Aku termenung karena bingung harus bagaimana. Sudah pukul sembilan pagi, tapi Fany belum terbangun dari tidurnya. Tampaknya ia begitu lelah, hingga susah dibangunkan. Bibi menyerah, tak tega katanya. Fany tidur sangat lelap. Kudatangi Dion yang habis menelepon seseorang. Ia tampak marah, wajahnya memerah dengan tangan kiri mengepal kuat. Ketika sadar akan kedatanganku, ia duduk di sofa sambil memijat keningnya. "Kenapa? Ada masalah di kerjaan?" tanyaku. "Nggak. Semuanya aman," jawabnya datar. Aku yang masih penasaran pun mendengkus kasar. "Terus kenapa? Lagi marah ama siapa?" "Ini baru dugaan, Mbak, tapi sumpah demi apa aku marah banget. Semoga aja gak bener-bener kejadian," katanya yang membuatku berpikir. "Maksudnya?" "Nanti ajalah, Mbak." "Okelah. Jaga Fany, ya." Sekitar

