Sepulang nya dari tempat itu, Jena langsung berlari menuju kamar nya, mengunci kamar nya sendiri lalu menumpahkan airmata. Sedangkan Leon hanya berdiri kebingungan melihat si kakak angkat nya.
Dengan langkah ragu, laki-laki itu mendaratkan telinga nya ke badan pintu kamar Jena.
Tidak terdengar apa-apa, hanya alunan musik rock. Jena sengaja menyalakan lagu, agar tidak ada yang mengetahui diri nya sedang menanggis.
Tetapi berbeda dengan Leon, laki-laki itu mengetahui Jena menanggis sedari tadi. Jujur Leon sekarang sedikit cemas dengan Jena. Kemarin gadis itu belum makan malam.
Suara mami nya mengintrupsi telinga nya. "Kenapa?"
"E-eh mami! Kapan sampai mi?" Tanya Leon.
"Dari siang tadi, Mbak mu kenapa? Tiba-tiba masuk terus ke kamar nya, mana nyetel lagu rock besar banget. Sakit kuping mami," gerutu Mami nya yang kesal dengan sikap Jena.
"Nanti Leon coba bilang mi... Leon mau ke kamar ganti baju dulu,
" pamit Leon, yang mendapatkan anggukan oleh mami. Setelah Leon memasang baju nya menjadi baju biasa.
"Mbak," pangil Leon dari luar kamar Jena. Tapi tetap saja tidak asa sahutan dari dalam kamar nya. Leon memanggil mbak nya sekali lagi dengan keras dan tetap pintu itu tidak terbuka. Akhirnya Leon membuka pintu kamar tersebut secara paksa.
Bisa ia lihat, Jena yang tertidur dengan mata sembab dan musik yang masih berputar.
"Ini gara-gara si Tama-Tama itu ya! Awas aja kalau nyakitin mbak Jena lagi, gue tandain lo Tama," ancam Leon.
Leon yang memang bocah SMA tidak bisa menggendong Jena ke ranjang, ia hanya bisa mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh Jena sampai hampir seluruh tubuh nya tertutupi, setelah itu ia mematikan lagu itu lalu berjalan ke bawah, menemui mami.
"Mami," panggil Leon.
"Iya?"
"Keberangkatan Leon bisa di perlambat engga mi?" Tanya Leon. Mami menggeleng kan kepala nya.
"Engga bisa, kalau di percepat baru bisa," kata Mami nya yang entah mengapa membuat nya lesu.
"Maaf nak, mami cuman ngga mau kamu kenapa-napa," kata mami di dalam hati.
"Mami, mbak Jena kematin engga makan malam, pagi tadi cuman makan sedikit." Lapor Leon
"Terus sekarang Jena lagi apa di kamar nya?" Tanya mami dengan ketus. "Lagi tidur mi, kayaknya kecapekan di kantor," balas Leon.
"Lemah mbak mu itu, masa gitu aja capek, yaudah nanti mami bangunin suruh makan. Sekarang kamu makan duluan aja," Leon menganguk lalu bergerak ke meja makan yang sudah tersaji banyak macam makanan.
•••
"Mi, J-jena berangkat d-dulu ya," ucap Jena dengan lirih. Mami nya sedikit khawatir melihat keaadan Jena yang terlihat pucat. Leon yang melihat nya juga terlihat ngeri sendiri.
"Kamu yakin? Muka kamu pucat sekali, istirahat aja ya di rumah," kata Mami.
"Iya mbak, istirahat aja kalau gitu,"
"Ngga pap—" darah segar menetes dari hidung Jena, perlahan Jena berdiri dengan sempoyang karena kaki lemas, setelah nya ia tak sadarkan diri.
"JENA!"
Di rumah sakit, untuk yang ke lima kali nya Leon bertemu papi setelah dari semenjak dia di angkat menjadi bagian dari keluarga Aditama.
Ngomong-ngomong Jena terkena tifus, jadi diri nya di suruh untuk banyak-banyak istirahat. Dan Jena akan di rawat sekitar seminggu.
"Leon," panggil papi Aditama ke Leon yang tengah berdiri kaku. Leon menoleh dan menjawab panggilan dari Papi angkat nya.
"Iya p-papi?"
"Jangan canggung, saya dengar kamu mau pindah ya?" tanya papi Jena memastikan, Leon menganguk.
"Iya pi,"
"Jaga diri selama di luar kota, setelah kamu menyelesaikan perguruan tinggi datang ke papi, ada hal penting yang harus papi katakan," Leon menganguk patuh.
"Kalau begitu saya pergi ya? Ada jadwal landing ke jepang, sayang aku titip salam ke princess ya, maaf papi nya belum bisa jadi papi yang baik,"
"Sayang jangan bilang gitu, nanti aku sampein ke Jena. Kamu hati-hati,"
"Dahh,"
Papi Aditama pergi dari sana, kini hanya tersisa Leon, Mami, dan Jena yang masih menutupkan mata nya.
"Mami,"
"Iya?"
"Leon kapan di ajak ke makam Jendral?" Tepat saat itu monitor jantung Jena bergerak melemah, Leon dengan sigap memencet tombel dejat ranjang untuk memanggil dokter.
5 menit kemudian, suster dan dokter datang dengan peralatan lengkap. "Bagaimana bisa jantung nya melemah?" Tanya salah satu suster yang membantu dokter Miko.
"Bukan saat nya berbicara suster Angel," peringat dokter Miko. Sedangkan Mami nampak sangat khawatir dengan Jena, ia lupa anak gadis nya itu sangat lemah dan cepat terserang penyakit.
Bayangan ketika Jena sakit hingga hampir merengut nyawa nya terlintas di kepala nya. Tanpa sadar mami meneteskan airmata nya dan melantukan doa di pelukan Leon.
"Mami tenang, mbak Jena kuat kok," kata Leon yang menguatkan mami. Sedangkan Mami mengangukkan kepala nya padahal hati nya sangat tidak tenang.
"Syukurlah, jantung nya kembali bergerak normal," kata dokter Miko.
"Ibu, dik, Atas nama Arjena Aditama sudah tidak papa-papa, jantung nya kembali normal, jika ada kejadian seperti tadi langsung pencet tombol dekat ranjang. Buat makanan Jena, nanti akan di antarkan. Itu saja, terimakasih,"
Dokter Miko dan kedua suster itu pergi dari ruang inap Jena. "Mami apa engga bisa keberangkatan Leon di perlambat? Leon masih mau nemenin mbak Jena,"
"Ini keputusan kamu dari awal Leon, lagian penerbangan nya engga bisa di perlambat,"
"Tapi kenapa? Kenapa engga bisa?"
"Kalau Leon mau lihat mami sama mbak kamu baik-baik aja pergilah mencari ilmu ke luar kota, tapi kalau engga... disini aja," ucap si Mami final
"Iya mi, Leon bakal pindah," ucap Leon dengan lirih. "Kenapa jadi begini?" Kata Leon di dalam hati nya.
Sedangkan Mami nya menatap Leon sayu "mami cuman engga siap kamu di cari ayah kandung kamu," kata Mami di dalam hati saat melihat Leon yang mengeluarkan handphone dari saku celana nya.
•••
Dua hari Jena belum membuka mata nya, tinggal tiga hari lagi Leon akan berangkat menuju luar kota. Tentu ia memikirkan hal ini, dirinya sangat ingin Jena mengantarnya ke bandara.
Entahlah dirinya merasa sedikit... err... ada rasa aneh di dirinya saat menyangkut Jena.
"Mami," panggil Leon. Sang Mami yang sedang mengupas apel menatap kearah Leon dengan tatapan tanda tanya.
"Apa bisa Mbak Jena antar Leon ke bandara?"
"Bisa," bukan, itu bukan Mami nya. Tapi—
"Jena! Mami panggil dokter dulu," dengan sigap Mami memencet tombol di sebelah ranjang. Tak lama dokter datang.
"Dik Jena sudah lumayan membaik tapi untuk tiga hari kedepan harus tetap di rumah sakit," kata Dokter Miko.
"Kalau tiga hari dari sekarang saya pergi ke bandara bisa?"
"Lihat keadaan dik Jena nya saja, kalau masih kuat. Bisa kok, kalau begitu saya pamit,"
###
A/n : don't forget to follow this account and akun i********: @MOCHEERA
Thank you ^•^