Bab 4 : Amarah yang membuncah

2414 Kata
"Duhh... yang bentar lagi gajian. Masih pagi aza udah senyum senyum mulu". Irma muncul dari balik pintu kamarnya melihat Karin yang sedang memakai sepatu dan senyumnya tak lepas dari bibirnya. "Hehehe... bisa aza kamu". Karin melirik jam tangannya, masih jam enam masih banyak waktu. "Ma, soal tawaran kamu buat belajar bareng itu masih berlaku gak?". Karin tidak beranjak dari duduknya, malah mengajak Irma mengobrol. Irma pun mengikuti duduk di samping Karin. "Beneran? ya ayuk kan dari dulu juga aku ajakin kamu tapi kamu bilang belum ada waktu terus". "Iya kayaknya aku perlu banyak belajar, zaman sekarang gak bisa kalo harus ngandelin ijazah SMP terus". Karin berkata tanpa melihat Irma lawan bicaranya, kedua tangannya menungkup kakinya yang dilipat ke depan dadanya, matanya lurus menatap ke depan seakan ia sedang menatap masa depannya. 'Masa depan seperti apa yang akan aku jalani? akankah ada masa depan yang cerah untukku?' "Yeh, diajak ngomong malah ngelamun. udah sana jalan nanti telat kerjanya". Irma berdiri. Karin mengikuti. Siku Irma menyenggol tangan Karin ketika mereka melihat Sari masuk. Dia menggunakan jaket kulit coklat dan sepatu boot hitam. Mukanya kusut dan rambutnya sedikit acak-acakan. "Eh Mba Sari, ke mana aza baru keliatan?". Irma berinisiatif menegur Sari terlebih dahulu. "Biasa sibuk". Jawab Sari cuek sembari membuka pintu kamarnya yang terkunci. "Masuk dulu ya, mau istirahat". Lanjutnya sambil menguap tanpa menutup mulutnya dan lekas menutup pintu kamar. Irma menaikan bibirnya. 'Gitu banget jadi cewek kayak preman'. Gumamnya dalam hati. "Tuh aneh kan dia, Berhari-hari gak pulang, ehh muncul berantakan gitu". Mata Irma mendelik mengarah ke kamar Sari. "Suuttt". Bibir Karin sedikit monyong. "Pelan-pelan nanti kedengeran orangnya. Eh udah siang nih, aku jalan ya". Karin menaikan tas ke pundaknya yang tadi sempat turun. ** Karin menyusuri lorong menuju ruang loker, bersiap mengganti bajunya dengan seragam kerjanya. Dari jauh ia melihat Melda berlari dengan tangan terbuka ke atas. Bugh. Tubuh Melda menabrak badan Karin, Melda memeluknya erat. Tubuh Melda yang jauh lebih besar mampu membuat badan Karin terangkat ketika dipeluk, pelukannya semakin erat membuat Karin sedikit sesak. "Lepasin Kak, engap tau. Gak bisa napas nih". Suara Karin tercekat, ia mencoba berontak dan lepas dari pelukan Melda. "Ya ampun sorry-sorry gak sengaja soalnya gue seneng banget liat lo udah sehat gini". Melda loncat kegirangan. Perbedaan usia 8 tahun di antara mereka membuat Melda menganggap Karin adik kecilnya yang lucu, kebetulan dia anak bungsu, hanya punya seorang Kakak laki-laki yang umurnya lebih tua dua tahun darinya. Bang Fajar namanya, Karin pun mengenalnya karena sering bertemu ketika mengantar atau menjemput Melda dengan sepeda motornya. Hari ini Karin merasa sangat bersemangat, ia merasakan tubuhnya jauh lebih sehat karena ia bisa tidur. Obat tidur yang diresepkan dokter Hendy kemarin mampu membuatnya beristirahat walau efek kerjanya tidak secepat obat tidur yang biasa ia minum tapi setidaknya dapat membuat Karin memejamkan matanya, tertidur pulas. Semua orang yang bertemu dengan Karin selalu bertanya keadaannya karena kejadian ia dibawa ambulance membuat geger seisi kantor. "Saya gak papa cuma kecapean aza, sekarang udah sehat koq". Entah sudah berapa kali ia menjawab seperti itu. Capek rasanya namun ia senang ternyata banyak orang peduli padanya. ** "Nih buat kamu Rin". Dua batang coklat dengan merk mahal ditaruh di tangan Karin oleh Melda. "Apa ini Kak?". "Ya coklat lah, emang apaan?". "Bukan, maksudnya buat apa?". "Udah makan aza, itu dari si Arief tadi, males banget gue. Lama-lama makin ngeselin dia". Melda melipat kedua tangannya, bahunya terangkat. "Orang ngasih makanan koq ngeselin sih Kak?". Karin kembali sibuk mengepel. "Gimana sih caranya biar dia gak salah paham? jangan sampe dia naksir gue". "Bersyukur Kak ada yang suka". "Bukan gitu, tapi kan dia bukan tipe gue. Gak mau, gak mau, gak suka". Melda mengibas-ngibas tangannya sembari menutup mata. "Ye, malah asyik ngobrol di sini. Katauan Mpok Wati diomelin loh". Bang Dayat muncul turun dari tangga sambil membawa ember dan pelnya. "Eh iya yak, nanti ada nenek lampir berabe". Melda ngibrit. "Rin, tadi kata Mbak Lala tolong buatin minuman yang biasa buat dia ya anter ke ruangannya". Dayat menyampaikan pesan Lala. "Iya siap Bang". Karin menuju Pantry. Karin membuka lemari yang terletak di atas, mengambil toples berisi teh dengan label bertuliskan 'Punya Lala' lalu menyeduhnya. Kata Lala itu teh diet. Terkadang Karin suka aneh dengan cewek-cewek di kantor ini, badan sudah langsing masih saja bersusah payah diet, wajah sudah putih mulus masih sibuk perawatan, ramai membicarakan produk atau klinik baru yang recommended. Sedangkan dirinya hanya punya pelembab, bedak padat dan lipgloss, lipstik juga tinggal sedikit karena sudah dari satu tahun yang lalu itu pun hadiah dari Intan karena ia memang tidak pernah membelinya. Pakai lipgloss sudah cukup bagi Karin agar bibirnya tidak terlihat kering saja, ia tidak terlalu suka pakai lipstik terlihat menor menurutnya. "Kan mempertahankan itu lebih sulit Rin daripada mendapatkan. Mereka bersusah payah menjaganya biar tetap tampil cantik dan mempesona". Begitu kata Melda ketika Karin mengungkapkan keanehan yang ia rasa. ** Karin baru saja keluar dari ruangan Lala ketika bertemu dengan Arya yang ruangannya memang bersebelahan dengan ruangan Lala. Seketika ia menundukkan kepalanya melihat direkturnya itu. "Gimana keadaan kamu?". Karin tak menyangka akan mendapat pertanyaan yang sama dari direkturnya ini, ia pikir Arya akan cuek saja dan sejujurnya ia merasa malu pingsan di ruangan direkturnya. "Alhamdulillah saya baik-baik saja Pak, saya minta maaf sudah merepotkan Bapak kemarin". Pipi Karin memerah menahan malu, nampan yang ia bawa pun dipeluk erat di depan dadanya. "Kenapa harus minta maaf? bukan keinginan kamu kan pingsan di ruangan saya?". Arya tersenyum miring. Dia merasa lucu dengan permintaan maaf Karin. Karin tidak bisa menjawab, ia kikuk. Hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Oh ya soal kemarin...". Arya belum sempat melanjutkan ucapannya, Pak Akbar mendekatinya sembari berbisik di telinga Arya. "Maaf Mas, sebaiknya jangan sekarang. Waktunya tidak tepat". Pak Akbar memang sengaja memotong ucapan Arya karena dia takut akan terjadi hal-hal buruk seperti kemarin, dia juga berpikir mereka berdua pasti masih dalam keadaan syok. "Iya kenapa Pak?". Karin mengangkat wajahnya karena dia takut dikira tidak sopan kalau sedari tadi menunduk dan tidak menatap lawan bicaranya. Karin melihat jelas lingkaran hitam di bawah kedua mata Arya, karena sebenarnya Arya memang kurang istirahat sehabis menjamu kliennya dari luar negri semalaman tadi. "Tidak. Saya hanya minta tolong dibuatkan teh seperti biasa. Panas, jangan hangat". "Baik Pak". Arya masuk terlebih dahulu, Karin menatap punggung Arya yang tegak. Walaupun dia terlihat lelah hari ini tapi tidak memudarkan pesonanya, tampilannya tetap sempurna seperti pertama kali mereka bertemu. 'Kenapa aku jadi memikirkannya'. Karin mengedikkan kedua bahunya. Baru saja Karin membalikkan badannya namun ia kembali menoleh ke ruangan Arya. 'Oh iya, sebenarnya kemarin aku dipanggil ada perlu apa ya?'. Karin baru teringat. 'Apa nanti sekalian anter minuman aku tanya aza ya? iya, tanya saja Karin!. Begitu pikirnya. Lima menit kemudian minuman Arya sudah siap diantarkan, tapi baru saja Karin akan mengetuk pintunya, Pak Akbar muncul. "Biar saya saja yang bawa masuk, kamu bisa lanjutkan pekerjaan yang lain". Pak Akbar mengambil nampan dari tangan Karin. 'Yah, padahal kan aku mau sekalian tanya'. Sebenarnya Karin memang penasaran namun akhirnya ia hanya bisa mengiyakan saran Pak Akbar. *** Melda berjalan sambil cemberut, di belakangnya Karin sedang memegangi perutnya, ia tertawa terpingkal-pingkal melihat adegan yang baru saja terjadi. Adegan ketika ia dan Melda hendak keluar melalui pintu belakang kemudian bertemu Arief yang akan masuk. Melda dan Arief berpapasan di depan pintu, akhirnya Melda bergeser ke kanan dan ternyata Arief pun bergerak ke kanan, ketika Melda pindah ke kiri, Arief pun melakukan hal yang sama hingga dua kali berturut-turut. Pada akhirnya emosi Melda meledak. "Ngeselin banget sih, udah tau mau lewat malah dialangin terus dari tadi". Bentak Melda. "Bukan ngalangin tapi saya juga gak tau kalo kamu ikutin arah saya". Arief membela diri. "Enak aza gue ngikutin, lo tuh yang ngikutin gue". Melda semakin sewot. Arief tidak bisa berkata-kata lagi dan pada akhirnya dia keluar memberi jalan terlebih dahulu, Karin yang sedari tadi di belakang Melda cekikikan sampai perutnya sakit. "Kak Melda tunggu, jangan cepet-cepet jalannya". Karin menarik tangan Melda agar mereka jalan sejajar. "Udah diem jangan ketawa mulu, puas ya ngeledek gue". Ketus Melda "Gak koq, aku gak ngeledek". Karin berusaha menahan tawanya. Melda mencubit tangan Karin. "Ampun... ". Teriak Karin meninggalkan Melda. Di ruang istirahat bagian belakang terlihat Mpok Wati yang sedang khusyuk bercerita di depan petugas cleaning service lainnya, Dayat dan Daus. Petugas cleaning service di kantor ini totalnya ada enam orang. Karin, Melda, Wati, Dayat, Daus dan Nur yang sedang cuti hamil. "Gue sih yakin ya, obat yang diliatin Pak Arya itu obat si Karin dan kayaknya tuh obat bahaya. Liat dah kelakuan si Karin kan begitu, gak bener kerjanya apa-apa gak beres. Pasti gegara dia suka minum obat itu, jangan-jangan tuh obat narkoba lagi". Mpok Wati bergidik seakan ketakutan. "Ish apaan sih Mpok, jangan ngaco deh". Daus sebal mendengar ocehan Mpok Wati. "Tau nih Mpok, jatohnya dosa loh. Nuduh yang gak bener. Lagi menurut saya Karin bagus kerjanya, gak ada masalah. Buktinya dia yang diandelin orang-orang kantor bikin minuman. Rata-rata maunya dibikinin Karin sampe Boss juga gitu katanya kalo Karin yang buat takarannya pas". Bang Dayat membela Karin. "Alah lo semua sama, ketipu muka polosnya. Kalo obat itu gak bahaya ngapain juga Pak Arya repot-repot nyari pemilik obat itu". Mpok Wati tetap memprovokasi keduanya. Ternyata Karin dan Melda sejak tadi berdiri di balik tembok, mendengarkan percakapan mereka. Muka Melda merah padam menahan amarah, memukul-mukul tangan kirinya dengan tangan kanannya yang terkepal. Sedangkan Karin hanya termenung. 'Jadi obat tidur aku ditemuin sama Pak Arya? jadi itu maksud dia manggil aku? lalu apa pentingnya sampai harus dicari pemiliknya seperti yang Mpok Wati bilang?'. Terjawab sudah semua rasa penasaran Karin namun tetap meninggalkan pertanyaan lainnya. "Kalo bahaya pasti Karin udah dikeluarin lah, ini malah ditolongin tuh kemarin pas dia pingsan". Daus ikut membela. "Justru dia pingsan karena tau mau dikeluarin kali. Hayoh pasti bener kan?!". Mpok Wati menjadi-jadi. Melda sudah tidak tahan mendengar fitnah Mpok Wati. Brakk!!! Melda menggebrak meja sekencangnya, semua orang terkaget. "Eh nenek lampir, gak ada puasnya ya lo fitnah orang. Si Karin punya salah apa sih sama lo? sampe lo segitu dengkinya sama dia". Tangan Melda menunjuk-nunjuk Mpok Wati, hilang sudah rasa hormatnya kepada orang yang lebih tua di depannya ini. Daus dan Dayat menenangkan Melda, begitupun dengan Karin, ia tak menyangka Melda akan semarah itu. Amarah Melda membuncah, rasanya dadanya benar-benar terbakar saat ini. Dia muak dengan segala omong kosong Mpok Wati selama ini. Melda menarik kerah baju Mpok Wati, sangat mudah baginya mengangkat tubuh Mpok Wati yang kerempeng, tangan kanannya bersiap mendarat di pipi Mpok Wati namun Karin dengan sigap memeluk Melda dari belakang dan menariknya ke belakang, walaupun kesulitan karena tubuh Melda yang jauh lebih besar namun ia berhasil membuat Melda mundur. Daus dan Dayat menghampiri Mpok Wati yang sudah bergetar ketakutan. Berusaha melindungi dari amukan Melda. "Lepasin gue Rin, orang kayak dia emang harus dikasih pelajaran". Melda meronta. Saat itu Arief masuk, dia kemudian ikut menenangkan Melda namun tetap emosi Melda tak tertahan. Melda lepas dari pelukan Karin, bersiap menghajar Mpok Wati. "Melda stop!!!". Teriak Arief kencang dan tegas. Semua menatapnya, termasuk Melda yang menjadi diam. "Please Mel, kita omongin dulu baik-baik ya. Kamu pasti kena masalah kalo bersikap seperti ini, ya?!". Suara Arief kembali lembut, perlahan mendekati Melda, merangkulnya duduk. Melda sudah lebih tenang. Dayat dan Daus segera mengajak Mpok Wati keluar. Karin memberikan air minum dan memeluk Melda sambil menangis, mereka pun berpelukan. *** Kejadian itu sampai di telinga Pak Akbar, dia melaporkannya pada Arya. Arya yang sebelumnya sudah sedikit lebih tau tentang Mpok Wati dari Lala akhirnya memberi keputusan. "Saya memang kurang respect sama Ibu Wati dari semenjak ketemu di ruangan ini. Apalagi setelah saya tanya sama Lala, banyak karyawan yang tidak suka sama sikapnya yang memang kurang baik, kurang sopan dan senang bergunjing". Papar Arya. "Jadi apa keputusan Mas mengenai masalah ini?". "Kasih skors saja keduanya biar adil. Tapi kasih Ibu Wati skors lebih lama juga kasih peringatan. Bila tidak bisa menjaga sikapnya, pastikan dia akan dikeluarkan". Pak Akbar menyampaikan semua pesan Arya kepada Pak Aris. Pak Aris mengumpulkan semua orang yang ada di tempat kejadian tadi. "Saya akan memberi penjelasan terlebih dahulu berdasarkan apa yang disampaikan atasan kita. Bahwa apa yang dikatakan Mpok Wati tidak benar, tidak ada yang salah pada Karin". Mata Melda melotot pada Mpok Wati ketika Pak Aris memberikan penjelasan itu. "Dan berdasarkan perintah atasan juga, saya memberi Mpok Wati skors selama seminggu dan untuk Melda tiga hari". Keduanya mengiyakan tanpa ada yang protes. Pak Aris pun melanjutkan. "Untuk Mpok Wati diberikan peringatan juga agar lebih menjaga sikap. Jangan merasa paling senior dan berhenti menyampaikan hal-hal tidak benar pada orang-orang kantor maupun sesama rekan kerja. Fokus saja bekerja, bila terus seperti itu, saya tidak segan-segan untuk memecat". Pesan Pak Aris tegas. "Iya Pak". Jawab Mpok Wati pelan. *** "Enak nih yang lagi libur". Karin masuk ke kamar Melda setelah sebelumnya meminta izin pada ibunya. "Ya ampun Karin, kirain siapa. Sini duduk". Melda melepas headset dari kupingnya. "Enak ya libur lama minggu ini". "Yeehh... enak donk!!!". Keduanya pun cekikikan. Hari ini hari terakhir Melda diskors. Senin dia sudah bisa masuk kembali. Kantor sepi rasanya tanpa Melda, akhirnya Karin memutuskan menemui Melda ke rumahnya sepulang kerja. Ia merasa kangen tiga hari tidak bertemu. "Eh ke mall yukk sekarang". Ajak Melda tiba-tiba. "Sekarang? ngapain?". Melda berpikir sejenak. "Kita nonton yuk, kan udah lama gak nonton, ayo Rin". Rengek Melda. "Kan besok libur ini, ayolah". Pinta Melda lagi. "Gas lah". Mereka bersiap. ** "Bagus kan film yang gue pilih". Kata Melda bangga ketika mereka makan setelah nonton film. "Iya seru, endingnya gak ketebak". Komentar Karin. Mereka sedang makan di restoran Jepang kesukaan Melda, sehabis nonton tadi perut Karin keroncongan, bunyinya terdengar oleh Melda dan membuatnya tertawa lebar. "Aku kan makan siang dikit tadi, gak ada Kak Melda sepi, makan siang sendirian. Jadi gak selera". Begitu alasan Karin tadi. "Eh Rin, tengok deh sebelah lo tapi pelan-pelan ya". Perintah Melda. "Emang ada apaan sih? pasti ada cowok cakep ya?". Karin sudah hafal kebiasaan temannya yang satu ini. "Ih, koq lo tau sih. Iya ganteng tau, putih kecil. Style nya juga keren". Ucap Melda menambahkan. Karin melirik meja di sebelah, ada tiga orang laki-laki duduk dan laki-laki yang dimaksud Melda itu persis di sampingnya. Laki-laki itu memakai topi abu-abu dengan kaus putih dirangkap kemeja cream oversize dengan celana jins dan juga sneaker warna abu-abu. Memang sangat kekinian. "Tuh kayak gitu tipe cowok yang gue suka bukan modelan si Arief". "Koq malah jadi ngomongin Mas Arief? kangen ya?". "Karin nih, mulai deh rese". Keduanya tertawa riang tanpa mereka sadari laki-laki yang mereka maksud tengah memperhatikan mereka berdua. *** Bersambung ke Bab 5
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN