Musnah

1729 Kata

"Mas, masih marah? Maaf, ya. Aku bener-bener minta maaf. Janji gak bakal diulangi lagi." Berkali-kali aku mengetik pesan itu, berkali-kali juga kuhapus dan tak jadi mengirimnya. Mas Arif masih sibuk bekerja, aku ingin sekali mengobrol meski hanya sebentar. Namun, jika masih panas seperti ini, rasanya bukan saat yang tepat. Aku takut berpengaruh pada kinerjanya nanti. Entahlah, sejak malam kepala sakit. Badan agak hangat, tapi langsung pergi membuat wedang jahe agar tak jadi demam. Mungkin karena terlalu memikirkan Mas Arif, tidak bisa terpejam, jadilah kepala yang menjadi korban. Berjalan ke kamar saja, aku harus berpegangan dinding agar tidak terjatuh. Mata berkunang-kunang dan kaki terasa begitu lemas. Di saat seperti ini, bertepatan rumah kosong karena Ibu dan Dion pergi mengunjung

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN