Rangga menepati janjinya, ia sudah berada di depan gerbang kost Karin ketika Karin berjalan keluar.
"Selamat pagi cantik". Rangga menyapa, kini ia mulai berani terang-terangan memuji.
Karin manyun, mengerutkan hidungnya. Ia tak angap serius pujian Rangga.
"Koq gitu reaksinya? aku ngomong jujur loh".
Karin tetap cuek, tak meladeni Rangga. Memakai helmnya.
"Kamu udah sarapan belum?". Rangga melihat jam tangannya, masih pagi dan sangat sempat bila sarapan dulu.
Karin menggeleng.
"Gak usah, aku makan siang aja nanti di sekolah".
"Bosen ya sarapan nasi uduk terus?".
"Suuttt". Karin mendesis lalu melirik ke sebrang, takut Bu Heni dengar.
"Nanti penjualnya denger gak enak". Bisik Karin tapi ada benarnya juga ucapan Rangga. Ia bosan setiap pagi sarapan dengan menu yang sama, nasi uduk dan bakwan goreng Bu Heni.
Seketika Rangga menutup mulutnya. Ia merasa bersalah, memang ia berbicara cukup kencang tadi.
"Kalau gitu kita sarapan yang lain aja ya, aku juga laper nih belum sarapan". Rangga mengusap perutnya.
"Lagian rajin banget, sarapan dulu baru jalan".
"Aku kan gak mau telat anter tuan putri". Rangga nyengir.
"Yehh...!". Karin semakin yakin Rangga hanya meledeknya daritadi.
Di jalan keduanya memutuskan untuk sarapan bubur. Rangga memelankan laju motornya, melihat kanan kiri penjual bubur ayam. Karin menunjuk gerobak bubur di depan, ada di kiri jalan jadi tak perlu repot menyebrang.
Rangga memesan, tak lama dua porsi bubur sudah tersaji di depan mereka.
"Rin, kalo untuk jaga anak kira-kira kamu mau gak?". Tanya Rangga ketika mengaduk buburnya.
"Sebenernya kerjaan apa saja aku mau tapi kalo anak bayi kayaknya gak bisa deh, aku gak berani. Terlalu beresiko karena kan harus punya pengalaman, salah sedikit nanti bahaya, anak orang. Tanggung jawabnya besar". Karin menolak halus.
"Tenang aja, bukan bayi. Anak cowok umur empat tahun. Karena kamu jaga mulai dari sore jadi cukup temenin dia main, terus tidur paling bantuin dia ke kamar mandi. Gitu aja koq, bisa kan?".
Karin berpikir sejenak.
"Kalo gitu kayaknya bisa, emang anaknya siapa?". Giliran Karin bertanya.
"Anak Kakak aku". Jawab Rangga cepat.
Karin yang sedari tadi sibuk dengan buburnya kini menatap Rangga.
Rangga ikut menatap nektar Karin yang berwarna kecoklatan, terlihat sepertinya gadis yang duduk di depannya ini memiliki banyak pertanyaan. Rangga menaruh sendoknya, bersiap menjelaskan.
"Jadi kakak aku kan jadwal ngajarnya gak pasti. Kadang pagi, kadang juga sore sampe malem karena dia juga ngajar kelas karyawan. Dia gak ambil jadwal kelas sabtu-minggu karena itu khusus untuk keluarga katanya jadi sebagai gantinya dia ambil jadwal malam, jam tujuh sampe jam setengah sepuluh. Jam sepuluh juga udah sampe di rumah karena jaraknya deket". Jelas Rangga.
"Itu juga gak tiap hari kok Rin, jadwal ngajar malamnya setiap senin, rabu sama kamis. Jadi seminggu kamu cukup dateng 3 kali aja". Lanjut Rangga lagi.
Karin mengangguk mengerti namun ia masih punya banyak pertanyaan di pikirannya.
"Namanya siapa keponakan kamu itu? terus selama ini dijaga siapa?". Karin tak ingin bila harus merebut pekerjaan orang lain hanya karena Rangga ingin membantunya.
"Namanya Keenan, ponakan aku itu kan udah sekolah di daycare, tempat penitipan anak gitu. Biasanya Kakak aku bawa ke sana sekalian dia berangkat kerja, kalo dia pulang siang atau sore ya dia yang jemput. Tapi kalo bagian kamu yang jaga berarti tugas kamu yang jemput. Nanti kamu ketemu dulu deh sama kakak aku, biar dia yang jelasin semuanya nanti".
"Terus selama ini siapa yang jaga kalo kakak kamu ngajar malem?". Karin merasa pertanyaannya yang itu belum terjawab.
"Oh itu, ya... biasanya aku". Jawab Rangga sedikit terbata, terlihat salah tingkah.
Karin mengerutkan keningnya, seperti ada yang janggal.
"Kalo ada kamu, terus untuk apa gunanya aku? aku gak mau ya Ga, cuma karena kamu kasian sama aku yang lagi perlu kerjaan sampingan terus kamu paksa kakak kamu dan...".
Rangga mengangkat tangannya ke arah depan, menghadap tepat ke wajah Karin, memberi isyarat agar ia berhenti bicara.
"Bukan kayak gitu Rin, jadi mulai besok aku mau kost yang deket kantor". Rangga menjelaskan rencananya.
"Koq gitu? bukannya kalo dari kantor ke kampus kamu lumayan ya jaraknya? itu malah repot Ga, kan pulang kerja kamu harus langsung kuliah". Kaget Karin, ia merasa heran dengan rencana Rangga itu.
"Ya gak masalah, kan ada motor. Aku cuma males kalo harus bangun pagi-pagi ke kantor. Kalo jaraknya deket kan bisa nyantai". Rangga menyeringai, kedua pipinya terangkat.
Sikap Rangga itu tampak tak biasa, membuat Karin curiga.
"Gimana kalo nanti aku jemput lagi, kita ketemu sama kakak aku". Saran Rangga.
"Hhmm... kalo hari ini kayaknya gak bisa. Aku ada rencana lain". Karin memang sudah merencanakan sesuatu sepulang sekolah nanti.
Rangga manggut-manggut kemudian mengajak Karin segera selesaikan sarapannya agar bisa lanjutkan kembali perjalanan ke sekolah.
***
"Karin kamu kenapa?". Tegur Maura salah satu teman sekelas Karin.
"Eh gak pa-pa kok Mbak". Karin mencoba tersenyum.
"Hari ini kamu banyak diam, biasanya kamu yang paling aktif jawab pertanyaan Ustadzah". Serunya ikut duduk di bangku Karin sembari minum es coklat dari salah satu warung di depan sekolah.
"Lagi mikirin tugas-tugas minggu kemarin, masih banyak yang belum ngerti". Karin beralasan.
"Santai aja jangan jadi beban pikiran, kalo gak ngerti bisa tanya Ustadzah. Nanti lama-lama juga paham, saya udah dua tahun belajar, awalnya kesusahan juga kayak kamu begini tapi ternyata kalo kita jalaninnya enjoy justru jadi cepet ngerti loh". Maura memberikan saran berdasarkan pengalamannya.
"Iya Mbak saya coba. Oh ya berarti Mbak bentar lagi bisa lulus dong?".
"Aamiin, semoga. Do'ain ya tahun ini saya bisa ikut ujian dan langsung lulus biar bisa secepatnya kuliah". Senyum Maura mengembang memikirkan tentang kuliah.
Maura gadis berusia 25 tahun ini memang ikut sekolah paket C agar bisa lanjut kuliah, ia ingin mengambil jurusan culinary, hobbynya membuat kue dan sekarang pun ia sudah punya usaha cake and bakery yang cukup terkenal. Dulu dia bercita-cita kuliah culinary art sampai ke luar negeri dan fokus di jurusan baking and pastry art. Namun ayah dan ibunya yang hanya seorang pedagang kopi keliling tak mampu membiayai sekolahnya ditambah ada dua adiknya yang perlu biaya juga sehingga ia pun hanya bisa menamatkan sekolah sampai SMP saja tapi tekadnya tetap kuat, gajinya sebagai pegawai pabrik dulu dia tabung untuk modal usaha dan ternyata kerja kerasnya tak sia-sia, lima tahun dia jatuh bangun memulai usahanya, kini produknya sudah dikenal banyak orang dan menghasilkan omset yang cukup besar, bahkan kedua adiknya pun kini dibiayai kuliah olehnya. Ia tidak ingin adik-adiknya terhambat cita-citanya karena keterbatasan ekonomi seperti yang ia alami dulu.
"Mbak Maura, kok beli es coklat itu gak bilang-bilang? Anterin yuk, aku mau juga tapi malu kalo harus beli sendiri". Rengek Irene tiba-tiba datang menarik tangan Maura.
"Kamu nih, orang cuma di depan situ. Masa gak berani?".
"Antri Mbak, gak enak kalo ngantrinya sendirian. Kamu mau juga Rin?". Tanya Irene melirik Karin.
"Gak Mbak, saya udah minum es terus daritadi". Tolak Karin.
Maura pun akhirnya nurut karena Irene terus menarik-narik tangannya.
Irene memang yang paling manja di kelas, usianya baru 22 tahun. Sebelum ada Karin, dia yang paling muda dulu karena merasa paling kecil jadi bersikap manja kepada teman-teman sekelasnya yang lain padahal sebentar lagi dia akan menjadi pengantin. Niat dia melanjutkan sekolah paket C ini pun karena ia mau menikah, calonnya seorang pegawai negeri sipil dan ia tak mau minder kepada keluarga calon mertuanya nanti sehingga ia pun memutuskan untuk kembali bersekolah agar bisa memiliki ijazah SMA.
Di saat istirahat seperti ini biasanya kegiatan mereka adalah saling mengobrol sehingga saling mengenal satu sama lain, menceritakan tujuan mereka masing-masing kembali bersekolah.
Karin yang sudah ditinggal sendiri, kembali memikirkan obrolannya tadi pagi bersama Rangga.
"Apa mungkin Rangga memilih untuk ngekost supaya aku bisa dapet kerjaan?". Batin Karin, ia masih tak mengerti pada Rangga yang tiba-tiba mau kost.
"Sepertinya sih begitu, kenapa anak itu selalu melakukan segala cara untuk bantu aku? Kasian atau...". Karin menutup mata, menggelengkan kepalanya, ia masih berbicara dalam hatinya.
"Tapi saat ini aku memang sedang perlu tambahan, mau gak mau aku harus terima kerjaan dari Rangga itu". Karin sebenarnya ragu namun kondisinya sekarang yang memaksanya, tak ada pilihan.
"Kamu memang lelaki paling baik yang pernah aku kenal Ga". Gumam Karin lirih membayangkan Rangga dengan senyum manisnya.
**
Sore menjelang, Karin sedang melangkahkan kakinya keluar halte di depan rumah sakit. Rumah sakit tempat dia medical check up dulu, di sini tempat kedua kalinya ia bertemu dengan Annisa yang menurut pengakuannya adalah sahabat Karin sejak kecil. Ternyata Karin berencana untuk menemui Annisa hari ini, menanyakan tentang dia dan keluarganya dulu.
Karin berdiri mematung, masih berpikir apakah bertanya pada Annisa adalah keputusan yang tepat? Ia memang ingin mengingat kembali tentang masa lalunya terutama keluarganya namun di sisi lain ia juga takut bila kenyataannya keluarganya sudah tiada seperti isyarat yang selalu muncul di alam bawah sadarnya.
"Kamu juga pasti mau tau kan kuburan keluarga kamu seandainya mereka benar sudah tiada". Ucapan Dika itu kini terngiang-ngiang di telinganya, ucapan yang bagaikan belati menghujam jantungannya namun karena ucapan itu juga akhirnya Karin memantapkan hati, melangkahkan kembali kedua kakinya untuk bertemu Annisa.
Bila memang keluarganya sudah tiada, ia harus tau di mana letak kuburan mereka karena sebagai anak juga kakak, dia tentu harus melakukan ziarah kubur dan mendoakan mereka. Sepahit apapun harus ia terima, tak mungkin dia hidup tanpa mengingat siapa dan bagaimana keluarganya.
Kini Karin sudah masuk ke pelataran sekolah akademi kebidanan yang dimaksud Annisa waktu itu, berdiri di bawah sebuah pohon yang rindang. Ia sudah bertanya pada satpam di depan tadi, sepuluh menit lagi mereka keluar katanya. Angin bertiup menjatuhkan dedaunan dari pohon tempat Karin berdiri. Karin memperhatikan daun-daun yang jatuh berguguran, mengangkat wajahnya melihat dari mana asal daun yang jatuh kemudian ia menatap langit yang walaupun sudah sore tapi masih terlihat terang, sepertinya matahari belum mau terbenam. Aneh, tiba-tiba perasaannya menjadi sedih, sakit sekali rasanya hingga tanpa sengaja bulir bening jatuh dari kedua sudut matanya. Ia merasa pernah dalam situasi yang sama dengan perasaan yang sama ia rasakan kini.
"Kenapa tiba-tiba aku begini?". Tanyanya sendiri seraya mengusap air mata yang kini sudah jatuh membasahi pipinya.
Suara keributan mulai terdengar, para mahasiswa itu berbondong-bondong keluar dari gedung. Raut wajah mereka beraneka ragam, ada yang terlihat kusut penuh lelah, ada yang tertawa riang bercanda dengan teman-temannya, ada juga yang mimik mukanya datar tanpa ekspresi. Diantara mereka ada Annisa dengan wajah penuh tawa riang berjalan keluar dengan ketiga temannya yang kini sudah Karin lihat.
"Annisa!". Teriak Karin sambil melambaikan tangannya.
Annisa yang merasa namanya dipanggil, menghentikan langkahnya. Melihat ke arah suara itu berasal.
"Karin?!". Matanya membulat, ia tampak bingung.
Annisa pun pamit kepada teman-temannya lalu berjalan menghampiri Karin.
"Loh, kok kamu di sini? Ada apa?". Tanya Annisa ketika jarak mereka sudah dekat.
"Kamu ada waktu sekarang? Saya mau ngobrol, boleh?". Karin yang takut Annisa sedang sibuk dan tidak ada waktu untuknya.
"Boleh, kalo gitu kita ngobrol di kost saya aja ya". Annisa langsung menyetujui, sebenarnya ia rindu pada teman kecilnya itu. Sudah lama ia ingin bercerita seperti dulu namun sayangnya tak dapat ia lakukan karena ternyata temannya itu tak mengingatnya dan siapa sangka kini justru Karin yang datang sendiri menemuinya, itu membuatnya senang.
**
"Maaf ya Rin, cuma ada air mineral. Maklum anak kost". Annisa menaruh botol air mineral di meja samping kursi yang diduduki Karin.
"Gak usah repot-repot, ini juga lebih dari cukup. Makasih!". Karin lantas membuka dan meminum air mineral yang disediakan Annisa, tenggorokannya memang terasa kering sejak tadi.
"Kamu udah makan? Saya pesenin makanan ya?". Annisa ingin masuk kembali hendak mengambil hapenya, berniat memesan makanan online namun dicegah Karin.
"Gak usah, saya juga gak laper kok".
Annisa pun akhirnya duduk di kursi kosong yang tersedia. Hanya ada dua kursi dengan meja di tengahnya di teras kamar kost Annisa itu. Kost Annisa cukup besar, ada sekitar sepuluh kamar di lantai bawah ini, belum yang di lantai atas. Tak seperti kost Karin yang harus berbagi kamar mandi, di tempat kost Annisa ini tersedia kamar mandi di setiap kamar. Mayoritas penghuni kostnya mahasiswa akademi kebidanan seperti Annisa karena sejak Karin duduk tadi terlihat para gadis yang memakai seragam yang sama dengan Annisa berlalu lalang. Pasti Annisa dari keluarga berada hingga ia bisa tinggal di kost yang cukup mewah seperti ini, pikir Karin.
"Kamu mau ngobrol apa Rin?". Tanya Annisa melihat Karin yang masih diam.
Karin mengubah posisi duduknya, kini ia menghadap tepat ke Annisa.
"Sebenarnya ada banyak yang mau saya tanyakan, kamu gak keberatan kan?".
"Tanya aja, saya pasti jawab kalo tau. Memang tentang apa?".
"Masa lalu saya".
Annisa menelan ludahnya, ternyata Karin tidak berbohong, ia benar-benar lupa.
"Sepertinya saya mengalami hilang ingatan jadi saya lupa semua masa lalu saya. Yang saya ingat hanya kejadian tiga tahun yang lalu, selebihnya saya tidak ingat apa-apa. Tidak kenal keluarga apalagi teman, itu juga alasan saya tidak mengenali kamu, maaf ya!". Karin tampak menyesal kini padahal dulu ia kesal kepada Annisa karena selalu membuat dia bingung dengan segala pertanyaannya tapi sekarang Annisa menjadi jalan satu-satunya untuk ia bisa mengingat semuanya.
"Jadi kamu selama ini tinggal sama siapa?". Annisa merasakan keanehan karena setahunya dulu Karin pergi dari desa bersama dengan ibu dan adiknya.
"Sendiri". Jawab Karin lemah.
Annisa meremas tangan Karin yang tertopang di meja. Ia merasa kasihan melihat sahabat kecilnya ini, sungguh ia tak pernah marah kepada sikap Karin ketika mereka bertemu, hanya ada berbagai pertanyaan yang mengganggunya namun kini ia tahu alasan Karin bersikap seperti itu, ia mengerti.
"Sekarang tanya aja semua yang ingin kamu tau, saya pasti jawab". Annisa merapatkan kedua bibirnya, berusaha menahan rasa sedihnya.
"Saya juga bingung mulai dari mana, cuma seperti dalam mimpi, saya liat kuburan tapi tidak terlihat apapun di nisannya, hanya tulisan 2018 yang bisa saya lihat".
"Sepertinya itu kuburan bapak kamu. Bapak kamu, Pak Karya Sasmita meninggal tahun 2018, tepatnya 26 desember 2018 karena penyakit lambung kronis".
Bak tersambar petir, penjelasan Annisa membuat Karin kaku, jemarinya bergetar. Ternyata ucapan Rai selama ini di alam bawah sadarnya benar, ayah mereka sudah tiada.
"Maaf ya Rin, saya gak bermaksud begitu". Annisa merasa serba salah, ia ingin membantu Karin mengingat namun itu berarti membuka kenangan yang menyakitkan juga.
"Gak pa-pa, saya gak pa-pa kok. Saya harus belajar menerima semuanya karena memang seperti itu kenyataannya. Jadi kamu ceritakan saja semuanya, jangan ragu".
Annisa mengangguk lemah.
Terdengar suara adzan maghrib berkumandang, Annisa mengajak Karin masuk dan menunaikan sholat.
Karin sholat selepas Annisa, setelah mengucap salam dan membaca doa, ia segera membuka mukenanya. Masih banyak yang ingin ia tanyakan pada Annisa dan ia tak mau menundanya lagi.
"Nis, belakang ini juga saya sering teringat sosok perempuan dengan gamis dan jilbab panjang juga anak kecil laki-laki, berumur sekitar empat atau lima tahun, dia selalu menyebut namanya Rai".
"Itu pasti adik sama ibu kamu, adik kamu memang namanya Raihan, panggilannya Rai. Umurnya waktu itu lima tahun dan ibu kamu namanya Rina, orang-orang di desa selalu menyebutnya kembang desa karena dulu ia gadis tercantik di sana bahkan sudah menjadi seorang ibu pun dia terlihat tetap cantik, kecantikannya menurun sama kamu".
Karin tak menyangka Annisa pandai memuji, ia nampak jauh lebih dewasa dibanding dirinya.
"Setelah bapak kamu meninggal, kalian pergi dari desa mau menemui keluarga kamu yang ada di sini". Annisa menjelaskan apa yang ia ketahui.
"Keluarga?". Tanya Karin kaget.
"Iya. Paman kamu, adik dari bapak kamu". Jawab Annisa yakin.
"Jadi ada keluarga aku di sini? Tapi kenapa sampai sekarang tidak ada yang datang? Apa mungkin dulu aku belum sempat ketemu?". Karin dilanda banyak pertanyaan dalam hatinya.
Kini kepalanya pusing, ia merasakan sensasi berputar-putar. Karin menyandarkan tubuhnya pada tempat tidur Annisa. Ia mencari obat di tasnya kemudian segera ia minum.
"Kamu sakit Rin? Harus minum obat begitu?!". Annisa mulai cemas.
"Iya, berapa bulan yang lalu karena ada kecelakaan, saya harus menjalani operasi otak dan efeknya jadi sering sakit kepala makanya perlu obat". Karin menjelaskan sambil tersenyum, ia tak ingin orang yang mengetahui kondisinya menjadi khawatir berlebihan.
Annisa memeluk erat Karin, ia tak menyangka sahabatnya ini ternyata sudah melalui banyak hal buruk. Ingin rasanya ia menangis sejadi-jadinya namun ia tahan, tak mau Karin ikut bersedih jika melihat ia menangis. Ia tidak ingin memperburuk kondisi Karin.
"Mulai sekarang kamu harus cerita sama saya, apapun itu. Kita kenal dari kecil bahkan gak ada sehari pun tanpa kita lewatin berdua. Mulai dari berangkat dan pulang sekolah bareng, main sama-sama, mengaji di sore hari sampe malam pun belajar bareng. Jadi sekarang kita harus sering komunikasi, coba sini mana nomer hape kamu". Pinta Annisa kepada Karin.
"Terima kasih Tuhan, bertambah lagi orang-orang yang menyayangiku". Batin Karin merasa bersyukur dan ia sangat senang setelah mengetahui sedekat itu dulu dia dengan Annisa.
'Tok... Tok... Tok...'
Pintu kamar Annisa diketuk.
Gegas Annisa membuka pintu.
"Ih, kok kamu belum rapi sih Nis? Kan kita mau nge-print tugas buat besok, masih banyak juga yang harus diedit, ayo keburu malem". Seru teman Annisa dibalik pintu.
"Astaghfirullah, iya aku lupa". Annisa menepuk dahinya.
Karin yang mendengarnya segera merapikan barangnya dan beranjak dari tempat duduknya.
"Kalo gitu, saya pamit ya". Ucap Karin setelah berdiri.
"Duh maaf ya Rin, bukan maksud saya...". Annisa tak bisa melanjutkan ucapannya, merasa tak enak hati.
"Gak pa-pa, saya ngerti kok. Kamu juga sibuk. Tapi kalo nanti saya main ke sini lagi boleh kan?"
"Ya boleh dong, kalo bisa setiap hari. Nanti chat saya ya, kasih alamat kamu biar saya juga bisa main ke tempat kamu".
Karin mengangguk lalu pamit pulang kepada Annisa dan juga temannya.
***
Di dalam bus, Karin terus mengingat semua ucapan Annisa.
"Bapakku Karya Sasmita, ibuku Rina, adikku Raihan". Terus ia sebut layaknya menghapal.
Suara notifikasi hapenya terdengar, Karin mengeluarkan benda pipih itu dari dalam tasnya. Ada panggilan tak terjawab. Tiga panggilan dari 'dr. Maher' dan lima panggilan dari 'Direktur tampan-ku'. dokter Maher pasti mau tahu kabar Intan karena ia memang belum sempat mengabarinya, lalu Pak Arya? Karin bingung kenapa Arya terus menelponnya bahkan dihari libur seperti ini.
Ada pesan chat masuk, Karin membuka aplikasi berwarna hijau itu. Ternyata dari Rangga dan ada chat dari Melda juga sebelumnya. Ia hendak membacanya namun pengumuman bus terdengar, Karin sudah sampai, ia harus turun. Ketika melangkahkan kakinya keluar dari bus ia merasa pandangannya kabur, terlihat sekelilingnya kini bergoyang-goyang, sekuat tenaga ia tahan dan berhasil keluar dari halte.
Karin melewati jalan yang biasa ia lalui setiap hari, berjalan pulang ke kostnya. Nyeri kepalanya semakin terasa, ia menutup bagian atas wajahnya dengan kelima jarinya. Karin berjalan tak tentu arah, ke kanan ke kiri seperti orang mabuk. Badannya semakin lemas, ia merasa tak kuat lagi dan segera ambruk namun tiba-tiba ada sosok yang sigap menangkapnya, Karin rebah dipelukan sosok itu, ia sudah tak sanggup membuka matanya, Karin pingsan.
***
Bersambung ke Bab 15.