“Of course, aku akan mengenalkannya. Semua orang harus tahu bahwa dia adikku, the one and only daughter of Moore’s family.” Brian menyilangkan sebelah kakinya sembari meneguk sekaleng soda. Hingar bingar musik terdengar memekakkan telinga, namun tak mengganggu pembicaraan mereka. Kelab malam milik Brian memang selalu ramai setiap hari. “Lalu, kau ingin menggabungkan acara perusahaanku, dengan publikasi pernikahan kalian, begitu?”
“Yes.” Jawab Christian dengan mantap.
“No problem,” Brian mengedik. “Aku suka ide untuk tidak membuat adikku lelah karena acara semacam itu. Dia tak terlalu senang berbaur dengan orang-orang bisnis.” Brian pun memaparkan pemikirannya. Christian yang duduk di seberang iparnya itu setuju.
“Well, kawan-kawan,” Sosok Darren yang baru datang sembari membawa botol wiski, bergabung dengan mereka di tempat duduk khusus VIP, pria itu berjengit saat tatapannya jatuh ke salah satu temannya—Christian Aiden yang beberapa menit lalu belum ada di sana. “Brian, bisa singkirkan minuman itu? Kau ini mengenaskan sekali! Ada banyak wine, dan vodka berkualitas yang kau jual di rak sana, tapi kau lebih memilih minum itu? Oh come on, man.”
“Aku bersama orang gila ini sejak pukul tujuh, dia sudah menghabiskan tiga botol wiski paling mahal yang ada di gudang penyimpanan,” Brian memberi informasi karena jelas saja Christian belum lama bergabung dengannya di ruangan khusus itu. “Aku begitu bosan mendengarnya bicara, untung kau datang, dan menyelamatkan hidupku yang berharga. Kalau tidak, telingaku akan benar-benar keriting, karena tak semenit pun dia mau tutup mulutnya.”
Christian mendengus atas curahan hati kawan baiknya itu, suara dengusannya pun memancing perhatian Darren yang setengah mabuk. Kembali pada wajah si Christian Aiden, dan bertingkah seolah-olah dia baru saja melihatnya di sana.
“Wassap, man. Kau bergabung juga dengan kami malam ini! Segelas wiski?” Darren menyodorkan botol minumannya ke depan hidung Christian.
“Tidak, aku menyetir.” Christian meraih kaleng soda di atas meja, dan menenggaknya. Lagi-lagi Darren mengerang karena menurutnya, dua kawannya malam ini low taste sekali.
“Dua orang ini berubah menjengkelkan setelah jadi saudara ipar,” Sungut Darren. “Ayolah, Brian. Kau tidak mau turun ke lantai dansa untuk mencari perempuan seksi? Setelah rapat sejak pagi dengan perusahaan Italia sialan itu, apa kau mau duduk saja seperti batu?”
Parah, si sialan Darren. Brian tak mau mengurus pria itu kalau sampai overdosis alkohol, “Lebih baik aku hubungi sekretarismu sekarang untuk jaga-jaga jika fungsi otakmu itu makin rusak. Kacau.”
“Ah, ide yang bagus,” Darren bersandar di sofa sembari mengawasi Brian menghubungi sekretarisnya. Lalu perhatiannya terfokus pada Christian lagi. “Kau mau ikut ke lantai dansa denganku, Aiden? Berburu wanita, seperti biasa.”
“Get off my case!” Sembur Christian, tegang.
Darren tergelak sekeras-kerasnya, “Oke, oke, aku tahu sekarang satu orang saja bisa memuaskanmu. Karena faktanya Claire cantik dan seksi, aku tidak meragukan itu. Pantas kalau kau tak mau lagi cari perempuan lain.” Christian nyaris saja menyarangkan bogem mentahnya itu ke kelopak Darren yang berani-beraninya mengedip genit. Kesal sekali—setengah mati pada si Darren.
“Tapi apa jadinya kalau Claire tahu kau datang ke kelab malam kakaknya? Kau sudah minta izin padanya?” Darren tertawa sembari mengusap dagunya, tidak takut pada Christian serta responnya yang seringkali tidak terduga.
“Aku ke mari untuk menemui dia,” Christian Aiden menunjuk wajah Brian yang alisnya naik satu. “Bukan untuk bersenang-senang. Kau catat itu, Darren.”
“I am so proud of you a new, Daddy.” Darren tertawa lagi sekaligus mencibir, Christian jadi tambah kesal. “Good Daddy, I like you.” Darren mengangguk-angguk dengan tampang yang sok serius itu. Namun ajaibnya, kali ini Christian tidak berniat untuk menimpali omongan Darren.
“Brian, aku pikir di antara kita, Aiden yang paling lama bakal sendirian sampai hari tuanya,” Darren menuangkan cairan wiski ke dalam gelas, menenggak perlahan dengan nikmat. Benar kata Brian, mulut pria itu benar-benar tidak mau berhenti ngoceh. “Tapi coba lihat sekarang, dia bahkan dapat gadis muda yang fresh dan begitu cantik—and the hell f**k yeah—she is your sister, bro. Pria sialan yang sering wara-wiri di majalah ini sekarang punya bayi! The most bachelor dalam gosip hangat para gadis-gadis kini tidur di pelukan satu wanita. Man, you are the real bastard. Damn you.” Darren menggelengkan kepala tak percaya—lagaknya dramatis.
“Suruh saja sekretarisnya bawa pria ini ke rumah sakit jiwa,” Christian berdiri. Dia memang baru 20 menit berada di sana, tapi jam di arlojinya sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Waktu pulang cepatnya harus tertunda karena ia mesti bicara dengan Brian perihal rencananya itu. “Dan kusarankan agar kau juga pulang ke rumah saja.” Sambung Christian. Brian mengulum senyum—lalu dia berjabat tangan dengan Christian meski tak ikut berdiri.
“Sampaikan salamku untuk mereka berdua.” Brian berucap. Christian mengangguk atas permintaan Brian. “Dan tolong, Aiden, jangan buat Claire repot karena harus mengurus kau dan Archer sekaligus.” Senyum penuh arti Brian membuat Christian mendengus. Pria itu lantas berlalu dari hadapan Brian serta Darren, kemudian melewati meja-meja yang penuh pengunjung. Ada yang mabuk sendirian, ada yang tengah sibuk memadu kasih dengan pasangannya—atau, entah seorang yang cuma perempuan bayaran saja, dia tak peduli.
Christian menyugar helaian rambutnya. Hari ini sangat menjengkelkan sekali. Seharusnya dia masih bisa menikmati momen hangat bersama Claire karena mereka berdua baru saja menikah. Tapi proyek sialan yang sempat terbengkalai karena waktu itu dia mendadak pulang ke London harus cepat diurus.
Sejak siang tadi, Christian berada di kantornya untuk memimpin rapat. Lalu menunjuk beberapa orang terpercaya guna menggantikan posisinya untuk pergi ke lokasi proyek perusahaan, bulan depan. Lelah, ya. Pikirannya terkuras. Dan celetukan-celetukan Darren di ruang VIP membuatnya kesal sekali. Kesal karena pada kenyataannya, Christian sadar belum menyentuh Claire setelah sembilan bulan lamanya berlalu.
God damn it! Tujuh bulan berpisah dan hasratnya terasa mati kala itu. Bercinta dengan Claire dalam angan menjadi alternatif yang cukup memuaskan. Namun, kala mereka berdua bertemu kembali dua bulan yang lalu, hasrat sialan itu bangkit lagi dan menggila. Claire berada di dekatnya tapi hanya sebatas make out yang bisa Christian lakukan. Ah, jadi—bagaimana mungkin semua itu takkan terasa menyiksanya?
Stop—stop—don’t imagine the beautiful naked body of your wife, man. She is delicious, you know exactly how it tastes. But if you think about it now, your car will hit the broadblock with your exploding sperm. You are dead and it’s all over. Christian menggebrak setir kemudinya, tak bisa lebih frustasi lagi daripada ini. Pulang ke rumah nanti, dia harus rela berbaring di samping Claire yang tidur, Christian akan menjadi satu-satunya pria yang tersiksa di sepanjang malam mereka.
Segala pemikiran-pemikiran gila itu tak terasa membuat laju mobilnya makin cepat sampai dan berhenti di halaman rumah keluarga Canavaro. Lampu di terasnya yang megah pun masih menyala terang. Kemudian, Christian pun turun setelah menyerahkan kunci mobil pada pekerjanya untuk diurus.
Sepi seperti biasanya ketika Christian masuk ke ruang tamu. Lantas kakinya menaiki undakan tangga kayu yang tertata artistik. Sempat menengok ke kamar Diandra untuk memastikan jika gadis itu ada di rumah. Terdengar musik yang sayup-sayup dari dalam kamarnya. Christian lega, melanjutkan kembali langkahnya menuju kamarnya sendiri.
Cahaya remang-remang dari lampu tidur tidak serta merta membuat seisi kamar sepenuhnya terlihat. Dalam keterbatasan cahaya itu, Christian tidak menemukan Claire tidur di atas ranjang. Selimutnya juga masih rapi. Tetapi suara keran air di kamar mandi menunjukkan di mana Claire tengah berada. Christian dengan tenang mengunci pintu kamar seusai menutupnya, mendekat pada box Archer selagi Claire belum keluar.
Di sana, bayinya yang tampan tengah tidur, damai, dan kedua tangannya yang bersarung ada di masing-masing sisi kepala. Bibir merah mungilnya sedikit terbuka, lucu sekali bayi ini. Kepenatan mendadak hilang dalam sekejap hanya dengan menatap wajah Archer. Christian merasa energinya yang besar kembali lagi.
“Good night, Ace. Have a beautiful dreams.” Christian membungkuk ke dalam box untuk memberi Archer sebuah kecupan yang dalam di keningnya. Terlihat begitu manis.
“Oh Ya Tuhan!” Pekikan kaget Claire yang baru keluar kamar mandi membuat Christian menegakkan tubuhnya super siaga. Tapi ternyata, Claire justru kaget karena ada dirinya yang berdiri di samping tempat tidur Archer. Dengan kata lain, dia adalah sumber keterkejutan perempuan itu.
“Why? It’s me.” Ucap Christian.
“Tadi kupikir kau Boogeyman.” Balas Claire.
Boogey—apa? Christian meradang. Imajinasi Claire luar biasa absurd sekali baginya. “Karena kamar ini tidak cukup terang, bayangan tubuhmu yang tinggi memantul di dinding kamar. Aku jadi seperti melihat Boogeyman.”
“Apa itu Boogeyman?” Christian mendekat pada Claire sembari meneliti kimono tidurnya yang cantik, jatuh hingga semata kaki. Tertutup namun anggun, Claire sekarang nampak seperti geisha yang—astaga! Christian harus sesegera mungkin menghentikan pikiran macam-macamnya.
“Erh—itu,” Claire nampak gugup entah untuk alasan apa. “Musuhnya Sandman. Boogey membuat mimpi buruk dan ketakutan pada anak-anak.” Jawaban itu menyisakan sebuah hening yang cukup lama. Nyaris satu menit.
Sebelum akhirnya Christian menyahur, “Kau juga.”
“A—apa?” Claire makin gugup saat Christian makin merangsek maju. Tatapan mata pria itu berkilat dalam cahaya remang—seperti sebuah tanda ancaman.
“Kau mimpi burukku,” Christian merengkuh pinggang Claire dan merapatkannya padanya, hangat dan lembut tubuh itu membuatnya nyaris gila. Di keningnya mungkin sudah jelas tertulis; butuh bercinta. “Kau datang setiap malam dan hanya memelukku, itu saja tak cukup. Tak pernah cukup. Betapa susahnya mencoba bersabar terkait kau, Claire.” Christian memagut liar bibir yang terbuka itu, menyesapnya atas dan bawah bergantian. Tak ada kata pelan-pelan. Claire pun sampai terdorong beberapa langkah karena amat kewalahan menerima serangannya yang begitu tiba-tiba itu. Tubuh Claire pada akhirnya membentur dinding kamar, ketika Christian terus mendesaknya. Cukup keras—erangan sakit Claire terkubur di mulut Christian.
“I’m sorry,” Christian melepas pagutannya dan terengah hebat. Satu tangannya tak sengaja menuruni kimono Claire hingga membuat tali pakaian tidur itu terlepas. Lalu tatapannya spontan jatuh di sana. Hanya butuh waktu sedetik, kabut di mata Christian kini makin menggelap.
Jesus Christ, Claire mengenakan peignor grown hitam yang mengekspose bagian dadanya. Seksi sekali, menggoda, serta menggairahkan. Kelopak mata Christian tak berkedip—bagian itu bergerak terlalu rakus, api memantiknya lalu gairahnya berkobar di ubun-ubun dan saat matanya memanjat naik untuk memandang netra hijau Claire yang takut-takut, Christian pun menggeram rendah.
“Kau sengaja mengenakannya.” Tuding Christian.
“Ya, aku—” Claire gugup, merapatkan kedua pahanya secara tidak nyaman, karena panjang peignor grownnya hanya mencapai batas pinggul. “Aku—erh, ini kutemukan di antara tumpukan hadiah pernikahan. Aku pikir tak ada salahnya kalau—coba kupakai.” Claire kedinginan ketika Christian melepaskan kimono yang lebar dari tubuhnya, menyisakan peignor grown yang minim—sejenis lingerie konvensional yang hot. Claire mendadak merutuki diri sendiri karena dengan berani-beraninya ia memakai pakaian semacam itu. Tadi tujuannya memang untuk menyenangkan Christian, tapi apa gunanya kalau amatiran? Claire tak tahu cara bertingkah menggoda di hadapan Christian, itu sebabnya Claire keluar masuk kamar mandi karena gugup apa yang akan dikatakannya pada Christian dengan pakaian model ini. Claire hanya ingin menunjukkan bahwa dia siap—siap untuk apa, huh? Claire kini menggelengkan kepalanya dengan pelan. Astaga, memalukan sekali pemikirannya sekarang!
“Benar, memang patut dicoba,” Christian dan jari-jari nakalnya bermain di pangkal p******a Claire, di sana untuk membuat lingkaran-lingkaran kecil yang menggelora. “Kau membuatku tersesat dengan pakaian ini. Hmmm—begitu cantik.” Christian menyurukkan hidung di harumnya leher Claire, merambat sampai ke telinga, dan lidah basahnya pun mengulum bagian itu sampai tubuh Claire terasa bergetar kecil karenanya. Desahan halusnya yang lolos dari bibir, membuat Christian makin b*******h. Kian bersemangat untuk lanjutkan eksplorasinya.
“The smells is good,” Kecupan Christian sekarang ada di mana-mana. Di leher, rahang, serta tulang selangka sebelum berhenti tepat di atas p******a Claire yang membuncah dari tempatnya. Berada dalam periode menyusui, membuat kedua bukit itu terlihat besar dari ukuran yang Christian ingat kali terakhir.
Ketika telapak tangan Christian meremas salah satunya secara lembut, Claire menggigit bibir bawah. Christian yang tak tahan, menyurukkan kepala di belahan d**a Claire sembari menciumi setiap bagiannya. Rakus, bersemangat, dan sekaligus kelaparan. b****g Claire pun ditangkup selagi mulut Christian melingkupi p****g Claire yang masih tertutup kain.
“Aiden,” Rambut di atas leher Christian jadi pegangan untuk Claire yang makin lemas. Gelenyar nikmat bercampur nyeri di p******a membuat celana dalamnya pelan-pelan basah.
“Shhh, Claire, just feel it. I have you,” Christian menahan pinggang Claire agar tak bergerak dan kembali pada mainannya itu. Damn, Claire’s n****e is so f*****g perfect under his mouth.
“Don’t bite it,” Claire tersengal, setengah jengkel karena seringai kecil muncul di sudut bibir Christian saat kening mereka bersentuhan. “I’m serious, Aiden.” Claire membuang sebelah wajah dengan rona merah di kedua pipinya.
“Don’t be mad, Darling,” Christian menemukan gairah di mata Claire yang berpaling darinya. “Sorry, I just—” p******a Claire dipandang dengan gemas, “Want to taste you.” Christian sengaja menyentuhkan bukti gairahnya yang sekeras batu di perut Claire, menekannya cukup lama di sana sampai Claire menyerah dan kembali ke kedua matanya.
“You pervert,” Bisik Claire. Pelan karena mau tak mau mengakui, bahwa dia juga terangsang. Gelombang kecil di tenggorokan Christian begitu menawan kala meluncur dari bibir—tawa serak yang penuh hasrat.
“I am,” Balas Christian sebelum b******u di mulut Claire kembali. Bertukar saliva, saling gigit, dan membelai lembut. “Making love right now is a good thing, isn’t it, Claire?” Dan Claire menjawabnya dengan sebuah desah napas kalut karena puncak dadanya dijentikkan berkali-kali.
“But first, I want to take a bath with you,” Christian mengelus p****t Claire tak beraturan. “Put your feet on my waist, My Love. That’s it. Perfect.” Dalam satu helaan, kedua kaki Claire melingkar di pinggul Christian. Jari pria itu menekannya, agar Claire makin merapat, menekan kejantanannya yang tengah ereksi. Sembari saling melumat bibir satu sama lain, Christian tanpa kesulitan menggendong Claire dan mendudukannya di pinggiran bathtub.
“Excuse me,” Claire tersengal cepat, terganggu karena jari manis Christian kini bergerak terlalu cepat dari luar kain celana dalamnya. “Is the job still going?”
“Yes.” Christian sibuk mengamati wajah Claire selagi jari-jarinya bekerja—bertambah, jumlah dan kecepatannya pun meningkat. Tak sadar jika bathtub lambat laun terisi penuh oleh air hangat. “They will not stop working until you—” Christian amat menikmati ekspresi tersiksa Claire dan mata hijaunya yang memohon dengan sayu. “Say want to make love with me.” Dan ketika Claire mengalami o*****e pertama hanya dengan sentuhan luar itu, Christian mendapatkan jawabannya. Hangat serta basah Claire di jari-jarinya begitu mengundang.
Christian mengangkat Claire dan saat tubuh mereka bersamaan masuk ke dalam bathtub, tekanannya membuat air hangat yang penuh busa itu meluber di setiap pinggirannya.
“Air yang hangat agar otot-otot di seluruh tubuhmu rileks,” Christian menarik pinggang Claire untuk dipeluk sementara punggungnya sendiri bersandar di kepala bathtub kamer mandi. Setelah hembus napas Claire terdengar normal kembali, Christian menempatkan Claire duduk di atas pahanya agar mereka saling berhadapan.
Mendadak, Claire tertawa kecil karena sadar Christian masih berpakaian lengkap. Kemeja kerjanya basah—mencetak bentuk d**a dengan amat jelas. Begitu kokoh ketika Claire merabanya dengan jari-jari yang lengkap. Bagaimana rasanya jika Claire menjatuhkan mulutnya di sana? Untuk menjilatinya.
“Aku tahu apa yang sedang terjadi di dalam kepala cantikmu ini,” Christian membelai rambut Claire dengan amat sayang. Manis sekali, efek klimaks tadi membuat wajah Claire nampak merona. “Kau sedang membayangkan sesuatu yang menyenangkan, hm?”
“Sok tahu, huh.” Claire menarik kedua tangannya dari tubuh Christian. Jengah karena pria itu menatapnya seperti Claire sedang melakukan sesuatu yang senonoh. Meskipun pada kenyataannya memang begitu.
“Dasar gadis penggerutu,” Christian menyentil hidung mancung Claire sebelum menarik kedua tangan itu dan meletakkannya kembali ke depan dadanya. Membiarkan Claire merasakan detak jantungnya itu yang bergemuruh. “Gunakan mereka untuk membuka pakaianku, Claire.”
“A—pa?”
“Buka pakaianku, Sayang.” Christian mengulang tidak sabar, sembari membimbing jari-jari Claire menuju kancing kemeja paling atas dan dengan matanya yang mengintimidasi tersebut, Christian meminta Claire untuk segera membukanya satu demi satu.
Claire menurut, meski sempat kesusahan karena gemetar, tapi jari-jarinya berhasil sampai di bawah dan membuat tubuh bagian depan Christian terbuka. Pria itu lantas melempar asal kemejanya yang basah, Claire dapat melihat pemandangan d**a liat berkilau terkena air dari busa yang menyurut. Sembari menatap lamat-lamat Claire yang mereguk ludah, di bawah sana Christian melepas celananya sendiri—kemudian, lemparan kedua menyusul untuk mengikrarkan ketelanjangannya. He is naked.
“Oh,” Claire menutup mulut, spontan. Terkejut karena kejantanan Christian yang keras terasa menusuk perutnya begitu sensual. Memang bukan kali pertama untuknya, tapi keintiman dengan Christian selalu membuatnya salah tingkah.
“I want you to do the same to me,” Christian menarik lengan Claire yang menutupi mulut, senyum kecilnya terlihat panas. “I want everything you can give, and I want to offer you everything that I am.” Kedua tangan halus Claire diletakkan di atas kejantanannya, Christian pun mengerang. Nikmat sekali bahkan sebelum Claire mulai menggerakkan jari-jarinya.
“It feels—” Jantung Claire berdegup kencang, rona merah muda di wajahnya kentara. Hangat dari napas yang menyebar ke leher membuat Claire berusaha terlihat normal di hadapan Christian. Karena Demi Tuhan, baru kali itu Claire menggenggam alat vital laki-laki. “Weird and—alive?” Pada faktanya Claire memang sudah sering melihat benda itu masuk ke tubuhnya, tapi kalau untuk menyentuh, ini pengalaman pertama dan Claire—malu bukan kepalang.
“Yes, and come on, Claire,” Christian mendesah dengan tak sabar, lebih-lebih ketika Claire melempar pandangan seolah tak tahu musti melakukan apa lagi. Christian gemas, dan frustasi. “Move your hands, My Love.” Titahnya. Claire mengikuti sepatuh mungkin, ekspresinya tak bisa ditebak, entah apa yang ada dalam pikirannya. Namun pelan tapi pasti, jari-jari lentik itu mulai terbiasa menjalankan tugasnya.
“Ah, ya,” Christian menggertakkan gigi, Claire begitu intens mengurut kejantanannya yang makin lama makin bengkak. Sesekali lirikan Claire ke bawah sana membuat hasratnya makin berkobar—seolah-olah Claire ingin melihat apa yang terjadi pada kejantanannya atas sentuhannya. Tapi tentu saja air yang penuh busa itu tak bisa ditembus oleh mata telanjang.
Christian menarik dua utas tali yang terikat di belakang leher Claire dan merampas baju tidur sialan seksinya itu untuk membiarkan tubuh telanjang mereka berhimpitan di ujung bathtub, “Stop, Claire, cukup. Aku tak mau meledak sia-sia di telapak tanganmu,” Christian memberi banyak rangsangan di sekujur tubuh Claire sebelum mulai melakukan penetrasi.
Christian berbisik serak, “I’ve been looking forward to this moment, too long, Claire,” Kedua tangan Christian mencengkeram pinggiran bathtub, mengurung Claire yang cukup tegang karena sebuah desakan keras menekan kewanitaannya. “And you are here to complete me.” Claire mencakar punggungnya ketika tubuh mereka menyatu. Christian diam, paham jika Claire harus beradaptasi kembali atas percintaan penuh gairah mereka yang baru saja dimulai.
“The night is just beginning, and I’m going to love you for a long time.” Christian menggigit daun telinga Claire setelah tadi membisikinya dan di bawah sana, pinggulnya pun perlahan bergerak. Begitu mengatur tempo. Lembut dan sensual. Seperti apa yang selalu mereka lakukan. Kelopak mata Claire yang memejam membuktikan bahwa Christian kini sedang terkubur terlalu dalam. Setiap hentakan pinggulnya membuat Claire mengeluarkan desahan kecil menggoda. Sial, Christian tak mau cepat sampai hanya karena cengkeraman Claire yang ketat di kejantanannya.
Berada di dalam air, dan suara yang timbul karenanya amat memancing Christian untuk menguras isi bathtub. Fantasi bercintanya dengan Claire selalu berhasil membakar gejolak pada aliran darahnya. Tapi sekali lagi, Christian membiarkan skenarionya mengalir bersama erangannya.
“Hhh, tak perlu menahan diri kalau memang kau tidak ingin,” Claire bicara tersendat-sendat, kedua lengannya pun menggelayut di leher Christian, mencoba buat berani dengan memandang balik pria itu. “Lagi pula, aku pikir tidak ada salahnya—untuk bergerak lebih cepat.” Claire tak bisa berpikir apakah kalimat itu memalukan atau tidak. Yang jelas, bahwa kata-katanya tak dapat ditarik lagi kala kelopak lynx Christian menyipit, tajam dan tak tanggung lagi menumpahkan hasratnya.
“Well, jangan pernah menyesal terhadap ucapanmu sendiri, Sayangku,” Christian mengambil posisi paling strategis untuk merealisasikan ide Claire. “Resikonya adalah, aku takkan berniat untuk berhenti.” Dan Christian pun bergerak dengan penuh euforia, mengirimkan gelenyar-gelenyar nikmat yang tak tertahankan tiap kali menghujam masuk. Dalam dan bertempo cepat.
“Eungh, Aiden,” Claire terengah. Rupanya air sama sekali tidak membatasi ruang gerak Christian yang luwes menyetubuhinya. Kening pria itu di keningnya, dengan iris mereka yang saling tatap. Kabut di mata cokelat gelap itu nampak begitu pekat sebelum wajah Christian jatuh di lehernya—memberi banyak kissmark. Kedua tangan Christian aktif meremas p******a, puncaknya tak luput dari permainan jari pria itu. “Oh Tuhan,” Claire menggapai-gapai pundak Christian yang licin ketika gerak pinggul mereka makin tak terkendali. Sensasi yang tak asing itu hampir datang lagi.
“Ah, some good s**t,” Christian menangkup b****g Claire, mendorongnya maju dengan kuat ketika kejantanannya menghentak masuk makin dalam. Christian tahu Claire hampir tiba pada klimaksnya—begitu terasa dengan kewanitaan yang berkedut dan meremas intens. Damn, Christian setengah mati mengontrol diri agar tak keluar dulu, amat bersusah payah untuk itu—menahan diri. Dan ketika erangan halus Claire berubah jadi sebuah rintih kegelisahaan, Christian mencubit putingnya. Lalu Claire meledak, kejantanannya disiram dengan cairan o*****e kedua yang hangat itu. Christian berhenti dari gerakan lepas kendalinya, demi menenangkan dirinya—demi Claire yang masih tenggelam dalam sisa-sisa kenikmatan.
“Kau menikmatinya, hm?” Christian menyelipkan rambut Claire ke belakang telinganya—yang berantakan dan setengah basah. Sialan seksi dan indah.
“Hmmm,” Claire mengeratkan pelukannya di leher Christian. Mengikuti dorongan dalam dirinya untuk memberi pria itu ucapan terima kasih—dengan ciuman, misalnya? Dan Claire melakukannya. Menempelkan bibir mereka, malu-malu melumat. Christian menyambut senang hati, dan ciuman yang mulanya lembut itu berubah jadi sepanas bara. Semakin dalam lidah mereka bergulat di dalam rongga hangat, semakin d**a mereka saling menggesek.
“Mau ke mana?” Claire tetiba memekik saat Christian mengangkatnya dari dalam bathtub. Takut jatuh. Kakinya yang melingkar di pinggang Christian pun terasa licin karena bekas sabun.
“We should take a shower,” Suaranya dalam dan begitu serak, dengan sesekali menggerakkan pelan pinggulnya sembari berjalan, Christian membawa Claire masuk ke dalam tabung kaca dan menyalakan shower air hangat tepat di atas kepala mereka. Sekejap saja, tabung kaca itu buram dan berembun oleh suhu udara di dalamnya.
“Aku pernah bercinta sambil berdiri sebelumnya bersamamu,” kaki kiri Claire lalu diturunkan, tapi Christian menjaga agar kaki yang satu lagi tetap melingkar manis di pinggangnya. Astaga, posisi ini membuatnya amat terangsang berat. “Kau membuatku sangat ingin melakukannya lagi dan lagi.” Christian mengerang saat mendorong maju. Sialan, Claire rapat sekali. Rapat setelah berbulan-bulan tak dimasuki.
“Asal jangan sampai membuat kita berdua terjatuh di lantai,” Claire mendesah, gerakan Christian mulai konsisten—tidak putus-putus seperti tadi lalu. “Aku tak keberatan, selama itu bersamamu.” Tatapan pasrah sekaligus b*******h Claire menyulut hasrat liar Christian menyeruak ke permukaan, kian ganas bagai api yang menyambar. Ah, Christian memejamkan kedua kelopak mata. Claire bilang setuju bercinta di mana saja asalkan itu dengannya. Manis sekali pemikiran itu. Perempuan cantik ini benar-benar membuatnya menggila.
“Claire, kau harus tahu aku punya segudang fantasi tentangmu,” Rambut Christian basah dan menempel di atas tengkuk, di pelipisnya, di dahinya yang berkerut-kerut karena menahan rasa nikmat—menambah pesona sosoknya itu, yang gelap dan misterius. “Aku bisa gila jika tidak mewujudkannya saat kita berdua.”
Claire memeluk erat punggung Christian yang berotot keras itu. Belajar banyak bahwa ketika mereka tengah bercinta seperti ini, Christian suka jika ia memasrahkan segalanya pada pria itu. Christian Aiden amat suka mendominasi—memegang kendali atas tubuh mereka berdua. Dan Claire memang selalu lakukan itu, mengizinkan Christian menyentuhnya sesuka hati.
“God, Claire—you’re so fuckin’ good,” Telapak tangan Christian bertumpu pada tabung kaca, bulir-bulir airnya meluruh. Pinggulnya bergerak lebih cepat dari percintaan mereka di dalam air tadi, Claire mengimbanginya dengan tidak kalah panas. Gadis kecil yang dulu tak tahu apa-apa soal bersetubuh itu, sekarang tahu banyak hal karena Christian mengajarinya.
“Ingin mencoba sesuatu?” Bertanya di sela-sela napas panasnya yang memburu, Christian menjilati daun telinga Claire sampai ke pundaknya yang mulus. Kulit putih susunya lembut sekali—dan kencang. Tak ada satu pun bagian tubuh Claire yang tak bermanfaat untuk memuaskan hasratnya.
“Eunghhh—anything,” Dan manik hijau Claire berair menahan suara-suara sialan yang bahkan tidak dikenali lagi oleh telinganya sendiri. Ternyata, pita suaranya juga diliputi oleh gairah. “Do whatever you like.”
“Kalau begitu—berbaliklah untukku, Claire,” Christian mengusap sepanjang pinggang Claire sampai ke bagian bokongnya, memberi remasan-remasan kasar yang sensual pada tubuh itu. Erangannya sakit ketika harus menarik kejantanannya dari dalam Claire, begitu tegang dan terbakar oleh api. Gairah yang ditanggungnya amat menyiksa. Christian ingin menuntaskan hasratnya, namun pemandangan tubuh belakang Claire yang ramping menyita perhatiannya. Sialan seksinya. Ya Tuhan, pernah hamil tak serta merta membuat tubuh Claire berubah drastis. Istrinya itu masih seperti gadis perawan. Langsing dan menggairahkan. Berisi dan padat di tempat-tempat yang seharusnya.
“Beautiful,“ Christian memeluk Claire, meremas payudaranya sembari menjatuhkan kecupan-kecupan kecil di bahunya. Dan rambut panjang Claire yang kini menempel di punggung, disampirkan ke leher. Seorang pejantan tentu perlu menandai betinanya, bukan? “This is the most beautiful back I’ve ever seen.” Christian menggesekkan kejantanannya di b****g Claire—naik dan turun, dan terkadang hanya menekannya saja ketika dirasanya, kejantanannya itu berdenyut nyaris ejakulasi.
“Letakkan tanganmu di atas kaca,” Christian memberi perintah, sementara satu lengannya menarik perut Claire agar sedikit membungkuk untuk membelakanginya. p****t bulat Claire yang otomatis langsung membusung itu membuatnya gemas. Christian memukulnya dengan pelan. ”Good girl, and let me melt with you, My Love.”
Lalu disatukannya kembali tubuh bawah mereka. Claire tersentak, kaget, dan Christian menenangkannya, berbisik jika semuanya akan baik-baik saja kalau Claire mau ikut bergerak pelan-pelan bersamanya meski pada mulanya—memang semua itu terasa tidak nyaman. Benar-benar tak nyaman, namun kala Claire menggeliatkan tubuh, sensasi yang asing dan menggelitik itu memilin-milin otot perutnya—membuat Claire ingin segera merasakan hal yang lebih lagi.
“Lebih baik?” Dan anggukan Claire pun seketika membuatnya lepas kendali. Christian tak menahan lagi gerakan pinggulnya, membuat tumpuan tangan Claire lepas dari kaca beberapa kali. 15 menit lamanya mereka saling mengimbangi hingga pada akhirnya, tubuh Claire menempel sepenuhnya di tabung saat klimaks untuk kali ketiga—terengah, lemas, dan hilang energi. Sementara kejantanan Christian masih terkubur sekeras batu di dalam sana.
“Aiden, sebentar, please—” Suara Claire seperti bisikan angin. Pelan dan lelah. Tubuhnya bahkan nyaris merosot jika kedua lengan Christian tidak memeluknya erat-erat kala dalam kondisi seperti itu. “Aku butuh waktu untuk bernapas.” Claire menyentuhkan keningnya di kaca—kelopak matanya spontan menutup, napasnya berusaha normal kembali. Oh God, tiga kali o*****e! Tiga gelombang kenikmatan yang Christian berikan padanya namun agaknya, pria itu tidak berniat menyelesaikan permainan mereka sampai pagi.
“Ya, sayang, aku menunggumu,” Christian mengerti situasi Claire, mencoba tenang. Claire tak boleh kewalahan meladeni nafsunya yang menggebu-gebu itu. “Lagipula aku tak ingin membuatmu mati kehabisan napas.” Ucapnya, dan Claire masih sempat-sempatnya membalas dengan tawa kecil.
Masa-masa tenang mereka berhimpitan di tabung kaca terasa begitu intim. Saling diam, dan hanya merasakan denyut kecil yang datang dari masing-masing tubuh. Hangatnya air shower masih menghujani ketelanjangan mereka. Tapi detik itu juga, Claire berbalik, dari dari bibirnya keluar desahan saat koneksinya terlepas dengan Christian. Sekejap, Claire hampir saja tertawa melihat sorot kecewa dari mata Christian.
“Ingin mencoba sesuatu yang baru?” Claire dengan berani merangkul mesra leher Christian, menyentuhkan hidung mereka—mengabaikan sikap siaga Christian yang Claire kini sendiri yakin, amat terkejut dia bertanya seperti itu jauh dalam hatinya.
“Like what?” Dengan tenang, Christian pura-pura tak peduli Claire terganggu saat jari-jarinya membelai perut halus itu. Dan mata yang menyirip tajamnya berulang kali menggali rahasia di kedua bola mata Claire. Apa yang hendak dilakukan perempuannya itu namun sial—ekspresi Claire kali ini tidak terbaca. Perempuan itu hanya tersenyum kecil, lalu lekukan bibirnya yang manis mendarat di sebelah lehernya satu menit kemudian. Christian berjengit karena sengatan nikmatnya, dan ketika Claire mulai menggigitnya pelan, dia mengerang. What the f**k, beraninya Claire!
“Claire,” Christian juga tidak berusaha menghentikan jari-jemari Claire yang mengusap-usap dadanya. Karena sialan sensasi yang dirasakannya begitu nikmat. Sebab elusan itu menghantarkan gelenyar yang turun ke kejantanannya dengan makin deras, dan membuatnya makin keras.
“Aku tahu kau suka,” Claire menyeret mulutnya turun menuju d**a Christian, di sana untuk memberi ciuman-ciuman kecil, sementara tangannya berpindah ke perut pria itu yang terbentuk dengan kotak-kotak, membelainya. Claire gugup pada apa yang dilakukannya—takut berbuat kesalahan, namun ketika dia mendongak dan mendapati tatapan b*******h Christian atas tindakannya, Claire memutuskan tak peduli lagi terhadap rasa malu. “Jadi jangan hentikan apa yang akan aku lakukan padamu.” Lanjutnya pelan. Ada sebuah kepuasan yang mengalir dalam diri Claire saat mengetahui jika sentuhannya—sekecil apapun mampu memengaruhi pasangannya.
“Gila kalau sampai aku menghentikanmu,” Christian menengadah dan berpikir jika jantungnya mungkin sudah meledak saat Claire menciuminya—tepat di luar jantungnya sendiri yang berdegup kencang. “Aku rela mati di bawah shower sialan ini daripada harus membuatmu berhenti.” Dan detik itu juga, Christian nyaris mati dalam erangan panjangnya. f**k them all, begitu hangat tangan Claire menangkup kejantanan kerasnya. Christian merunduk, dengan mata kepalanya melihat Claire yang mulai menciumi perut lantas berhenti di depan kejantanannya yang mendamba.
Bola mata hijau Claire kini bergerak-gerak polos, selagi tak yakin memegang kejantanan Christian. Begitu jelas dan juga sangat dekat benda hidup itu membuat wajah Claire memanas. As—ta—ga, Claire benar-benar perempuan sok berani tanpa punya pengalaman dan—Claire tahu tak bisa mundur lagi ketika Christian mengawasinya. Mengawasi dan menunggu lebih tepatnya.
Bibir Claire sama bergetarnya dengan jari-jarinya saat mengecup dengan ragu ujung kejantanan Christian. Claire lantas mendongak, disuguhi ekspresi gelap pria itu yang terlihat mati-matian untuk tak memaksa dirinya berbuat hal yang lebih jauh lagi. Christian cuma membelai helaian rambutnya sembari mengerutkan kening dalam-dalam.
“s**t,” Christian memaki lemah saat mulut Claire melingkupi kejantanannya, meski hanya di ujung, namun terasa hangat. Basahnya lidah Claire membuat Christian gila. Sial, dia tak bisa menahan diri untuk tak menarik sejumput rambut Claire dan menggerakkannya perlahan. Agar service dari mulut perempuan itu menjadi lebih cepat lagi—agar kejantanannya masuk lebih dalam ke sana. Mulanya Claire kaget dengan satu gerakan yang tiba-tiba itu, namun saat Christian sepenuhnya melepas cengkeramannya di rambutnya itu, Claire akhirnya menemukan iramanya sendiri. Ia bergerak dengan lembut serta hati-hati. Terlalu lembut, sehingga membuat Christian terlihat amat tersiksa.
“Damn it, Claire. Stop.” Pernah dalam imajinasi terliarnya, Christian membayangkan Claire berlutut di antara kedua kakinya, dengan mulut seksinya yang mengulum kejantanannya—dan ketika semua bayangan itu kini menjadi nyata, Christian tahu fantasinya bukan apa-apa. Realita jauh lebih nikmat. “Claire, get up, I’m about to come.” Christian memperingatkan. Tapi Claire tak acuh—sibuk melingkupi separuh kejantanan yang masih menyisakan banyak bagian itu menggunakan lidah, dan kepalanya yang spontan bergerak maju mundur hampir membuat Christian sampai. Otot di tubuh dan lehernya makin jelas tercetak, Christian pun begitu tegang, tekanan giginya berbunyi gemeletuk. “Claire, stop.” Dia memperingatkan untuk terakhir kalinya.
“What?” Diucapkan Claire dengan tak begitu jelas.
“Whatever the hell it is you’re doing to me. Stop it.” Christian sekarang tengah berada di detik-detik krusialnya, dan Claire memperparahnya dengan variasi gerakan yang—Hades pasti tahu Claire mempelajarinya di dalam neraka, sebab begitu panasnya perempuan itu bertingkah.
Sekali lagi Claire menyapukan lidahnya di sana, dengan hisapan ringan yang membuat kejantanannya berdenyut makin cepat. Dalam hitungan mundur, Christian meledak keras di mulut Claire, berkeping-keping. Terasa nikmat sampai di titik Christian nyaris tak bisa membendung euforia. o*****e hebat itu menembakkan berkali-kali s****a kental di dalam rongga mulut Claire yang meleleh pada kedua sudut bibirnya. Sialan seksi, bahkan Christian belum bisa berpikir jernih ketika Claire melepas kejantanannya dan terbatuk-batuk kecil—kemudian berdiri dengan terengah, sambil menempelkan punggungnya di tabung kaca.
Beberapa menit berlalu, Christian mematikan air shower untuk kian merapat ke arah Claire, menarik dagu yang masih meneteskan cairan klimaks itu, lalu menyekanya dengan penuh arti. Bola matanya yang sudah kembali fokus pun kini menatap tajam Claire yang nampak kelelahan. Bibirnya, mengeluarkan satu kalimat yang terdengar cemas, “You look not so good.”
”I’m okay, Aiden.” Claire menangkup punggung tangan Christian yang berada di sebelah pipinya. Tersenyum kecil untuk menenangkan pria yang mulai khawatir itu. Oke, tadi memang Claire kaget setengah mati, ketika Christian sedang o*****e dan dia tak bisa berpikir apa-apa lagi selain cepat menelan muntahannya. Tidak buruk, meski rasanya aneh. Tapi ketika kesadarannya kini kembali, Claire mendadak jadi malu sekali. Ya Tuhan, apa yang baru saja dia lakukan?! Mengapa Claire mendadak merasa “binal” sekali?
“Bad, Claire.” Cap Christian padanya, dan Claire tidak bisa menyembunyikan tawanya. Astaga, itu benar. Claire tadi memang nakal. Tapi bukankah menyentuh pasangan adalah naluri alamiah? Insting yang menuntunnya untuk melakukan semua itu. “Kau membuatku nyaris saja mati berdiri. God damn it.” Christian menggeram. Kala itu Claire batuk lagi, dan Christian terlihat luar biasa khawatir. Air mukanya berubah—setengah kesal dan setengah puasnya tadi menghilang.
“You okay? Hurt? Something wrong?” Tanyanya dengan beruntun.
“No, Aiden,” Claire mendorong pelan bahu pria itu agar bisa memberinya ruang. “I’m okay, even so sure. Bagaimana mungkin aku sakit hanya gara-gara—ya,” Semu merah muda di pipi Claire nampak lebih jelas setelah air shower berhenti. “Aku baik-baik saja pokoknya, jangan khawatir.”
“Really?” Tapi sepasang mata Christian tak lepas dari lenggok b****g Claire yang keluar dari tabung kaca. Otaknya kacau dan rusak. Sial, segala pemikiran kotor dalam kepalanya itu gara-gara Claire.
“Aiden, jangan mulai.” Claire kini meraih bathrobe di samping wastafel dan langsung mengenakannya, menggelung rambutnya yang basah lantas meraih sebuah facial wash—ia hendak bersiap untuk membilas wajah, dan pakai skincare.
“Well, senang mendengarnya.” Christian memeluk Claire dari belakang sembari mendaratkan kecupan di sisi lehernya. Ringan dan panas seperti biasa. Claire melihat sendiri bagaimana intimnya ciuman yang Christian beri untuknya lewat pantulan di cermin. Nampaknya, sesi bercinta mereka di kamar mandi takkan pernah cukup. Christian Aiden adalah pria yang selalu meminta lebih. Satu kali benar-benar tak ada di kamusnya.
Namun, tempo cepat lumatan mereka harus terhenti karena suara tangisan bayi yang kencang. Christian dan Claire saling pandang. Keduanya lalu mengambil jarak. Ketika Claire meletakkan facial wash kembali di wastafel, tetapi Christian segera menahan lengannya.
“No, let me. Take your time, Mom.” Ujar Christian dengan cara yang begitu manis. Claire tidak setuju ketika Christian menahan pundaknya agar tak jalan ke mana-mana. Claire peka terhadap tangisan bayinya, dan kalau pun Christian mampu menenangkan, tidak nyaman rasanya sebelum melihat Archer kembali tidur dengan mata kepalanya sendiri. “Selesaikan dulu apa yang ingin kau lakukan—biar aku yang mengurus Ace di kamar, kau bisa menyusul setelahnya.” Christian memberinya beberapa pengertian. Butuh waktu beberapa detik untuk Claire menganggukkan kepala, hingga akhirnya setuju atas usulan itu.
“Kalau Ace tak mau lagi tidur di boxnya, kau tidak keberatan dia tidur bersama kita di ranjang?” Sebelum pria itu pergi, Claire masih sempat bertanya sesuatu yang membuat langkah Christian terhenti.
Tak ayal, Christian tertawa kecil dan tawanya menawan sekali. Claire sangat berharap Archer kelak mempunyai jenis tawa seperti itu—tanpa harus mematahkan hati banyak gadis karena diperebutkan.
“Tidak Claire, jelas tidak.” Christian mengecup puncak kepala isterinya dengan penuh sayang. “Aku tidak keberatan tidur ditemani dua malaikat sekaligus.” Dan untuk kali terakhir mengecup bibir Claire yang merekah sehabis pagutan mesra mereka. “Thank you for everything we have shared, My Love.” Pria itu berbisik, bisikan yang meninggalkan gelenyar hebat.
Sepeninggal Christian yang keluar kamar mandi untuk menenangkan Archer, Claire bersumpah lututnya kini lemas sekali. Oh Tuhan, bisakah Claire sepanjang waktu bersama Christian dan baik-baik saja, sementara tubuhnya malah selalu bereaksi berlebihan begini? Claire menggeleng dengan penuh rasa tak percaya, semakin dipikirkan, semakin malu yang ada.
***
“Hai little bee, miss you so,” Brian tidak bisa menahan diri ketika Claire menuruni tangga untuk breakfast, dengan Archer berbaring di lengannya. Bayi itu nampak lucu dengan pakaian pelaut—pipinya mulai berisi dan siapapun yang melihat pasti setuju Archer sangat mirip Claire.
“Sudah berapa lama kita tidak bertemu?“ Brian mengambil alih Archer dari dekapan Claire. “Satu minggu lebih, ya? Sejak Uncle pergi ke Vienna. Kau jadi semakin menggemaskan saja.“ Archer suka diajak bicara dan bayi itu meresponnya dengan tawa. Ah, manisnya. Brian tidak bisa berhenti menciumi Archer yang kini berusia—oke ini memang sedikit membingungkan bagi Brian yang awam karena keponakannya lahir prematur. Tapi Claire bilang, Archer mempunyai dua usia. Yang pertama, usia terhitung mulai dari hari di mana ia dilahirkan—berikut jumlah hari, minggu dan tahun. Dan yang kedua, pengurangan jumlah minggu atau bulan ia dilahirkan lebih awal.
“Maaf karena Uncle baru menemuimu hari ini.“ Kali terakhir Brian diundang Sergio sarapan di sini, yaitu dua minggu yang lalu. Sembilan minggu setelah Claire menikah.
“Sejak ada Archer, aku jadi nomor dua.“ Keluhan untuk Brian dari Claire yang menopang dagu, melihat betapa perhatiannya Brian pada putranya, tapi coba perhatikan—pria itu bahkan belum menyempatkan diri menanyakan kabar dari adik perempuannya sendiri. Claire pura-pura merajuk. “Kau ke mari hanya untuk menjenguk Archer saja?” Claire tak sengaja melirik Christian dan pria pencemburu itu sudah bisa ditebak reaksinya—mendengus kesal.
“Untukmu juga, Sista.” Brian tersenyum, “Tapi bayi kecil ini menyita seluruh perhatianku.” Alasan itu sangat masuk akal, dan Claire menerimanya dengan senang hati. Siapa pula yang tak gemas pada Archer?
“Aku mengerti. Terima kasih, ya, karena kau telah menyempatkan diri menemui Ace.” Claire tertawa sembari membetulkan letak dot Archer yang hampir jatuh dari mulut mungilnya. Barangkali kalau sudah bisa bicara, Archer bakal mengomeli Claire yang bisa-bisanya membiarkan dotnya nyaris jatuh seperti tadi. Dan masih sempat ditertawakan pula.
“Cepatlah menikah kalau begitu,” Sergio kini angkat bicara—tertarik bergabung dalam obrolan. “Jadi, kau bisa punya mainan yang lucu seperti Ace, tidak kesepian lagi di rumahmu.” Ucapan ini tentu saja ditujukan Sergio pada si pria lajang Brian Moore.
Dan Brian pun menjawabnya, “Aku ingin fokus dulu pada Ace dan Claire, kalau masalah menikah kapan-kapan saja.”
“Tak perlu, mereka berdua urusanku. Ace dan Claire punya aku.” Christian menyela dengan cepat. “Dad benar, kau cari kekasih saja lalu menikah.”
Brian terbahak-bahak, mengerti Christian over-protektif sekali, “Baiklah, mereka milikmu, Bro. Maksudku, aku ingin fokus untuk membayar waktu yang terbuang sia-sia sejak berpisah lama dari Claire. Aku tak mau kehilangan keluargaku lagi.” Brian mencoba menjelaskan maksudnya. Dan Christian menaikkan satu alisnya, namun tak bicara apapun. Diam, dan melanjutkan sarapannya. Setelah ini mereka—dia dan Brian harus pergi melihat gedung tempat berlangsungnya acara ulang tahun perusahaan keluarga Moore nanti.
“Aku ingin ikut dengan kalian,” Claire minum segelas s**u dan meletakkannya kembali di meja makan—lantas menyeka mulut. “Boleh, kan, Aiden? Ya?” Claire jarang sekali keluar rumah sejak resmi menikah. Pergi sesekali ke Celeron Coorporation mungkin dilakukannya—tapi untuk melakukan hal-hal lain dengan bebas seperti dulu, sudah tidak lagi. Claire mengerti sekarang prioritasnya Archer dan Christian. Tapi meski begitu, Christian tak pernah melarangnya mengambil job mendesain. Pria itu selalu mendukungnya mengembangkan bakat. Claire tertawa dalam pikirannya mengingat dulu sering sekali terlibat perdebatan alot dengan Christian. Namun coba lihat sekarang, pria itu salah satu orang yang paling banyak memberinya masukan. Meski Christian tetaplah pria yang amat menyebalkan, penyampaiannya kadang semau sendiri.
“Ace bisa ikut bersama kita,” Christian nampak menimbang usulan Claire. Kondisi terakhir Archer kala check up memang sehat, mungkin tak ada salahnya membawa anak serta isterinya itu keluar rumah.
“Oke,” Christian akhirnya setuju. Senyum Claire pun sumringah. “Tapi jangan sampai kau kelelahan, ya.” Claire mengangguk semangat. Dia sangat ingin melihat interior gedung untuk pesta ulang tahun perusahaan keluarganya. Dan berharap bisa memberikan sedikit sentuhan ide-idenya di sana.
“Thank you,” Claire mengusap lengan Christian dengan lembut, sengaja berlama-lama di bisepnya yang keras. “Aku ganti baju dulu kalau begitu.”
Christian menahan senyum miringnya saat bilang pada istrinya, “Wear the beautiful one dress.”
“Hmm,” Ketika Claire hendak meninggalkan meja makan, tatapan Archer mengikutinya. Bibir mungil itu bergetar kecil, Claire yang kelewat peka langsung saja menghampiri putranya itu. “No, no, no, don’t cry—Mom just went for a while, Ace.”
Bayi itu pun akhirnya tak jadi menangis lantaran Brian mengemongnya dengan sabar, “Pergilah ke kamar, Ace aman bersamaku.” Ucap Brian. Ya, karena jemari Archer sekarang sibuk menggenggam mainan karet yang diberikan Brian. Claire berterimakasih lewat tatapan matanya. Selain dengannya dan Christian, Archer begitu lengket jika sudah bersama Brian. Tak heran karena pria itu satu-satunya teman ngobrol Archer ketika masih berada di dalam perutnya. Sepanjang melalui undakan tangga, Claire tak henti mengucap syukur pada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan Brian Moore lagi.
***
“Sudah selesai?” Pintu kamar terbuka dan menutup saat Christian masuk. Pria itu sudah berpakaian rapi sejak berada di meja makan. Kemeja satin putih dan celana coklat mudanya begitu pas melekat di tubuhnya.
“Tunggu sebentar,” Claire duduk di meja rias dan mulai menambahkan sesuatu di wajahnya. Pakaiannya telah berganti menjadi dress silver selutut yang manis. Tak akan ada orang bakal menyangka Claire sudah punya anak.
Christian tidak bilang apa-apa, pria itu berdiri di belakang Claire dan memerhatikan isterinya sedang memoles lipstik di bibir. Cantik. Tanpa berdandan saja isterinya begitu cantik dan natural, dan ketika make-up tipis menyapu wajahnya itu, Christian didera rasa tak terima membayangkan ada banyak laki-laki tertarik pada Claire—dengan lama-lama memandang parasnya yang menawan.
“Aku rasa warna lipstiknya terlalu tajam.”
“Benarkah?” Claire yang sudah menghadap ke arah Christian kembali bercermin. Terlalu tajam? Tapi lipstiknya berwarna merah muda! Atau jangan-jangan, warnanya tidak cocok dengan bibirnya?
“Mau kubantu menghapusnya sedikit?” Claire tahu maksud Christian ketika memandang sepasang mata cokelat gelapnya di dalam cermin. Bola mata itu kini berkilat-kilat menginginkan sesuatu. Well, Christian Aiden adalah salah satu contoh pria paling pragmatis yang pernah dia kenal.
“Kalau kau mau—”
“s**t, Claire,” Christian menggeram dan meraih pinggang ramping itu—merundukkan kepalanya sedikit untuk mendapatkan bibir yang sejak di meja makan tadi begitu menggoda. Claire mengunyah roti dan Christian turn on seketika. Sesederhana itu. Gila. Gairah semacam ini baru pertama kali dirasakannya. Hal kecil apapun yang Claire lakukan mengusiknya. Atau jangan-jangan, Christian memang sakit jiwa karena istrinya sendiri?
“Kiss me back, Claire—kiss me,” Christian mendudukkan Claire di atas meja rias, barang-barang di atasnya berjatuhan satu demi satu. Claire kaget, tapi Christian jelas tak suka perhatian Claire teralihkan hanya gara-gara make up yang jatuh tersebut. “Give me a very hot morning kiss. Since waking up, you’re busy with Ace.”
“Jealously?” Claire terengah di sela senyumnya, ciuman Christian pagi itu agak berbeda—b*******h dan frustasi. Claire tahu alasannya karena sudah empat hari ia menstruasi.
“No, my son should get your attention. But I also have to get my part.” Christian memagut kembali bibir itu setelah tiga kali putus-putus. Jari-jarinya meremas pinggul Claire, menyalurkan kegilaannya karena sudah beberapa hari dia tak bisa bercinta lagi dengan isterinya—atau, belum bisa lebih tepatnya. “Kiss me back, Claire.“
Dan Claire patuh, merangkum wajah Christian selagi bibirnya menempel kemudian melumat. Mencium suaminya selalu terasa seperti menghancurkan sebuah besi. Christian makhluk yang dingin sekaligus hangat, kaku, kuat dan mempesona. Mata Claire terpejam kala lidahnya masuk untuk bergerilya di dalam mulut Christian. Sendiri saja dan begitu menikmati. Bunyi decakan yang ditimbulkannya cukup keras terdengar oleh telinga keduanya. Claire mendesah, jari-jarinya meremas rambut cokelat keemasan yang kini agak berantakan itu.
“Why did you stop?” Christian yang menikmati tiga menit london kiss mereka pun protes. Napasnya memburu meski Claire yang bekerja—tapi dopaminnya juga bekerja amat keras, berlebihan, Christian terangsang.
“I thought you might want to breathe.” Claire mengusap permukaan d**a Christian, untuk menenangkan debar jantung pria itu yang terasa.
“Breathe?” Christian nyaris tertawa penuh ironi mendengarnya. Diusapnya bibir Claire lembut—gairah itu impulsif melunak kala matanya bertemu keluguan di wajah Claire. Gadisnya yang baru menginjak usia 22 tahun minggu lalu. Damn. “I don’t need to breath when I’m with you, Honey.”
Claire tertawa kecil, jadi mereka harus berciuman lantas mati karena kehabisan napas? Namun tawa itu tak bertahan lama saat Christian menatapnya intens. Claire mengulum kedua bibir dan bertanya-tanya mengapa Christian memandangnya dengan sorot yang seperti itu.
“Ada apa?” Tanya Claire. Burukkah ciumannya?
“Kenapa kau begitu mudah mengampuniku?” Justru Christian yang kini tetiba bertanya. Claire jelas tak mengerti maksud pria itu. Christian memberinya satu pertanyaan yang sulit dijawab. Keningnya lantas berkerut, namun tak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Hingga Christian pun turun untuk menjelaskan.
“Aku pernah meninggalkanmu, Claire.” Christian pada akhirnya memulai. Ah, masalah yang itu, pikir Claire. Kontan saja sorot mata Claire berubah redup. “Kau begitu besar hati memaafkanku—God, you are so lovely girl.” Christian menutup matanya saat kening mereka bersentuhan, dengan hidung saling menekan, namun pria itu agaknya bakal menyesal karena melewatkan senyum kecil Claire untuknya.
“Aku tak bisa egois, Aiden. Mengandung Archer membuatku berpikir banyak hal. Aku marah? Ya, aku marah sekali padamu. Kau mengusirku, lalu pergi dan tak pernah lagi menginjakkan kakimu di London. Aku marah sampai berpikir bagaimana caranya tak ditemukan oleh semua orang. Tetapi pada akhirnya kau datang, dan aku tak sendiri—ada Archer bersamaku. Aku memaafkanmu, tak lain karena Archer sangat membutuhkanmu sebagai Ayahnya. Jadi, jangan pernah lagi menduga bahwa aku tidak membencimu. Aku sangat, sangat amat membencimu, Christian Aiden.” Claire menusuk d**a Christian dengan telunjuknya, menekankan semua kata-kata tadi. Agar Christian paham jika pria itu pernah menggoreskan luka yang dalam di hidupnya.
“Forgive me,” Christian menangkapnya dan mengecupi jari-jari tangan Claire satu demi satu dengan lembut. Terlihat begitu menyesal.
“Tapi di samping Archer, aku juga punya alasan sendiri.” Claire mengusap wajah Christian yang nampak berbeda dari sebelum-sebelumnya. Hampir sepanjang 22 tahun usianya, Claire selalu melihat Christian yang berjambang dan ia—amat suka. Oh ya, Claire suka. Tapi sekarang Christian mencukurnya, menyisakan bulu-bulu halus yang jarang di atas bibir dan rahang. Claire sempat kecewa ketika bangun tidur lalu mendapati Christian mengubah penampilannya. Namun saat Christian bilang semua itu demi membuatnya tampil lebih muda, Claire tahu kecewanya tak bisa bertahan lama. Christian tetaplah tampan dengan penampilan apapun. Pada dasarnya pria itu memang selalu mempesona.
“Because I love you, Aiden.” Claire memutar kembali ingatannya di saat dulu dia bersikeras menolak perasaannya pada Christian Aiden. Tapi Claire tak pernah bisa, jauh dalam hatinya tak pernah bisa menolak karena—terlalu banyak yang telah Christian lakukan untuknya. Segalanya. Bad way or good, it was so—precious. “I never meant to fall in love with you. But I did. I felt it the first night I made love to you. I tried to walk away then because I have never felt so lost, and yet so f*****g found as I felt that night looking into your eyes as I moved inside you.” Kata-kata yang keluar dari sepasang bibir Claire begitu tulus, sembari bibir itu mengecup pipi Christian.
“Aku memaafkanmu karena kami diam-diam juga mencintaimu. Aku dan Archer.” Yang paling Christian suka adalah ketika Claire tersenyum, maka senyum itu naik ke mata hijaunya dan memberinya energi. Diandra benar, Claire tidak pernah palsu. Wanita ini berhasil menyentuh hatinya yang kesepian—mengenalkannya pada sebuah nama cinta.
“You are the most beautiful creature on this earth, Claire. That statement comes from the blind husband to his wife.” Christian mengecup ujung hidung Claire, lalu turun ke bibirnya dan mengerang penuh kepuasan karena Claire kini telah menjadi miliknya. “You will be my wife forever. Love you always, Claire Lore.”
***