"Dek, kenapa?" Aku yang masih setengah sadar hanya bisa berteriak dalam hati. Kepala sakit bukan main, ditambah seluruh tubuh terasa kaku dan sulit digerakkan. Pandanganku liar, mengenali sedang berada di mana sekarang. Bukankah tadi berada di rumah kosong itu? Namun, mengapa sekarang ruangannya tak asing bagiku? Setelah bisa membuka mulut dan bersuara, aku bertanya ke Mas Arif tentang apa yang terjadi. Berharap semuanya hanya halusinasi, mengingat sosok yang muncul itu sangat mengerikan. "Tadi kamu pingsan habis minum minuman dari budenya Alvaro," jawabnya. Aku tertekan, berarti yang tadi itu bukan khayalan semata? "Jadi beneran Alvaro menempati rumah itu, Mas? "Iya, Dek. Benera diambil buat budenya memulai usaha. Kenapa tanya? Bukannya tadi denger juga?" "Iya aku denger, Mas. Ak

