Acara Bahagia

1708 Kata

"Mas, ayo turun makan. Ibu udah masakin rendang kesukaan kamu," ajakku lalu menarik tangannya. Namun, entah mengapa ia melepas genggamanku dan langsung keluar kamar. Mungkinkah masih merajuk karena semalam? Bagaimana caraku menjelaskan? Helaan napas yang berat menjadi pertanda bahwa aku juga lelah. Rasanya malas membujuk, jika suasana hatinya sedang kacau begini. Menjelaskan panjang lebar tak masuk di telinganya. Ia akan tetap marah. Akhirnya aku turun sendiri menuju meja makan. Semua anggota keluarga lengkap, kecuali Mas Arif tentunya. "Suamimu mana? Gak ikut sarapan? Kan dia kerja," tanya Ibu. "Lagi ngambek, Bu, gak mau makan. Negur aja nggak," jawabku tanpa menatap Ibu dan mengambil nasi. Selesai makan, iseng keluar rumah berniat menyiram tanaman. Namun, yang kudapati malah Mas Ari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN