Sepagi ini Karin sudah mengantri di rumah sakit, ia memegang kertas antrian dengan nomer 007. Antrian medical check up memang tidak sebanyak antrian poli lainnya. Karin menunggu di depan ruangan khusus Medical check up, belum ada satu orang pun yang dipanggil untuk diperiksa karena petugasnya belum datang.
Jam dinding besar yang menggantung di sana menunjukkan jarum pada angka delapan, sedangkan jadwal buka untuk Medical check up jam 09.00 masih sekitar satu jam lagi.
"Sebaiknya aku cari sarapan dulu, mumpung masih ada waktu". Karin berjalan keluar mencari makanan karena terburu-buru tadi berangkat ke rumah sakit ia tak sempat sarapan, takut semakin siang semakin dapat nomer antrian yang besar.
Tak ada apapun di sekitar rumah sakit, hanya ada tempat foto copy juga toko makanan dan minuman ringan. Karin ingin makanan berat kalau hanya sekedar nyemil tak akan bertahan sampai siang, pasti ia cepat lapar lagi.
Di sebrang jalan ia melihat deretan tukang makanan, ada ketoprak, bubur ayam juga baso dan mie ayam.
"Sepertinya ketoprak enak, udah lama juga aku gak makan itu". Karin pun keluar pelataran rumah sakit bersiap menyebrang.
Setelah memesan satu porsi ketoprak, Karin duduk di kursi panjang dengan meja yang juga panjang rapat dengan tembok karena hanya kursi itu yang tersisa, lainnya sudah terisi penuh. Masih banyak yang mencari sarapan ternyata di jam segini.
Tak lama seorang gadis dengan masih menggunakan piyama dibalut jilbab coklat sederhana ikut memesan.
"Pak, bungkus tiga ya. Satu pedes, satu sedeng dan satu lagi ekstra pedes". Ucapnya menyebutkan pesanan dibarengi anggukan bapak penjual ketoprak.
Dia berdiri menunggu, sesekali melihat ke jalan kemudian menengok, melihat orang-orang yang tengah makan dan dia pun melihat Karin yang sibuk menyantap sepiring ketoprak sembari tangannya asyik memainkan layar hape.
"Kamu, Karin kan?". Tanyanya ketika menghampiri Karin.
Seketika Karin menengadah.
"Saya Annisa, temen. Ma-maksudnya yang waktu itu ketemu di bus". Annisa meralat ucapannya takut Karin masih tak mengenalinya.
"Iya saya ingat". Jawab Karin datar.
Tanpa permisi Annisa langsung duduk di sebelah Karin.
"Kamu kerja atau tinggal di sini?". Tanyanya riang.
"Gak koq, saya mau Medical check up di rumah sakit". Jari Karin menunjuk keluar ke arah rumah sakit.
"Oh, kirain kerja deket sini. Sekalian mampir gitu ke kost saya di belakang rumah sakit soalnya saya baru masuk kuliah juga di Akademi kebidanan yang samping rumah sakit itu, kan kamu tau cita-cita saya dari kecil jadi bidan". Annisa bercerita penuh tawa namun tak ada reaksi apapun dari Karin.
"Oh ya keluarga kamu gimana kabarnya?". Annisa terus bertanya mengacuhkan Karin yang dalam masa kebingungan.
"Keluarga saya?". Karin balik bertanya.
"Iya Ibu sama adik kamu". Kata Annisa mantap.
Karin menundukkan kepala sembari mengusap-ngusap keningnya. Kenapa setiap ketemu gadis ini, dia selalu membuat kepalanya pusing. Kenapa dia terus menanyakan hal-hal yang sama sekali ia tidak tahu. Kalau salah orang tapi kenapa dia selalu merasa dirinya orang yang dia maksud. Lagi-lagi gadis ini mampu membuatnya terpukul.
Bibir Annisa terkatup, senyuman yang sedari tadi mengembang di wajahnya mendadak hilang ketika dia mulai menyadari raut wajah Karin yang penuh kebingungan sama seperti mereka bertemu waktu itu di bus.
Annisa memperjelas pandangannya untuk meyakinkan dirinya bahwa dia tidak pernah salah orang. Gadis di depannya ini benar-benar Karin sahabatnya dari kecil. Perpisahan selama hampir empat tahun tak mungkin mengubah orang sangat drastis pikirnya. Lagi pula Karin memang tak banyak berubah, hanya wajahnya sekarang terlihat lebih bersih, dari dulu kulitnya memang sudah putih tapi sekarang jauh lebih bersih karena mungkin sudah pandai merawat diri sama seperti dia, dulu kulitnya sedikit hitam kini nampak putih karena penggunaan skincare. Badan Karin pun jauh lebih berisi tidak seperti dulu yang kurus kering hingga ketika siku Karin mengenai dirinya terasa sakit sekali karena tulang-tulangnya yang menonjol. Yang berbeda hanya rambutnya, dulu rambut Karin panjang sepinggang dengan poni hampir menutupi mata, bahkan dulu dirinya sering mengepangnya setiap mereka bermain. Kini tak ada lagi poni khasnya itu, rambutnya pendek di atas bahu. Satu lagi, luka di pergelangan tangan kanannya, didapat ketika mereka memanjat pagar kebun milik Abah Annisa.
Seketika Annisa melihat tangan kanan Karin yang memang terangkat karena terus mengusap keningnya, luka yang sama persis ada di situ. Kali ini dia sangat yakin tidak salah orang.
"Kamu pasti masih menyangka saya salah orang ya?". Akhirnya Annisa membuka mulutnya setelah dia selesai mengamati Karin.
"Kalo gak percaya saya masih ada foto kita dulu tapi gak begitu jelas karena masih pake hape jadul. Untungnya masih tersimpan di kartu memory waktu saya pindahkan ke hape baru". Annisa pun sibuk membuka hapenya, mulai mencari di galery dari ratusan foto yang tersimpan.
Annisa menemukannya segera memperlihatkannya pada Karin.
"Ini, ini foto kita dulu waktu ngaji di pondok Abah".
Karin melihatnya, fotonya memang buram tapi wajahnya jelas mirip dengannya, walaupun hanya terlihat bagian wajahnya saja sedang menggunakan jilbab putih khas anak-anak dan di sebelahnya Annisa tersenyum lebar dengan jilbab warna biru.
"Itu foto agak lama, waktu kelas 5 SD kalo gak salah. Yang ini waktu kita SMP". Annisa menggeser layar hapenya.
Terlihat mereka berdiri di depan ruangan kelas beserta teman-teman lainnya menggunakan seragam putih biru, bergaya dengan gaya yang tengah populer kala itu, Karin melihat dirinya dengan rambut panjang terurai ke depan.
"Sayangnya cuma tersisa dua foto itu saja, yang lain terhapus karena memory penuh". Ucap Annisa meraih hapenya yang tadi sempat di genggam Karin.
"Kamu inget kan?". Senyum Annisa kembali muncul berharap Karin kini mengingat semuanya.
Karin kembali terdiam, menutup rapat matanya berusaha mengingat tapi tak ada ingatan atau bayangan apapun yang muncul.
"Ma-maaf saya harus kembali ke rumah sakit". Karin tergagap lekas pergi setelah membayar makanannya.
Annisa hanya menggelengkan kepalanya.
"Dia beneran lupa atau pura-pura lupa? apa yang sebenarnya terjadi sama Karin?". Pertanyaan besar itu kini muncul merasuki pikirannya.
***
Karin kembali ke rumah sakit dengan keadaan linglung. Kenapa ia selalu merasakan ini setiap habis bertemu dengan gadis itu. Pikirannya kacau, ia mengambil botol air minum dari tasnya yang memang ia bekal dari kost. Menenggak habis isinya kemudian mencoba mengatur napasnya yang tadi terasa berat. Setelah dirasa jauh lebih baik ia pun berjalan kembali menuju ruangan untuk Medical check up.
Di depan ruangan kini sudah mulai ramai orang menunggu, Karin mencari tempat duduk yang kosong. Tak lama seorang pria keluar, layar kecil di atas pintu berbunyi dan merubah angka yang tertera menjadi 003, berarti sudah tiga orang yang masuk, sisa tiga orang lagi sampai pada gilirannya.
Tiba nomer antrian Karin, ia pun masuk. Perawat wanita dengan seragam orange menyapanya ramah. Pemeriksaan awal dimulai dengan tensi darah.
"Pusing ya?". Tanyanya seperti terkejut.
"Agak pusing memang". Jawab Karin ringan.
"Agak? ini tensi kamu tinggi loh 160/110. Memang sudah biasa pusing?". Masih dengan nada kaget.
"Belakangan ini memang lebih sering pusingnya".
"Masih muda padahal tapi sudah hipertensi begini, baguslah sekarang melakukan Medical check up biar tau penyebabnya". Ucap perawat itu sambil mengisi berkas di mejanya.
Setelah selesai menimbang dan mengukur tinggi badan, perawat pun mengambil darah Karin. Ia meringis, memalingkan wajahnya, ia tak sanggup melihat darah. Selanjutnya Karin disuruh berbaring di ranjang yang tersedia, perawat meminta maaf sebelum memintanya membuka kancing bajunya lalu menutupinya dengan selimut, dadanya ditempeli kabel-kabel putih yang tersambung ke mesin yang terus berbunyi di samping ranjang.
Pemeriksaan terakhir adalah tes mata.
"Ada keluhan matanya akhir-akhir ini?". Tanya perawat sebelum melakukan tes.
"Pandangan saya sering kabur, berkunang-kunang gitu". Jawab Karin menjelaskan kondisinya selama ini.
Beberapa rangkaian pemeriksaan dilakukan dalam tes mata ini. Setelah semua selesai ia disuruh kembali lagi sekitar satu jam dan dipersilahkan menunggu di luar.
Baru keluar ruangan hapenya berbunyi, Melda menelponnya. Karin segera berlari keluar, tidak enak mengangkat telpon di dalam yang ramai orang. Panggilannya berakhir, Karin menelpon balik.
"Halo!". Serunya setelah panggilannya diterima. Tak ada suara.
"Halo, Kak Melda". Suara Karin lebih keras takut memang tak terdengar di sana.
"I-iya Rin, lo di mana?". Suara Melda sedikit terbata.
"Hmm... lagi di luar Kak". Karin tak mau bilang ia sedang di rumah sakit takut Melda berpikir ia tengah sakit atau semacamnya.
"Di luar? bukan di kost?". Tanya Melda memastikan.
"Bukan Kak, lagi ada urusan di luar". Jawabnya beralasan.
"Bisa ketemuan gak nanti, nanti gue kirim alamat pastinya di mana".
"Bisa Kak tapi agak sorean ya, kayaknya aku masih lama".
"Iya gak pa-pa nanti kabarin aza ya". Melda pun menutup telponnya.
"Kenapa ya? apa Kak Melda masih marah? tapi dari suaranya kayaknya udah biasa". Karin bertanya pada dirinya sendiri. Entahlah untuk sekarang ia tak mau banyak berpikir, kejadian tadi pagi dengan Annisa saja sudah cukup menguras pikirannya.
Sejenak ia rasakan terpaan angin membelai rambutnya, Karin duduk di bangku samping gedung rumah sakit, menenangkan dirinya dari keramaian di dalam tadi. Karin menatap lurus ke depan, di situ memang terlihat gersang, hanya ada deretan motor dan mobil, cahaya matahari memantul dari kaca-kaca mobil yang terparkir di sana namun sesekali masih terasa hembusan angin membuatnya sejuk. Di sebelahnya ada Mushola ternyata, ia pun melangkah ke sana, air wudhu pasti lebih menyejukkan sekalian menunggu waktu mengambil hasil tesnya.
Satu jam berlalu, terdengar namanya dipanggil. Perawat yang tadi menyambutnya lagi. Dia membuka kertas berisi hasil tes Karin, rona kurang menyenangkan tergambar di wajahnya.
"Hasil ini nanti kamu serahkan ke dokter kan?". Dia bertanya sebelum memberikan kertasnya.
"Iya, saya memang sedang menjalani pengobatan". Jawab Karin dengan anggukan kecil.
"Oke lah kalo begitu biar dokternya saja yang menjelaskan nanti. Sepertinya kamu memang perlu tindakan lebih lanjut". Ucapnya membuat Karin khawatir.
Karin menerima amplop dengan kertas hasil tesnya di dalam. Ia terus berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja.
***
Sudah dua puluh menit Karin menunggu di tempat yang Melda maksud namun sampai sekarang batang hidung Melda tak kunjung kelihatan. Karin mulai gelisah 'Apa mungkin Melda mengerjainya, tapi rasanya tidak mungkin. Semarah apapun sahabatnya itu pasti tak akan tega melakukannya'.
Melda meminta Karin menunggunya di sebuah taman, sore seperti ini makin banyak pengunjungnya terutama pasangan suami istri yang mengajak anak mereka bermain, di sana memang banyak tersedia area bermain untuk anak-anak. Beberapa orang melintas menaiki sepeda, ada juga yang berolahraga lari, banyak juga yang hanya duduk-duduk santai seperti dirinya kini, duduk di hamparan rumput hijau menatap langit, menunggu senja.
Seseorang datang duduk di sampingnya, reflect Karin menoleh, Melda dengan wajah sendu seketika memeluk Karin. Ia menangis terisak hingga tubuhnya ikut bergetar. Karin menepuk lembut punggung Melda, mengusap rambutnya yang ikal. Perlahan Karin melepaskan pelukannya, menatap wajah Melda yang berlinangan air mata tak peduli bila orang memandangnya heran.
"Maaf ya Rin, gue udah berprasangka buruk sama lo. Gue yang egois gak pernah mau denger penjelasan lo dulu, selalu emosi, gue... ".
"Udahlah Kak, gak pa-pa. Memang aku yang salah. Sekarang gak usah dibahas lagi ya". Karin memegang tangan Melda tak mengijinkannya melanjutkan kata-katanya.
Melda mengangguk cepat, menyeka air mata dan mukusnya. Mereka bertatapan lalu tertawa bersama tanpa alasan.
"Hai semua!". Riki datang menyapa Karin dan Melda.
"Sorry ya Rin, gue juga janjian sama Riki. Kita mau nonton. Ikut yuk?!". Ajak Melda.
"Iya, ikut aza biar rame". Seru Riki juga.
"Eng-gak, engak usah. Kalian aza jalan berdua. Aku mau langsung pulang, capek banget hari ini". Karin menolak, tidak mungkin mengganggu acara mereka berdua.
"Yaahhh... ". Melda terlihat kecewa.
"Udah jalan sana, aku juga mau pulang". Karin menyuruh mereka segera pergi.
Riki menggenggam tangan Melda membuat Melda tersipu, kali ini wajahnya memerah lagi tapi bukan karena menangis tapi menahan malu. Mereka berjalan bergandengan tangan, tawa manis selalu menghiasi wajah masing-masing, saling menatap mesra layaknya pasangan yang sedang dimabuk asmara. Tak sia-sia usaha Karin walau harus terjadi salah paham dulu.
'Happy ending'. Gumam Karin tersenyum bahagia, tapi tiba-tiba hatinya terasa sakit. 'Hei! ada apa ini?'
***
Semua penghuni kost berkumpul ketika Karin tiba, ada Bu Winda dan Siska yang sedang menggeledah kamar Sari sedangkan Lina dan Irma hanya menontonnya. Karin pun mendekati mereka.
"Ada apa teh?". Karin menepuk bahu Lina yang kepalanya melongok ke kamar Sari.
"Itu Sari gak bisa dihubungin, Bu Winda mau tanya soal masalahnya sama Siska waktu itu jadi kamarnya dibuka paksa sekarang". Lina menerangkan.
Karin ikut mengamati, tak ada apa-apa di sana, lemari pun kosong sehelai baju pun tak ada hanya ada tumpukan sampah yang belum terbuang beserta kasur yang berantakan. Bu Winda tengah merapihkannya, sementara Siska seperti sibuk mencari sesuatu.
"Eh Rin, kamu sempat lihat Sari?". Tanya Bu Winda ketika matanya menangkap sosok Karin di depan pintu.
"Gak Bu, terakhir saya lihat waktu kejadian ribut sama Mbak Siska. Besok paginya juga saya gak liat". Karin berkata jujur.
Jawaban semua penghuni kost sama tak ada yang melihat Sari selepas bertengkar dengan Siska bahkan Karin yang biasa bangun paling pagi pun tak menjumpainya.
Karin beserta Lina dan Irma lanjut membicarakan Sari setelah Bu Winda dan Siska pergi, mereka duduk di kursi makan sembari menikmati brownies coklat kiriman ibunda Irma, Lina menyajikan lemon tea hangat untuk mereka bertiga. Mereka asyik berbincang menikmati suasana malam, tak ada malam mingguan jalan dengan pasangan dalam agenda ketiganya. Lina memang sudah punya kekasih tapi LDR karena sang pacar tengah menempuh pendidikan militer. Irma sedikit tomboy, teman lelakinya banyak tapi tak ada yang dia suka. Lagi pula orang tuanya melarang, tidak boleh berpacaran sampai ia menamatkan kuliahnya. Sementara Karin, gadis pemalu dan penakut ini jangankan punya pacar baru diajak ngobrol dengan pria yang baru dia kenal pun lantas gemetaran. Fokusnya hanya mencari uang dan bagaimana dia bisa melanjutkan pendidikannya.
"Kan aku bilang apa dari awal, Mbak Sari tuh mencurigakan". Kata Irma dengan mulut yang penuh coklat.
"Kayaknya dia udah tau ya kalo Siska pasti ngadu ke Bu Winda makanya dia langsung kabur tuh". Ujar Lina menyeruput tehnya.
"Ada yang aneh gak sih sama Mbak Sari, tiba-tiba dia ngekost tanpa bawa barang-barang cuma tas baju terus sekarang pergi gitu aza". Karin merasa ada yang janggal sejak Sari masuk ke kost ini.
"Jangan-jangan dia buronan lagi ya?! Gayanya aza kayak preman gitu". Irma menakut-nakuti.
Sontak mereka semua bergidik ketakutan.
"Duh, jangan sampe deh dia balik lagi". Irma memegangi tengkuknya yang mulai merinding.
"Stop deh jangan dibahas lagi, bikin parno tau gak". Nampak jelas Lina ketakutan.
"Iya dah yuk mening kita belajar. Ayo Ma, aku kemaren sempet baca-baca buku dari kamu tapi banyak yang belum aku ngerti. Kamu juga katanya mau ajarin komputer". Hasrat belajar Karin sekarang memang semakin tinggi, setiap pulang kerja ia selalu menyempatkan untuk membaca buku.
"Oke, kita belajar di kamar aku aza". Irma menjentikkan jarinya.
"Aku ikut". Rengek Lina tak mau sendirian.
Malam ini pun mereka habiskan untuk belajar bersama.
***
Pagi-pagi sekali Intan sudah bersiap di sepeda motornya, menunggu Karin keluar dari kostnya. Pergi ke klinik akan menjadi rutinitas mingguan mereka berdua sekarang.
Intan sangat bersemangat hari ini, dia langsung melangkah menuju ruangan Maher setelah dipersilahkan oleh resepsionis tadi. Karin mengikuti dari belakang. Pintu ruangan Maher sedikit terbuka, terdengar suara gaduh di sana.
"Sekarang gue ngomong sebagai temen deket lo ya Dik, semua dokter udah kasih saran buat dia dimasukkan ke rumah sakit, gak ada jalan lagi jadi sekarang lo ikutin aza keputusan bersama ini". Maher berbicara kepada Dika yang duduk di hadapannya.
"Please Her, gue yakin dia bisa sembuh jadi gak perlu dibawa ke rumah sakit jiwa". Dika memelas.
"Kapan? Ini udah satu tahun Dik, dan gak ada progres yang menjanjikan malah kondisinya semakin memburuk sampai keluarganya udah angkat tangan".
Dika terdiam tak sanggup berkata-kata lagi.
"Tolong jangan egois, ini semua demi kebaikan pasien juga". Maher berharap Dika mengerti keputusannya.
Dika beringsut dari kursinya tanpa mengucapkan apapun, wajahnya berantakan saat melihat Karin dan Intan yang berdiri di depan pintu tanpa sepatah kata pun dia berlalu begitu saja.
Intan mengetuk pintu, Maher mempersilahkan mereka masuk. Terlihat Maher yang tertunduk lesu memegangi kepalanya.
"Ada masalah apa Her sama Dika? Sorry tadi aku sempet denger di depan pintu". Intan memberanikan diri bertanya tak ingin melihat temannya larut dalam kesedihan.
"Ada sedikit masalah memang, ada salah satu pasien yang menurut kesepakatan dokter di sini harus dioper ke Rumah sakit jiwa tapi Dika bersikeras, dia yakin pasiennya pasti sembuh, kebetulan memang rutin terapi sama dia. Duh, sorry aku malah curhat". Maher memang terbiasa berkeluh kesah pada Intan, baginya cuma Intan teman yang bisa dipercaya.
"Gak pa-pa kan memang aku yang tanya". Intan mengusap lembut tangan Maher. Karin hanya mendengarkan saja tak pantas ikut campur yang bukan masalahnya.
"Oh ya mengenai Karin gimana?". Intan mengganti percakapan, fokus kembali dengan niat kedatangannya hari ini.
"Aku udah discuss sama Dika kemarin setelah liat hasil tes MCU Karin yang kamu kirim, sepertinya memang perlu penanganan secepatnya. Selebihnya kamu bisa tanya langsung sama Dika".
Sepulang dari rumah sakit kemarin memang Karin mampir dulu ke rumah Intan untuk memberikan hasil tes Medical check up nya, ia merasa lebih baik Intan saja yang menyimpannya.
"Jadi sekarang aku ke ruangan Dika?". Tanya Intan takut salah.
"Ya boleh, perlu aku antar?". Maher hendak beranjak dari kursinya.
"Eh gak perlu biar aku sama Karin aza". Intan pun pamit.
"Terima kasih dok". Karin hanya bisa mengucapkan itu sebelum keluar dari ruangan Maher.
Wajah Dika masih tampak muram ketika Karin dan Intan sudah duduk di hadapannya. Dia membaca hasil test MCU Karin yang baru diserahkan oleh Intan walaupun kemarin dia sudah sempat lihat dari Maher yang mendapat kiriman fotonya dari Intan.
"Maaf Karin bisa tunggu sebentar di luar, saya perlu bicara dulu dengan Intan sebagai wali kamu". Ucap Dika setelah selesai membaca hasil testnya.
Karin berjalan keluar mengikuti perintah Dika.
"Dari hasil yang saya baca kondisi fisik pasien sudah memburuk, ada indikasi lemah jantung sehingga pasien jadi lebih sering pingsan juga hipertensi yang bila dibiarkan terus bisa mengakibatkan stroke". Jelas Dika.
Intan menutup mulut dengan tangannya, matanya membulat sempurna, ia terkaget. Tak menyangka kondisi Karin separah itu, keputusannya segera membawa Karin berobat ternyata tepat. Kini rasa iba yang teramat sangat pada Karin menyergap relung hatinya.
"Sepertinya saya harus mulai sedikit-sedikit membuka memorinya agar tau akar permasalahannya karena insomnia yang dialami pasien ini sudah sangat mengganggu kesehatan fisiknya". Dika kembali menjelaskan.
"Lakukan apa saja demi kesembuhannya, saya percayakan semuanya". Ucap Intan dengan nada sedih.
"Saya akan berusaha melakukan yang terbaik, kita lihat selama enam bulan ke depan, semoga terlihat hasilnya namun bila selama itu tidak ada perubahan yang signifikan terpaksa saya serahkan kepada dr. Maher untuk diobati secara medis". Dika menghela nafas seperti ada yang membuatnya gusar.
"Tapi saya mohon maaf sebelumnya untuk hari ini sepertinya saya belum bisa melakukan sesi terapi, kita bisa mulai minggu depan. Ada masalah yang sedikit mengganggu, mungkin anda juga sempat lihat tadi. Sekali lagi saya minta maaf karena kurang profesional". Dika terus meminta maaf.
"Tidak apa-apa, saya mengerti. Saya pamit kalau begitu". Intan pun keluar ruangannya.
**
Di ruang tunggu Karin hanya duduk memainkan hapenya, ada seorang gadis duduk di sebelahnya, ia melamun. Tatapan mata gadis itu kosong dan mulutnya terus komat-kamit entah apa yang ia ucapkan. Beberapa orang yang lewat sering memperhatikannya.
"Karin!". Intan melambaikan tangan, segera Karin menghampirinya.
"Sesi terapinya baru bisa minggu depan jadi hari ini kita pulang aza ya tapi kamu bisa tunggu sebentar? Aku ketemu Maher dulu".
"Aku bisa pulang sendiri koq Kak, Kakak kalo masih ada perlu sama dr. Maher gak pa-pa aku pulang sendiri aza". Karin paham sepertinya Intan ingin terus menemani Maher yang sedang ada masalah.
"Gak koq, aku cuma sebentar aza". Intan merasa tak enak pada Karin.
"Sebenernya aku udah janji sama Kak Melda jadi aku pulang sendiri aza gak pa-pa". Akhirnya Karin berbohong.
"Astagfirullah, ngomongin Melda sampe lupa aku belum kasih kado tapi aku udah sempet telpon dia sih buat ucapin". Intan menepuk dahinya serasa diingatkan.
"Kak Melda juga pasti gak ngarepin Kak, yang penting doanya kan". Ujar Karin penuh senyum.
"Iya tapi tetep aza gak enak, waktu aku ultah kan dia juga ngasih, masa aku gak. Oh ya tapi kamu beneran gak pa-pa pulang sendiri?". Tanya Intan serius.
Karin hanya mengangguk sambil tersenyum lebar agar Intan tak perlu khawatir.
"Ya udah kalo gitu hati-hati ya". Intan pun pergi.
Tiba-tiba Karin merasa mulas, ia tak sanggup menahannya segera mencari toilet.
Karin melihat dua orang perawat di dalam toilet sedang merapikan make up nya di depan cermin. Sepertinya mereka tak sadar ketika Karin masuk.
"Eh Des, liat gak tadi cewek yang di ruang tunggu". Ucap seorang perawat berkata pada temannya yang bernama Desi.
"Cewek yang pake sweater pink?!". Desi balik bertanya.
"Iya, itu pasiennya Pak Dika katanya harus dibawa ke Rumah sakit jiwa tapi Pak Dika gak setuju. Gosipnya sih mereka pacaran". Suara perawat itu semakin kecil takut ada yang mendengar.
"Huss! Jangan ngomong sembarangan". Ucap Desi sambil menoleh ke kanan dan ke kiri takut ada yang mendengarkan.
"Semua orang di klinik udah pada tau koq". Ucap perawat itu meyakinkan.
Karin keluar dari bilik toilet, kedua perawat itu pun kaget. Mereka segera keluar. Karin sudah mendengar semua percakapan mereka.
"Jadi perempuan di samping aku tadi pasien yang dibicarakan sama Pak Dika dan dr. Maher".
**
Karin sudah berada di pelataran klinik mencari taksi. Jalur bus memang susah dari sini jadi ia putuskan naik taksi saja.
"Karin?!". Seseorang menghampirinya.
"Pak Arya!". Karin tak menyangka terus bertemu dengan bossnya ini.
"Kamu sedang apa di sini?". Tanyanya kaku.
"Saya memang berobat di sini Pak". Sering bertemu membuat Karin sedikit lebih berani berbicara dengan Arya.
"Kebetulan sekali, dokter saya juga praktek di sini". Entah kenapa ia tampak senang.
"Kamu mau ke mana sekarang? Kalo tidak sibuk bisa temani saya?!". Arya terus bertanya.
"Hah? Temani?". Karin hanya berteriak dalam hati tak menyangka bossnya itu tiba-tiba berkata seperti itu padanya.
Arya menangkap kekagetan di wajah Karin karena kedua alisnya bertaut dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Saya cuma minta temani minum kopi sebentar di mini market itu". Arya menunjuk Mini market yang berada persis di samping klinik.
"Tunggu sebentar ya". Arya berlari kecil menemui Pak Akbar yang sedari tadi sudah menunggu di mobil.
Karin hanya bisa mengikuti bossnya dengan pikiran yang dipenuhi tanda tanya. Seperti tak cukup membuatnya terheran-heran karena membelikan kado lalu minta ditraktir dan sekarang minta ditemani minum kopi. Karin tak habis pikir dengan sikap bossnya ini.
'Untung aza ganteng'. Hati kecilnya berbicara.
'Astagfirullah, sadar Karin'. Logikanya berkata.
Arya mengajak Karin masuk namun ia menolak, ia memang sudah membawa minuman sendiri, tadi sempat beli dengan Intan sebelum sampai di klinik. Karin duduk di kursi yang tersedia menunggu Arya.
Tak lama Arya keluar dengan secangkir kopi, lima bungkus roti dan juga tiga buah coklat. Karin tak menyangka sosok dewasa seperti Arya masih suka jajan coklat. Karin menahan tawanya.
"Coklatnya buat kamu, sepertinya kamu suka coklat itu. Saya lihat kamu bawa ketika kerja". Ucap Arya santai sembari membuka bungkus roti.
Karin baru sadar itu coklat yang sama yang Melda berikan pemberian dari Mas Arief waktu itu.
'Kenapa Pak Arya segitu perhatiannya'. Lagi-lagi sikap bossnya ini membuatnya menjadi bertanya-tanya.
Karin mulai salah tingkah, ia hanya bisa mengulum senyumnya.
"Selain obat kita yang sama ternyata kita juga berobat di tempat yang sama ya". Arya merasa terus menemukan kesamaan dengan Karin, aneh memang tapi itu membuat dia merasa senang sehingga muncul idenya untuk mengajak Karin menemaninya minum kopi.
Karin hanya tertawa-tawa kecil padahal ia memang sudah tahu kalau Arya berobat di sini juga namun ia tak mau mengatakannya dan rasanya memang tak perlu.
Sementara itu di sebrang jalan Pak Akbar terus memperhatikan mereka berdua dari dalam mobil.
***
Bersambung ke bab 8.