"Karin, tunggu sebentar". Suara Pak Aris dari belakang memanggil Karin yang hendak mengambil pewangi di gudang.
Karin menoleh.
"Ada apa Pak?".
Pak Aris menunjuk saku baju seragam Karin.
"Itu Id card kamu ke mana? kan sudah saya bilang harus selalu dipake, dijepit di saku".
"Oh iya Pak maaf, kayaknya hilang gak tau jatuh di mana. Saya sudah cari di kost sama di loker juga gak ketemu". Karin menggaruk-garuk kepalanya.
"Kenapa gak bilang".
"Tadi mau bilang tapi lupa Pak, maaf ya Pak". Karin nyengir. Seperti itulah ia masih kekanak-kanakan.
"Ya sudah nanti lapor ya ke HRD, minta dibuatkan yang baru".
"Siap Pak".
'Jatuh di mana ya? apa di mall? waktu di toilet restoran kan tasku sempet jatuh? apa mungkin di sana ya'. Karin yang setiap jumat memang membawa pulang seragam untuk dicuci, biasanya ia tak lupa menyimpan Id card-nya terlebih dahulu di loker namun kemarin ia lupa mencopot Id card dari seragamnya sehingga terbawa ke dalam tasnya.
"Tuh muka kusut amat, baru juga gajian". Melda dengan gaya khasnya yang suka tiba-tiba muncul entah dari mana.
Karin hanya diam, ia sedang malas bercanda, sibuk memikirkan di mana kira-kira ia menjatuhkan Id card-nya.
Melda tidak tinggal diam. Dia menarik kedua pipi Karin agar mulut Karin ikut tertarik.
"Senyum nih gini senyum".
Karin tetap diam, hanya matanya yang melotot, menatap tajam Melda. Bukan marah tapi Melda tahu itu tanda bahwa ia sedang tidak ingin diganggu.
"Kali ini apalagi masalahnya tuh anak? ada aza... ". Melda geleng-geleng.
**
Daus datang menemui Karin yang sedang menyiram tanaman. Ada taman kecil di samping gedung kantor, Pak Harsya sendiri yang membangun dan mengatur semua tanaman di situ. Dia memang gemar pada tanaman dan bunga, ruang kerjanya pun dipenuhi pot-pot berbagai ukuran dengan beraneka macam tanaman dan bunga. Dayat bertugas khusus merawatnya agar tidak layu, kebetulan Dayat dulu pernah bekerja di toko tanaman.
"Rin, dipanggil Pak Aris tuh suruh ke ruangannya". Daus ngos-ngosan setelah berlari mencari-cari Karin.
"Duh, emang harus sekarang juga apa ke HRD? Kan masih banyak kerjaan". Dumel Karin.
"Hah? apaan sih Rin?". Daus yang tidak mendengar suara Karin yang berbisik-bisik.
"Gak Bang, tolong lanjutin ya". Karin menyerahkan selang air pada Daus.
"Pak kan bisa nanti siang ke HRD-nya, saya masih banyak kerjaan". Protes Karin begitu memasuki ruangan Pak Aris.
"Maksud kamu apa sih Rin? tuh ada telpon buat kamu?". Mata Pak Aris menunjuk telpon yang ada di sebelahnya.
"Telpon dari post satpam". Jelas Pak Aris yang tahu Karin pasti merasa heran karena mendapat telpon. Tidak biasanya, dan memang pertama kalinya karena orang-orang yang ia kenal pasti menghubungi lewat hapenya bukan telpon kantor.
"Hallo?". Karin mengangkat telpon itu.
"Mbak Karin ya?". Suara Pak Yanto satpam senior di kantor, Karin hafal karena hanya dia yang memanggilnya Mbak.
"Iya, ada apa ya Pak?".
"Ini ada tamu, katanya mau ketemu sama Mbak Karin. Penting katanya, orangnya nunggu di pos satpam ya". Telpon ditutup.
"Duh, siapa lagi sih?". Bertambah beban pikirannya.
Dari jauh Karin melihat laki-laki yang rasanya tidak asing, dia duduk di kursi mengetuk-ngetuk lantai dengan kakinya.
"Siapa ya? cari saya ada perlu apa?". Tanya Karin begitu dia berdiri tegak di depan laki-laki itu.
Laki-laki itu bangun dari kursinya.
Karin menatapnya, dia laki-laki yang ditaksir Melda di restoran Jepang waktu itu, ya benar ada tahi lalat di pelipisnya, Karin ingat. Laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Ini, saya mau mengantarkan Id card, punya kamu kan?".
"Ah, syukurlah ketemu. Ketemu di mana?". Karin senang mendapatkan kembali Id card-nya.
"Di toilet restoran". Katanya tersenyum manis.
Nyatanya laki-laki itu cukup tampan pantas saja Melda tertarik sejak pertama kali melihatnya.
"Kan bener, seinget saya memang di situ soalnya tas saya sempat jatuh dan gak dicek lg isinya".
"Iya, saya liat alamat kantornya yang ada di belakang Id card itu. Kebetulan gak jauh jadi lebih baik saya anterin aza".
"Makasih banyak ya, oh ya nama kamu siapa?". Karin mengulurkan tangan.
"Saya Riki". Mereka berjabat tangan.
"Saya Karin". Ucap Karin sembari menunjukkan Id card-nya.
Riki tersenyum. "Iya saya tau".
Keduanya jadi tertawa.
"Emang lagi gak sibuk? gak kerja? bisa anterin sekarang?". Karin takut ia sudah merepotkan.
"Gak, kebetulan saya freelance. Bisa diatur jam kerjanya". Nada bicara Riki mulai santai.
"Kalo gitu nanti jam makan siang bisa ke sini lagi, saya mau traktir sebagai ucapan terima kasih. Tolong jangan ditolak ya?!". Karin menyatukan kedua telapak tangannya.
"Hemm... Boleh. Kalo gitu saya save nomer hape kamu deh, biar nanti bisa saya hubungin lagi".
Karin pun menyebutkan nomer handphonenya.
Dikejauhan ada Melda yang nampak memperhatikan mereka berdua.
**
"Rin, ayo cepet udah laper nih". Melda memegangi perutnya yang sudah terasa perih minta diisi.
Karin sibuk dengan hapenya.
"Rin, ayo". Tangan Karin ditarik Melda karena ia tidak menghiraukannya.
"Sebentar Kak, aku ada janji makan bareng temen. Oh udah nih, dia udah kasih tau tempat makannya. Ayo!!!". Karin meninggalkan Melda yang berdiri terpaku.
"Loh koq malah bengong? tadi katanya udah laper". Karin berbalik melihat Melda yang malah terdiam, tidak mengikutinya.
"Janjian sama temen? siapa? Intan?". Melda merasa hari ini Karin tampak berbeda.
"Udah, ikut aza". Kini gantian tangan Melda yang ditarik Karin.
Riki melambaikan tangannya melihat Karin yang baru masuk ke rumah makan padang, tempat dia menunggu. Karin menarik tangan Melda kembali, dia hanya bisa mengikuti.
Mata Melda terbelalak melihat laki-laki yang sedang duduk tersenyum di depannya ini. 'Apa aku gak salah liat?'. Tanyanya dalam hati.
Riki pun mempersilahkan keduanya duduk. Melda masih kebingungan.
"Oh ya, ini temen aku. Kenalin". Karin memperkenalkan Melda.
Mereka bersalaman dan menyebutkan nama masing-masing.
"Bentar deh, koq kalian tiba-tiba bisa saling kenal?". Melda ingin segera tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Karin pun menjelaskan semuanya ke Melda bagaimana akhirnya dia bisa kenal dengan Riki. Melda mengerti.
Riki orang yang supel, pandai mencairkan suasana sehingga Karin tidak terlalu kaku bertemu dengan orang yang baru dikenalnya itu. Sedangkan Melda lebih banyak diam kali ini, sedikit grogi karena akhirnya dia bisa bertemu dengan laki-laki yang dia suka tanpa pernah terpikirkan sebelumnya.
"Kenapa pilih di sini Kak, kan saya bisa traktir Kakak di tempat makan favorit Kakak". Ujar Karin takut sebenarnya ini bukan makanan selera Riki, mengingat mereka bertemu di restoran yang cukup mahal waktu itu.
"Ini juga makanan favorit saya koq, saya suka banget makan tunjang plus lalapan kayak gini. Mantap!". Riki menunjuk piring makannya.
"Oh, berarti sama donk kayak Kak Melda. Dia juga seneng makanan padang. Ya kan Kak". Lirik Karin pada Melda yang sedari tadi hanya diam.
"Eh iya". Melda hanya bisa mengulum senyumnya.
Riki mengantar Karin dan Melda sampai depan kantor, Riki berniat pamit pada keduanya.
"Makasih ya Karin makan siangnya, padahal saya gak bermaksud. Kebetulan lagi di dekat sini jadi bisa anterin Id card kamu".
"Iya Kak saya paham koq. Sekedar ucapan terima kasih aza, Kak Riki udah mau repot-repot nganterin. Oh ya tadi saya sudah chat Kakak, disave ya?!".
Melda merasa sebal melihat Karin yang seperti tertarik pada Riki, tidak biasanya dia bersikap seperti itu pada orang yang baru dikenal. Melda menatap sinis keduanya yang malah asyik mengobrol seperti tidak peduli keberadaannya.
"Maaf saya masuk duluan". Ketus Melda meninggalkan mereka.
Karin dan Riki pun berpamitan.
"Kak Melda tunggu". Teriak Karin mengejar Melda.
Riki menyalakan hapenya, membuka chat dari Karin. Kontak baru terkirim.
[ Kak Melda ].
Riki menekan option 'Tambah Kontak', menaruh kembali hapenya di saku dan berlalu pergi.
**
Sejak pertemuan dengan Riki tadi entah mengapa Karin merasa Melda berbeda, seperti menghindarinya.
'Kenapa sih Kak Melda? bukannya seneng ya aku kenalin sama cowok yang dia suka?'. Karin jadi bertanya-tanya.
Sampai waktu pulang kantor tiba tidak ada satu kata pun keluar dari mulut Melda, dia membisu tidak seperti Melda yang cerewet dan suka jahil pada Karin.
"Kak, koq ninggalin aku sih? lagi buru-buru ya? mau ke mana emang?". Karin tetap bersikap seperti biasa karena ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun pada Melda.
Lagi-lagi Melda bungkam, menengok ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu tidak menghiraukan Karin yang sedari tadi mengajaknya berbicara.
"Kak, kenapa diem aza?". Karin mulai merasa ada yang salah.
Melda menjauh, melihat hapenya sebentar, kemudian menggerutu.
"Kak!". Baru saja Karin hendak mendekatinya lagi, Melda berbalik. Ada desahan nafas yg berat keluar dari hidungnya.
"Lo kalo emang suka sama Riki bilang aza Rin, gak kayak gini caranya". Tiba-tiba Melda berbicara dengan nada sedikit membentak, ada tetesan air mata yang dia tahan.
Karin kaget, tidak menyangka Melda akan berpikir seperti itu.
"Loh? koq jadi gini sih Kak? bukan gitu maksud aku... ".
Belum selesai Karin bicara terdengar suara motor, Bang Fajar datang menjemput Melda. Tanpa berkata lagi dia langsung naik dan meminta Fajar tancap gas.
Karin lemas, ternyata apa yang sudah ia lakukan membuat Melda salah paham. Padahal tadi ia sudah berusaha keras untuk memberanikan diri mengajak Riki makan siang karena tiba-tiba ia punya ide untuk mengenalkan Riki pada Melda, karena bukan tipe Karin bisa bersikap seperti itu pada orang asing. Untungnya Riki orang yang pandai berbicara, enak diajak ngobrol sehingga Karin yang biasanya merasa canggung setiap bertemu orang yang baru dia kenal jadi tidak terlalu kaku. Juga ia chat pun memberikan kontak hape Melda agar mereka berdua bisa lebih akrab, begitu maksud Karin. Tidak ada niatan lain. Karin berjalan gontai, sedih rasanya teman yang sudah ia anggap Kakak sendiri menyalah artikan apa yang ia lakukan.
**
Empat hari sudah Melda cuek terhadap Karin, tidak ada tegur sapa lagi diantara keduanya. Setiap hari bahkan setiap saat Karin ingin menjelaskan tapi Melda selalu menghindar, tidak diberi kesempatan.
Kini setiap makan siang Karin sendirian karena Melda selalu membawa bekal dari rumah. Untunglah hari ini Intan menelpon mengajak Karin makan siang di 'Warung tenda Ibu Sri' yang terletak tidak jauh dari Apotek. Ada pecel ayam yang jadi makanan favorit di sana, sambalnya pedas pool mampu membuat mata Karin dan Intan berkaca-kaca ketika menyantapnya.
"Gimana soal pengawas baru itu Kak?". Tanya Karin sambil mengusap keringatnya yang menetes karena kepedesan.
Intan menyeruput es teh manisnya dengan sedotan, segar rasanya.
"Orangnya gak segalak yang aku pikir cuma ya aku lagi repot aza nyusun semua dokumen yang dia minta".
"Tapi Kakak gak kena masalah kan?". Karin mengecilkan suaranya takut ada yang mendengar.
"Oh gak ada masalah, udah aku atur. Kamu gak perlu khawatir. Cuma untuk sekarang dan kedepannya yang aku gak bisa, karena semua obat yang keluar sekarang dibawah pengawasan dia. Sebenernya kalo kamu masih mau bisa aza sih asal....". Intan memanjangkan kalimat terakhirnya.
Karin mendekatkan wajahnya ke Intan yang duduk berhadapan dengannya,menunggu kelanjutan perkataan temannya itu.
"Asal ada surat dokter, sesimple itu koq Rin. Jadi intinya kamu harus berobat dulu". Intan mengusap mulutnya dengan tissu, dia sudah selesai makan.
Karin kembali sibuk menggigit daging ayamnya tak memberikan jawaban.
"Oh ya soal dokter, aku udah telpon temenku yang psikiater itu, udah aku ceritain kondisi kamu dan dia saranin kamu di hipnoterapi".
"Hip... no.. apa Kak?". Seketika Karin membuang tulang ayam yang sedang ia gigit, namanya aneh, ia baru dengar.
"Hip-no-te-ra-pi Rin". Intan mengeja.
"Nanti aku jelasin lagi, pokoknya kamu harus mau ya? kebetulan di klinik temenku itu juga ada praktek Hipnoterapinya, aku udah bikin janji temu sama terapisnya minggu ini. Nanti aku jemput ya!".
Karin tidak menyangka Intan sudah menyusun semuanya tanpa meminta persetujuan dulu darinya. Rasanya ingin ia tolak tapi ia takut temannya itu kecewa, Intan pasti tahu apa yang terbaik untuknya. Karin hanya bisa pasrah mengikuti rencana Intan.
***
Hari minggu Intan datang membawa sepeda motornya, menjemput Karin di kostnya. Walaupun sudah berpakaian Rapi tapi sepertinya ia enggan pergi.
"Kenapa sih? badmood begitu? gak mau ya ketemu dokter?". Terlihat jelas oleh Intan muka Karin yang murung.
"Bukan gitu Kak, aku lagi bingung sama Kak Melda. Apa aku salah ya? di kantor gak mau ngomong, ditelpon gak diangkat, jangankan dibales itu chat, dibaca juga gak. Kan aku kepikiran".
Intan menatap arlojinya, masih banyak waktu. Dia memang sengaja jemput lebih cepat, Intan merasa mungkin akan banyak yang harus mereka bicarakan karena sudah lama juga mereka tidak bertemu. Dan ternyata dugaan Intan benar, nampaknya Karin sedang butuh teman curhat.
"Ya udah kamu cerita aza, masih lama ini koq ketemu dokternya". Suara Intan lembut.
Memang hanya kepada Intan, Karin bisa menceritakan semuanya, dia pendengar dan pemberi solusi yang baik walaupun usianya seumur dengan Melda tapi Intan jauh lebih dewasa. Karin lebih senang meminta pendapatnya ketika ia sedang ada masalah. Apalagi ini masalah dengan Melda, kemana lagi Karin bisa cerita selain kepada Intan.
Intan manggut-manggut, dia sudah paham semua yang diceritakan Karin.
"Kalo menurut aku sih, kamu kasih waktu dulu sama Melda. Biar dia bener-bener tenang dulu karena percuma kamu jelasin seperti apapun gak bakal masuk ke dia karena dia lagi merasa kecewa banget sama kamu. Kalo kamu liat reaksinya udah lebih rileks bisa mulai kamu jelasin, gak perlu kamu ngomong langsung. Bisa kamu diem-diem tulis surat taro di loker atau tasnya gitu. Atau bisa juga kirim voice note biasanya orang lebih penasaran kalo ada pesan suara yang masuk dibanding sama pesan teks". Begitu saran Intan.
"Jadi gak usah bingung, pusing mikirin Melda terus. Sekarang waktunya kamu yang mikirin diri kamu sendiri. Udah beres semua kan? aku tunggu di depan ya?!". Intan pun keluar dari kamar Karin.
**
Intan dan Karin disambut resepsionis ketika sampai di klinik. Intan menjelaskan kalau dia sudah ada janji temu dengan dr. Maher. Ya, teman Intan yang seorang psikiater itu bernama Maher Abdullah Rasyid, pria asli Arab dengan postur tubuh tinggi, jambang tipis dan mata biru khas orang timur tengah. Tampan dan berkharisma.
Resepsionis mengantarkan mereka berdua ke ruangan dr. Maher. Maher menyambut senang kedatangan mereka, khususnya Intan, dia senang sekali bisa bertemu kembali teman SMAnya dulu. Setelah berbasa-basi sebentar dr. Maher mengantarkan Karin ke ruangan Hipnoterapi sementara Intan menunggu di ruangan Maher.
Karin berdiri di depan pintu dengan tulisan "Mahardika Afandi - Terapis". Setelah mengetuk pintu, keduanya masuk. Terapis yang biasa dipanggil Dika itu sudah tahu kedatangan Karin, Maher sudah lebih dulu menjelaskan. Maher pun meninggalkan mereka berdua.
"Senang bertemu sama kamu Karin, jangan tegang ya?! santai aza, kamu ke sini memang untuk relaksasi". Ujar laki-laki hitam manis, berperawakan sedang itu menyambut dengan suara lembutnya.
Wangi aroma terapi tercium di seluruh ruangan ini, memang benar membuat Karin lebih santai, lebih tenang dan nyaman.
Dika membaca file dari komputernya, tangannya asyik menjalankan mouse.
"Di sini tertulis kamu mengalami gangguan tidur ya? sudah ketergantungan obat tidur selama...?". Dika menggantung ucapannya, mengajukan pertanyaan pada Karin.
"Kurang lebih dua tahun Pak". Karin menjawab terbata, rasa canggungnya datang lagi ketika harus bertemu dengan orang asing dan hanya berduaan saja. Karin tidak terbiasa dengan kondisi seperti ini.
Dika tersenyum tipis.
"Sepertinya saya tua sekali ya dipanggil bapak, tapi its oke demi profesionalitas". Kembali Dika tersenyum.
"Boleh ikut saya ke kursi sebelah sana". Dika menunjuk sebuah sofa panjang berwarna coklat.
Karin duduk di sofa itu, masih bingung apa yang harus ia lakukan.
"Sekarang coba kamu berbaring". Perintah Dika kemudian.
"Tiduran di sini Pak?".
"Iya tiduran, santai aza. Ini bentuk terapinya, kamu ikutin instruksi saya saja ya".
Karin menurut, ia mencoba membaringkan tubuhnya di sofa itu. Sedikit kurang nyaman rasanya. Namun ia memastikan pada dirinya sendiri, 'Tenang Karin, ikuti saja. Ini demi kesembuhan kamu'.
Setelah Karin berbaring, Dika menyuruh Karin menungkup kedua tangannya di atas perutnya. Perlahan-lahan Dika menyuruh Karin menarik napas lalu menghembuskannya, kemudian memintanya sedikit demi sedikit menutup matanya. Karin mendengar sayup-sayup suara musik yang menenangkan.
Karin melihat dirinya berjalan sendiri, tidak ada apapun di sekitarnya, ia merasa sedang berada di ruangan yang gelap, sangat gelap. Ia ingin berteriak tapi rasanya tidak bisa, ia merasa tiba-tiba suaranya hilang dan hanya bisa melangkahkan kakinya yang entah akan ke mana. Perlahan samar-samar ia melihat sedikit cahaya semakin lama semakin jelas, mampu membuat matanya silau. Ia melihat sebuah pintu namun ketika ia membukanya hendak masuk, kembali hanya ada ruangan gelap dan seketika pintu itu hilang. Ia terjebak lagi dalam kegelapan.
Karin membuka matanya, napasnya terengah, sesak rasanya, keringatnya mengucur deras walau di ruang ber-AC. Ia melirik di sampingnya masih ada Dika sibuk menulis di kertas yang terjepit di papan sembari sesekali membetulkan letak kacamatanya.
"Masih berat ya?". Tanya Dika tiba-tiba.
"Gimana sekarang perasaan kamu?". Dika masih terus bertanya.
"Makin bingung Pak, saya jadi tambah pusing". Terang Karin yang justru malah semakin linglung.
"Gak papa, wajar koq. Baru proses awal". Dika membantu Karin bangun dan membantunya pindah duduk di kursi tamu.
"Oh ya kamu ke sini sama keluarga atau... ".
"Diantar teman saya Pak". Karin langsung memotong.
"Oke. Kalo gitu saya perlu bicara sama temen kamu dulu. Untuk sementara kamu bisa istirahat di depan ya, ini juga silahkan dibawa". Dika memberikan botol air mineral. Karin pun keluar.
Dika menelpon ruangan Maher, tak lama Intan pun masuk ke ruangan Dika.
"Jadi bagaimana kondisi teman saya... eemm". Intan bingung harus memanggil Dika dengan sebutan apa.
"Dika, panggil saja Dika. Kita sebaya karena Maher sama kamu juga seangkatan kan?!".
"Ah... iya". Intan mengangguk.
"Maaf sebelumnya saya mau tanya soal keluarga pasien. Di dokumen tidak ada keterangan keluarga, apa Karin ini tinggal sendiri?".
"Setau saya begitu tapi dia memang tidak pernah cerita tentang keluarganya sama sekali. Sebagai teman saya tidak pernah memaksa, kalo dia mau cerita pasti dia akan cerita tanpa saya tanya tapi selama tiga tahun kenal, dia tidak pernah membahas apapun mengenai keluarganya sendiri".
"Sepertinya saya mulai paham kalo begitu". Dika meletakkan kacamatanya di meja.
"Paham gimana ya maksudnya?". Ada raut penasaran muncul di wajah Intan.
"Sepertinya pasien ini bukan tidak mau membahas tentang keluarganya tapi dia tidak ingat". Penjelasan Dika membuat Intan bingung.
"Bisa dijelaskan lagi maksudnya apa?".
"Dari hasil terapi awal tadi saya prediksi kalo pasien ini mengalami amnesia. Sebab di alam bawah sadar tadi dia tidak bisa menjelaskan apapun karena memang pikirannya kosong, ingatannya hilang".
"Jadi maksudnya Karin ini insomnia juga amnesia, begitu?".
"Bisa dikatakan begitu. Kemungkinan amnesianya ini disebabkan karena kejadian atau peristiwa yang benar-benar membuat dia syok atau trauma berat dan dia merasa tersiksa dengan amnesianya yang kemudian membuat dia mengalami gangguan tidur". Begitu Dika memprediksi.
"Maaf untuk sementara saya mendiskusikan keadaan pasien dengan anda dulu karena kondisi pasien yang tidak memungkinkan dan juga tidak ada keluarga yang bisa saya ajak komunikasi".
"Ah ya tidak apa-apa, memang sebaiknya dengan saya saja. Saya yang bertanggung jawab mengenai pengobatan ini". Ujar Intan mantap.
"Dan untuk saat ini saya baru bisa memberikan informasi itu saja, saya menyarankan agar pasien rutin terapi seminggu sekali. Sebaiknya sebelum terapi minggu depan dilakukan medical check up terlebih dahulu, saya ingin mengetahui kondisi medis pasien sehingga saya bisa kategorikan gangguan tidurnya ini sudah termasuk berat atau masih ringan. Kalo sudah kategori berat, saya perlu membuka ingatannya agar ia sembuh".
Keinginan terbesar Intan memang ingin melihat Karin sehat, tidak sering mengeluhkan kondisi tubuhnya yang semakin hari ia rasa semakin lemah.
"Baiklah kalo begitu". Intan pamit meninggalkan ruangan Dika.
Intan tak lekas menemui Karin, dia kembali masuk ke ruangan Maher meminta pendapatnya setelah dia ceritakan semua yang dijelaskan Dika tadi.
"Ya ikutin aza apa yang dikatakan terapisnya, kalo soal biaya kamu gak usah khawatir. Kamu itu udah aku anggap keluarga, teman kamu jadi keluarga aku juga. Sudah, yang penting dia sembuh ya!". Maher seperti tahu apa yang dirisaukan Intan.
"Makasih ya Her, dari dulu kamu memang selalu bantu aku. Aku ngerepotin kamu terus ya?!". Ada bening yang mengambang di kedua mata Intan.
"Eh, gak usahlah ngomong kayak gitu. Oh ya gimana kabar kakek sama nenek? nanti kalo ada waktu aku mampir ya!".
Perbincangan mereka pun berlanjut.
**
Sementara itu Karin duduk sendiri di ruang tunggu, ia hanya melihat-lihat sekeliling. Saat itu matanya tak sengaja menangkap sosok yang ia kenal.
'Loh, itu kayak Pak Arya? kenapa dia ada di sini?'. Karin berjalan mendekat. Ternyata benar walaupun mengenakan pakaian yang sama sekali berbeda dengan kesehariannya di kantor, ia tidak salah lihat.
Arya nyaris berbeda dengan kaus hitam simple lengan pendek dan celana warna putih, membuat Karin tak dapat mengalihkan pandangannya.
Saat itu Arya baru saja keluar dari salah satu ruangan dokter, berjabat tangan dengan dokter tersebut lalu pergi. Karin mengikuti dari belakang, Arya keluar dari klinik menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan dan dibukakan pintu mobilnya oleh Pak Akbar, kemudian segera melaju.
"Karin, kamu di sini. Aku cari dari tadi". Intan mengikuti arah mata Karin, ia terus menatap jalan di luar.
"Kamu lihat apa sih?".
"Eng-enggak koq Kak". Karin cengengesan.
"Ya udah, kita pulang sekarang". Ajak Intan.
***