bagian 4 : Dare

1035 Kata
"Mbak!" Jena mengalihkan pandangan nya kearah Leon. Ia hanya membalas panggilan Leon dengan deheman sambil menatap Leon dengan tatapan datar nya. "Leon berangkat bareng boleh?" Tanya Leon dengan ragu-ragu. "Tau nyusahin engga? Iya elo, gua tunggu di mobil. Tiga menit engga nyampe gue tinggal!" Leon pun segera berjalan cepat menuju mobil Jena yang berada di bagasi. Tidak sampai tiga menit, Leon sudah duduk di bangku samping Jena. Jena pun langsung membawa mobil nya menuju sekolahan Leon. Sesudah sampai di sekolah. Leon mengucapkan terima kasih lalu turun dari mobil. Jena hanya melihat Leon turun, setelah ia menjalankan mobil nya menuju kampus. ••• "Jena, pulang ngampus ngumpul!" Teriak Nana. Jena hanya mengangukkan kepala nya, ia masih sedikit kesal dengan Ariel yang membahas tentang adik angkatnya. "Tama ikut Na?" "Ikut, Ares, Ariel, Abi, Tama, ikut." Jena menganguk, lalu kembali memaikan handphone nya, mengingat dosen belum masuk. Siapa orang yang sedang chattan dengan Jena? Tentu saja pacarnya, Tama. "Ok, gue ikut!" Selesai jam matkul nya berakhir, Jena pergi menuju cafe tempat teman-teman dan kekasih nya menyepakatkan tempat berkumpul. "Lama nunggu engga?" tanya Jena. Yang mendapat gelengan dari yang lain. "Kita juga baru keluar kok," "Yaudah," Jena berjalan menuju kursi di samping Tama, lalu ia mendudukkan diri nya disana. "Sayang kangen," ucap Jena sambil memeluk Tama dari samping. "Ngebucin mulu kalian tuh, main apa gitu biar seru," ujar Riel. "Main apa? Truth or Dare mau?" tawar Abi. Yang mendapat persetujuan dari yang lain. "Yaudah cari botol dulu gua." Selagi Abi mencari botol, yang lain sibuk pada handphone nya, beda lagi dengan Jena dan Tama yang asik berdua. "Sudah ketemu!" "Ayo putar, biar gue aja yang puter pertama." Nana mengambil botol tersebut dari tangan Abi, lalu mulai memutarnya. Hingga botol tersebut berhenti ke tempat Ares. "Res, jujur atau tantangan?" tanya Nana, dengan tanpa beban Ares memilih jujur. "Kenapa akhir-akhir ini menghilang? Di telfon atau chat engga bales. Di cari engga ketemu," Ariel mendengus sambil menanyakan pertanyaan tersebut. "Aku di perusahaan papa," jawab Ares dengan singkat. Ariel hanya mendengus mendengar jawaban Ares, entah mengapa, ia kurang puas dengan jawaban Ares. "yaudah lanjut," Ares memutar botol tersebut, hingga botol nya berhenti di depan Jena. "Jen, jujur atau tantangan?" "Tantangan." ••• "Gib, besok tugas seni budaya di rumah lo aja ya." "Okeh siap! Atur aja. Nanti gue siapin camilan deh," "Leon, ayo pulang!" Leon yang sedang berdiskusi bersama Gibran sambil berjalan menuju gerbang menatap kearah seseorang yang menyuruh nya pulang dengan tatapan terkejut. "Gib, gue beneran di jemput mbak gue?" tanya Leon, ia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, sungguh. "Iya, sana samperin! Nanti dia makin marah loh ...." Leon langsung pergi meninggalkan Gibran. "Mbak Jena aneh, ada angin apa mau ngejemput Leon." Sedangkan disana, Leon berlari menuju Jena. "Sore mbak, kok mbak jemput Leon?" "Jadi lo engga mau di jemput? Ok ...," ucap Jena sambil bersiap-siap ingin melajukan mobil. "E-eh engga gitu mbak," Leon pun langsung duduk di samping kemudi. Di perjalanan, ia tak henti-henti nya menatap Jena yang bertingkah aneh bagi nya. Tidak mungkin dia tiba-tiba berubah, hanya karena dia terpaksa mengantarkan nya sekolah tadi pagi. Intinya ... hal ini patut di curigai. "Lo mau makan dulu di luar engga? Mami ada di kantor Papi, engga sempat masak," ucap Jena tiba-tiba memecahkan keheningan. "B-boleh mbak," Jena melajukan mobil nya menuju restoran berdaging. "Turun!" ••• Sepulang dari restoran, Leon tidak henti-henti nya untuk tersenyum. Intinya, Leon harus menceritakan hari ini kepada Gibran. "Lo jangan lupa cuci muka sebelum tidur," setelah mengatakan hal itu, Jena langsung berjalan meninggalkan Leon. Leon mematung di tempat, aneh. Sangat aneh. Sikap yang di berikan mbak nya sangat aneh. Dilain sisi, Jena tengah menelfon seseorang sambil memakan donat nya di rooftop kamar nya, menikmati udara sore. "Jen, Tama kata nya habis pergi sama cewek." Kompor Nana dari seberang sana. "Ah masa sih Tama selingkuh?" "Gue ada foto nya, bentar gua send." "Ohh, cewek ini? Inimah sepupu nya Tama yang baru balik dari London," ucap Jena. "Ohh... bay the way, gimana sama Leon?" Tanya nya pada Jena "Biasa aja, tadi dare nya udah gua jalani. Susah banget nerima dia. Lo tau engga muka polos dia yang natap gue dengan tatapan kaget nya? Sumpah itu wajah nya kelihatan mengasihani," kata Jena dengan enteng nya. "Jahat banget lo Jen, gila. Awas aja kalau kena karma, gua bagian mampusim ajalah." "Hm," "Ohh cuman dare, pantesan tiba-tiba aneh," ucap seseorang yang menguping pembicaraan mereka. Pagi hari, matahari terlihat sudah menampakkan sinar nya dari timur. Leon terbangun dan berjalan dengan tergesa menuju kamar mandi, mengingat hari ini adalah hari senin. Setelah bersiap, Leon berjalan menuju ruang makan, tidak ada makanan satupun. Dan ia baru ingat kakak angkat nya itu tidak bisa masak. Dengan ringan hati, Leon memasakkan sebuah Nasi goreng untuk pagi ini. Saat asik bergelut dengan alat memasak, Jena turun dari tangga dan berjalan menghampiri dapur. "Pagi, lo masak apa?" Leon tersentak saat mendengar ucapan Mbak nya yang tiba-tiba datang. "A-ah ini masak nasi goreng." Jena menanggapi nya dengan anggukan, ia berjalan menuju ruang makan untuk menunggu makanan jadi sambil memainkan handphone nya. "Oh iya, mami balik entar." "Oke mbak," balas Leon. Setelah selesai memasak, Leon menaruh nasi goreng berporsi dua orang di atas meja makan. Mereka pun mulai menyantap makanan nya. Selesai sarapan, mereka berdua berangkat menimba ilmu ke tempat nya masing-masing. ••• "Gimana, ada yang lo mau ceritain?" ujar Gibran yang tiba-tiba datang sambil merangkul Leon di koridor. "Engga ada," "Ohh, btw gue mau ajak lo diskusi masalah univ, gimana?" Leon menganguk, "boleh-boleh aja sih. Siapa tau gue juga jadi punya gambaran mau masuk mana." "Nah good!" Tanpa berlama-lama Leon dan Gibran menaruh tas mereka di kelas lalu berbaris di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera. Selesai upacara, Leon dan Gibran melaksanakan pembelajaran pertama, hingga bunyi bel istirahat menggema di seluruh ruangan sekolah. "Udah bel, ayo ke kantin sekalian bahas univ!" Ajak Gibran sambil menarik tangan Leon. Leon hanya dia dan mengikuti langkah Gibran yang membawa nya menuju kantin. "Biar gue pesen," ujar Gibran. Setelah Gibran balik dari memesan makanan, ia kembali duduk di depan Leon. "Bran," "Oit?" "Apa gue kuliah di luar kota aja ya? Gue beasiswa aja," "Leon...." ### jangan lupa follow akun ini ya, dan follow i********: aku @MOCHEERA
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN