Bab 9 : Cemburu

4216 Kata
"Rin, bangun ya. Kamu kan lagi giat belajar, kamu udah bisa nyalain laptop aku, ngetik biodata kamu pake bahasa Inggris. Jadi ayo sekarang bangun, kita belajar lagi". Irma menggenggam erat tangan Karin yang masih terbaring tak sadarkan diri. Seseorang menepuk bahu Irma, Lina datang. "Kamu pasti belum makan, nih aku bawain makanan, kita makan di kantin ya". Ajak Lina yang membawa bungkusan. Irma mengangguk pelan, mereka berjalan menuju kantin. "Udah seminggu tapi Karin belum sadar juga Kak, gimana ini?". Tanya Irma yang hanya mengaduk makanannya, ia tak selera. "Berdoa aza terus, Karin itu anaknya kuat, dia pasti bangun, kamu harus percaya itu". Lina mencoba meyakinkan Irma, sejujurnya dalam hatinya ia juga takut. Takut Karin tidak akan bangun lagi. "Aku gak habis pikir kenapa Bu Winda bisa setega itu". Suara Irma semakin serak, bulir bening mengambang di kedua matanya. "Terkadang kita mampu melakukan segala cara demi orang yang kita sayang dan aku rasa tindakan Bu Winda kemarin karena dia terlalu sayang sama Siska walaupun caranya salah. Aku bukan membela Bu Winda tapi kamu tau sendiri kan Bu Winda udah minta maaf berkali-kali dan mengaku kalo dia kelepasan. Sekarang kita fokus sama kesehatan Karin aza, urusan Bu Winda nanti belakangan kita bahas lagi kalo Karin udah sadar ya". Lina mencoba tersenyum di depan Irma agar ia tak larut dalam kesedihan. Semua orang mengkhawatirkan kondisi Karin. Melda dan Intan pun setiap hari berkunjung, mereka berempat bergantian menjaga Karin. Karin tak punya keluarga jadi siapa lagi yang akan merawatnya kalau bukan mereka teman-temannya. Karin memang beruntung memiliki sahabat yang selalu ada dalam situasi apapun. Lina dan Irma kembali ke kamar setelah mengisi perut mereka. Mereka mendapati Intan dan Melda sudah berada di sana. "Eh kalian udah pada dateng". Sapa Lina. "Iya gantian aza, kalian pulang istirahat. Biar saya sama Melda yang jaga malam ini". Kata Intan dengan senyumannya. Lina dan Irma pun pamit pulang setelah membereskan barang-barang mereka, Irma berjanji besok siang datang untuk giliran berjaga lagi. ** "Tan, kenapa gak laporin aza itu pemilik kost yang mukulin Karin. Bu Winda yang jahat itu". Ujar Melda ketika Intan mengajak keluar kamar mencari udara segar. "Kamu inget kan apa kata temen-temen kost Karin? Bu Winda udah minta maaf dan mohon-mohon supaya jangan lapor polisi karena kalo dia sampe ditangkap juga, dia takut gak ada yang ngurus keponakannya itu, siapa yang nemenin sidang? yang jenguk? Lagipula dia udah ngakuin kesalahannya kan, semua biaya rumah sakit juga dia yang bayar sebagai bentuk tanggung jawabnya". "Ya tetep aza dia salah harus dihukum udah bikin Karin kayak gini, kalo Karin gak bangun lagi gimana?". Melda pun sewot. "Huss... Gak boleh ngomong kayak gitu, ucapan itu doa. Lebih baik berdoa terus biar Karin cepet sadar. Aku yakin kalo Karin bangun, dia juga pasti maafin Bu Winda, kamu tau kan Karin tuh anaknya baik, gak tegaan, gak enakan sama orang. Keputusan soal Bu Winda biar serahin aza sama Karin nanti kalo dia udah sadar". Pendapat Intan tak beda jauh dengan Lina. "Tapi sampe kapan ditutup-tutupin? Semua orang kantor tanya kenapa Karin sakit lama banget, sampe mereka mau jenguk semua tapi gue bilang aza Karin dijemput keluarganya, balik dulu ke kampung". "Loh, bukannya orang kantor pada tau ya kalo Karin gak punya keluarga? Terus koq bisa kamu alesan gitu?". Intan bingung. "Ya gue alesan aza, ada sodara jauhnya yang baru tau keadaan Karin. Ya pokoknya gitu deh gue jadi tukang bo'ong". Melda memang kesal harus berbohong terus kepada orang kantor mengenai kondisi Karin. "Iya sebaiknya emang jangan ada yang tau apalagi atasan-atasan kamu, bisa panjang. Mereka pasti banyak tanya dan akhirnya bakal nuntut pelaku dilaporin. Ya mudah-mudahan Karin cepet sadar ya jadi kamu gak harus bohong terus". "Aamiin". Melda mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. ** Semakin malam udara semakin dingin, apalagi Intan dan Melda harus tidur di lantai, di bawah tempat tidur Karin. Untungnya Lina menyediakan kasur lipat, walaupun tipis lumayan untuk alas tidur. Melda terbangun ingin ke kamar mandi, ia melihat Intan yang menggigil, merapatkan kaki dan tangannya. Segera Melda mencari selimut dari dalam tasnya, tadi dia sengaja bawa dari rumah karena tahu pasti kedinginan kalau tidur malam. Melda pun menyelimuti Intan, untuk dirinya cukup ditutupi jaket yang memang sedang ia kenakan. Melda tak dapat tertidur kembali selepas dari kamar mandi tadi, ia duduk di samping Karin. Menatap Karin dengan penuh rasa iba, entah kapan ia akan tersadar. Karin mengalami cedera otak dan menjalani operasi, walaupun operasinya dikatakan berhasil tapi tetap dokter tidak dapat memastikan kapan ia akan tersadar hanya memberi saran agar sering diajak berbicara. "Lo tau gak Rin, Temen-temen sama orang-orang kantor nanyain lo terus. Oh ya Pak Arya juga nanya loh, mungkin udah lama dia gak liat orang yang biasanya anter minuman ke ruangannya. Gue jadi bohong deh, bilang kalo lo lagi pulang kampung. Please Rin bangun ya, sampe sekarang Pak Aris belum dapet karyawan baru ditambah lo juga gak ada, kasian kan temen-temen yang lain kecapean. Apalagi gue sampe kurus gini Rin, jadi besok lo harus bangun ya". Melda terus berusaha mengajak Karin berkomunikasi, ia tahu walaupun tak dapat merespon tapi pasien bisa memahaminya, begitu kata dokter. Melda pun menguap dan akhirnya tertidur di samping Karin. "Mel, bangun Mel". Intan menggoyang tubuh Melda. Melda membuka matanya, mengusap dengan punggung lengannya. "Kamu koq tidur di situ? kesempitan ya? maaf ya tidur aku makan tempat". Intan merasa bersalah. "Eh, gak koq. Yang ada gue yang gede gini makan tempat. Semalem cuma gak bisa tidur aza terus ngajak Karin ngobrol". Terang Melda. "Kamu cepet beres-beres aza nanti telat kerja, biar aku yang jaga, aku udah izin koq hari ini. Kalo kamu kan udah kemarinnya bolos kerja jadi hari ini harus masuk kerja". Perintah Intan pada Melda. "Hhmm... gue pengennya di sini aza tapi emang gak enak juga sih kalo izin terus". "Iya kasian temen kerja kamu yang lain, udah jalan aza sana, nanti ada perkembangan apapun pasti langsung aku kabarin". Melda pun setuju dan ia pulang untuk masuk kerja. ** Melda berjalan lemas menuju ruang loker, sesekali ia menguap, dirinya masih mengantuk. Setelah berganti pakaian dan keluar, Melda melihat Pak Aris berjalan dengan seorang pria dengan pakaian hitam putih khas karyawan yang baru melamar pekerjaan. Pria tersebut kelihatan masih remaja terlihat dari tampangnya yang masih kanak-kanak, mungkin sebaya dengan Karin. "Mel, ayo masuk ke ruangan saya dulu". Pinta Pak Aris ketika mereka berpapasan. Ternyata yang lain sudah berkumpul di ruangannya. Pria yang Melda lihat masih berdiri di samping Pak Aris. "Temen-temen, kenalin ini Rangga. Dia petugas cleaning service yang baru. Hari ini dia mulai bekerja, tolong kalian bantu ya". Pak Aris memperkenalkan pria itu yang ternyata karyawan baru. "Dan Rangga, kalo kamu kesulitan atau ada hal yang kamu belum paham bisa tanya ke senior-senior kamu itu ya". Pak Aris menunjuk kepada ke empat karyawan di depannya itu. Rangga tersenyum kepada senior-seniornya itu seraya menundukkan kepalanya memberi hormat dan mereka pun membalas senyumannya. Hal yang wajar bagi seseorang yang baru mulai bekerja mengalami kebingungan apalagi bagi Rangga ini adalah pengalaman pertamanya bekerja namun ia termasuk orang yang cepat tanggap dan gesit, ia juga mudah bergaul sehingga beberapa orang di kantor pun sudah ada yang mengenalnya, begitupun dengan Dayat dan Daus, mereka tampak senang dengan adanya Rangga. ** "Sini Mel gabung". Dayat memanggil Melda yang baru masuk ke ruang istirahat. Ada Daus dan Rangga juga di sana, "Jadi trio OB". Kata Melda begitu ia masuk. Melda menarik kursi di sebelah Rangga dan duduk di sana. Wajahnya terlihat lesu. "Kalian udah pada makan belum? gue laper tapi males banget keluar". Melda merebahkan kepalanya di atas meja. "Kakak mau makan apa? sini saya beliin aza". Rangga menawarkan diri. "Hah? seriusan lo?". Melda mengangkat kepalanya, menatap lurus wajah Rangga seperti tidak percaya ucapan Rangga barusan. Rangga mengangguk dengan senyuman lebar, parasnya nampak manis setelah Melda lihat lebih dekat seperti sekarang. Kulitnya yang memang hitam manis, juga hidungnya yang mancung ditambah mata besar dengan bulu mata lentik sungguh membuat Melda iri sebagai wanita. "Kakak mau makan apa?". Tanyanya lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Melda. "Nasi padang aza, pake ayam bakar, sambelnya yang banyak ya". Melda pun mengeluarkan uang lima puluh ribu dari saku celananya. "Siap Kak, tunggu ya". Rangga menerima uang dari Melda dan berjalan keluar. "Tuh anak emang rajin tau". Seru Dayat setelah Rangga pergi. "Masih muda juga, seumuran Karin dia. Baru masuk kuliah. Katanya kerja buat biaya kuliahnya. Sebenarnya udah dilarang katanya sama Kakaknya tapi dia pengen mandiri". Cerita Daus. "Widih, Daus udah kenal banget nih". Melda bertepuk tangan. "Ya kan tadi bersihin rumput di taman berdua jadi sambil ngobrol-ngobrol". Jelas Daus. "Oh ya nih dia bawa makanan dari rumahnya, kita aza gak beli makan. Kenyang makan bareng ini tadi". Dayat membuka wadah makan tiga susun yang ada di atas meja. Isinya ada spaghetty dan chicken wings juga ada dimsum yang masih tersisa banyak. "Mewah juga ya bekal makanannya". Ujar Melda. "Ya kan? saya juga bilang gitu tadi, katanya itu kakaknya yang bawain bekal. Rangga sendiri baru tau isinya tadi, jangan-jangan dia tuh orang kaya yang lagi nyamar jadi OB lagi". Dayat berkelakar. "Dah kayak FTV aza lo Bang". Melda terkekeh. "Iya, kebanyakan nonton sinetron sih". Ucap Daus ikut tertawa. Rangga datang membawa pesanan makanan Melda dan ia menolak uang pemberian dari Melda sebagai tanda terima kasih. Rangga justru sibuk mencari Mpok Wati ingin memberi bekalnya juga biar semua orang bisa ikut mencicipi katanya. "Kayaknya cocok tuh dia ama Karin, coba Karin udah masuk kerja". Dayat berujar. 'Uhuk!'. Seketika Melda terbatuk mendengarnya. "Pelan-pelan Mel makannya, baca doa dulu". Daus menyodorkan air mineral kepada Melda dan langsung diteguknya. Melda mengangguk, hatinya terasa sakit ketika nama Karin disebut, orang-orang di sini tidak tahu bagaimana kondisi Karin yang sebenarnya sekarang. *** Melda bertemu dengan Lina di pelataran rumah sakit, keduanya langsung ke sana sepulang bekerja. Ada Intan dan Irma sedang fokus dengan gadget mereka masing-masing. Sekarang Ruang Teratai kamar Karin dirawat sepi tidak ada pasien lain, pasien tersebut sudah pulang tadi siang. Ruang Teratai ini memang kelas 1 yang diperuntukkan bagi dua pasien saja. Bu Winda memang sengaja meminta kelas 1 untuk ruang rawat inap Karin, ia lakukan segala yang terbaik sebagai bentuk penyesalan dan permintaan maafnya. Sore menjelang malam, mereka berempat tak ada yang ingin beranjak dari rumah sakit. Semua bersikeras ingin menjaga Karin malam ini. Melda tertidur di kasur kosong bekas pasien yang sudah pulang, Lina duduk sambil sibuk dengan laptopnya, ada tugas kantor yang harus segera ia selesaikan. Sedangkan Irma asyik nonton TV yang tersedia di kamar tersebut, sementara Intan duduk di samping Karin menyeka wajah dan badan Karin dengan kain hangat agar lebih bersih, sesekali ia pun mengajak Karin berbicara. "Rin, bukan cuma temen-temen kerja kamu aza yang nanyain, Dika sama Maher juga. Harusnya kan minggu kemarin kamu mulai terapi, minggu ini jangan kelewat lagi ya, makanya kamu harus cepet bangun". Intan menyeka jemari Karin. Tiba-tiba telunjuk Karin bergerak, Intan belum percaya takut ia salah liat. Intan pun memperhatikan kembali, tak hanya sekali, kali ini telunjuknya bergerak dua kali. Intan berteriak membuat kaget semua orang. "Guys, coba liat sini". Panggil Intan seketika. Semuanya menghampiri. "Coba kalian perhatiin, aku gak salah liat kan? jari Karin bergerak". Pekiknya senang. Dalam waktu tiga detik saat semua mata menatap, jemari Karin mulai bergerak lagi, berurutan, telunjuk, jari tengah, jari manis dan perlahan semuanya bergerak berbarengan. "Aku panggil dokter". Teriak Lina keluar Kamar. Seorang dokter jaga masuk, ia memeriksa kondisi Karin, kini mata Karin pun ikut bergerak-gerak. dokter membuka mata Karin dan melihat dengan senter. "Bagus, sepertinya pasien sudah sadar". Ucap dokter penuh senyum. "Alhamdulillah". Teriak mereka berbarengan, rasa syukur memenuhi ruang kamar tersebut. Kini mata Karin sudah terbuka walaupun belum sepenuhnya, dokter memeriksa kembali menanyakan keadaannya dan Karin dapat merespon walau hanya dengan anggukan dan gelengan kepala. "Kamu tau siapa saya?". Tanya dokter menunjuk dirinya sendiri. Karin mengangguk. "Kamu bisa liat jelas orang-orang di sekitar kamu ini? kamu kenal?". dokter bertanya lagi untuk memastikan. Karin menganguk kembali. Irma loncat kegirangan, ia berpelukan dengan Lina. Intan menatap Karin dengan penuh senyum dan Melda melambai-lambaikan tangannya dengan mimik muka konyol membuat Karin tertawa, terlihat dari bahunya yang ikut berguncang. dokter melepas alat bantu napas agar Karin dapat leluasa berbicara kemudian membiarkan mereka melepas rindu pada temannya yang baru tersadar ini. Karin sudah bisa duduk bersandar, ke empat temannya duduk mengelilingi dirinya, mereka mulai ramai bercerita. Karin hanya bisa mendengarkan dan merespon dengan ekspresinya, untuk berbicara ia belum terlalu bisa masih sedikit kesulitan. Malam ini merupakan malam yang penuh kebahagiaan bagi kelima orang itu. *** Pagi-pagi sekali Intan dan Melda pamit untuk berangkat kerja, tinggal Lina yang memang sudah izin tidak masuk kerja hari ini, juga Irma yang jadwal kelasnya baru nanti siang. Karin sudah mulai bisa berbicara walaupun masih terbata-bata, menunggu dokternya visit nanti siang untuk memeriksa kondisinya. lina menyuapi Karin dengan menu makanan yang disediakan rumah sakit pagi ini, Irma ikut menemani di sampingnya, melihat Karin sudah bisa beraktifitas kembali membuatnya sangat senang, ia terus mengajak Karin bercanda agar sahabatnya itu selalu tersenyum dan dapat secepatnya pulih. Irma menyadari bahwa kebahagiaan dapat meningkatkan imun yang membuat pasien akan cepat sembuh dan kembali sehat. Kabar Karin yang sudah siuman juga diketahui oleh Bu Winda, setiap hari ia memang memantau perkembangan Karin melalui dokternya. Pagi ini pun Bu Winda bergegas ke rumah sakit, ia berjalan cepat menuju kamar Karin. Tak disangka reaksinya tersebut menimbulkan kecurigaan pada Irma, ketika Bu Winda masuk, seketika Irma menutupi Karin dengan tubuhnya dan ia merentangkan kedua tangannya berusaha menghalangi Bu Winda yang seperti terburu-buru ingin menemui Karin. Irma benar-benar trauma dengan kejadian waktu itu, kejadian saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Karin dihajar habis-habisan, walaupun Bu Winda sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf namun kejadian itu tetap membekas di ingatannya membuatnya sedikit ketakutan dan bereaksi seperti sekarang. "Maaf, Ibu gak ada maksud apa-apa. Ibu hanya ingin meminta maaf langsung sama Karin". Wajahnya sendu, ia seperti hendak menangis. Irma masih memasang posisi melindungi Karin, melirik pada Lina yang mengedipkan mata sambil mengangguk pelan seakan memberi tanda bahwa 'Tidak apa-apa, tenang saja'. Irma pun bergeser memberi ruang pada Bu Winda untuk mendekati Karin namun sikapnya terlihat ia tetap waspada. Bu Winda membekap sebagian wajahnya dengan kedua tangannya, tubuhnya berguncang menandakan ia menahan tangis, air matanya mulai menetes, ia memeluk Karin. Diusapnya kepala Karin yang masih memakai perban tebal. Karin tersenyum ketika Bu Winda menatapnya tak ada rasa marah apalagi dendam di wajahnya membuat Bu Winda semakin merasa bersalah. "Maafin Ibu ya Rin". Tangannya memangku wajah Karin dan jemarinya mengusap lembut pipi Karin. Karin mengangguk. "Iya Bu". Jawab Karin lirih. Kembali Bu Winda memeluk Karin erat terasa kini ia menyayangi gadis itu. *** Karin sudah kembali ke kostnya, Bu Winda yang menjemputnya bersama ke empat temannya menggunakan taxi online. Kebetulan Karin keluar rumah sakit hari minggu jadi semua temannya bisa ikut mengantarnya pulang. dokter menyarankan agar Karin beristirahat total dulu, ia pun dilarang bekerja untuk sementara waktu. Karin mulai merasa bosan baru dua hari beristirahat, tak ada kegiatan yang bisa ia lakukan, ia ingin secepatnya kembali bekerja. Siang ini Bu Winda datang, ia membersihkan kamar Siska. Sekarang itu menjadi kegiatan rutinnya setiap dua atau tiga hari sekali. Sebelumnya ia mengirim buah dan beberapa cemilan ke kamar Karin dan sisanya seperti biasa ia taruh di kulkas di dapur agar bisa dimakan bersama. "Loh, Ibu sudah mau pulang?". Tanya Karin selepas dari kamar mandi, melihat Bu Winda mengunci pintu kamar Siska. "Iya, Ibu pulang dulu ya". Bu Winda melangkah. "Oh ya Bu, kabar Siska gimana?". Tanya Karin ragu-ragu sebenarnya ia masih takut bila membahas Siska. "Alhamdulillah kemarin putusan sidangnya dia direhabilitasi karena Siska memang hanya pemakai dan dia juga kerja sama membantu polisi menangkap bandarnya". Raut wajah Bu Winda tampak senang. "Syukurlah kalo begitu Bu". Karin pun kini merasa lega. Hape Karin berdering, Intan menelponnya. Bu Winda pun pamit. "Rin, Dika udah re-schedule jadwal terapi kamu. Kamu udah bisa mulai terapi lagi minggu ini?". Tanya Intan di ujung sambungan. "Bisa Kak, aku juga udah bosen di kamar terus. Ini juga pengennya masuk kerja". "Inget kata dokter harus istirahat dulu, oh ya jadwal terapi kamu sekarang siang ya habis makan siang" "Oke kak". Panggilan berakhir. *** Tanpa sepengetahuan teman-temannya Karin sudah kembali masuk kerja, ia tak tahan hanya tidur-tiduran terus di kasurnya. Kedatangan Karin disambut meriah oleh rekan kerjanya begitu juga orang kantor yang hampir dua minggu tidak melihat wajah Karin yang biasanya wara-wiri di ruangan mereka. Sebenarnya Melda kesal karena Karin bandel tak mengindahkan saran dokter namun rasa senangnya mengalahkan itu, ia senang bisa bekerja bareng dengan karin lagi. "Kenalin saya Rangga, saya OB baru di sini". Rangga mengulurkan tangan ketika bertemu dengan Karin untuk pertama kalinya. "Karin". Jawabnya membalas uluran tangan Rangga dengan canggung seperti biasa ketika baru bertemu dengan orang terutama seorang pria. "Saya sudah denger banyak cerita tentang kamu, ternyata kita seumuran". Rangga mencoba bersikap ramah. Karin nyengir, tidak tahu lagi harus menjawab apa. Sebelum berlalu pergi ia menyuruh Rangga agar bersiap untuk bekerja. Rangga terus menatap Karin yang sudah berlalu, entah kenapa jantungnya berdebar, menatap lengan yang tadi sempat bersalaman dengan Karin, ia merasakan tubuhnya melayang. "Apa ini rasanya jatuh cinta". Gumamnya tersenyum sendiri. ** Arya berpapasan dengan Karin di pintu lift, wajahnya sumringah menatap Karin yang kini berdiri di hadapannya. "Karin, apa kabar kamu?". Arya tidak bisa menahan untuk tidak menyapanya. "Saya baik Pak". Karin berjalan keluar dari lift. Ingin Arya mengajukan banyak pertanyaan pada Karin yang sudah lama tidak dilihatnya namun Pak Akbar yang sudah mempersilahkannya segera masuk dan naik lift pun membuat Arya hanya terdiam menyaksikan Karin hilang dari pandangannya. Seharian ini Rangga berusaha bisa dekat dengan Karin, mengajaknya bercanda agar mereka lebih akrab dan usahanya tak sia-sia karena ia memang anak yang supel membuat Karin mulai bisa membuka diri dan tak terlalu kaku. Punya rekan kerja baru seperti Rangga membuat sesuatu yang berbeda bagi Karin. Suara ketukan pintu terdengar di ruangan Arya, Pak Akbar masuk. "Mas, sudah waktunya makan siang. Mas gak keluar atau perlu saya bawakan makanan?". Pak Akbar bertanya karena Arya tak kunjung keluar dari ruangannya di saat jam makan siang seperti sekarang, tidak biasanya. "Saya lagi gak berselera Pak, saya di sini saja". Arya tak menoleh, matanya tetap menatap keluar jendela. Tak ada yang bisa Pak Akbar lakukan, ia paham bagaimana sikap Arya ketika tidak mau diganggu seperti sekarang. Pak Akbar pun pergi. Arya masih tertegun di depan jendela yang menghadap ke taman itu. Matanya membulat ketika ia menyaksikan ada dua sosok sedang duduk berdua di taman, di sana memang terdapat kursi-kursi yang berbentuk batang pohon disusun melingkar dengan meja di tengahnya yang berbentuk sama, di atasnya terdapat kanopi yang terbuat dari tiang kayu yang dihiasi dedaunan merambat. Walaupun di luar panas namun duduk di sana tetap sejuk karena sesekali angin berhembus menerpa pohon-pohon rindang yang ada di taman tersebut. Arya memperjelas penglihatannya, wajah itu tersenyum lebar kepada laki-laki yang duduk berdua dengannya. "Karin!". Serunya dalam hati. "Sedang apa dia? Siapa laki-laki itu?". Arya terus bertanya sendiri. "Ah, apa urusannya denganku". Ia mencoba acuh, duduk di kursinya dan mebuka-buka hapenya. Pikirannya tetap kembali pada Karin yang sedang duduk di taman. Arya gelisah, ia kembali berdiri menatap keluar jendela. Kini ia melihat laki-laki itu memberikan minum pada Karin yang kemudian dibalas senyuman. Tiba-tiba hatinya terasa panas terbakar, ia pun mengambil jasnya kemudian keluar dari ruangannya. Arya berdehem ketika ia sampai di taman, sesekali membenarkan letak dasinya. Karin segera berdiri melihat Arya, diikuti Rangga yang dalam masa kebingungan. "Kenapa kalian di sini? bukannya kerja". Arya memasang muka tegas dan jutek. "Maaf Pak, kan ini waktunya istirahat". Jawab Rangga polos. Arya salah tingkah mendengar jawaban Rangga, ia merasa bodoh telah bertanya tadi. "Ya, maksud saya kenapa di sini?". Arya tetap jutek, ia tak mau terlihat bodoh dan memalukan di depan kedua karyawannya ini. "Memang...". Rangga hendak menjawab lagi namun Karin menyenggolnya. "Maaf Pak, tidak seharusnya kami di sini. Kami mohon maaf ya Pak, permisi". Karin menarik tangan Rangga meninggalkan Arya yang semakin nampak kesal melihat Karin dekat dengan laki-laki yang baru dia lihat. "Sebentar Rin". Rangga menghentikan langkahnya setelah dirasa jauh dari Arya. "Memang kita salah apa harus minta maaf segala? lagi pula gak ada larangan kan buat duduk-duduk di sana". Rangga kesal. "Kamu tau itu siapa? itu boss kita, direktur kantor ini". Suara Karin lantang tak suka kalau Rangga bersikap tidak sopan pada atasan mereka. "Ya terus kalo boss kenapa? kan kita cuma duduk terus...". Belum lagi Rangga meneruskan kalimatnya, Karin memotong. "Huss... Udah jangan membela diri terus. Taman itu milik Pak Harsya pemilik perusahaan ini, ayahnya Pak Arya. Secara tidak tertulis taman itu dilarang untuk karyawan, orang kantor aza gak ada yang berani ke situ. Salah saya memang kenapa mau diajak kamu ke situ tadi". Kini Karin yang kesal, ia menyalahi dirinya sendiri. Mukanya ditekuk. Rangga ikut menyesal melihat karin seperti itu, ia meminta maaf tak ingin melihat wajah Karin yang berubah sedih sekaligus marah seperti itu. "Sorry kalo gitu berarti saya yang salah. Nanti saya minta maaf langsung sama Pak Arya, saya janji. Kamu jangan marah lagi ya nanti pulang kerja saya beliin es krim". Jari telunjuk dan jari tengah Rangga terangkat. "Ihh, apaan sih? gak usahlah". Karin merasa Rangga meledeknya, menganggap ia seperti anak kecil yang dirayu dengan es krim. "Pokoknya harus mau!". Rangga berlari meninggalkan Karin. Karin hanya bisa geleng-geleng kepala dan menarik napas panjang, bingung dengan orang yang baru dia kenal ini. *** 'Tin... Tin... Tin...' Suara klakson bersahutan di pintu keluar kantor, antrian mobil yang hendak keluar mulai panjang. "Ada apa ini Pak?". Arya bingung baru pertama kalinya keluar kantor bising dan macet seperti ini. "Sebentar Mas, saya cek dulu". Pak Akbar keluar dari mobil. Lima menit sudah Pak Akbar juga tak kembali. Arya pun keluar penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Terlihat Pak Akbar tengah sibuk menarik motor sport merah yang ban nya selip masuk ke dalam parit kecil yang berada tepat di pintu keluar. Ada Karin juga yang ikut memperhatikan di sana sambil memeluk helm, ternyata motor itu milik laki-laki yang tadi siang bersama Karin. Rasanya puas Arya melihat laki-laki itu dalam kesulitan, ia tertawa sinis namun tetap ia mencari bantuan karena Pak Akbar kesulitan mengangkat motor besar itu sendiri. Arya memanggil beberapa security untuk membantu. "Kamu kenapa di sini?". Arya mendekati Karin. "Saya mau pulang bareng Rangga Pak". Jawab Karin polos. Dada Arya terasa terbakar lagi mendengarnya, darahnya serasa mendidih. Ia menarik helm yang sedari tadi dipeluk Karin dan memberikannya pada Rangga kemudian menarik lengan Karin. "Kamu pulang sama saya saja, biar saya yang antar. Pak Akbar, saya bawa mobil sendiri nanti Bapak bisa langsung pulang". Arya pergi masih tetap menarik lengan Karin membuat semua orang kebingungan melihatnya, begitupun dengan Karin yang hanya bisa manut bagaikan terhipnotis saking herannya dengan perlakuan Arya ini. Arya membukakan pintu mobilnya untuk Karin, menyuruhnya duduk di sampingnya kemudian ia masuk lalu menjalankan mobilnya melewati orang-orang yang baru selesai mengangkat motor Rangga juga Rangga yang membulatkan mulutnya dan tak berkedip menatap Karin yang kini sudah berada di dalam mobil bersama Arya. Arya menangkap kegelisahan Karin, terlihat Karin yang duduknya tak tenang. "Kamu tenang aza, saya cuma mau nganter kamu pulang, gak ada maksud apa-apa". Arya menenangkan Karin. "Ta-tapi kenapa Pak? kenapa harus anter saya pulang?". Tanya Karin diliputi keanehan sikap Arya walaupun ini bukan pertama kalinya Arya membuatnya terheran-heran tapi tetap saja Karin tak pernah menyangka Arya akan mengajaknya naik ke mobil mewahnya ini, duduk berdampingan dengannya, serasa mimpi bagi Karin. "Kenapa? kamu kesal karena batal pulang bareng pacar kamu itu?". Bukan menjawab tapi Arya malah balik bertanya dan memasang muka dinginnya. "Bu-bukan Pak, Rangga itu bukan pacar saya". Karin mengibaskan tangannya. Ada rasa senang yang muncul di hati Arya ketika mendengar jawaban Karin namun iya gengsi tak ingin Karin tahu perasaannya saat ini, ia tetap mencoba terlihat cool. "Memangnya dia itu siapa? saya baru liat wajahnya?". Tanya Arya memastikan walaupun ia tahu Rangga memakai seragam cleaning service kantornya. "Karyawan baru Pak, OB baru". Karin menjawab apa adanya, sangkanya seorang boss seperti Arya pasti tak akan pernah mengenali karyawan bawahan seperti dirinya dan Rangga. "Pantas saya baru lihat". Ucapnya pelan seakan berbicara pada dirinya sendiri. "Pak, di sini saja". Karin meminta Arya berhenti. Arya melihat sekitarnya, masih jalan raya besar tak ada perumahan, hanya ada halte bus. "Kamu yakin? ini kan masih jalan raya". Tanya Arya kemudian. "Masih masuk ke dalem lagi sih Pak tapi gak pa-pa saya jalan aza dari sini, deket koq". Karin berbohong, ia tak mau kalau boss nya ini harus sampai tahu tempat tinggalnya segala. "Ya sudah kalo gitu". Arya membuka kunci. Baru Karin hendak membuka pintu, Arya berseru. "Eh tunggu, bisa temani saya sebentar ke kedai itu?". Arya menunjuk kedai es krim di sebrang jalan. Tanpa meminta persetujuan Karin, Arya mengunci kembali pintu mobilnya dan memutar balik mobilnya, parkir di depan kedai yang ia maksud. Arya memesan banana es krim dan mempersilahkan Karin memesan menu yang ia mau. Pesanan mereka di antar ke meja, ternyata Karin memesan tiga skup es krim aneka rasa dengan toping lengkap. "Wah, ternyata favorit kamu yang rame gitu ya?". Arya tertawa melihat pesanan Karin. "Kalo begini enak Pak banyak rasa jadinya di mulut, beradu gitu, berantem". Jawab Karin sambil terkekeh. Seketika Arya tertawa lebar tapi berusaha menutupi mulutnya dengan tangannya, baru pertama kalinya Karin melihat tawa Arya yang seperti itu. Wajahnya yang terlihat dingin tadi kini bersemu merah, 'ketampanannya maksimal' ucap Karin dalam hatinya. Suasana seperti ini yang selalu membuat Arya bahagia, ia nyaman bersama Karin dan Karin tak menyangka hari ini ia makan es krim dengan bossnya bukan Rangga yang awalnya tadi sudah berniat mengajaknya. *** Bersambung ke Bab 10.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN