberut sedari tadi.
"Ayo lah, badan sudah kurus begini masih saja diet". Ejek Arya.
"Siapa yang diet? saya gak diet". Teriak Karin tak suka diejek Arya.
"Terus kenapa seharian tidak makan?". Tanya Arya serius, menatap tajam Karin.
Bagaikan tersihir oleh tatapan Arya itu, Karin tak sanggup berkata-kata. Bibirnya hanya bergetar namun tak mampu mengeluarkan suara.
"Ya sudah, kalau begitu saya keluar dulu cari makan untuk kamu. Kali ini jangan menolak makan lagi". Tegas Arya dengan kedua mata membulat sempurna.
Dua puluh menit berlalu, Arya datang membawa makanan di dalam plastik berlogo huruf M dengan warna kuning.
"Seharusnya kamu tidak boleh makan fast food yang banyak minyak seperti ini dulu tapi cuma ada resto ini yang masih buka di sekitar sini". Arya mulai membuka makanan yang ia beli.
Bau ayam dan kentang goreng tercium begitu menggugah selera Karin, ia menelan ludahnya. Kini ia merasa sangat lapar.
"Saya tidak tau apa yang kamu suka jadi saya beli yang ada. Untuk minumnya, air mineral saja ya". Arya mendorong meja beroda, didekatkan kepada Karin, menaruh semua makanan di situ.
Ada satu kotak berisi nasi dan dua potong d**a ayam, satu bungkus humburger dengan isian daging dan keju slice, juga kentang goreng ukuran besar. Karin menjilat bibirnya, nafsu makannya muncul seketika melihat semua makanan yang ada di depannya kini.
"Saya mau ke kamar kecil dulu, kamu harus makan ya. Saya kembali harus habis". Perintah Arya lalu keluar dari ruang UGD itu.
Tanpa pikir panjang Karin lekas memakan semua makanan itu, ia makan dengan lahap tanpa banyak mengunyah, setiap makanan lolos dengan cepat melewati kerongkongannya. Sehingga dalam sekejap hampir semua makanan habis, tersisa satu potong ayam dan kentang goreng yang tinggal sedikit.
Arya datang membuka tirai, Karin terkejut dengan mulutnya yang penuh dan tangannya yang hendak memasukan sisa kentang goreng ke dalam mulut. Melihat Karin seperti itu membuat Arya tak sanggup menahan tawanya. Ia tergelak.
"Wah... Ada yang kelaparan ternyata". Arya mendekati Karin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Mulutnya terus berdecak.
Karin hendak berbicara namun tidak bisa karena mulutnya masih penuh makanan.
"Sudah, habiskan dulu makanannya di mulut terus minum". Arya menyerahkan air mineral yang masih ada di meja.
Segera ia minum hingga hampir habis setengahnya, kini mulutnya sudah kosong.
"Kan bapak yang suruh saya habiskan tadi". Karin beralasan, kemudian ia berbaring, membelakangi Arya, menurunkan kepalanya dan menutupinya dengan selimut. Ia malu.
Arya tersenyum melihatnya, sebenarnya ia senang akhirnya Karin makan dengan lahap. Ia pun membereskan semua sisa makan Karin, menaruh meja ke tempat asalnya dan keluar membuang sampah.
Karin yang tak mendengar suara apapun lagi menjadi penasaran. Ia membuka selimutnya perlahan, bekas makannya sudah bersih, ia celingukan mencari sosok Arya. Terlihat siluet Arya dari pintu ruang UGD. Karin tersenyum seraya mengangkat kedua bahunya.
***
Alarm di hape Karin berbunyi, alarm yang disetting setelah adzan shubuh itu terus berbunyi mengagetkan Arya. Ia mencari hape Karin yang ternyata ada di bawah tangannya, segera ia matikan alarmnya karena beberapa pasien mulai ribut. Ternyata Arya tertidur di samping Karin, ia menguap sembari mengucek matanya yang masih perih. Setelah penglihatan matanya sempurna, ia menatap Karin yang masih tertidur pulas. Pertama kalinya ia melihat seorang gadis tidur, wajahnya yang benar-benar polos tanpa riasan justru semakin menarik di mata Arya, rambutnya yang sedikit kusut juga nampak semakin menggemaskan. Karin bergerak, beberapa helai rambutnya menutupi wajahnya, perlahan tangan Arya menyingkirkan helaian rambut itu. Tiba-tiba muncul keinginan menyentuh pipi tirus Karin, belum sempat menyentuh pipi itu, Arya tersadar.
"Apa yang kamu lakukan Arya? jangan!". Bentak dirinya sendiri dalam hati.
Arya pun beranjak dari tempat duduknya, segera keluar menuju masjid.
Perawat tengah melepas selang infus Karin ketika Arya masuk kembali seusai sholat shubuh. Setelah perawat pamit, Karin bergegas merapikan tasnya.
"Kamu mau pulang sepagi ini?". Arya bertanya dari balik punggung Karin.
Karin membalikkan badannya, menaikan tas ransel ke punggungnya.
"Iya Pak, saya harus cepat pulang karena saya perlu mandi dulu terus ke sekolah". Jawab Karin jelas.
Arya menghembuskan napasnya dengan cepat, ia berkacak pinggang kemudian memalingkan wajahnya, merasa tak habis pikir dengan gadis yang berdiri di hadapannya ini.
"Sekolah? Kamu sadar tidak, kamu itu belum fit". Kini pandangannya sudah tertuju lagi pada Karin.
"Saya sudah sehat kok Pak, saya janji gak akan pingsan lagi". Karin nyengir, berniat mengajak Arya bercanda.
Namun tak disangka, justru Arya memasang muka serius sekarang. Wajahnya dingin seperti jika mereka sedang berada di kantor.
"Oh ya untuk biaya rumah sakitnya...". Karin berusaha mengalihkan pembicaraan karena sudah merasa Arya akan marah.
"Kenapa harus bahas itu? Semuanya sudah saya urus. Sekarang masalah sekolah kamu, apa salahnya bolos satu hari? Kamu itu perlu istirahat". Ia menatap ke bawah tepat ke wajah Karin.
"Gak bisa Pak, sekolah saya kan seminggu cuma dua kali. Masa harus bolos juga". Karin ngeyel.
"Tapi sekarang kan ada alasannya".
"Pak!". Suara Karin sedikit meninggi, ia segera melangkahkan kakinya namun dihadang Arya.
Karin membuang napas cepat. Menarik bibirnya ke atas. Sebal pada Arya yang menghalangi niatnya.
"Pak, tolong ya. Saya mau sekolah". Karin mulai merajuk, ia memasang muka mengiba. Arya pun luluh.
"Oke, tapi ada syaratnya?". Senyum Arya penuh arti.
"Apa itu Pak?". Mata Karin berbinar, apapun itu pasti akan ia turuti.
"Saya yang akan antar jemput kamu".
"Itu aja?".
"Iya, cuma itu". Angguk Arya.
"Oke, deal!". Teriak Karin kegirangan.
***
Jam delapan pas mobil Arya sudah sampai di depan sekolah Karin, sebelumnya Arya mengantar Karin pulang ke kost terlebih dahulu. Karin mandi dan mengganti seragam, Arya setia menunggunya di dalam mobil kemudian mereka berangkat ke sekolah.
"Terima kasih ya Pak atas semuanya, saya banyak berhutang sama bapak dan hanya bisa mengucapkan terima kasih terus". Ucap Karin sebelum turun dari mobil Arya.
"Tidak usah berpikir seperti itu, kamu juga selalu membuat saya nyaman, sering membuat saya tertawa dengan segala tingkah laku kamu. Saya rasa kita impas". Senyum Arya terasa hangat.
Karin hendak membuka pintu namun ditahan Arya.
"Tunggu dulu".
"Apa lagi Pak?".
"Kamu ingat kan syarat saya tadi? Kamu harus pulang dengan saya nanti".
"Iya".
Karin pun pamit, keluar dari mobil dan berjalan masuk ke kelasnya.
"Rin, kamu udah ketemu cowok itu?". Tanya Ulfa pada Karin yang baru duduk di bangkunya.
"Cowok? Cowok siapa maksudnya Mbak?". Karin tak mengerti.
"Tadi aku ketemu cowok naik motor sport merah di depan, dia nanyain kamu katanya tadi dia jemput kamu ke kost tapi gak ada, terus ke sini ternyata kamu juga belum dateng. Hape kamu juga gak aktif katanya". Ulfa menjelaskan.
Pasti yang dimaksud Ulfa itu Rangga, Karin tahu pasti. Hapenya memang lowbat sejak tadi pagi, ia tak sempat mengisi baterainya ketika di UGD.
"Iya aku gak sempat isi baterai, hapeku lowbat".
"Pantes, dia kayaknya khawatir banget loh. Oh ya, dia juga titip pesan katanya pulang sekolah nanti kamu harus tunggu, dia mau jemput". Ulfa menyampaikan pesan Rangga.
"Iya mbak, makasih ya".
Semua murid sudah siap menerima pelajaran hari ini, termasuk Karin. Ia merasa penuh energi, tubuhnya terasa jauh lebih segar, mungkin karena sudah diinfus, pikirnya. Hari ini Karin dapat mengerjakan semua tugas dengan baik, bahkan ia berhasil mengisi jawaban dari soal fisika yang diberikan Ustadzah Nurul di papan tulis dengan benar dan mendapatkan tepuk tangan dari teman-teman sekelasnya, semua itu membuat Karin semakin bersemangat.
Pelajaran hari ini berakhir dengan PR matematika yang diberikan Ustadzah Anna. Beberapa murid sudah ada yang pamit pulang terlebih dahulu, Karin pun pamit kepada Ustadzah Anna yang masih sibuk merapikan buku-bukunya.
"Karin tunggu". Cegah Ustadzah Anna.
"Iya, ada apa Ustadzah?". Tanya Karin kembali menghampiri Ustadzah Anna.
"Minggu depan ada pelajaran olahraga, kamu sudah punya seragamnya?".
"Belum Ustadzah". Karin menggeleng.
"Kalau begitu, kamu bisa ke kantor sekarang. Coba tanyakan apa masih ada seragam olahraga di sana".
"Baik Ustadzah".
Karin melangkah keluar kelas, menuju ke kantor sesuai pesan Ustadzah Anna. Suasana sekolah mulai ramai dengan murid-murid paket A dan B yang juga sudah berhamburan keluar kelas. Di sini hanya ada murid perempuan, untuk murid laki-laki ada di gedung sekolah yang berbeda. Peraturannya memang seperti itu, untuk menjaga mahrom karena sekolah ini milik pesantren.
Karin sampai di depan ruangan kantor, ia mengetuk pintunya dan mengucapkan salam. Seseorang di dalam menjawab salamnya kemudian mempersilahkan Karin masuk.
"Iya ada perlu apa?". Perempuan setengah baya itu melepas kacamatanya. Tati Herawati, nama di name tag-nya.
"Permisi bu, saya mau tanya. Apa masih ada seragam olahraga?".
"Sebentar ya, saya cek dulu". Bu Tati berjalan menuju lemari besar di sudut ruangan.
"Ternyata tinggal ukuran paling kecil saja, cuma ada ukuran S, tapi sepertinya muat kok untuk kamu". Ia membuka plastik bajunya, merentangkan kaos berwarna hijau dengan garis hitam itu.
"Tuh, pas segini di kamu". Ia menempelkan kaos itu ke badan Karin.
"Iya bu, berapa ya harganya?".
"Karena ukuran kecil, jadi harganya tujuh puluh ribu".
Karin membuka dompetnya, hanya ada selembar uang lima puluh ribu dan beberapa koin lima ratus dan seribu rupiah. Di ATMnya pun sisa beberapa ratus ribu saja terakhir ia cek, itu juga tidak akan cukup sampai ia gajian yang masih dua minggu lagi. Ia memang harus segera mendapat pekerjaan sampingan. Karin bertekad.
"Kalau saya ambil minggu depan, tidak apa-apa kan bu?".
"Ya tidak masalah, saya simpan ini untuk kamu ya".
"Baik bu, terima kasih". Karin pun pamit.
Angga sudah ada di depan gerbang ketika Karin keluar.
"Kamu ke mana aja sih Rin? Di kost gak ada, tadi pagi di sini gak ketemu, hape kamu juga gak aktif". Rangga langsung mencecar Karin.
"Maaf Ga, nanti aku ceritain deh".
"Ya sudah kalau gitu ayo naik, kita ketemu Kakak aku. Dia udah nunggu".
"Sekarang? Tapi aku harus ke klinik dulu".
"Klinik? Memang kenapa harus ke klinik?". Tanya Rangga keheranan.
"Duh, aku gak bisa jawab sekarang". Karin merasa terburu-buru takut Dika menunggunya, mengingat jadwal Dika yang semakin padat di sore hari.
'Tin...'.
Bunyi klakson panjang mengusik Karin dan Rangga yang sedang mengobrol.
Arya datang dan langsung keluar dari mobilnya.
"Karin, ayo masuk". Perintahnya tanpa basa-basi.
"Loh kok bapak ada di sini?". Rangga tak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini.
"Kenapa Pak Arya bisa tau sekolah kamu Rin?". Rangga menoleh kepada Karin meminta jawaban.
"Panjang ceritanya, nanti aku jelasin semuanya, janji. Tapi sekarang aku harus segera ke klinik". Karin gemas dan mengambil helm dari Rangga.
Karin berjalan menghampiri Arya yang wajahnya terlihat merah padam menahan amarah.
"Maaf Pak, saya sedang buru-buru, ada urusan".
"Tapi kan kamu sudah deal dengan persyaratan dari saya tadi".
"Iya Pak, saya tau. Makanya saya mohon maaf sekali". Karin menungkupkan telapak tangannya.
Segera Karin memakai helmnya dan pergi bersama Rangga meninggal Arya yang semakin emosi.
Arya mengepalkan tangannya, memukul keras atap mobilnya, emosinya meledak, terlebih harus melihat Karin berboncengan dengan Rangga.
***
Bersambung ke Bab 16.