'Tok... Tok... Tok...'.
Siapa yang sepagi ini sudah mengetuk pintu. Karin membuka pintu kamarnya dengan malas, nampak seseorang membelakanginya.
"Kak Intan ada apa? koq pagi banget? kan jadwal terapi aku nanti siang". Cerocos Karin tahu tamunya itu adalah Intan.
Intan berbalik.
"Ihh Karin gak seru, koq kamu tahu aku yang dateng".
"Hadeuh". Karin memutar bola matanya ke atas lalu ke bawah.
Intan hanya cengengesan.
"Semalem Maher chat aku, hari ini dia ngajak kita sarapan di klinik. Ada pembukaan stand baru katanya".
"Koq aku? Kak Intan doang kali". Karin merasa Maher tak mungkin mengajaknya juga.
"Ngeyel nih kalo dikasih tau, mau aku liatin chatnya?". Intan mulai membuka tasnya mencari hapenya.
"Ya udah iya, aku ganti baju dulu. Untung udah mandi".
"Gitu donk, aku tunggu di depan ya".
Tak lama Karin keluar, mereka berdua berkendara menuju Klinik.
**
'Klinik Kesehatan Jiwa Yayasan Al Rasyid'
Itu nama Klinik Maher karena Klinik tersebut merupakan milik yayasan keluarga besar Maher, walaupun statusnya Klinik namun fasilitasnya hampir sama dengan Rumah sakit. Di sana ada beberapa dokter kejiwaan yang membuka praktek, selain Psikiater ada juga Psikolog dan Terapis, semua yang berkaitan dengan kesehatan jiwa dan mental. Pasiennya pun banyak tidak hanya orang tua namun kalangan remaja dan juga anak-anak, pasien usia remaja sampai usia di bawah dua puluh lima tahun yang mendominasi sepertinya usia remaja memang rentan terganggu kesehatan jiwanya. Di sana juga sudah banyak perawat yang membantu dan sarana penunjang seperti ruangan-ruangan yang dibuat khusus untuk pasien tertentu seperti ruangan konseling anak yang didesign semenarik mungkin dengan berbagai macam permainan di dalamnya, ruangan untuk Hipnoterapi seperti ruang pengobatan Karin yang tampak nyaman dengan alunan musik juga wewangian aroma terapi yang menenangkan. Tidak hanya itu, di belakang rumah sakit ada Kantin yang lebih mirip seperti food court dengan berbagai stand makanan dan minuman. Dan pagi ini Maher mengajak Intan dan Karin ke stand makanan yang baru dibuka.
Maher sudah memesan makanan, Intan dan Karin hanya duduk menunggu di kursi yang sudah disediakan.
"Standnya baru banget buka jadi menunya belum lengkap, aku pesen semua makanan yang ada aza". Ucap Maher ketika ia menarik kursi dan duduk di sebelah Intan.
"Makanan Khas Timur Tengah, ahh ini mah makanan kamu banget Her, pasti kamu juga yang maksa mereka buka di sini". Intan membaca plang yang tertulis di Stand makanan tersebut.
Maher tertawa mendengar ucapan Intan.
"Kamu bisa aza Tan, gak gitu juga cuma kebetulan temen kuliahku dulu punya istri yang hobby masak jadi aku suruh dia buka di sini".
"Tanpa paksaan kan?!". Canda Intan.
Maher mencubit pipi Intan, Intan meringis kemudian diusap lembut oleh Maher seraya meminta maaf. Karin hanya tersenyum melihat adegan di depannya ini, mungkin ini yang dikatakan orang 'cuma jadi obat nyamuk', hanya menjadi penonton menyaksikan kemesraan kedua pasangan.
"Oh iya Karin, kamu gak keberatan kan makan makanan yang saya pesen? atau mau makanan lain aza biar saya carikan di stand yang lain". Maher baru tersadar ada Karin yang duduk diam saja.
"Gak usah dok, makan ini aza. Saya juga suka koq apalagi kebab sama roti mariam". Karin menunjuk gambar makanan yang ada di standing banner di depan stand tersebut.
"Syukurlah kalo gitu, untungnya sudah ready, sudah saya pesan juga tadi, kamu tenang aza". Maher tersenyum.
"Kalo buat kamu ada nasi kebuli sama Hummus". Maher menoleh pada Intan.
"Terus Manakeesh sama Sambosanya?". Tanya Intan menyebut menu lain yang tertera di sana juga.
"Itu belum ada, kan tadi aku bilang belum lengkap jadi aku pesen yang ada aza. Lagi kamu bisa emang makan segitu banyak? pantes itu pipi makin susah dicubit, tebel". Maher meledek Intan.
Intan cemberut menekan kedua pipinya. Maher tertawa melihatnya.
"Kamu jangan aneh ya Rin kenapa aku suka makanan khas timur tengah gini, ini pelakunya". Tunjuk Intan pada Maher.
"Dari kecil dibawain makanan terus ke rumah, aku malah lebih sering makan masakan ibunya daripada masakan nenek". Intan tersenyum diiringi anggukan Maher.
Makanan datang, mereka mulai menyantapnya.
Ada pasangan duduk tak jauh dari mereka sepertinya suami istri dengan usia kira-kira empat puluh tahunan. Di depan mereka duduk seorang pria dengan jas dokter yang terlihat sudah berumur dengan kepalanya yang setengah botak dan rambut yang sudah hampir memutih semua.
"Tolong kami lah dok, kasian istri saya sedang hamil. Kami sangat ingin menjaga kandungan istri saya ini karena kami sudah menunggunya selama sepuluh tahun. Masa istri saya tiap hari harus ikut stress sama kelakuan Putri, semakin hari dia semakin sering mengamuk dan parahnya sekarang suka lempar barang-barang juga dok. Kalo terjadi apa-apa sama istri saya dan kandungannya gimana? sia-sia penantian kami. Cuma dokter satu-satunya harapan kami, jadi saya mohon bantuannya". Laki-laki itu mengiba.
"Saya mengerti, sangat mengerti keadaan bapak dan juga ibu. Selama ini saya juga sudah berusaha setiap hari membujuk Dika agar mau menandatangani berkas itu tapi dia selalu beralasan bahkan belakangan ini sering sekali menghindari saya". Ada gurat kesedihan ketika dokter itu berbicara.
Kedua pasangan itu tertunduk lesu bahkan sang istri mengambil tissu menyeka matanya yang mulai basah.
"Tapi bapak sama ibu jangan khawatir, hari ini saya pastikan Dika menandatanganinya karena kemarin pun kami semua sudah mengadakan rapat dan sepertinya Dika sudah luluh karena hasil dari terapinya tidak menunjukan adanya kemajuan. Supaya tidak menunggu terlalu lama saya akan menemui Dika sekarang juga dan mengurus berkasnya, saya segera hubungi bapak dan ibu kembali setelah semuanya beres. Kalo begitu saya pamit". dokter pun pergi dan wajah pasangan suami istri itu terlihat penuh harapan.
Maher berdehem melihat Intan dan Karin yang sedari tadi justru fokus pada obrolan orang-orang di sebelahnya itu bahkan makanannya seperti dibuat mainan saja.
"Sorry Her, abis seru denger mereka ngobrol". Intan merasa bersalah apalagi melihat mimik muka Maher yang terlihat kesal.
Karin pun membenarkan letak duduknya dan kembali fokus menyantap makanannya.
"Itu keluarga pasiennya Dika yang harus dioper ke rumah sakit jiwa tapi Dika gak setuju". Maher menjelaskan tanpa ditanya karena ia melihat Intan yang sepertinya penasaran.
"Oh yang kamu sempet selisih paham sama Dika waktu itu?".
Maher mengangguk.
"Namanya Putri, itu tadi om sama tantenya yang selama ini ngurus dia". Maher kembali menerangkan.
Kini Intan yang mengangguk, Karin justru jauh lebih tahu dari obrolan dua perawat waktu di toilet tentang alasan Dika yang enggan mengirim Putri ke Rumah sakit jiwa.
**
Ada Ambulance yang terparkir di pelataran klinik ketika Karin, Intan dan juga Maher keluar dari Kantin. Ambulance yang di bagian sampingnya bertuliskan 'Rumah Sakit Jiwa Cempaka'. Beberapa orang sudah berkumpul di sana, ada dokter dan pasangan suami istri tadi. Dika keluar memeluk bahu seorang gadis muda yang sepertinya ketakutan, gadis itu yang waktu Karin lihat di ruang tunggu, 'Berarti dia Putri'. Kata karin dalam hatinya. Tiga orang perawat pun keluar mengikuti Dika.
Dika mengantar Putri masuk ke Ambulance, tangan Putri tetap menggenggam erat lengan Dika sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sepertinya ia tidak mau ikut dengan Ambulance itu.
Dika mengecup punggung tangan Putri lalu melepaskannya perlahan. Karin melihat ekspresi para perawat yang saling menyenggolkan sikunya sambil berbisik. "Kan aku bilang apa, mereka itu pacaran". Ucap salah satu dari mereka lalu tangannya ditepuk oleh rekannya yang lain, semuanya pun diam.
"Gak pa-pa kamu ikut dulu ya, nanti saya nyusul, secepatnya. Janji!". Dika menatap tajam pada Putri.
Akhirnya Putri mengangguk, ia masuk diikuti om dan tantenya. Setelah berbicara dengan dokter tadi dan juga Dika, Ambulance pun pergi, Dika masih terdiam menatap kepergian Putri dalam mobil Ambulance itu hingga hilang dari pandangannya.
Maher dan Intan yang sudah terlebih dahulu masuk ke Klinik mencari Karin yang ternyata tidak mengikuti mereka.
"Loh kemana Karin?. Tanya Maher celingukan.
Pandangan Intan pun mengitari ke sekelilingnya.
"Aku cari dia ya, kamu ada praktek kan sekarang? aku sekalian pamit". Ucap Intan mempersilahkan Maher kembali ke ruangannya.
"Jadwal terapi Karin masih lama ya? terus kalian mau ke mana?. Maher melirik jam tangannya.
"Gampang kalo itu, makasih ya Her sarapannya". Intan tersenyum manis.
"Sama-sama". Maher membalas senyumannya dan kembali masuk menuju ruangannya.
Intan melihat Karin yang rupanya tengah berbicara dengan Dika di luar.
"Kamu di sini Rin? Apa kabar Dik?". Sapa Intan ramah ketika menghampiri mereka.
"Saya baik, jangan lupa nanti terapinya selepas makan siang". Jawab Dika, masih ada mendung menggelayut di wajahnya nampak ia sedikit memaksakan senyumnya lalu pamit dan masuk ke Klinik.
"Kita pulang Kak?". Tanya Karin tidak tahu rencana selanjutnya.
"Ngapain? bolak-balik. Ikut aku yuk, temenin beli sesuatu". Intan menarik lengan Karin.
***
Ternyata Intan mengajak Karin ke sebuah butik, Intan mencari-cari di bagian pakaian pria.
"Aku mau cari kemeja untuk Maher". Ucap Intan sebelum ditanya Karin.
"Buat hadiah ulang tahunnya". Sahutnya lagi.
"Oh, emang kapan dokter Maher ulang tahun?". Tanya Karin sekedar ingin tahu.
"Masih lama sih, masih bulan depan". Jawab Intan, tangannya sibuk memilih-milih di antara deretan kemeja yang menggantung.
Karin hanya mengangkat kedua alisnya.
"Maher tuh gak punya kemeja, bukannya gak punya sih tapi sedikit padahal kan perlu juga buat acara formal". Ucapan Intan menandakan ia memang sangat mengenal Maher.
"Bagusan yang mana menurut kamu?". Intan meminta Karin memilih, tangan kanannya memegang kemeja polos warna tosca, tangan kirinya memegang kemeja kotak-kotak biru.
"Aku gak tau Kak, jangan tanya aku. Aku kan gak tau selera dokter Maher". Jawab Karin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Menurut kamu, dia cocoknya pake yang mana?". Intan kekeuh meminta pendapat Karin.
"dokter Maher sih pake apa juga cocok, orang ganteng terus badannya juga bagus". Jawab Karin sekenanya.
Namun seakan Intan yang dipuji, ia yang senyum-senyum sendiri.
"Kenapa Kak?". Karin bingung melihat Intan seperti itu.
"Eng-gak, gak pa-pa cuma bingung aza pilih yang mana, dua-duanya bagus. Apa aku ambil keduanya ya?". Intan membatin.
"Ya kalo bingung beli aza dua-duanya". Karin pun tak mau ambil pusing, takut salah kalau soal memilih.
"Ok deh". Intan membawa kedua kemeja itu menuju kasir.
Butik ini termasuk butik dengan pakain merk terkenal dan harganya pun mahal, Karin sempat ikut memilih-milih namun syok ketika ia melihat harganya setara satu bulan gajinya bahkan banyak yang di atas itu membuat karin pusing dan akhirnya ia hanya bisa mengekor Intan, mengikuti ke mana pun dia berjalan. Kalau untuk hadiah dokter Maher jelaslah ini sepadan, tak mungkin juga seorang dokter dari keluarga kaya memakai pakaian yang biasa saja.
"Eh batik-batiknya juga lucu, liat dulu ya Rin". Intan pun masuk ke bagian baju-baju batik, Karin membuntutinya lagi di belakang.
"Aku baru inget terakhir jalan sama Maher ke undangan pernikahan temen SMA kita dulu, waktu itu sempet kebingungan karena Maher gak punya baju batik padahal dress code nya pake batik sampe ngedadak beli. Ampun deh orang satu itu sibuk terus di klinik sampe gak kepikiran buat beli baju aza". Curhat Intan.
Karin hanya manggut-manggut mendengarkan, kemarin Melda sekarang Intan. Ia hanya bisa menjadi pendengar yang baik.
Tak terasa Intan sudah membawa empat baju batik, lagi-lagi ia tak bisa memilih jadi semua yang ia rasa bagus diambilnya.
"Ih masa batiknya empat tapi kemejanya cuma dua? kayaknya harus nambah kemeja lagi deh Rin, balik lagi ya cari kemeja". Intan berbalik ke tempat kemeja dan Karin hanya bisa mengikuti tanpa berkata sepatah kata pun.
"Udah? apa ada lagi yang mau dibeli?". Tanya Karin ketika Intan keluar membawa satu tambahan kemeja.
Intan menggeleng.
"Sepertinya udah lengkap, aku juga dapet kemeja bergaris merah. Ada polos, kotak dan garis. Lengkap kan?". Intan terlihat senang, ia melirik jam tangannya.
"Ya ampun, baru belanja begini aza udah jam sebelas. Ya udah kita langsung ke klinik ya". Intan bergegas ke kasir lalu mereka berdua pun kembali ke klinik.
***
Karin sudah berada di ruang Hipnoterapi, diiringi musik lembut yang mengalun juga dipandu Dika menuju alam bawah sadarnya.
Bayangan yang terakhir ia lihat muncul kembali namun kali ini ia menangis di depan sebuah kuburan, Karin mencoba membaca tulisan yang ada di nisan namun seperti tertutup sesuatu ia tidak bisa membacanya, berulang kali ia coba bersihkan tetap tidak bisa, tulisan yang ia lihat hanya '2018'.
Kemudian muncul seorang perempuan dengan anak kecil laki-laki itu lagi, seketika Karin menyebutnya 'Ibu' lalu anak kecil itu memeluk Karin memanggilnya 'Kakak'. Karin menatap wajah anak kecil itu, sembab, bahunya terus berguncang, ia terisak sama seperti dirinya yang sedang menangis. Kemudian seperti debu yang tersapu angin, bayangan itu hilang begitu saja.
Kini Karin merasa dirinya ada di tempat yang gelap, sepi, ia mulai ketakutan namun ketika ia menoleh di sampingnya ada ibu dan adiknya, mereka tersenyum. Karin menggenggam erat tangan adiknya, mereka berjalan perlahan. Semua ketakutan yang ia rasa kini hilang sirna.
Dari arah depan tiba-tiba Karin melihat sinar yang berasal dari lampu sebuah mobil, sinar itu semakin mendekatinya membuat matanya silau dengan segera ia tutupi wajahnya dan dalam hitungan sepersekian detik tubuhnya terasa terhantam sesuatu, sakit sekali membuat seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Kemudian ia dapati dirinya tergeletak berlumuran darah, ia hanya bisa mengucapkan 'tolong' dengan suara lirih dan tersendat. Sosok serba hitam muncul, Karin mencoba menyipitkan matanya namun sosok itu tetap tak terlihat, gelap sekali. Ingin ia menariknya namun tak sanggup kemudian matanya terbuka, Karin terbangun.
Napasnya masih terengah-engah, Dika membantunya bangun dan memberikan air minum, Karin menghabiskannya. Ia seperti habis berlari marathon, napasnya tak beraturan.
"Bagaimana sekarang? sudah merasa jauh lebih baik?". Tanya Dika setelah ia melihat Karin jauh lebih tenang.
Karin mengangguk pelan.
"Kamu lihat apa? tadi saya mendengar kamu bilang 'Ibu'?". Tanya Dika kembali mulai mencari tahu.
"Saya duduk di kuburan, kuburan baru, tanahnya masih basah tapi saya tidak bisa membaca tulisan yang ada di nisan itu hanya terlihat '2018', lalu ada seorang ibu dan anak kecil laki-laki yang ikut menangis bersama saya. Ini kedua kalinya saya melihat sosok mereka". Karin menjelaskan apa yang dilihatnya tadi.
"Dua kali? sosok mereka berubah atau sama seperti itu?". Lanjut Dika bertanya.
Karin memejamkan matanya sebentar.
"Sepertinya tidak berubah, sama. Bahkan baju yang mereka kenakan pun sama".
"Bagus. Lalu kamu seperti kesakitan, apa terjadi sesuatu? tadi saya lihat kamu merintih kesakitan lalu mengucap 'tolong'.
"Ya, sepertinya saya tertabrak mobil karena saya lihat tubuh saya penuh darah tapi saya tidak bisa melihat siapapun lagi hanya ada sosok hitam yang menghampiri tapi saya tidak yakin itu orang atau bukan, ingin saya meraihnya tapi selalu tidak bisa". Karin memeluk tubuhnya sendiri, rasa sakit yang tadi ia rasakan terasa lagi seakan menjalar keseluruh tubuhnya kini.
"Berarti kamu juga sudah dua kali melihat kejadian ini? sosok hitam yang sama?".
Karin mengangguk pasti.
"Ada kemungkinan sosok pertama yang kamu lihat itu ibu dan adik kamu lalu kamu mengalami kecelakaan. Sekarang ada yang kamu ingat tentang keluarga kamu?". Dika mencoba membuat Karin mengingat lebih jauh.
Karin memejamkan matanya kembali namun kini ia merasakan nyeri yang hebat, kupingnya berdenging lalu tubuhnya gontai. Dika sigap duduk di sebelahnya menopang tubuh karin yang hendak terjatuh.
"Kenapa? sakit sekali?". Dika mulai khawatir.
"Iya Pak, nyeri sekali". Karin menopang kepalanya.
"Baiklah kalo begitu sampai di sini dulu terapi kita minggu ini, kamu bisa istirahat dulu di luar". Dika memapah Karin dan membukakan pintu, ia melihat Intan yang duduk menunggu di depan ruangannya lalu menyuruhnya masuk.
"Bagaimana perkembangan Karin?". Intan langsung bertanya ketika mereka sudah duduk berhadapan.
"Ya, Karin berhasil mengingat ibu dan adiknya tapi sepertinya ia melihat kuburan ayahnya karena dari penjelasannya, mereka menangis bertiga di kuburan tapi sepertinya ia belum bisa mengingat sosok ayahnya itu kemudian dia mengalami kecelakaan". Papar Dika mengulang kembali informasi dari Karin.
"Kecelakaan? kecelakaan apa? apa mungkin kecelakaan itu yang membuat Karin hilang ingatan?". Intan memberondong Dika dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Untuk saat ini belum bisa dipastikan, tapi saya minta tolong anda mencari informasi orang yang mengalami kecelakaan mobil sekitar tahun 2018 ke atas karena Karin melihat nisan dengan tulisan 2018, kemungkinaan semua peristiwanya terjadi di tahun itu dan saya juga akan mencari informasinya di rumah sakit-rumah sakit, barangkali ibu dan adiknya selamat dan masih hidup". Dika seperti memberikan titik terang pada Intan.
"Baiklah, saya akan mencoba mencari informasi apapun itu, semoga Karin benar bisa bertemu dengan keluarganya dan mengingat kembali semuanya". Ucap Intan penuh harap dibarengi anggukan Dika.
***
Senin pagi selalu menjadi awal kemacetan, kendaraan di jalan raya padat merayap. Begitu juga dengan mobil Arya yang terjebak macet. Pak Akbar yang memang merangkap menjadi supir Arya mendengus kesal, sudah sepuluh menit tapi mobilnya tak bisa bergerak sedikit pun sementara Arya masih sibuk dengan benda pipih yang digenggamnya sedari tadi.
Pak Akbar berdehem agar Arya bisa melihatnya. Arya pun paham, ia segera menoleh ke arah Pak Akbar.
"Mas, maaf soal sikap Mas yang kemarin sepertinya sudah menjadi buah bibir di kalangan orang-orang kantor, saya takut nanti sampai ke telinga Pak Harsya". Pak Akbar memulai percakapan.
"Sikap saya yang mana Pak?". Arya mengerutkan keningnya, ia tak mengerti.
"Yang ajak Karin masuk ke mobil".
Arya memiringkan kepalanya, ia mendesis.
"Ahh, ya... Saya juga gak ngerti Pak kenapa saya tiba-tiba bersikap seperti itu, kadang saya gak bisa k****l sikap saya sendiri, terjadi gitu aza". Arya pun sulit menjelaskannya.
"Ada baiknya Mas Arya menjaga jarak dengan Karin, menjaga omongan yang tidak-tidak di antara karyawan. Mas Arya kan selalu bilang, semua harus profesional, jangan mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan".
"Ya, saya paham". Arya pun sibuk kembali dengan gadgetnya.
**
Pagi ini Pak Aris menugaskan Rangga membersihkan selokan di belakang, banyak sampah tertimbun di sana membuat mampet aliran air dari kamar mandi sehingga airnya menggenang di pekarangan belakang kantor, menimbulkan bau yang tak sedap. Pak Aris juga menyuruh Karin membantu Rangga membersihkan semua genangan air itu juga mengepel dan mengelap kaca yang ada di sana.
"Rin, saya denger kamu mau melanjutkan sekolah ya?". Rangga bertanya memecahkan keheningan.
"Ya mau sebenernya, siapa sih yang mau cuma punya ijazah SMP, tapi saya juga bingung harus mulai dari mana". Karin sibuk dengan pel nya.
"Kayaknya saya bisa bantu kamu". Ucap Rangga santai memunguti sampah-sampah dari dalam selokan.
Karin menghentikan kegiatannya, menghampiri Rangga.
"Kamu beneran? Gimana caranya?". Karin penasaran, apakah mimpinya benar-benar bisa terwujud kali ini.
"Kakak ipar saya mengelola yayasan yang menjadi donatur tetap sebuah pesantren, dulu saya sekolah di sana. Di sana ada program paket C, jadwal belajarnya setiap hari sabtu dan minggu jadi gak ganggu kerjaan kamu". Ucapan Rangga membuat Karin berbinar-binar.
"Apa saya bisa daftar? Apa saja syaratnya? Tapi saya gak ada wali terus biaya... ". Karin yang tadi bersemangat berubah tertunduk lesu.
"Jangan sedih, yang gak punya orang tua bukan cuma kamu aza. Saya juga yatim piatu". Rangga berbicara dengan entengnya.
Karin menatap Rangga, tak ada kesedihan di wajahnya. Kenapa dia bisa setegar itu mengucapkannya.
"Tapi sepertinya saya jauh lebih beruntung, saya memiliki dua kakak yang hidupnya sudah sangat berkecukupan. Kakak laki-laki saya seorang data scientist di sebuah perusahaan asing makanya saya ikutin jejaknya, kuliah jurusan statistika. Kakak perempuan saya seorang dosen, dia salah satu dosen di kampus saya, suaminya juga seorang pengusaha salah satunya mengelola yayasan yang tadi saya bilang". Cerita Rangga.
"Berarti kamu dari keluarga berada, koq mau kerja begini?". Pantas saja penampilan dan motor Rangga pun terlihat dia memang orang kaya.
Rangga nyengir.
"Biar punya pengalaman aza, biar mandiri, tau rasanya cari uang sendiri. Dari kecil saya dibesarkan kedua kakak saya, kebetulan usia kami terpaut cukup jauh, orang tua saya sudah meninggal sejak saya kecil, jadi saya gak punya banyak kenangan sama mereka".
"Oh jadi ini alasan kenapa ia terlihat sangat tegar ketika membicarakan orang tuanya yang sudah tiada". Batin Karin.
"Soal biaya kamu gak perlu khawatir, saya pastikan kamu sekolah gratis yang penting kamu serius belajar". Perkataan Rangga bagaikan angin sejuk yang datang ke kehidupan Karin yang gersang.
"Tentu saja serius, saya memang pengen banget bisa melanjutkan pendidikan, minimal tamat SMA". Ucap Karin penuh semangat.
"Kalo punya mimpi jangan tanggung-tanggung, kamu bisa dapet beasiswa juga dari sana. Siapa tau kamu bisa kuliah bahkan ke luar negeri". Rangga menambah semangat Karin.
Karin terbelalak, kini sosok Rangga bagai malaikat di matanya. Mungkinkah Tuhan mendatangkan Rangga untuk mengabulkan semua doa-doanya selama ini.
"Udah nanti kita bahas lagi gimana selanjutnya, sekarang kita selesain dulu kerjaan kita ini".
"Siap!". Karin mengangguk mantap.
Tanpa sengaja Karin berpapasan lagi dengan Arya yang baru saja tiba. Arya memasang wajah dingin dan berlalu begitu saja, Karin menarik senyumnya yang sudah ia pasang begitu melihat Arya tadi.
"Aneh! Kemarin ramah banget, sekarang cueknya minta ampun. Tau lah". Karin menghentakkan bahunya. Kemudian ia berlari-lari kecil memutar-mutar kanebo yang ada di tangannya. Hari ini tak ada yang bisa menghancurkan kebahagiannya.
Tanpa Karin sadari Arya sempat melihat semua gerak-gerik Karin.
***
Hari-hari Karin kini diisi dengan kesibukan mengurus persyaratan untuk bisa sekolah kejar paket C. Kakak Rangga pun sudah menelponnya, menanyakan kesiapan Karin untuk segera masuk sekolah.
Sementara Melda semakin sibuk dengan Riki, bahkan mereka sudah jarang mengobrol karena setiap istirahat pun yang dilakukan Melda sibuk menelpon atau membalas chatnya Riki, mereka benar-benar semakin lengket, Karin pun sampai tak sempat protes mengenai sikap Riki yang menurutnya terlalu mata duitan selalu membahas tentang uang tak seperti Mas Arief yang tulus pada Melda. Terkadang ada perasaan menyesal kenapa dia mengenalkan Melda pada Riki di saat ada orang yang tulus sayang pada Melda seperti Mas Arief walaupun memang secara fisik mereka berbeda jauh. Riki yang kurus, tinggi putih, wajahnya bersih terawat sedangkan Mas Arief yang berperawakan subur, kulitnya yang hitam legam karena sering bekerja di luar juga wajahnya yang terlihat dipenuhi beberapa jerawat, sudah pasti sahabatnya itu lebih memilih Riki. Begitulah, fisik masih menjadi nomer 1.
Karin berjalan santai menuju kostnya, hari ini dia pulang cepat. Usai makan siang tadi petugas cleaning service dibubarkan karena orang-orang kantor mengadakan acara gathering dengan orang kantor pusat. Karin dan teman-temannya hanya masuk sebentar membersihkan kantor, setelah selesai dengan tugasnya masing-masing mereka boleh pulang.
Bu Winda hendak keluar ketika bertemu dengan Karin di pintu gerbang.
"Ibu mau ke mana? tumben bawa banyak barang". Tegur Karin.
"Oh ini, ibu mau nengokin Siska sekalian bawain barang-barang yang sekiranya dia perlu". Bu Winda mengangkat dua tas besar di tangan kanan dan kirinya.
"Boleh saya ikut bu? biar ibu juga ada yang bantuin bawa barangnya". Karin menawarkan diri.
"Serius kamu mau ikut?". Bu Winda seperti tak percaya.
"Iya kalo boleh".
"Wah, ibu malah seneng jadi ada temen ngobrol di jalan. Ya udah yukk". Ajak Bu Winda.
Karin kegirangan tak menyangka Bu Winda mau mengajaknya, ia pun gegas membawa satu tas agar Bu Winda tidak kerepotan.
***
Menjelang maghrib mereka baru sampai di panti rehabilitasi, jaraknya memang lumayan jauh, sudah terbilang keluar kota dari tempat tinggal mereka.
Bu Winda menemui petugas di sana lalu memberikan semua barang yang dia bawa. Mereka disuruh menunggu dulu, karena sudah maghrib, Karin dan Bu Winda pun mencari mushola.
Seorang petugas menghampiri mereka di ruang tunggu, usai Karin dan Bu Winda menunaikan sholat maghrib.
"Maaf Bu, tadi saya sudah menyampaikan pesan ibu tapi sepertinya Siska belum siap bertemu, dia menolak dan kebetulan sekarang semua pasien sedang melaksanakan pembinaan keagamaan, untuk yang muslim sedang mengaji di surau. Kalo ibu mau, bisa lihat saja dari jauh, suraunya terlihat dari taman di belakang". Unjuk petugas itu.
"Kalo begitu bisa tolong tunjukkan?". Pinta Bu Winda.
"Iya, mari saya antar". Bu Winda dan Karin pun mengikuti petugas itu.
Bu Winda dan Karin akhirnya duduk di taman belakang, duduk di kursi panjang berwarna putih. Pemandangan dari sana memang langsung tertuju ke surau. Bu Winda mengenali sosok keponakan tersayangnya dengan mukena berenda warna keemasan, mukena yang ia beli lebaran tahun lalu.
"Kamu tau Rin, kenapa ibu sayang banget sama Siska?". Tanya Bu Winda dengan tatapan yang tetap tertuju ke surau itu.
"Siska kan memang keponakan ibu, sudah pasti ibu sayang banget sama dia". Jawab Karin pasti.
Bu Winda menggelengkan kepalanya.
"Bukan hanya itu. Saya seperti melihat diri saya dua puluh tahun yang lalu ketika melihat dia".
"Maksud ibu?". Karin belum paham arah pembicaraan Bu Winda.
"Dulu juga waktu sekolah, Siska pernah menjadi pemakai obat-obatan terlarang namun ibu berhasil membujuknya sehingga ia berhenti dan ibu tidak menyangka ia terjerumus lagi. Sebenarnya ibu tidak terlalu menyalahkan dia karena terlibat narkoba. Ia begitu karena mungkin itu satu-satunya jalan pelarian dia dari segala masalah hidupnya".
"Tapi bagaimana pun juga tetap salah Bu, seberat apapun masalahnya seharusnya bukan itu jalan keluarnya, justru itu menambah masalah". Karin tidak setuju pada ucapan Bu Winda.
"Saya paham Rin tapi tidak semua orang bisa memilih jalan yang benar, selalu ada orang-orang yang terjebak seperti Siska dan orang-orang yang bisa memilih jalan yang benar seperti kamu. Hidup itu penuh pilihan kan Rin?".
Kali ini Karin hanya terdiam.
"Siska itu seumur hidupnya menyaksikan ibunya dipukuli oleh ayahnya sendiri. Ayahnya seorang pemabuk berat. Dulu waktu kecil ketika ayahnya pulang, ibunya selalu mengunci dirinya di kamar agar tak ikut menjadi sasaran pukulan ayahnya". Bu Winda menarik napas mengenang kembali masa kecil Siska.
Karin mendekati Bu Winda mengusap punggungnya lembut.
"Ibunya Siska, kakak saya tidak pernah mengadu pada siapapun tentang perilaku suaminya itu, mungkin ia tak mau menyusahkan ibu kami atau menambah beban ibu karena dulu kami pun mengalami hal yang sama. Ibu kami dipukuli ayah sepanjang hidupnya lalu ayah kami meninggalkan keluarga begitu saja. Mungkin benar yang dikatakan orang. Anak perempuan cenderung memilih laki-laki yang mirip dengan ayahnya. Seperti kakak saya yang ternyata memilih suami tukang pukul seperti ayah dan saya juga ditinggalkan oleh suami seperti ayah yang pergi meninggalkan kami juga". Kini Bu Winda tak sanggup membendung air matanya.
Karin pun mengeluarkan tissu dari tasnya. Ia tak bisa berkomentar, Karin merengkuh bahu Bu Winda.
"Terakhir kali Siska nekad melapor ke polisi karena ia lihat ibunya tak sadarkan diri setelah dipukuli ayahnya. Dan ternyata ibunya tak selamat ada pendarahan di dalam karena luka yang terlalu sering dan beberapa tulang rusuknya pun patah. Ayahnya akhirnya di penjara dan mendapat hukuman seumur hidup". Bu Winda berhenti berbicara, suasana menjadi hening, keadaan di luar seperti ini semakin gelap karena hanya ada empat lampu taman di taman seluas ini. Dingin mulai menyergap terasa menembus ke tulang, suara jangkrik pun mulai terdengar.
Karin ikut terdiam, ia tak menyangka sosok Siska yang terlihat sangar dan cuek ternyata menyimpan luka yang dalam.
"Maaf, apa ibu juga memilih jalan seperti Siska? lalu suami ibu, apa dia juga suka memukuli ibu?". Karin mulai berani bertanya.
"Alhamdulillah semua itu tidak terjadi pada saya. Saya dulu sama terpuruk seperti Siska tapi tidak sampai terjerumus ke dalam obat-obatan terlarang karena dulu pergaulan saya tidak seperti Siska dan saya beruntung punya saudara seperti kakak saya, ibunya Siska yang selalu ada untuk menguatkan. Makanya saya begitu kehilangan dia dan Siska pun pasti merasakan hal yang sama. Kalo soal suami ibu, saya anggap dia laki-laki bodoh, menginginkan anak tapi tidak tahu kalo dia yang lemah. Saya sudah periksa ke dokter ternyata tak ada masalah, saya subur dan justru hasilnya suami saya yang bermasalah. Saya mencoba menutupinya karena kasihan tapi malah dia seenaknya pergi. Biarlah, sampai kapan pun dia gak akan pernah bisa punya anak karena yang bermasalah itu memang dirinya". Kini raut wajah Bu Winda berubah kesal.
"Ibu hebat, ibu wanita yang sangat kuat. Allah sudah memilih ibu menjadi wanita pilihan karena Allah tau cuma ibu yang sanggup menjalani semua ini". Karin mencoba menghibur Bu Winda.
"Sama seperti kamu, ibu juga salut sama kamu. Kamu gadis yang jauh lebih kuat, diterpa cobaan yang berat diusia muda". Bu Winda mengusap punggung tangan Karin.
Karin terpaku, Karin ingat selama ini hanya Bu Winda yang tahu mengenai dirinya bahkan dulu ketika mengurus surat-surat dan KTP dirinya juga dibantu Bu Winda.
"Ibu, apa ibu tau sesuatu tentang saya?". Karin mencari wajah Bu Winda yang sedari tadi menunduk.
Bu Winda gelagapan, ia memalingkan wajahnya.
"Ka-kamu ngomong apa? Ibu gak ngerti". Ada sesuatu yang ia tutupi.
"Saya ingat saya mengalami kecelakaan lalu bagaimana dengan ibu dan adik saya? Ibu tau sesuatu tentang keluarga saya?". Karin terus bertanya.
'Kecelakaan? Jadi Karin ingat tentang kecelakaan itu?'. Batin Bu Winda, ia ingin mengatakan sesuatu tapi ia teringat janjinya.
"Kecelakaan? Ah iya, saya ketemu kamu waktu kecelakaan itu, sebagai manusia yang harus saling menolong setelah kecelakaan itu saya bawa kamu ke kost, tidak ada informasi apa-apa soal kamu, hanya selembar ijazah. Saya juga buat surat-surat sama KTP berdasarkan keterangan ijazah kamu itu". Nada bicara Bu Winda terkesan aneh, membuat Karin curiga.
'Benarkah seperti itu? Apa ada yang ditutup-tutupi?'. Karin bertanya dalam hati.
"Jadi ibu bener-bener gak tau keluarga saya?". Karin masih merasa Bu Winda menyembunyikan sesuatu.
"Eng-gak, ibu gak tau apa-apa. Ibu sudah berusaha mencari informasi tentang kamu setelah kecelakaan itu tapi tidak ada hasil, buktinya setelah empat tahun berlalu tidak ada yang mencari kamu kan?". Bu Winda meyakinkan Karin.
'Empat tahun yang lalu? Ah iya Annisa, gadis itu selalu bilang empat tahun yang lalu. Sepertinya aku harus mulai bertanya padanya'. Gumam Karin dalam hatinya.
"Sudah malam sebaiknya kita pulang sekarang ya". Bu Winda beranjak, ia tak mau terus ditanya-tanya oleh Karin.
Mereka pun keluar dari panti rehabilitasi itu dan berjalan pulang menembus kegelapan malam.
***
Bersambung ke Bab 11.