Kerjaan Jena setiap hari adalah makan, tidur, mmke kamar mandi, makan, tidur, ke kamar mandi. Bergitu saja secara berulang-ulang.
"Mi, Jena bosen," rengek Jena kepada mami nya yang sedang mengupas apel.
"Nasib kamu, siapa suruh sakit," Jena mengerucutkan bibir nya mendapatkan balasan yang tidak memuaskan dari sang mami.
"Mami ih,"
"Apa ih-ih,"
"Bosen mi!" Jena berdecak saat mami nya tidak merespon rengekan nya. "Mi Leon kapan pulang?"
"Tumben nyariin Leon, kesambet apa?"
"Kesambet macan tutul, aduh Jena BOSEN!"
"Arjena! Ini di rumah sakit. Ngga lucu kalau pasien di rumah sakit ini ke seret rawat inap di depan jalan," Jena berdengus
"Ini mah jangan ditanya lagi deh sikap nyebelin Jena dari mana," tutur Jena dengan nada yang terkesan ketus.
Wenda—mami Jena—hanya tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan anak nya. Memang ia sangat jahil, apalagi jika bersama sang suami.
"Mami besok mau ke singapura, disini sama Leon mau kan?" Pertanyaan Wenda hanya di angguki oleh Jena, mendapatkan respon yang seperti itu membuat Wenda tersenyum.
"Tumben, biasa nya kamu engga mau sama Leon,"
"Ihh mami!" Rengek Jena sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aduh, lucu nya bayi mami. Tapi mami seriusloh besok mau ke singapura, selama mami tinggal jaga Leon. Jaga Leon selayaknya Jena jaga Jendral."
"Leon sama Jendral beda mi, jangan samain mereka di depan Jena! Jena engga suka! Jendral ya Jendral, Leon ya Leon, mereka beda. Tapi... sebisa mungkin J-jena bakal jaga Leon,"
Wenda tersenyum, rupanya anak gadis satu-satu nya itu sudah menerima keberadaan Leon. Tapi sayang sekali, mereka harus berpisah 2 hari lagi.
"Mami Jena masih bisa di maafin sama Leon kan?" Tanya Jena dengan Lirih, sang mami menganguk lalu mengelus rambut Jena.
"Pasti, Leon itu anak nya baik dan berhati lembut Jen. Mami yakin dia mau maafin kamu, eh udah masuk jam siang mau makan apa?"
"Apapun yang penting bukan bubur rumah sakit, iwhh,"
"Oke princess,"
•••
Sepulang dari sekolah Leon langsung pergi menuju rumah sakit, membawa sedikit buah untuk Jena, hanya buah pisang yang seharga dua puluh lima ribu, paslah di kantung pelajar.
"Assalamu'alaikum, mbak Jena, mami," sapa Leon sambil menyembulkan kepala nya di sela pintu rumah sakit tersebut.
"Masuk nak, jangan nyembulin kepala kayak gitu duduk sini makan siang. Leon udah makan siang belum?"
"Belum mi," jawab Leon sambil berjalan ke arah mereka. Jena tengah asik dengan makanan dan handphone nya, jadi ia tidak sadar atas kedatangan Leon.
"Jen, ini Leon udah pulang. Kata nya kamu mau ngajak Leon jalan-jalan, jadi ngga?" Jena yang tengah asik memainkan handphone nya menoleh ke arah mami nya. Sedangkan Leon masih terkejut dengan kata-kata mami nya. Ia berfikir apa mbak nya beneran mengatakan seperti itu?
"Iya mi, tunggu dia selesai makan dulu. Jena juga belum selesai makan nih,"
"Tuh Leon, ayo makan nanti mau di ajak jalan-jalan keliling rumah sakit. Ayo nak makan dulu,"
"Iya mi," Leon memakan makanan yang diberika oleh Wenda. Memakan dengan banyak fikiran tanda tanya, salah satu nya waktu Jena mengajak nya jalan-jalan apakah itu serius?
"Leon kalau makan jangan melamun."
Leon tersenyum kikuk saat di pergokki oleh mami Wenda.
"Oh iya Leon semua keperluan kamu udah mami sama papi urus disana. Kamu tinggal datang terus sekolah, ada pembantu juga yang bakal jaga kamu disana."
Jena meletakan sendok nya kasar, ia tidak suka dengan pembahasan ini. Jujur ia masih belum terima Leon pergi. Tapi dia bisa apa.
"Kalem Jen, astaga anak ini," sungut Wenda melihat Jena yang membuat dirinya menggelengkan kepala nya.
"Jena udah kelar makan nih, yuk Leon kita jalan-jalan sekarang aja!" ajak Jena yang tidak menghiraukan sungutan mami nya.
"Pake kursi roda dulu gih,"
"Ngga usah, jalan aja ayo!" Jena dengan bar-bar nya turun ke bawah brangkar lalu menarik alat infus dan tangan Leon.
Mereka meninggalkan si mami sendirian di kamar inap nya. Sedangkan Jena dan Leon tengah berjalan berduaan. Awal nya tidak ada yang membuka pembicaraan duluan, senyap dan sepi. Hingga akhirnya Jena memecahkan keheningan.
"Leon, g-gue minta maaf ya,"
"Hah?" Leon menatap Jena kebingungan, ia tidak mengerti kenapa kakak angkatnya tiba-tiba meminta maaf.
"kenapa minta maaf mbak?" Tanya Leon ke Jena. Jena menghela napas sebentar
"Mbak banyak salah sama kamu, maaf ya sudah bikin kamu terluka, mbak benar-benar minta maaf," ucap Jena. Tatapan dan lontaran nya terlihat jujur dan menyakinkan.
"I-iya Leon udah maafin dari lama, malah Leon engga marah sama sekali. Maklum aja kan Leon di angkat mami, ya wajar aja mbak Jena engga nerima Leon." Jena gegelapan mendengar ucapan Leon.
"Aduh engga gitu cuman..."
"Udah mbak engga papa, gimana keadaan mbak?" Tanya Leon mengalihkan pembicaraan.
"Baik sih sebenernya,"
"Berarti mbak bisa antar Leon ke bandara lusa kan?"
"Leon... kalau mbak minta kamu engga ke luar kota bisa?" Tanya Jena dengan ragu, Leon menatap kaki nya sendu.
"Sayangnya... engga bisa, maaf,"
Jena dan Leon balik dari jalan-jalan keluar bersama. "Gimana jalan-jalan?" Tanya Si mami yang masih memegang handphone.
"Udah selesai mi,"
"Eh ada keaadan mendadak, mami harus berangkat ke singapura sekarang, mendadak banget ini. Kalian ngga papa kan berdua? Jangan macem-macem pas mami tinggal,"
"Iya mi, hati-hati."
"Leon, mami minta maaf ya kalau engga bisa antar kamu ke bandara."
"Iya mi..."
###
Tepat hari ini, keberangkatan Leon. Ada rasa ingin membatalkan penerbang oleh Leon. Sedangkan Jena ada rasa tidak rela melepas Leon ke luar kota. Ini lah mereka, saat bersama tidak saling bicara, saat berpisah saling mencari.
Kedua nya diam sambil berhadap, tidak ada yang memulai pembicaraan. Hingga suara pramugari menginterupsi pendengaran mereka.
"Mbak, Leon sudah harus berangkat."
"Akan iya... Sini mbak antar sampai sana. "
"Eh jangan, nanti ngerepotin. Makasih ya mbak, nanti kalau Leon sudah besar dan sukses, Leon balik lagi ke mbak ya," Kata Leon
"Iya Leon, balik aja kapan kamu mau. Jaga diri, sekali lagi maaf," Setelah itu Leon pergi sambil membawa koper nya menjauh dari Jena.
Jena memperhatikan punggung sangat adik yang berjalan jauh dari dirinya. "Kok gue ga rela," Ujar Jena.
Setelah di rasa Leon sudah pergi, Jena kembali ke rumah nya. Sepi. Itu yang dirasakan Jena saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini sehabis mengantarkan Leon.
"Hari ini ga ada jadwal kuliah, bosen deh,"
"Apa gue bersih bersih rumah aja ya," Gimana Jena. Akhirnya setelah bersepakatan dengan dirinya sendiri, ia mulai membersihkan rumah, mulai dari kamar nya hingga Kamar Leon.
Rumah besar di bersihkan sendiri memang terasa sangat sangat melelahkan. Begitulah Jena yang kelelahan sehabis membersihkan beberapa ruangan di rumah nya.
Dan ruangan terakhir yang akan di bersihkan adalah kamar Leon. Jena menatap Kamar Leon yang sudah bersih, tanpa ada debu satupun.
"Apa dia sebelum pergi bersih bersih kamar dulu?" Jena melangkahkan kaki nya masuk ke lebih dalam di kamar Leon. Melihat dengan seksama benda benda yang ada di kamar Leon.
Jena melangkahkan kaki nya ke rak buku, ia dapat melihat banyak buku psikologi dan pelajaran. Tapi ada satu buku dayri yang menarik perhatian nya, buku dayri tersebut berwarna putih dan ada gambar menara Paris.
"Buku apa ini? Gue coba buka aja kali ya," Gumam Jena. Ia mengeluh buku dayri itu terlebih dahulu baru mulai membaca nya, perlembar dengan seksama.
'2011, maret 21.
Hari ini, Leon di adopsi sama mami Wenda sama papi cahyo. Kata mereka Leon bakal punya kakak cwe, Leon ga sabar mau ketemu kaka cwe Leon. Tapi Leon masih gatau adopsi itu apa, Leon tanya bunda nia ga di jawab :( nanti pas Leon gede, Leon bakal cari tahu.. Ok segitu dulu, papi sama mami baru Leon udah jemput'
Jena tersenyum melihat tulisan tangan Leon kecil yang berantakan, kata katanya terlihat polos.
'2011, 24 maret.
Huh, udah tiga hari di rumah mami sm papi baru Leon. Leon takut.. Kaka cwe Leon keliatan marah sama Leon, Leon habis apa? Kok bisa kaka cwe Leon marah sama Leon :( kalau gitu besok Leon akan lebih baik lagi, biar kaka cwe Leon ga marah. Oh iya nama kaka cwe nya Jena loh, lucu ya'
Jena membaca surat itu, ia kembali merasa bersalah pada Leon. Seharusnya ia tidak melakukan hal itu pada Leon. Ia kembali membuka lembar berikut nya.
'2011, 4 mei
Mbak Jena tadi marahin Leon, sambil lembar mainan nya. Kata bunda kalau orang lain marah terus, artinya dia benci dan ga suka sama Leon. Apa Mbak Jena benci Leon? Padahal Leon udah berusaha buat baik ke mbak Jena, tapi mbak Jena masih marah :( Leon harus apa biar mbak Jena ga benci Leon.'
Perih, ia semakin merasakan bersalah. Karena tak sanggup membaca, Jena melompat halaman berikut hingga menuju akhir halaman.
"2021... Ini baru,"
'2021, 5 februari
Hari ini mbak Jena aneh banget, dia tiba-tiba baik ke Leon, tapi harusnya Leon seneng kan? Akhirnya mbak Jena ga nyalahin Leon terus, ga benci Leon terus. Tapi Leon masih kaget sama perlakuan nya mbak Jena, belum terbiasa. Kenapa ya? Pas Leon mau pergi.. Mbak Jena baru ngangep aku jadi adiknya? Kenapa ga dari awal aja... Leon jadi gamau pergi, tapi.. Leon harus.. Mami bilang kalau Leon tetep di sini, mami, mbak Jena bakal kena bahaya. Leon harap keputusan Leon baik, mami, papi, mbak Jena.. Tunggu Leon balik'
'2021, 6 mei
Hari ini, Leon ngerasain kasih sayang seoarang kakak.. Tapi.. Leon ngerasa ada yang aneh, jatung Leon berdebar kalau di sebelah mbak jena... Leon tanya Gibran dan jawaban Gibran bikin Leon ga tenang. Akhirnya Leon tau kalau Leon itu...
"INI SERIUS?!" teriak Jena.
###
A/n : don't forget to follow this account and akun i********: aku @MOCHERRA
THANK YOU