Bab 6 : Kado ulang tahun

3872 Kata
"Akhirnya dateng juga". Irma menyambut Karin dengan setumpuk buku-buku. Tumpukannya tinggi menutupi d**a. Hitungan detik tumpukan buku itu sudah berpindah ke tangan Karin, napasnya tertahan karena mendapat beban berat tiba-tiba. "Emang ini buku apa aza sih Ma? segini banyaknya?". Gerutu Karin. "Abis aku bingung buku apa aza yang diperluin jadi aku bawa semua yang kira-kira penting mumpung pinjem gratis dari perpus kampus. Itu ada buku ilmu pengetahuan, bahasa Inggris untuk pemula, ada buku-buku agama juga yang waktu itu kamu minta, terus yang paling banyak sih buku-buku artikel. Menurut aku sih itu penting untuk nambah pengetahuan". Jelas Irma panjang lebar. "Terus kamu kan pengen belajar komputer juga, itu mah tinggal praktek aza gampang. Aku kan ahlinya". Ujar mahasiswi jurusan Teknik Komputer itu berbangga. "Ya terus aku buka kuncinya gimana ini?". "Eh, iya yak?!". Irma menggaruk pelipisnya, bingung. Karin memiringkan badannya. "Ya udah kamu ambil nih kuncinya di tas aku, tolong buka pintunya". Ketika pintu terbuka. 'Brukk!!!' Semua buku di tangan Karin jatuh berserakan. "Karin...!". Teriak Irma kaget. "Kan berat Ma". Karin membela diri. "Eh kalian di sini?!". Lina datang dengan napas yang terengah, membukukan badan sambil memegangi kedua lututnya. "Ada perang dunia ke tiga tuh". Serunya lagi. "Perang dunia?". Karin mengerutkan dahi, tanda tak mengerti. "Emang siapa yang berantem?". Irma menanggapinya kalem, masih sibuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Baru saja Lina membuka mulutnya, suara gaduh terdengar, semakin jelas. "Ya ayo liat, gue gak takut koq. Orang gue gak pernah ngambil barang lo". Teriak Siska. Pintu kamar Siska pun dibuka. Siska masuk disusul dengan Sari. "Eh, mau ke mana Ma. Udah gak usah Ikut-ikut". Karin segera menarik tangan Irma yang hendak melangkah melihat keributan itu. Irma berhenti namun justru Lina berjalan mengendap-endap menuju kamar Siska. Akhirnya yang lainnya pun mengikuti. Sari mulai mencari-cari di setiap sudut kamar, semua barang bergeser, sukses membuat seisi kamar Siska berantakan. Siska hanya berdiri berpangku tangan menyaksikan perbuatan Sari. Sementara Karin dan yang lainnya menonton di depan pintu kamar. Sari tak kunjung selesai walaupun barang yang dia cari tidak ada. Siska sudah tak tahan, dia menarik keras tangan Sari. "Lo sengaja kan ngacak-ngacak kamar gue?". Telunjuk Siska mengarah tepat ke wajah Sari. "Kalo lo gak ngerasa gak usah ketakutan gitu, pasti lo sembunyiin kan?! di mana??". Teriakan Sari membuat urat-urat lehernya tertarik. Siska meradang, emosinya tersulut membuat napasnya semakin cepat. Dia menarik baju Sari membuat wajah mereka beradu. "Udah gue bilang berkali-kali, gue gak pernah nyuri barang lo!!!". Siska menarik Sari dan mendorongnya keluar hingga terjatuh. Siska membanting pintu dengan sekuat tenaga membuat jendela kamarnya bergetar dan jantung orang-orang yang mendengarnya pun ikut berdegup kencang. "Astaghfirullahaladzim". "Ya Allah". "Astaghfirullah". Lina, Irma dan Karin bersahutan. Sementara Sari tetap acuh tak memperdulikan mereka, segera berdiri dan ikut menutup pintu kamar. Lina mengelus d**a, badannya terasa lemas. "Hampir tiga tahun kost di sini, baru kali ini liat keributan begini". Keluhnya. "Tau tuh, semenjak Mbak Sari datang di kost jadi ribut mulu". Irma ikut menggerutu. Apa yang dikatakan Irma ada benarnya. Siska memang tidak pernah bergaul dengan penghuni kost yang lain hanya sekedarnya menyapa namun selama ini dia tidak pernah berbuat keributan atau bertengkar dengan siapapun. "Udah, udah. Kalo kedengeran orangnya lagi malah makin ribut nanti. Masuk aza yuk?!". Karin menyudahi, mereka mengiyakan dan masuk ke kamar masing-masing. *** Pagi ini di dapur ada pemandangan yang jarang terjadi ketika Karin hendak membuat Teh panas untuk perutnya yang sedikit mual. Terlihat Siska duduk mengobrol di kursi makan dengan Irma dan Lina. "Rin, duduk sini". Lina menepuk kursi di sebelahnya. "Aku mau bikin teh dulu Kak". Jawab Karin yang baru masuk ke dapur. Lina mengatakan oke dengan simbol jarinya. "Emang awal kejadiannya semalam tuh gimana sih Kak?". Tanya Irma yang duduk di sebelah Siska, dia masih penasaran. "Jadi gue tuh baru masuk ke dapur tapi tau-tau si Sari yang keluar dari kamar mandi teriak katanya cincinnya tadi dia taro di meja gak ada, ilang dan dia langsung nuduh gue padahal waktu itu gue gak sendiri, ada Lina juga tapi gak ditanya, malah gue yang dicecar. Gue marah dong. Gue bilang 'emang lo punya cincin'? eh dia tambah marah, makin menjadi-jadi. Tapi bener kan? ada yang pernah liat gak dia pake cincin? karena seinget gue selama ini dia gak pernah pake tuh. Lagi halu kali tuh orang, stress!!!". Cerocos Siska. "Liat aza gue bakal aduin semua sama tante gue biar dia diusir. Dasar orang gila!". Siska memukul meja dengan kepalan tangannya ternyata dia masih sangat marah. "Tuh kan kepala gue jadi sakit kalo udah begini, ke kamar dulu ya". Dia pun berlalu meninggalkan orang-orang yang sedari tadi hanya diam mendengarkan dia berbicara. Karin ikut bergabung di kursi makan setelah Siska pergi. "Eh bener gak sih yang Siska bilang kalo Sari gak pernah pake cincin?". Lina bertanya pada Irma dan Karin. Karin berpikir dan mencoba mengingat. "Kayaknya iya deh, Mbak Sari gak pake cincin. Aku pernah berapa kali ngobrol sama dia gak ada cincin di jarinya, tapi gak tau juga kalo malem itu dia lagi pake". Ia tidak mau berburuk sangka. "Kalo yang dibilang Mbak Siska bener, berarti Mbak Sari ngada-ngada dong, emang pengen nyari ribut aza sama Mbak Siska". Irma berpendapat. "Pusing aku ngurusin masalah orang, bentar lagi harus jalan kerja nih, duluan ya". Karin malas ikut campur. ** Rasanya Karin enggan sekali masuk kerja hari ini, suasana kerja terasa tidak nyaman semenjak Melda salah paham padanya. Jika bisa memilih Karin lebih baik dimarahi Mpok Wati setiap hari daripada harus didiamkan Melda seperti ini. Karin berusaha memberikan Melda waktu seperti saran Intan namun sepertinya suasana hati Melda tak kunjung membaik. Rasanya Melda memendam kekecewaan yang mendalam terhadap Karin, dia merasa dikhianati walau kenyataannya tidak seperti itu. Karin hanya mematut di depan cermin kecil di atas mejanya. Melihat lingkaran hitam di bawah matanya, mencoba menutupinya dengan memakai bedak lebih tebal. Baru dua jam ia tertidur, obat tidur dari dr. Hendy sudah mulai tidak berefek padanya mungkin karena ia sudah terbiasa dengan dosis yang lebih tinggi. Kurang tidur lagi membuat Karin merasa mual-mual seperti sekarang, mencoba meredakannya dengan minum teh pait panas tadi, hanya hilang sebentar namun kini mulai terasa lagi. 'Apa hari ini aku izin aza ya?!'. Karin mencari hapenya ingin menelpon Pak Aris, berniat memberitahunya kalau ia tidak bisa masuk kerja hari ini. Sibuk mencari hape di atas meja membuat barang-barang yang ada di meja itu berantakan, tangannya menyenggol kalender hingga terjatuh, ketika hendak menaruhnya kembali ia melihat tanggal yang dilingkari spidol merah 'Ultah Kak Melda' tulis keterangan di situ, tanggal 10 februari. "Lusa ultah Kak Melda, aku harus cari hadiah buat dia, ini juga kesempatan aku menjelaskan semuanya". Karin mulai semangat kembali mengurungkan niatnya untuk izin kerja. Bersiap berangkat setelah mencari hapenya yang ternyata ada di dalam tasnya. "Kenapa sekarang jadi gampang lupa sih". Ia mengumpati diri tak tahu kalau sebenarnya itu merupakan salah satu efek dari gangguan tidurnya. *** Tidak ada yang menarik hari ini, Karin merasa suntuk sekali bekerja. Awalnya ia yang berniat izin justru Melda yang tidak masuk, tidak ada keterangan jelas dari Pak Aris ketika Karin menanyakannya. Rasanya ia ingin sekali berkunjung ke rumah Melda, takutnya dia sakit namun bayangan sikap Melda yang dingin dengan tatapan marah membuat Karin merinding dan membatalkan niatnya. [Karin, nanti pulang kerja tunggu aku dulu ya!] Begitu isi chat dari Intan, Karin menunggu di pintu keluar kantornya. Dari kejauhan Intan sudah melambaikan tangan, nampak wajahnya ceria dan juga pakaiannya berbeda hari ini, jauh lebih rapi. "Cantik banget Kak, mau ke mana?". Karin memuji membuat Intan tersipu. "Mau ketemu temen. Oh ya aku cuma mau bilang kalau hari sabtu sebelum terapi, kamu harus medical check up dulu ya nanti aku anterin". "Eh gak usah Kak, medical check up-nya aku sendiri aza. Kan minggunya juga Kakak nganterin aku. Capek lah hari liburnya dipake sama aku terus". Intan merapatkan bibirnya. "Yakin kamu bisa sendiri?" Tanyanya ragu. "Bisalah, Kakak tenang aza". Senyum Karin meyakinkan. "Kak, besok bisa temenin aku cari kado buat Kak Melda? Lusa kan dia ulang tahun". Karin memang ingin ditemani. "Eh iya ya tanggal 10 Melda ultah berarti aku juga harus siapin hadiah nih. Tapi kalo besok gak bisa Rin soalnya pulang kerja ada makan malam sama temen-temen apoteker". Intan teringat jadwalnya. "Oh". Karin sedikit kecewa, berarti ia harus jalan sendiri. Memikirkannya saja sudah malas tapi mau tidak mau karena semua demi Melda. Suara notif handphone terdengar. Intan membuka hapenya, seketika dia tersenyum cerah, ujung bibirnya terangkat. Karin memperhatikannya seksama. "Dari siapa sih Kak? seneng banget kayaknya". Karin seolah ingin tahu siapa yang membuat Intan seceria itu hanya dengan membaca pesannya. "Dari Maher. Hari ini kita memang ada janji ketemu". Jawab Intan sembari jemarinya lincah mengetik pesan balasan. "Oh berarti secantik ini karena mau ketemu dokter Maher". Kini Karin paham, kemudian ia membulatkan matanya lalu menyipit. "Kaka suka ya sama dokter Maher?". Tanyanya polos. Intan yang sibuk menatap hape seketika mengalihkan pandangannya kepada Karin. "Karin nih, Maher itu temen aku. Aku udah kenal dia lama dari kecil malah, cuma akrab waktu SMA karena sekelas". Intan menyangkal namun raut mukanya yang menahan malu tak dapat disembunyikan. "Emang ada yang salah kalo suka sama temen?". Pertanyaan Karin membuat Intan gelisah, pipinya memerah. "Ya-ya gak sih cuma... Ah udahlah aku jalan, takut Maher kelamaan nunggu". Intan segera pergi takut ketahuan kalau semua pertanyaan Karin sudah membuatnya salah tingkah. "Karin, baru mau pulang?". Sapa Fajar di atas motornya ketika Karin berjalan menuju halte bus. "Eh Bang Fajar, iya nih". Karin sedikit kaget karena Fajar tiba-tiba menyapa. "Oh ya Kak Melda kenapa gak masuk kerja hari ini?". Karin ingin memastikan semoga Melda tidak masuk bukan karena sakit. "Biasa asam lambungnya naik, kamu tau kan dia bandel makan asem pedes terus, kumat deh. Ini saya abis beliin obat di apotek". Fajar mengangkat plastik obat yang dia bawa. Raut sedih tergambar di wajah Karin setelah mendengar kabar itu. Melda itu gadis yang kuat jarang sekali mengeluh sakit juga seorang yang pemberani di mata Karin berbanding terbalik dengan dirinya yang memiliki fisik lemah dan penakut. Bagi Karin sosok Melda itu bagaikan Dewi pelindung jadi mendengar Melda sedang sakit membuatnya benar-benar sedih. "Bang, boleh aku ikut? pengen nengokin Kak Melda". Karin pun memberanikan diri bertemu Melda, apapun nanti reaksi Melda ia tak peduli, yang penting ia bisa melihat keadaan Melda sekarang, begitu niat Karin. "Ayok". Fajar bersiap di motornya. ** "Mel, Mel... ". Teriak Fajar ketika mereka sampai di rumah. "Iya Bang, taro aza obatnya nanti gue ambil. Makasih ya". Jawab Melda dari dalam. "Masuk aza Rin, Melda di kamarnya. Saya pamit ya balik ke bengkel lagi". Fajar menjalankan kembali motornya, dia memang buka usaha bengkel motor. Prinsipnya apapun usahanya yang penting punya sendiri, dia tidak suka bekerja di bawah perintah orang. Melda keluar dari kamarnya, dia kaget melihat Karin berdiri mematung di depan pintu. Dia mengedarkan pandangannya ke dalam rumah lalu menghampiri Karin, menarik tangannya, berjalan menjauhi rumahnya. "Mau ngapain lo ke rumah gue?". Tanyanya ketus sambil melepaskan pegangan tangannya dengan kasar. "Lo mau bilang ke keluarga gue kalo kita lagi berantem gara-gara cowok gitu?!". Lanjut Melda lagi tanpa menunggu Karin menjawab. "Gue jelasin sekarang sama lo ya Rin kenapa gue begini. Sebenarnya gue cuma mau lo jujur aza kalo suka sama Riki, gak usah pura-pura. Gue tau koq lo suka sama dia karena gak biasanya lo langsung akrab sama orang apalagi cowok. Kenapa sih? lo takut gak enak sama gue karena dari awal gue yang bilang suka sama Riki, bilang dia tipe gue? kalo lo memang sama-sama suka, gue gak masalah koq, yang penting lo ngomong Rin, ngomong aza". Melda mencurahkan isi hatinya dengan mata dan hidung yang mulai memerah menahan tangis. Karin hanya diam, membiarkan Melda menumpahkan segala kekesalannya. Dari awal ia memang sudah berniat akan menerima bagaimana pun sikap Melda. Karin menatap nanar wajah Melda yang kini berpaling dan berpangku tangan, menatap ke arah lain seperti tak ingin melihat wajahnya. "Terus terang gue kecewa banget sama lo. Gue gak tau sampe kapan begini dan bisa baikan lagi yang jelas bukan sekarang". Melda berjalan menabrak bahu Karin dengan sengaja. Karin tak mampu menoleh ke arah Melda berlalu. Air matanya menetes. Semua ucapan Melda terngiang-ngiang, kini ia mulai menyalahkan dirinya sendiri kenapa harus bersikap berlebihan yang membuat temannya itu salah paham. Pantas memang kalau Melda berprasangka seperti itu, ia yang penakut dan canggung setiap bertemu dengan orang baru tiba-tiba berubah total ketika bertemu Riki. Padahal ia sekuat tenaga mengatasi rasa takutnya demi Melda agar mereka berdua bisa bertemu dan berkenalan tapi mana mungkin orang tahu. Ya, iya yang salah. Ia yang membuat keadaan jadi seperti ini. Karin mulai membenci dirinya. Bising suara kendaraan yang berlalu lalang di sekitarnya, juga orang yang tak sengaja menabrak dirinya tak ia rasakan. Karin berjalan tak tentu arah, ia merasa berada di ruangan hampa sendiri sambil meratapi kebodohannya. "Tin... tin... tin...". Suara klakson mobil terdengar, menyadarkan Karin. "Wey, kalo jalan di pinggir. Jangan di tengah, mau nyari mati". Teriak seorang pria dari balik jendela mobil yang setengah terbuka. Karin melihat sekelilingnya, ia tak tahu berada di mana. Jalan yang asing, yang tidak biasa ia lewati. "Astaghfirullah, di mana aku?". Ia pun berlari menuju jalan raya, berharap segera menemukan halte bus untuk membawanya pulang. *** Besok hari ulang tahun Melda, sepulang kerja Karin bergegas ke Mall untuk mencari hadiah. Belum terpikirkan olehnya kira-kira apa yang harus ia beli sebagai kado ulang tahun. Sore menjelang malam Mall itu semakin ramai. Banyak gadis-gadis seusianya berlalu lalang bersama teman atau pasangannya, sepertinya hanya ia yang berjalan sendiri. Kakinya mulai lelah berjalan berputar-putar mencari sesuatu yang cocok dijadikan hadiah untuk Melda. Naik sampai empat lantai kemudian turun kembali, masuk mulai dari toko baju, tas, sepatu tapi tak kunjung menemukan yang sesuai. Tenggorokannya terasa kering, ia melihat booth minuman boba kesukaannya, ada kursi-kursi kecil juga di depannya, akhirnya ia putuskan untuk istirahat dulu di sana. Minumannya datang, satu cup besar boba oreo pesanannya langsung ia teguk sampai habis setengahnya. Rasa coklat oreo yang creamy mengalir membasahi tenggorokannya, menyegarkan. Tak ada yang bisa ia lakukan selain membuka hapenya barangkali ia akan menemukan ide hadiah untuk Melda, pikirnya begitu. Sudah membuka akun sosialnya Melda hingga ketik pencarian di google tapi Karin masih kebingungan. Berjalan sendiri seperti ini rasanya membuat ia tak bisa berpikir. Karin membuka galeri hapenya, ia ingat setiap jalan ke Mall dengan Melda atau Intan juga bertiga sekalipun selalu menyempatkan waktu untuk berfoto, tak pernah terlewat. Ia mengingat setiap moment dari foto-foto yang ia lihat. Tersenyum sendiri melihat mimik-mimik wajah mereka yang dibuat selucu atau secantik mungkin. Foto terbarunya dengan Melda ketika mereka berdua nonton film dipandang Karin lekat-lekat, seketika matanya berkaca, bila tak malu ia ingin menangis saat ini juga. Foto itu berlatar belakang toko jam tangan, waktu itu Melda memang mengajak Karin masuk katanya ada jam tangan yang ia suka namun hanya melihat sebentar, Melda pun mengajak Karin keluar kembali. Saat itu Karin tak banyak bertanya karena ia pun terpesona dengan jam-jam cantik yang terpajang di sana. Karin pun kini tahu hadiah apa yang tepat untuk Melda. Karin memasuki toko yang bertuliskan "Alexander Christie". Seorang petugas cantik menyambutnya dengan senyuman ramah. Ia mencoba mengingat jam yang Melda lihat di etalase, sebuah jam tangan kulit berbentuk kotak dan berwarna merah. Karin menemukannya, ia menunjuk dan pelayan toko itu mengambilkannya. Karin pandangi jam itu, benar tak salah lagi, ia melihat harga yang tergantung di jam itu 'Rp. 1.050.000'. Jantungnya berdesir melihat harganya, ia tak menyangka akan semahal itu. Karin hanya membawa uang enam ratus ribu itupun hasil tabungannya dari empat bulan lalu, sengaja ia tabung menyisihkan gajinya untuk membeli kado karena ia ingin membeli sesuatu yang cukup berharga untuk teman baiknya itu. Kini rasanya ia sia-sia menabung, uangnya tak cukup membeli barang yang diinginkan Melda. "Kamu suka jam itu?". Seseorang bertanya, suaranya dari belakang Karin, rasanya ia kenal suara itu. Karin menoleh perlahan. Matanya membulat melihat sosok yang berdiri di depannya kini. "Pak Arya". Karin membalikan badannya menatap Arya yang tersenyum menampakkan gigi-giginya yang kecil dan putih bersih. "Bapak tau saya di sini?". Tanyanya heran melihat bossnya tiba-tiba ada di depan matanya. "Kebetulan saya liat kamu dari awal masuk toko". Karin termangu. Arya menggoyangkan tangannya mendekati wajah Karin sambil sedikit membungkuk karena tinggi Karin yang 154cm itu hanya setara dadanya yang memiliki tinggi badan 178cm. "Koq bengong?! kamu suka jam itu?". Arya bertanya kembali. "Gak koq Pak, sebenernya saya lagi cari hadiah buat teman. Permisi Pak saya pulang duluan". "Tunggu!". Arya memanggil Karin yang baru berjalan dua langkah darinya. "Mbak, tolong jam itu dibungkus ya". Perintah Arya pada pelayan toko. Karin hanya berdiri terdiam, bingung harus melakukan apa di saat seperti ini. Arya selesai membayar dan memberikan jam tangan yang sudah terbungkus rapi itu kepada Karin. Karin ragu-ragu menerimanya. "Kalau begini, berarti bapak yang memberi hadiah, bukan saya". Ucap Karin dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia malu berada dekat dengan Boss nya itu. "Kenapa saya? kan nanti kamu yang kasih jam itu". Arya berkelit. "Iya tapi bukan uang saya, uang saya kan gak cukup". Karin yang polos memang selalu berkata apa adanya. "Ya sudah kalau kamu merasa keberatan, sebagai imbalan kamu bisa traktir saya makan. Kebetulan saya lapar". Arya pun keluar dari toko tak menghiraukan Karin yang masih kebingungan. Karin hanya bisa berjalan mengikuti Arya dari belakang, ia merasa aneh bossnya bersikap seperti ini padanya. Arya sibuk melihat-lihat tempat makan, akhirnya dia berdiri di depan restoran korea. Sepertinya memang itu yang sedari tadi dia cari. Arya mengajak Karin masuk. "Gak usah takut, ini halalan food koq". Melihat Karin yang kebingungan membaca menu. "Ini saja". Tunjuk Karin pada menu bergambar mie dengan saus berwarna coklat. Hanya itu yang menurutnya tidak asing. Arya menyeringai seperti tahu apa yang Karin rasakan. "Itu namanya Jajangmyeon, mie dengan pasta saus kacang kedelai, enak koq pasti kamu suka". Jelas Arya. Karin hanya manggut-manggut. Tak lama makanan datang, Arya memesan daging panggang dengan peralatan barbeque lengkap tertata di meja. "Coba dulu ini, saya ajarin cara makannya". Arya memanggang daging lalu menaruhnya di atas daun selada menggunakan sumpit, daging dibungkus lalu dicelupkan ke dalam saus, kemudian menyantapnya dengan penuh kenikmatan, seperti sudah lama ia tidak memakannya. "Begitu caranya, ayo coba". Arya menyuruh Karin. Karin mencoba mengikuti langkah-langkah yang Arya ajarkan, sedikit kesulitan apalagi ia tidak biasa memakai sumpit, beberapa kali dagingnya hampir jatuh. Arya terkekeh melihatnya. Perlahan akhirnya Karin pun bisa dan mencoba memakannya. "Gimana? enak kan?". Arya ingin tahu pendapat Karin. Karin mengangguk sambil mengunyah makanannya. "Iya enak". Jawabnya sembari menutup mulutnya yang masih penuh. Arya tersenyum senang, membuat matanya yang sipit itu semakin tak terlihat. Pramusaji datang membawakan bill setelah mereka selesai makan, totalnya 'Rp. 568,000' tertera di situ. Karin merasa lega uangnya ternyata cukup walaupun ia mengumpat dalam hati, untuk dua menu makanan dan dua minuman ia harus membayar sebanyak itu, terlalu mahal! "Biar saya saja, saya tadi cuma bercanda". Arya mengeluarkan dompetnya. Karin segera mengambil uang dari dalam dompetnya, kali ini ia yang harus bayar sesuai kesepakatan awal. "Kembaliannya ambil aza Mbak". Ia menyerahkan kembali bill beserta uang enam ratus ribu. Arya tersenyum tipis, dia mengambil sesuatu dari balik jasnya. "Ini obat kamu kan? tidak enak rasanya terus menyimpan barang yang bukan milik saya". Arya menaruh botol obat tidur milik Karin di atas meja. 'Obat tidurku'. Teriak Karin dalam hati merasa senang bisa melihat obatnya lagi, obat yang memang sangat ia butuhkan. "Maaf baru sempat kembalikan ke kamu, saya rasa sekarang waktu yang tepat". "Terima kasih Pak tapi kenapa bapak harus repot-repot mencari pemilik obat ini?". Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Karin, mungkin karena pertanyaan itu terus mengganjal di pikirannya selama ini. Arya berdehem, membenarkan letak duduknya. "Saya mau jujur sama kamu tapi kamu harus janji tidak akan bilang pada siapapun tentang ini". Mata Arya kini fokus menatap Karin. "Baik Pak". Hanya itu yang bisa Karin ucapkan, tak sanggup bertatapan dengan Boss tampannya. "Sebenarnya saya juga konsumsi obat itu, dokter yang meresepkan karena saya sering mengalami gangguan panik. Kerjaan yang banyak dan dituntut serba cepat menyelesaikan segala urusan perusahaan terkadang membuat saya stress dan perlu obat penenang". 'Ternyata seorang Pak Arya pun tidak dalam kondisi baik-baik saja, apa mungkin itu juga sebabnya dia datang ke Klinik?!'. Karin terus berbicara dalam hatinya. "Lalu kamu? kenapa kamu minum obat itu?". Alasan apa yang membuat seorang gadis muda seperti Karin perlu obat penenang, Arya sungguh ingin tahu. "Hhmm... saya insomnia Pak, saya kesulitan tidur kalau tidak minum obat ini. Saya juga sedang berobat agar tidak terus ketergantungan". Arya hanya diam seperti tak puas mendengar jawaban Karin namun dia merasa tak pantas kalau ingin tahu lebih lanjut. "Saya cuma tidak mau orang-orang tahu kondisi saya jadi saya minta bantuan kamu untuk merahasiakan hal ini". Arya merasa takut Karin akan membuka kelemahannya itu. "Bapak tenang saja, saya bukan orang yang seperti itu". Karin menepis segala ketakutan Arya. "Baguslah kalau begitu. Kita impas ya, sudah saling membantu". Senyum lebar tersungging di wajahnya. Karin mengangguk, ia pamit pulang lebih dulu. *** Hari ini ulang tahun Melda, Karin tidak bisa mengucapkannya secara langsung walaupun hari ini Melda sudah masuk kerja. Karin merasa tersiksa, ia membayangkan akan berteriak mengucapkan selamat sambil memeluk erat sahabatnya itu kemudian pergi makan bersama seperti tahun-tahun sebelumnya. ''Mungkin tahun ini tidak ada foto bersama''. Karin tertunduk menatap kotak kado yang sudah ia hias dengan rapi. Saat jam pulang Karin buru-buru keluar kantor menemui Fajar yang sebelumnya sudah janjian bertemu lewat chat. "Kak, tolong taruh ini di kamar Kak Melda ya tapi gak perlu bilang apa-apa, pokoknya jangan sampai Kak Melda tau". Pesan Karin ketika menemui Fajar yang sudah menunggu di tempat dia biasa menjemput Melda. "Kenapa gak kasih langsung? kalian ada masalah?". Tanya Fajar heran. "Gak koq Kak, cuma ada sedikit salah paham. Saya pamit ya takut Kak Melda liat". Karin pun seketika berlari takut rencananya gagal kalau sampai Melda lihat. ** Melda masuk ke kamar setelah selesai mandi, ia melihat kotak kado berwarna coklat dihias pita merah di atas mejanya. Diam-diam tadi Fajar masuk ke kamarnya ketika Melda ke kamar mandi. Dia membukanya perlahan, ada box abu-abu dengan tulisan "Alexander Christie", dia tidak lantas membukanya namun segera mengambil surat kecil yang terselip di situ. Dia sudah tahu ini pasti hadiah dari Karin, Melda tak ingin membaca suratnya. Pasti hanya berisi penjelasan membela diri, dia muak dan segera ingin menyobeknya namun handphonenya berdering, nomer baru masuk. "Halo!". Melda mengangkat telpon. "Ini Melda ya?". Suara dari balik telpon serasa pernah dia dengar. "Ini saya Riki, saya cuma mau ngucapin selamat ulang tahun. Wish you all the best ya!". Jantung Melda berdegup kencang saat ini, tak menyangka Riki yang menelponnya dan juga mengucapkan selamat ulang tahun padanya. "Halo, Halo Mel. Kamu masih di situ kan?!". "Ah-iya, makasih ya. Koq Kamu tau saya ulang tahun hari ini? tau dari mana juga nomer hape saya?". "Dari Karin, dari awal dia tanya kalo saya masih single mau dikenalin sama temannya nanti waktu makan siang bareng itu, ternyata dia ngenalin kamu". Suara tawa kecil terdengar dari ujung telpon. Melda tak bisa berkata apa-apa setelah mendengar ucapan Riki, dia meminta izin menutup telponnya dan berjanji akan menelpon balik. Seketika Melda membuka kadonya, dia melihat jam tangan yang sudah lama dia idamkan. Air matanya tumpah, dia bergetar membuka surat yang awalnya hendak dia sobek. Membaca dengan beruraian air mata, tak ada penjelasan apapun dalam surat itu, hanya permintaan maaf Karin atas sikapnya yang berlebihan yang mengundang kecurigaannya sehingga mereka menjadi salah paham. Melda mengutuk dirinya sendiri, mengapa selalu mengedepankan emosinya tanpa mau mendengarkan orang lain terlebih dahulu. Dia menangis sejadi-jadinya diiringi derasnya hujan yang tiba-tiba turun malam ini. *** Bersambung ke Bab 7
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN