Akhir yang Bahagia

1593 Kata

"Kamu kenapa? Maaf, ya, acaranya ramai banget. Mas sampe gak sempet nemenin kamu. Untung ada Ibu." Aku yang berdiri melihat senja di balkon pun menghela napas pelan. Bukan karena marah, aku juga paham posisinya bagaimana. Namun, entahlah, sulit dijelaskan. Aku tak ingin berbicara dengan siapapun dulu saat ini. "Ya, udah kalo masih ngambek. Itu ada buah sama bubur, jangan lupa dimakan nanti keburu dingin." Derap langkah kakinya menjadi pertanda ia sudah pergi. Maaf, Mas, bukannya berniat menidakacuhkan. Namun, seperti kebanyakan orang bilang, terkadang manusia butuh waktu sendiri. Aku masih takut, terbayang sosok Naya yang kemarin hendak mengajakku ke dunianya. Bagaimana jika saat itu aku benar-benar terjebak? "Nak, sini Ibu suapin. Jangan melamun, udah magrib. Tutup jendelanya." Tiba

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN