Bab 3 : Bertemu

1781 Kata
"Udara mana kini yang kau hirup...". Karin mendendangkan sebait lagu favoritnya sambil berjalan santai menuju halte bus, mengayunkan tas yang ia bawa ke depan dan ke belakang. Sesekali ia berhenti untuk menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Udara pagi ini memang terasa sejuk, tetesan air hujan sisa semalam menetes dari daun-daun di pepohonan di sekitar jalan. Karin berusaha membangun mood-nya agar ia tidak mengalami kejadian-kejadian seperti kemarin walaupun di hatinya tetap ada rasa takut karena tadi malam pun ia tidak bisa tidur, terjaga sepanjang malam menyaksikan rintik-rintik hujan yang turun dari balik jendela kamarnya. "Kamu harus kuat Rin, kamu sehat, semangat!!!". Karin menyemangati dirinya sendiri. "Aduh, maaf ya Kak, gak sengaja". Seorang perempuan menabrak Karin di dalam bus. Karin mengusap lengan kanannya yang sedikit ngilu. Ia menoleh, seorang perempuan mengenakan gamis merah muda dan kerudung warna senada menunduk meminta maaf. Pakaiannya sangat syar'i dilengkapi kaus tangan dan kaus kaki, dia membawa ransel cukup besar di punggungnya. "Sekali lagi maaf ya, saya baru pertama kali naik bus jadi belum bisa seimbangin badan jadi goyang-goyang gini". Ucapnya menahan malu. "Gak papa, sini di sebelah saya ada gantungan tangan, kamu bisa pegangan". Karin bergeser sedikit memberi ruang. Perempuan itu hanya menunduk lalu berdiri di sebelah Karin. Karin melihatnya sekilas sepertinya perempuan itu sebaya dengannya atau paling tidak lebih tua sedikit darinya, tinggi badan mereka pun sama. Karin sibuk melihat pemandangan jalan dari jendela di depannya, ia tidak sadar perempuan di sebelahnya kini sedang memperhatikannya. "Maaf saya kayak kenal". Perempuan itu mengajak Karin bicara, ada logat Sunda setiap kali dia berbicara. "Saya?". Karin menunjuk dirinya sendiri. "Iya. Kamu Karin kan?". Seketika Karin kaget, baru kali ini ada orang yang mengenalinya tapi dia tidak kenal sama sekali. "Iya betul saya Karin. Kamu kenal saya?". Karin bertanya heran. "Ya kenal atuh, saya Annisa temen ngaji kamu dulu di kampung. Masa kamu lupa". Raut wajah perempuan yang bernama Annisa itu terlihat sangat senang. Ngaji? di kampung? apa perempuan ini gak salah orang ya?. Dalam hatinya diliputi banyak pertanyaan. Annisa heran melihat Karin yang hanya diam termangu seperti sedang memikirkan sesuatu. "Saya gak salah orang koq, muka kamu tuh gak berubah. Berapa lama ya kita gak ketemu? kayaknya udah empat tahun semenjak kamu pergi dari kampung sama keluarga kamu". Kata Annisa sambil mengingat terakhir kali mereka bertemu. Semua perkataan Annisa membuat Karin bingung. Keluargaku empat tahun yang lalu? Tuhan, apa ini? aku sama sekali tidak mengingat apapun. Karin kembali limbung, kepalanya berputar, tubuhnya oleng. "Eh kamu kenapa?". Annisa menahan tubuh Karin, sepertinya ia hendak terjatuh. Karin mencoba menarik napas, menghembuskannya perlahan-lahan. "Harus kuat Karin". Ia menguatkan diri. "Mungkin kamu salah orang kali, saya bener-bener gak tau apa yang kamu omongin. Mungkin ada orang yang nama dan mukanya mirip sama saya". Ujar Karin, ia berusaha menenangkan dirinya. Annisa terdiam, berpikir kembali. Apa iya aku salah, dia jelas Karin. Tapi dia melihat wajah Karin yang nampak kalut dan bingung, dia pun merasa iba. "Iya mungkin saya salah orang, maaf ya kalo merasa terganggu". Annisa pun kembali meminta maaf. Karin tak bereaksi, perkataan perempuan itu benar-benar membuatnya terpukul. Suara dalam bus menyebutkan halte tujuan Annisa. Dia pun berjalan menuju pintu, menyempatkan melihat Karin sebelum turun. "Tidak, tidak mungkin aku salah orang. Mana mungkin aku lupa teman kecil yang sudah aku kenal lebih dari sepuluh tahun". Annisa bergumam sambil menatap bus yang sudah melaju semakin jauh. ** Pagi ini di depan ruang istirahat orang-orang berbaris, petugas cleaning service dan satpam berkumpul. Karin yang bertemu dengan Daus di pintu masuk jalan berbarengan. "Eh pada kumpul tuh Rin, cepet yuk". Daus segera berlari. Karin menyusul. "Ayo yang baru dateng segera masuk barisan". Seru Pak Aris kepala bagian yang berdiri di depan barisan, di sebelahnya berdiri Mpok Wati yang sibuk menyeka air matanya dengan tissu. "Sepertinya sudah kumpul semua ya. Saya mulai saja. Bismillahirrahmanirrahim, seperti yang kita tau, temen kita, rekan kerja kita Mpok Wati sedang berkabung. Ibundanya meninggal dunia karena sakit". "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun". Semua mengucap bersamaan. "Di sini saya sebagai perwakilan teman-teman semua menyampaikan bela sungkawa dan turut berduka cita kepada keluarga Mpok Wati. Dan saya persilahkan Mpok Wati bila ada yang ingin disampaikan". Kata Pak Aris mempersilahkan Mpok Wati bicara. "Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh". Suara Mpok Wati terisak menahan tangis. "Waalaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh". "Seperti yang teman-teman tau ibu saya meninggal hari jumat kemarin di rumah adik saya dan atas keputusan keluarga besar akhirnya dimakamkan di sana. Saya...". Suara Mpok Wati tercekat, dia mengusap lagi air matanya yang terus bercucuran. "Saya memohon do'a dari teman-teman semua untuk Almarhumah ibu saya, semoga beliau ditempatkan di sisi Allah, dilapangkan kuburnya, diampuni segala dosanya dan diterima semua amal ibadahnya". Lanjut Mpok Wati dan akhirnya tangisnya pun pecah. Pak Aris merangkul Mpok Wati, menepuk bahunya, menguatkan Mpok Wati. Karin melihat Melda yang berdiri di depannya, dia menundukkan kepalanya, air matanya menetes. Bagaimana pun keluarga Mpok Wati adalah tetangganya, dia kenal baik dengan almarhumah. "Jadi untuk teman-teman semua nanti kita akan ada kan sumbangan, teman-teman bisa memberikan seikhlasnya sebagai bentuk bela sungkawa kita kepada keluarga Mpok Wati". Jelas Pak Aris. "Iya pak, siap pak". Semua orang menjawab. "Baik, terima kasih atas perhatian teman-teman semua. Silahkan bubar dan melanjutkan pekerjaan kalian masing-masing". Pak Aris mengakhiri. *** Memasuki lobby Arya melihat dua orang petugas cleaning service masing-masing membawa kotak dus, mereka menyapa Arya ramah. "Selamat pagi Pak". "Pagi". Jawab Arya sambil terus berjalan. Arya pertama kali melihat pemandangan seperti itu, di dalam lift Arya pun bertanya kepada Pak Akbar. "Petugas itu kenapa bawa-bawa dus ya Pak? untuk apa?". "Maaf saya juga belum tau Mas, secepatnya saya akan cari tau". Jawab Pak Akbar tegas. "Oke". Arya menjawab singkat. Tak lama Pak Akbar pun masuk ke ruangan Arya. "Permisi Mas, mengenai petugas cleaning service tadi ternyata mereka sedang meminta sumbangan kepada staf dan karyawan kantor untuk Ibu Wati yang orang tuanya meninggal". Pak Akbar memberitahu. "Maksudnya petugas cleaning service yang sedang saya cari itu?". "Iya betul Mas, namanya Ibu Wati. Perlu saya antar ke sini sekarang?". "Gak perlu sekarang, nanti saja ketika jam istirahat". Perintah Arya. Arya memang tidak menggunakan bahasa formal ketika berbicara dengan Pak Akbar karena dia merasa Pak Akbar bagian dari keluarganya, dia sudah mengenalnya sejak kecil. Pak Akbar hendak pergi namun Arya memanggilnya kembali. "Tunggu Pak". Pak Akbar membalikkan badan. Arya mengambil dompet dari balik jasnya, mencari amplop di laci lalu memasukkan sepuluh lembar uang seratus ribu ke dalam amplop itu. "Ini, tolong berikan ini sama Bu Wati sebelum Bapak mengantarnya ke sini nanti". Arya menyerahkan amplop itu. "Siap Mas". Pak Akbar berlalu. ** "Yang sebelah situ masih kotor Rin, itu jelas banget gak keliatan emang?". Kata Mpok Wati ketika mereka berdua mendapat tugas membersihkan kaca jendela di ruang meeting. Pandangan Karin memang mulai kabur lagi. Mpok Wati mendekati Karin dan mengelap bagian yang masih kotor menurutnya. "Lo mulai rabun ya? segini kotornya. Harus pake kacamata tuh, masih kecil udah rabun. Kebanyakan main hape sih". Cerocos Mpok Wati tanpa memperdulikan Karin yang hanya terdiam. Melda yang saat itu datang membawa botol-botol air mineral untuk ditaruh di meja meeting pun mendengar semua ucapan Mpok Wati. Ingin rasanya dia memaki balik Mpok Wati tapi dia mencoba sabar dan menarik napasnya dalam-dalam. "Mpok Wati tadi disuruh Pak Aris ke ruang istirahat tuh, katanya hari ini Mpok Wati gak perlu kerja dulu. Istirahat ya Mpok". Nada bicara Melda menahan kesal. "Masa sih Mel?". Mpok Wati terheran. Nyatanya Melda memang berbohong. "Hu,uh. Dah sana ya biar ini saya yang kerjain". Melda mendorong Mpok Wati keluar pintu kemudian membanting pintu itu meluapkan amarahnya. "Astaga... Tuh manusia terbuat dari apa sih? lagi berduka juga masih aza marah-marah sama orang. Kalo gue gak ngehargain Almarhumah ibunya udah gue maki balik tuh". Melda mengepalkan tinjunya. "Emang aku yang salah koq Kak, aku yang gak bener kerjanya". Suara Karin lirih, rasanya tubuhnya mulai lemas sekarang. "Mulai... Mulai deh, gue paling sebel sama lo kayak gini Rin. Gak bisa ngebela diri, terima aza dimarahin orang. Sekalipun lo salah tapi orang gak berhak nindas lo. Lo tuh harus 'Terlihat kuat biar orang gak gampang ngerendahin lo!!!'. Paham kan maksud gue?". 'Terlihat kuat?' itu adalah hal yang tidak bisa Karin lakukan, nyatanya fisiknya memang lemah. Karin memang selalu merasa ia orang yang lemah tak berdaya. Pas di jam istirahat Pak Akbar menemui Mpok Wati di ruang istirahat, dia menyerahkan amplop pemberian Arya lalu menyuruhnya untuk mengikutinya ke ruangan direktur. Mereka berjalan melewati Karin yang tengah duduk sendirian di kursi di depan gudang. Sedari tadi Karin menatap hapenya, menyalakan lalu mematikannya kembali. Akhirnya ia membuka aplikasi chat, mencoba menulis pesan teks untuk Intan. [Assalamualaikum Kak, Aku mau minta tolong... ] "Ahh gak kayak gitu". Karin menghapus chatnya. [.... Maaf Kak, obat aku hilang... ] "Duhh, jangan-jangan. Jangan begitu". Kembali Karin menghapus semua chatnya. "Aku perlu banget obat itu tapi nanti Kak Intan kena masalah". Karin berkata dalam hatinya. Tanpa ia sadari sejak tadi ia terus menggoyangkan kedua kakinya membuat seluruh tubuhnya ikut bergetar. Karin benar-benar kacau. Sementara di ruang direktur Mpok Wati tengah berdiri gugup, di depannya Arya duduk menatapnya. Wanita berumur 40 tahun itu merasa gugup karena baru pertama kalinya dia dilihat pria tampan. "Ibu ingat pertama kali kita bertemu di dekat lift?". Arya langsung bertanya untuk mengutarakan maksudnya. "Iya saya ingat Pak". Mpok Wati memang mengingatnya dengan jelas, moment pertama kalinya dia bisa menatap Arya, direktur tampannya dari dekat. Arya mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian menaruh botol obat yang dari tadi dia pegang ke atas meja. "Ibu tau kira-kira siapa pemilik obat ini atau orang yang menjatuhkan obat ini di dekat lift?". Mata Arya tetap tertuju pada botol obat itu. Mpok Wati mencoba mengingat, mendekati meja di mana obat itu ditaruh, dia mengerutkan keningnya. Kini dia ingat, sebelum bertemu Arya dia bertemu Karin dulu yang sibuk memunguti barang-barang yang jatuh dan dia melihat Karin juga membawa plastik dengan tulisan "Apotek Kimia Farmasi". "Bener nih kayaknya soalnya dia bawa plastik obat dari apotek". Seketika Mpok Wati bicara. "Dia siapa Bu?". Arya sudah tidak sabar ingin mengetahuinya. "Namanya Karin Pak, dia petugas cleaning service juga". Tanpa menunggu Arya berbicara lebih lanjut Mpok Wati pun melanjutkan ucapannya. "Itu obat berbahaya ya Pak? pantes si Karin tuh kalo kerja gak pernah bener Pak. Ternyata dia suka minum obat yang bahaya gitu". Mulut jahat Mpok Wati mulai berulah. "Eheemm... ". Arya berdehem. Seketika Mpok Wati menutup mulutnya. "Saya tidak perlu penjelasan Ibu, saya hanya ingin tau pemilik obat ini. Lagi pula ini obat resep dokter. Tolong Ibu jaga sikap". Tegas Arya, dia juga sedikit tersinggung dengan ucapan Mpok Wati. Bagaimana pun ini obat yang sama dengan yang dia punya. "Maaf Pak". Mpok Wati menundukkan kepalanya sembari melangkah mundur. "Sekarang tolong Ibu bilang pada Karin untuk menemui saya di ruangan ini". "Baik Pak". Mpok Wati pun pamit. ** "Dari tadi dicariin ternyata lagi di sini". Melda datang mengagetkan Karin. Melda pun duduk di sebelahnya. "Tuh hape diliatin terus, nunggu telpon pacar ya?". Melda menyenggol lengan Karin dengan bahunya. "Mana ada aku punya pacar, Kak Melda nih ngaco. Aku pengen chat Kak Intan". "Beneran Intan". Melda terus menggoda. Melda memang sudah mengenal Intan, mereka kerap jalan bareng bertiga di hari libur. Handphone Karin berdering, Intan menelpon. Ia lantas menyodorkan hapenya tepat ke wajah Melda. "Nih baca nih, liat". 'Kak Intan memanggil'. Tulisan yang muncul di hape Karin. Melda hanya tertawa. "Assalamu'alaikum Kak, ada apa?". Karin menjawab telpon. "Loh, aku yang mau tanya. Ada apa? kenapa kamu kirim chat kosong?". Pasti tadi kepencet waktu aku mau chat. Berkata Karin dalam hatinya. "Oh, gak papa sih Kak cuma pengen tanya kabar aza". Karin membuat alasan. "Aku baik koq Rin, maaf ya jarang chat atau telpon kamu. Sibuk banget minggu ini. Repot bentar lagi ada pengawas yang pernah aku ceritain waktu itu ke kamu. Nanti kalo udah ada waktu pasti aku main ke kost". "Iya Kak, aku tunggu". "Udah ya Rin, aku lanjut kerja". Intan mengakhiri panggilannya. Baru saja Karin mematikan hapenya, Mpok Wati memanggilnya dari sebrang sambil menepuk tangannya agar Karin mendengar. "Karin sini!". Teriak Mpok Wati. "Apalagi tuh Nenek lampir, cari perkara". Melda bersiap mengepalkan tangannya namun ditahan Karin. "Gak usah gitu Kak, biar aku samperin aza". Kali ini Karin tak ingin Melda bertengkar karena membelanya. Karin menghampiri Mpok Wati yang berdiri sambil tolak pinggang. "Lo disuruh ke ruangan direktur tuh, ketemu Pak Arya, tau gak ruangannya?". Tanya Mpok Wati dengan nada sombong. "Ruangan direktur tau Mpok, tapi ada apa ya?". Tanya Karin polos. "Mana gue tau, dah sana jalan". Suruh Mpok Wati. Dia merasa kali ini pasti Karin kena masalah besar. ** "Kamu pasti Karin". Seru Pak Akbar ketika Karin sampai depan pintu sambil celingukan. "Iya betul Pak, katanya saya disuruh menemui Pak Arya". "Silahkan masuk". Pak Akbar membukakan pintu. Karin masuk ruangan sambil menundukkan kepalanya. Sebenarnya ia takut kalau harus berhadapan dengan orang asing apalagi ini atasannya. Jantungnya berdebar kencang, kepalanya mulai terasa berat lagi. Ia berjalan perlahan melewati rak buku besar berwarna hitam, rak itu dipenuhi buku-buku tebal yang tertata rapi. Ia mencoba mengangkat wajahnya. Ruangan itu cukup redup dengan dinding berwarna merah gelap, terdapat dua sofa, yang panjang dan yang kecil juga meja kaca, di belakang sofa panjang ada jendela besar dengan tirai berwarna abu-abu. Karin melihat ke depannya, terlihat Arya yang duduk di kursinya, di depannya ada meja kerja yang cukup besar dan mewah. Kedua mata mereka bertemu, mereka saling menatap. Seketika Karin menundukkan pandangannya, Karin tak menyangka atasannya seorang pria tampan, paling tampan dari yang pernah ia lihat. Memang benar itu yang Karin rasakan karena ia tidak pernah kenal atau dekat dengan pria manapun, pria yang ia kenal hanya sebatas teman-teman kerjanya saja. Sebaliknya dengan Arya, dia terus menatap Karin, melihat matanya dia seakan merasakan keteduhan. Hatinya yang selama ini dingin terasa mencair. Entah kenapa dia merasakan hal itu padahal tidak ada yang istimewa dari penampilan gadis yang sedang berdiri di depannya ini. Dia hanya seorang gadis dengan tubuh kecil, tidak tinggi jenjang seperti gadis-gadis yang pernah dia temui. Rambutnya yang tipis dan pendek diikat ke belakang, wajahnya kecil dengan kulit yang putih bersih, hidungnya pun biasa saja tidak mancung atau pesek tapi pas dengan wajahnya yang kecil, bibirnya jelas tidak memakai lipstik namun terlihat merona, sedangkan matanya, ya matanya itu yang membuat Arya tertarik, mata yang sedikit sipit dengan bulu mata yang lentik walaupun tidak lebat tapi tetap saja nyatanya dia tidak secantik teman-teman wanitanya tapi justru itu yang membuatnya terpesona. Mungkin dia merasa baru bertemu dengan gadis yang benar-benar berbeda diantara puluhan wanita cantik yang dia kenal. Akhirnya Karin memberanikan diri bertanya karena sejak tadi Arya hanya diam tak bersuara. "Maaf Bapak cari saya ada perlu apa?". Tanya Karin memecah keheningan sambil tetap tertunduk, tangannya mencengkram erat bawah bajunya. Selain ia merasa canggung, Karin pun sedang berusaha menahan kepalanya yang mulai berputar-putar. Arya bangun dari kursinya menghampiri Karin, kini mereka berhadapan dengan jarak yang dekat. Wangi parfum Arya tercium jelas oleh Karin, harum sekali namun itu justru membuat keringat Karin bercucuran, sekuat tenaga ia menahan agar badannya tidak terjatuh. "Jadi kamu yang namanya Karin". Ujar Arya sembari tetap memperhatikan Karin dari ujung kepala hingga kaki. Karin hanya mengangguk. "Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan sama kamu". Arya membalikkan badan ingin mengambil botol obat yang dia temukan. Karin tidak kuat lagi, tubuhnya semakin lemas, penglihatannya mulai kabur kembali dan pada akhirnya ia pingsan. Bruk. Tubuh Karin terjatuh di lantai. Arya terkaget, segera dia mengangkat kepala Karin dan memukul-mukul pipinya. "Bangun, sadar Karin, bangun". "Pak Akbar!". Teriakan Arya terdengar oleh Pak Akbar yang berdiri di depan pintu, dia segera berlari masuk, melihat Arya yang panik memegangi Karin yang terkulai lemas. "Coba baringkan saja Mas". Perintah Pak Akbar. Kemudian Pak Akbar mengambil bantal yang ada di sofa dan meletakkannya di bawah kaki Karin. Lalu dia mendekatkan dirinya ke wajah Karin. Sebagai ajudan atau pengawal pribadi keluarga konglomerat dia memang sudah dibekali teknik-teknik dasar pertolongan pertama. "Dia masih bernapas". Serunya. "Cepat panggil ambulance Pak, bibirnya mulai membiru". Arya masih panik. Pak Akbar menyalakan hapenya. "Sebentar lagi mereka datang Mas, Mas Arya tenang saja". Pak Akbar juga mengkhawatirkan kondisi Arya. Arya masih berlutut di samping Karin, dia memegang tangan Karin, dingin sekali. Tiba-tiba sekelebat kenangan masa lalunya muncul. Arya terpaku, tanpa sadar dia menjatuhkan tubuhnya kemudian mendorongnya mundur dengan kedua tangannya, punggungnya menabrak tembok. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, bibirnya tergagap. "Tidak, tidak". Arya menggelengkan kepalanya, pandangan matanya kosong. Pak Akbar yang melihatnya langsung mengambil obat di dalam laci meja Arya dan sebotol air mineral. "Minum obat ini mas, minum dulu". Pak Akbar menaruh obat di tangan Arya. Arya langsung menelan obatnya, tangannya masih bergetar mengambil botol air mineral yang diberikan Pak Akbar lalu meneguk isinya. "Tenang Mas, tarik napas, buang perlahan". Arya mengikuti arahan Pak Akbar. "Bagus, begitu Mas. Tenang ya". Pak Akbar menepuk-nepuk lembut bahu Arya. Arya tersadar kembali. Di luar suara ambulance terdengar, tiga orang petugas turun dari mobil ambulance, kemudian masuk ke kantor membawa peralatan dan tandu menuju lantai dua menggunakan lift. Karyawan-karyawan yang baru saja masuk kantor usai istirahat makan siang jadi ribut, suasana ramai. Mereka saling bertanya. "Ada apa sih? ada apaan?". Tiga petugas medis masuk ke ruangan Arya. Satu petugas mengecek keadaan Karin, yang lainnya menurunkan tandu. "Detak jantungnya lemah, bantu saya pasang infus". Seru petugas yang mengecek keadaan Karin. Setelah selesai mereka semua berlari, dua orang mengangkat Karin dengan tandu, satu orang memegangi infusnya. Arya pun hendak mengikuti ketiga petugas itu namun dihadang Pak Akbar. "Mas sebaiknya gak usah ikut, biar saya yang urus". Lala yang saat itu ada di depan ruangan Arya pun mencegahnya. "Maaf Pak, memang seharusnya Bapak tidak perlu ikut. Sekarang Bapak ada jadwal meeting penting". Lala mengingatkan. "Tolong Bapak kabarin saya ya". Pesan Arya. Pak Akbar mengangguk dan berlari mengikuti petugas medis. ** Semua orang berteriak kaget ketika melihat Karin di tandu dan dibawa ke mobil ambulance. Melda yang tengah asyik berjalan membawa bungkusan makanan untuk Karin tak sengaja melihat Karin yang akan dimasukkan ke dalam ambulance. Melda ternganga, bungkusan yang dia bawa jatuh dan dia berlari secepatnya menghampiri mobil ambulance itu. "Pak, temen saya kenapa Pak? Karin bangun Rin". Melda menggoncangkan tubuh Karin dengan beruraian air mata. Pak Akbar datang menarik Melda. "Segera bawa ke Rumah sakit, biar ini saya yang urus". Ucapnya pada petugas. Mobil ambulance membunyikan sirine nya dan berlalu. Melda masih mengamuk sambil menangis, tidak bisa diam. Pak Akbar sempat kewalahan namun dengan postur tubuhnya yang tinggi besar dia mampu menguasainya. Dia membalikkan badan Melda ke arahnya, memegangi kedua lengan Melda. "Liat saya! kamu harus tetap tenang. Teman kamu perlu diperiksa. Diam dan do'akan saja". Pak Akbar pun pergi meninggalkan Melda yang masih menangis tanpa bisa berkata apapun. Sudah tiga jam Karin di ICU, dokter sudah memeriksanya segera setelah ia turun dari mobil ambulance. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan kata dokter kepada Pak Akbar dan Pak Akbar pun sudah menyampaikan hal yang sama pada Arya. "Syukurlah kalo gitu Pak, saya khawatir karena kejadiannya di ruangan saya". Ucap Arya ketika Pak Akbar menelponnya. Karin sadar, matanya berkedip-kedip. Pak Akbar yang sedari tadi di sampingnya langsung memanggil dokter. "Siapa namanya Dek?". Seorang dokter laki-laki yang terlihat masih muda datang. "Ka-rin". Jawabnya lemah dan terbata-bata. "Bagus, coba saya periksa dulu ya". dokter mengecek dengan stetoskop nya. "Ada yang dirasa? pusing? mual?". Karin hanya menggelengkan kepalanya. "Jadi gimana dok, kondisinya". Pak Akbar bertanya. "Dari pemeriksaan awal sih tidak ada masalah, cuma kelelahan aza. Faktor kecapean. Mungkin kerjanya terlalu diporsir hingga kurang istirahat, kurang tidur". dokter memberikan penjelasan. dokter melihat ke arah Karin seakan mengisyaratkan 'benar kan?' Karin hanya merapatkan bibirnya, dokter tersenyum. Kemudian dokter menatap Pak Akbar. "Kalo Bapak mau tau lebih detail kondisinya bisa dilakukan cek lab". "Gak perlu dok, saya cuma perlu istirahat". Karin langsung menjawab. "Oke kalo begitu. Tunggu sampai infusnya habis saja nanti bisa panggil suster lalu temui saya di ruangan saya ya". dokter pun pamit. "Terima kasih dok". Ucap Karin dan Pak Akbar berbarengan. Kemudian Pak Akbar juga pamit keluar. Karin meraba saku celananya, untunglah hapenya tidak terjatuh. Ia menyalakan hapenya, dua puluh panggilan tak terjawab dari Melda. Karin melihat jam di layar hapenya, jam empat kurang sepuluh menit, belum jam pulang berarti hape Melda masih di loker pikirnya. "Aku chat aza kalo gitu". Karin mulai mengetik pesan tapi kemudian hapenya berdering. 'Kak Melda memanggil' "Halo Kak". Suara Karin masih lemas. "Alhamdulillah Ya Allah, gimana kondisi lo? gak papa kan?". Melda sangat senang akhirnya ia bisa mendengar suara Karin. "Aku gak papa koq Kak, gak perlu khawatir. Cuma kecapean aza kata dokter. Oh ya Kak Melda udah pulang? Koq bisa pegang hape terus?". "Gak, gue masih di kantor. Cuma tadi minta izin sama Pak Aris bawa hape biar bisa cek keadaan lo. Pak Aris paham koq". Teman-teman kerjanya memang tahu Karin hidup sendiri, tidak punya keluarga jadi sering mengkhawatirkannya ketika terjadi sesuatu kepadanya. Seperti dulu pernah Karin kehilangan dompetnya, tidak ada uang untuk ongkos pulang. Teman-teman nya sibuk, ada yang siap mengantarnya pulang naik motor, ada yang memberikan uang untuk ongkos pulang. Mereka peduli pada Karin, mungkin itu yang membuat Mpok Wati tidak suka padanya, dia iri kepada Karin. Memang benar adanya, susah senang telah ia lewati di kantor itu. ** Tepat jam tujuh malam suster melepas infus Karin, sebelumnya Karin juga sudah dibelikan makanan oleh Pak Akbar. Ketika pamit keluar tadi ternyata dia makan dan membungkusnya juga untuk Karin. Mereka berdua berjalan menuju ruangan dokter yang menangani Karin. Hape Pak Akbar berbunyi. "Kamu ke ruangan dokter sendiri gak papa kan? Saya harus terima telpon". "Iya gak papa Pak". Karin masuk ke ruangan yang bertuliskan 'dr. Hendy'. Ia mengetuk pintu, dokter mempersilahkan masuk. "Silahkan duduk". Dengan senyum yang tersungging. "Gimana? udah sehat kan?". "Iya dok". "Harus lebih banyak lagi istirahatnya, ini saya resepkan obat nanti ambil di apotik ya". Ucapnya sambil menulis resep. "Maaf dok. Kalo boleh, saya minta obat tidur. Saya memang agak susah tidur belakangan ini". Tiba-tiba terlintas ide agar ia bisa mendapatkan obat tidur. "Hhmm, boleh. Nanti saya resepkan juga". Perkataan dokter itu membuat Karin bahagia. Pak Akbar sudah menunggu Karin di depan pintu. "Biar saya yang ambil resepnya". Karin menyerahkan kertas resepnya. Setelah menebus obat, Pak Akbar mengantar Karin pulang. Di dalam mobil, Karin tidak bisa berhenti tersenyum. "Aku mau tidur lelap malam ini". *** Bersambung ke Bab 4
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN