"Lo yakin mau ambil beasiswa di luar kota?" Tanya Gibran dengan penuh keyakinan.
"Iya, jujur gue lelah harus di tinggal bareng mbak gue, iya gue tau harus bersyukur udah di angkat sama keluarga Aditama, tapi mental gue juga engga bagus kalau harus sama mbak gue terus."
Gibran menatap Leon dengan tatapan sayu, ia kasihan dengan Leon. Diri nya tidak seberapa dengan Leon yang terus kuat dan bertahan di setiap malam.
"Kalau gitu... gue dukung lu kuliah di luar kota," ucap Gibran yang langsung di hadiahi tatapan binar oleh Leon.
"Thanks bran,"
"Yoi!"
Saat dirasa pesanan nya datang, Leon dan Gibran kini menyantap makanan mereka. Tapi Leon sedari tadi hanya mengaduk-aduk soto nya. Seperti tidak berniat untuk di makan. Pikiran nya terus teringat tentang percakapan mbak dan teman mbak nya. Itu cukup membuat Leon murung dan kecewa.
Gibran yang sadar dengan anehkan Leon mulai menanyakan laki-laki itu kenapa. Dan jawaban Leon, "engga papa,"
Gibran mendengus mendengar jawaban Leon, ia tau betul sahabat nya sedang memikirkan sesuatu.
"Kalau engga kenapa-napa, soto nya dimakan. Jangan di aduk!"
"Iya," dengan hati yang murung, Leon menyantap soto nya. Hanya ada lima suap Leon meletakkan sedok nya di atas meja lalu menghela napas.
"Gue udah kenyang, bran."
"Lah? Astaga, lo kenapa sih?"
"Nanti sepulang sekolah gue cerita," ucap Leon dengan tatapan sayu nya. Gibran menyipitkan mata nya ke arah Leon.
"Kenapa engga sekarang aja? Kenapa harus nanti?" tanya Gibran dengan beruntu, yang membuat Leon semakin kesal.
"Udahlah bran, ikutin aja," ini sudah yang ke depalan kali nya Gibran menghela napas karena tingkah sahabat nya ini.
"Yaudah kalau gitu,"
Waktu makan siang sudah berakhir, kini Leon dan Gibran kembali memulai pelajaran.
•••
"Baik, cukup sampai disini dan jangan lupa makalah kalian akan di kumpulkan minggu depan. Saya pamit, selamat sore."
"SORE!" balas mahasiswa/i dengan semangat.
Satu-persatu orang keluar dari ruangan ini. Tidak terkecuali Jena, Gadis itu berjalan dengan cepat menuju parkiran. Ia lupa ada janjian bersama sang pacar di taman tempat biasa mereka berkencan.
Dengan kecepatan dari rata-rata Jena pergi menuju taman tersebut. Ia melupakan fakta bahwa Leon tidak punya teman tebengan. Mengingat laki-laki itu tidak membawa uang tambahan. Dan salah Jena yang menyuruh Leon untuk menunggu nya di sekolah.
Derap langkah larian berbunyi di taman tersebut, dengan tergesa-gesa Akhirnya Jena dapat menemukan sang kekasih.
"Astagaa, apakah pacarku ini tidak di ambil orang?"
Tama terkekeh mendengar pernyataan yang keluar bibir sang kekasih. "Menggemaskan sekali Jena ku ini," balas Tama sambil memeluk Jena lalu mengusak rambut nya.
"Aku sedang bertanya," Jena mengerucutkan bibir nya saat mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan nya.
"Aduh gemes, tenang ya... pacarmu ini tidak di ambil siapa-siapa," kata Tama sambil terkekeh.
"Babe,"
"What's wrong, honey?" Balas Tama.
"Bosan di sini terus, ke mall yuk!" Ajak Jena dengan semangat. "As ur wish baby,"
Dilain tempat, Leon menunggu Jena menjemputnya. Sekolah sudah sepi, hanya tersisa satpam sekolah saja.
"Dik, kamu tidak pulang? Ini sudah mau magrib," ucap satpam itu kepada Leon.
"Jemputan saya belum datang pak,"
"Sini saya antar saja dik, nunggu jemputan kelamaan. Sekolah mau saya kunci," kata Satpam tersebut.
Leon sedikit menimang-nimang tawaran pak satpam. "Bodoh Leon, apa yang kau harapkan? Sudah tau Mbakmu membuat mu menjadi dare nya." Gumam Leon.
"Gimana dik?" Tanya Pak satpam yang baru balik setelah mengunci pintu gerbang sekolah.
"Boleh deh pak, terimakasih ya," pak satpam mengantuk sambil membalas ungkapan 'terimakasih' oleh Leon.
Sesampai nya dirumah, Leon langsung merebahkan badan nya di ranjang abu-abu milik nya. Jujur ia sudah sangat kesal, kecewa, dan lelah dengan sikap Jena. Ini cukup membuat mental nya turun.
"Bodoh, bisa-bisa kamu menyukai orang seperti dia!" Gerutu Leon sambil menarik rambut nya acak, lalu menghela napas berat.
"Aku hanya ingin, pergi."
•••
Jam sepuluh malam Jena pulang ke rumah, saat membuka pintu utama. Mami nya sudah berkacak pinggang di depan pintu.
"ARJENA! HABIS DARIMANA KAMU? ANAK GADIS KELUYURAN MALAM-MALAM! MAU JADI APA KAMU?!" teriak si mami malam itu juga.
Disini tidak usah takut dengan tetangga mengamuk, karena jarak rumah mereka dengan tetangga lumayan jauh.
"Jena lelah mi...."
"Kamu di manjain malah ngelunjak! Cukup sudah mami sabar ke kamu Jena! Tadi pulang sekolah kamu kenapa engga jemput Leon?!"
"E-eh... lupa mi, serius,"
"Banyak alasan! Masuk dan tidur di sofa ruang tengah! Kalau sampai mami lihat kamu tidur di kamar. Kamu akan mami jodohin!"
Jena nampak tidak memperdulikan perkataan ibu nya, sesujujurnya dari lubuk hati ia takut jika beneran akan di jodohkan oleh mami nya. Lalu bagaimana dengan kekasih nya, Tama?
"MALAH MELAMUN, SANA LAKSANANKAN!"
Jena mendengus mendengarnya. Jena memang sudah mendapatkan didikan yang keras dari mami dan papi nya. Ia mendengus dugaaan nya pasti Leon yang mengadukan dirinya pada sang mami. Padahal Leon tidak memberitahu si mami. Mami tahu dari teman Jena sendiri.
Jena menuruti perintah Mami nya, untung saja bukan kartu atm nya yang di sita. Dan hanya di suruh tidur di sofa, Jena tiduran di sofa sambil menonton televisi.
"Jena jangan nonton televisi, sudah malam! Nanti kamu yang di tonton televisi!" Teriak mami dari arah dapur yang lumayan dekat dengan sofa ruang utama.
Tapi Jena tidak menghiraukan perintah mami nya, karena kesal. Mami nya menghampiri Jena lalu mencabut kabel televisi nya.
"Mami lelah sama tingkah kamu Jena!"
Sedangkan Leon yang sedang belajar untuk olimpiade nya terganggu dengan teriakan ibu angkat nya. Mbak nya memang keras kepala.
Dengan langkah gontay karena pusing dengan materi, Leon mengambil earphone lalu memakainya dan melanjutkan acara belajarnya.
•••
Leon terbangun dari tidur nya, ia melirik kearah jam di nakas. Jam menunjukkan pukul 3 malam. Ia menghela napas lalu berjalan dengan perlahan menuju dapur. Ia berusaha agar langkah kaki nya tidak mengangu mbak nya yang sedang tertidur di sofa.
Saat sampai di dapur dan merasa aman tidak ada yang tergangu, Leon mengambil air, lalu meneguk nya dengan rakus. Belajar semalaman hingga tertidur di meja membuat nya haus.
Saat ingin kembali ke kamar, Leon tak sengaja melihat Jena yang nampak mengeliat kecil sambil memeluk tubuh nya sendiri.
"Mbak Jena ceroboh juga."
Leon berjalan menuju kamar Jena tanpa permisi, ia mengambil selimut berwarna ungu pastel milik Jena, lalu menyelimuti badan Jena.
"Selamat tidur,"
###
a/n : halo! jangan lupa buat follow akun ini dan akun istagram aku @MOCHEERA untuk lain-lain nya. terimakasih!