Bagian 10 : Putus

1065 Kata
Hari ini entah mengapa hari yang buruk bagi Jena. Tadi pagi ia di marahi habis-habisan oleh bos magang nya karena Jena tidak sengaja merobek berkas yang lumayan penting, tapi berkas itu masih bisa di salin. "Hadehh, hari yang berat," ucap Jena sambil memijat pangkal pelipisnya. Kebetulan di rumah sepi, ia mengambil sekaleng soda dari kulkas lalu berjalan menuju balkon nya. "Gue lelah." Jam setengah 7, Leon baru pulang dari sekolah, ia menatap kamar Jena yang pintu nya terbuka, seperti tidak biasa nya. Ia mengintip dari celah-celah pintu yang buka. Dan nampaklah Jena yang ketiduran di balkon. Ia berinisiatif untuk memgendong Jena ke ranjang. Tapi kekuatan nya tidak sebesar itu, jadi ia hanya dapat melihat saja tanpa membantu Jena dengan menggendong gadis itu ke ranjang. Leon kembali kekamar nya, ia menatap totebag yang berisikan kemeja dan jas tersebut. Dengan perlahan ia melangkahkan kaki nya memuju meja, mengeluarkan kemeja dan jas tersebut, lalu mengunakan nya sambil menatap cermin. "Gue ganteng juga," guman Leon. "Simpan dulu aja," sambung nya sambil menaruh kemeja dan jas tersebut ke dalam lemari nya. Setelah itu ia merebahkan badan nya ke ranjang milik nya. Dan tak lama, mata nya terpejam. Jena terbangun dari tidur nya karena rasa lapar, ia melirik kearah jam. Jam menunjukkan tengah malam, ia ragu untuk bangun atau tidak, hari ini Jena harus kembali magang di kantor tersebut, menyelesaikan masalah yang sempat terjadi. "Tahan aja," final Jena, gadis itu menutup mata nya rapat kembali. Terpaksa ia memahan rasa lapar nya. Berbeda dengan Leon yang terbangun saat itu juga. Laki-laki itu lebih memilih masa telur goreng di jam segini, ia juga terbangun oleh rasa lapar. "Mbak Jena udah makan malam belum ya?" Gumam Leon di sela-sela makan nya. "Yaudah ntar cek kamar nya sebelum tidur deh." Selesai makan, Leon mencuci piring dan sendok serta alat masak yang dia gunakan untuk memasak telur. Setelah itu ia berjalan menuju kamar Jena terlebih dahulu mengecek mbak nya dulu. "Mbak kalau tidur emang posisi nya gitu atau gimana?" Gumam Leon saat melihat posisi tidur Jena yang terlihat berantakan. Leon mengeleng-gelengkan kepala nya saat melihat hal ini. Selesai mengecek mbak nya, ia berjalan menuju kamar lalu tertidur. ••• "Mbak!" "Kenapa?" "Nebeng boleh?" "Cepet," balas Jena dengan dingin. Jujur ia tidak ada niatan ingin mencuekki adik angkat nya lagi seperti dulu, tapi kali ini mood nya benar-benar buruk. Nana tadi melapor bahwa Tama terlihat berjalan bersama seorang wanita lain. Saat di mobil, Jena menancapkan gas nya di atas rata-rata. Leon yang duduk di sebelah kemudi memegang jantung nya. Walau ia sudah menggunakan seltbeat tapi kalau kecepatan nya seperti ini bisa-bisa ia mati muda. "Mbak," satu panggilan tidak di respon oleh Jena. Tapi Leon tidak lengah, ia memanggil Jena secara terus menerus. Ia tidak mau mati muda. "Mbak Jena!" "Mbak, kalau mau mati jangan ngajak-ngajak! Walaupun Leon kepengin bertemu ibu...." Kecepatan mobil berkurang, Jena sudah tidak membawa mobil sepeeti orang kesetanan lagi. Ia menatap Leon dengan perasaan bersalah, ohh iya ibu itu panggilan untuk ibu kandung nya Leon. Ibu Leon meninggal dunia saat anak itu ber-umur 4 tahun. Sedangkan ayahnya pergi entah kemana. "Maaf...." "Eh? Engga papa mbak Jen, tapi jangan kayak tadi. Itu nantang malaikat nama nya," kata Leon sambil terkekeh. Jena tidak menanggapi perkataan Leon. Gadis itu malah fokus untuk mengantarkan Leon sekolah dengan kecepatan pelan. "Tapi jangan lama juga mbak, bentar lagi terlambat," kata Leon sambil menggaruk tenguk nya yang tak gatal. Jena mengdengus "lo diam aja deh, ngebut salah, lambat salah!" "Hehe," Leon menyengir, Jena kembalu menambahkan kecepatan mobil nya di atas rata-rata. Dengan reflek Leon memegang jantung nya. "Astagaa," Sesampai nya di sekolah, Leon langsung turun dari mobil Jena. Kepala nya sedikit pening karena kecepatan mobil Jena. Memang ia tidak telat, tapi ia mual. "Makasih mbak," ucap Leon sebelum masuk ke gerbang. "Iya, belajar yang rajin." Tunggu? Leon tidak salah dengarkan? Jena menyuruhnya belajar dengan rajin. Entahlah rasa mual yang di dapatkan Leon tiba-tiba hilang mendengar ucapan Jena tadi. Cukul lama melamun, akhirnya Leon di tegur satpam sekolah nya. "Dik, pelajaran akan segera di mulai, masih mau berdiri disini?" Leon langsung gegelapan "e-eh, ini saya masuk pak," Leon berpamitan lalu pergi ke dalam kelas nya. ••• Jena menghela napas nya lega, akhirnya ia merasa lega karena satu masalah nya saat magang sudah selesai. Tapi tiba-tiba ia mendapat telfon dari kekasih nya untuk makan malam. "Kira-kira nanti ngedate pake baju apa ya?" Gumam Jena sambil tersenyum-senyum sendiri. "Mbak Jena lagi kasmaran seperti nya," Jena yang terpergok oleh salah satu karyawan magang disana. "E-eh mana ada, mending lanjut," "Hahahaha, santai aja mbak Jen. Muka nya tegang banget," kata salah satu karywan magang bernama Dila. "Aduh mbak Dila," ucap Jena dengan lemah. Dila puas menggoda Jena hari ini. "Ah ngga sabar," gumam Jena saat mengingat telfonan dari Tama. ••• "Hai beb!" Sapa Jena dengan riang, yang hanya di balas senyum tipis dari Tama. Senyuman riang Jena perlahan memudar, melihat respon Tama yang seperti tidak biasa. "Jen, langsung duduk saja ya," ucap Tama dengan senyuman tipis nya. Tanpa babibu Jena langsung duduk di kursi depan Tama. "Kenapa ay? Tiba-tiba ngajak ngedate," "Aku bukan mau ngajak ngedate, tapi ada sesuatu yang harus aku bicarain sama kamu," kata Tama. "Apa?" Tanya Jena. "Sebelum itu... kamu mau mesan sesuatu?" Tanya Tama, yang medapat gelengan dari Jena. "Engga babe, lanjut aja mau bicara apa?" "Jadi gini... kamu tau kan kalau aku bakal pindah ke canada? Nah keberangkatan nya besok, karena aku engga kuat ldr... jadi hubungan kita sampai disini aja ya honey, terimakasih buat satu tahun 3 bulan nya. I always love you," kata Tama Jena tidak bergeming sama sekali, otak nya sama sekali tidak bekerja kala kata-kata itu masuk dan menghantam kepala nya begitu saja. "I-itu beneran?" "Iya Jen, maaf sekali lagi... tapi ingat kalau aku selalu sayang kamu," kata Tama. "Aah, g-gue jemput Leon dulu. Dah Tama, semoga perjalanan ke canada nya lancar, see you!" Jena buru-buru meninggalkan tempat itu. Dirinya tidak kuasa menahan tangisan nya. Ia masuk kedalam mobil dengan air mata yang bercucuran, Leon yang berada di dalam mobil menatap Jena cemas. Bagaimana bisa ada Leon? Laki-laki itu lebih dulu di jemput, tapi Tama mempercepat waktu nya, mau tak mau Jena membawa Leon ikut bersama. Tapi Leon menunggu di dalam. "Mbak...." ### A/n : don't forget to follow this account, and akun i********: aku @MOCHEERA thank you ^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN