Ketukan Jendela

1713 Kata

Dua hari menunggu, lelah menanti kabar dari penjaga makam. Tak kunjung mendapat titik terang. Karena tak tahan dirundung rasa penasaran, aku pun berniat pergi ke makam Naya lagi. Tak ditemani siapapun. Memilih sendiri karena tiba-tiba Ibu demam tinggi. Dua malam badannya panas. Selalu mengigau, menyebut nama Naya. Ia pun susah makan, minum saja harus dipaksa. Dokter berkata, Ibu hanya kelelahan dan butuh banyak istirahat. Mengingat usianya yang hampir menginjak setengah abad. Belakangan ini ia memang banyak pikiran. Aku pun pergi ke makam memakai sepeda motor. Begitu sampai, kebetulan ada seorang bapak-bapak berdiri dekat makam Naya. Aku yang sebenarnya agak curiga pun pelan-pelan mendekati. Jangan bilang dialah yang mengacak-acak makam Naya. "Permisi, Pak?" panggilku. Ia menoleh, la

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN