Jena terbangun oleh suara nyaring khas milik mami nya, ia mengucek mata nya yang gatal. Ia baru sadar jika ada selimut nya yang menutupi seluruh badan nya.
"Aneh deh, semalam kan gue ngga pake selimut, aduhh mami baik banget sih," gumam Jena.
"HEH, MALAH MELAMUN KAMU? CEPAT MAKAN!"
"IYA MI!"
Dengan tergontai ia berjalan menuju meja makan, disana ia dapat melihat Leon, tapi entah mengapa ada yang berbeda dengan adik angkat nya itu. Jena terus memperhatikan kejanggalan yang ada pada Leon, sedangkan yang diperhatijan hanya menyantap nasi goreng nya dengan ekspresi santai, walau jantung nya sudah berdisko.
15 menit memperhatikan, akhirnya ia menyadari nya. Leon terlihat berbeda karena tataan rambut nya. Laki-laki itu biasa berambut mangkuk, tapi sekarang poni nya di belah dua, dan dapat terpampang dahi mulus milik nya.
"Ganteng," gumam Jena.
Lamunan Jena buyar seketika saat mami nya datang dengan berkacak pinggang dan sebuah spatula di tangan nya. "ARJENA ADITAMA, MAKAN! MAMI BISA-BISA DARAH TINGGI GARA-GARA KAMU!"
"Siapa suruh marah-marah, Jena ngga nyuruh tuh."
Mami pergi dari meja makan, berbicara dengan Jena membuat kepala nya pening.
Sedangkan Jena hanya bersikap acuh. Dengan perut yang lapar, ia menyantap nasi goreng nya.
Leon lebih dulu menghabiskan makanan nya, saat Leon melangkahkan kaki nya menuju luar rumah---Jena menahan nya.
"Berhenti, tunggu sebentar gue antar," ucap Jena. Leon hanya mengangukkan kepala nya lalu duduk di kursi dekat pintu utama. Ia menatap Jena yang baru saja selesai menghabiskan makanan nya dan kini ia bersiap-siap mengantarkan diri nya ke sekolah.
"Apa dare nya belum berakhir?" Gumam Leon, ia menatap Punggung Jena dengan tatapan sayu. Jujur ia masih kecewa, ia jadi tidak sabar untuk segera mendapatkan beasiswa.
"Ayo,"
Lamunan Leon buyar, ia menatap Jena yang tampak sedikit semangat, seperti bukan Jena pada biasa nya. Ia berfikir mungkin saja Jena ingin bertemu pacarnya.
Ngomong-ngomong soal pacar Jena, si Tama mengetahui perlakuan Jena pada Leon, respon nya biasa saja. Tapi lama-kelamaan ia kasian dengan Leon. Tama juga baik ke Leon.
"Hoi!" Panggil Jena sambil melambaikan tangan nya di depan wajah Leon.
"E-eh mbak, iya,"
"Melamun mulu," Jena meninggalkan Leon yang masih mengikat sepatu nya erat, ia memanaskan mobil nya sebentar lalu menyuruh Leon masuk.
Masuk perkarangan sekolah, Leon turun dari mobil, ia mengucapkan terimakasih pada kakak angkat nya itu. Baru saja ia melangkah, para gadis-gadis di sini sudah mengerumuni Leon. Leon sudah seperti artis.
Ini karena tataan rambut nya, ia menata rambutnya karena tak sengaja melihat oppa-oppa korea, jadi dia ingin mencoba nya. Tak di sangka ia malah menjadi seleb seketika.
Jena yang memperhatikan Leon yang di kerumuni gadis-gadis hanya bisa menatap tajam kearah mereka. Entah mengapa ia sedikit kesal.
Tapi kekesalan nya mereda saar handphone nya berbunyi, dan menampilkan nama sang kekasih. Dengan semangat dan senyum mengembang Jena mengangkat telfon nya.
"Halo sayang!"
"Kamu lagi dimana babe?" Tanya Tama di seberang sana, rasa-rasa nya Tama baru bangun, itu terdengar jelas karena suara nya berat-berat basah.
"Ohh, ini aku lagi antar adik angkat aku," kata Jena.
"Bukan nya dare itu udah berakhir ay?" Jena gegelapan saat mendapat pertanyaan seperti ini. Ia meneguk savila nya kasar.
"Disuruh mami, biasalah."
Terdengar Tama menghela napas lega. Sedangkan Jena, ia bersyukur otak nya masih berfungsi.
Jena melirik ke arah sekolah adik nya, ia sudah tidak melihat Leon di sekitar nya, dirasa Leon sudah masuk kelas, Jena melajukan mobil nya sambil berbicara santai bersama sang kekasih lewat telfon.
Ia terus menjalankan mobil nya hingga sampai di rumah. Setelah ia menginjakkan kaki nya di rumah, ia masuk kedalam kamar nya.
Tapi panggilan mami nya membuat Jena mau tak mau menutup telfon nya bersama sang kekasih.
"Arjena Aditama, boleh minta waktu nya sebentar?" Nada bicara mami nya membuat bulu kuduk Jena merinding, nada nya dingin dan tegas.
Dengan perlahan dan lembut ia menjawab panggilan mami nya. "B-boleh mi, mau apa ya mi?"
"Ikut mami ke ruang tamu," Jena mengikuti Mami nya dari belakang, ia semakin was-was dengan mami nya sendiri.
"Duduk!" Jena duduk di hadapan mami nya, kini mami menatap Jena sengit.
"Jujur sama mami, kamu habis apakan Leon?" Tanya si mami. Jena menggeleng sambil menjawab "Jena engga apa-apain Leon kok mi,"
"Bohong, semalam setelah kamu tidur Leon datang ke kamar mami, ia bilang mau ambil beasiswa ke luar kota, dan kuliah disana."
Deg
Jantung nya serasa turun kebawah saat mendengar penuturan mami nya. "H-hah, yang bener?"
"Ngapain mami bohong, terus minggu lalu mami denger dia ngomong sendiri di kamar nya, dia bilang dia lelah tinggal sama kamu. Mental nya ke ganggu, dan akhir-akhir ini dia stress, apa kamu tau itu Jena?" Jena menelan savila nya kasar, kepala nya serasa di hantam ribuan batu.
"J-jena ngga tau mi,"
"Tolong Jena, walaupun kamu benci sama Leon, tapi jangan bikin mental seseorang itu rusak, fisik lebih cepat di sembuhkan, tapi Mental tidak. Mami harap kamu mengerti perkataan mami, kalau sekali lagi mami lihat kamu perlakukan Leon dengan tidak baik, mami benar-benar akan langsung membawa Leon ke luar kota."
"Oh satu lagi, putusi Tama. Mami ngga suka sama dia," sambung Mami, setelah mengatakan ini, sang Mami pergi meninggalkan Jena yang diam termenung, ia mencerna perkataan Mami nya.
Entah mengapa mendengar kabar bahwa Leon akan mengambil beasiswa di luar kota dan mendengar bahwa Leon memiliki mental yang tidak baik karena diri nya, membuat hati Jena terasa nyeri.
Saat ini juga, ia merasa tidak enak hati pada Leon. Rasa nya ia ingin menebus semua kesalahan nya pada Leon. Ia akan berlaku baik pada Leon.
Dan mulai menerima laki-laki itu di rumah ini, tapi sebenernya. Ia sudah lumayan lama menerima Leon di rumah ini. Itu saat Jena menginjak kelas 3 SMA.
Sedangkan di lain tempat, Leon tengah melamun memikirkan tawaran Mami semalam.
"Kalau kamu memang mau keluar kota, sekarang saja bisa. Tidak perlu menunggu beasiswa nak, mami bisa berangkatkan kamu sekarang kalau kamu mau. Maafin sikap mbak kamu ya.. mami ngga bisa berkata-kata lagi. Jadi gimana? Leon mau tinggal di luar kota sekarang?"
Perkataan mami nya itu, terus berputar di memori kepala nya, sampai tak sadar guru di depan nya ini sudah berdecak pinggang sambil membawa penggaris panjang.
"Leon!"
###
A/n : don't forget to follow this account, dan akun i********: aku juga @MOCHEERA terimakasih.