"So... lo putus sama Tama?" Tanya Nana memastikan. Jena menganggukkan kepala nya. Ariel menghela nafas nya panjang saat mendengar cerita Jena, ia cemas dengan Nana, entah dari awal firasat nya buruk mengenai Abi. melihat dari teman-teman nya yang bad---Ares dan Tama---membuat Ariel khawatir dengan Nana.
"Riel! oy! dari tadi di panggil ngga noleh, lagi mikirin apa sih?" sungut Jena dengan kesal. Ariel pun langsung meminta maaf karena tidak fokus. "Tadi bahas apa?"
"Kita mau cabut nih! ke mall. ikut ga Riel?''
''Ikut dong! yakali engga."
Mereka bertiga sepakat pergi sekarang menuju Mall. Jujur, Jena hari ini agak tidak bersemangat ada banyak yang menganggu fikiran nya termaksut diary milik Leon yang tertinggal kemarin. Ariel menyadari hal itu, tapi tidak dengan Nana. karena Nana saja terlihat stress.
"Ayo jangan banyak fikiran. mending kita happy! Karaoke yuk?" Usul Ariel dengan semangat.
"yuk," Ucap kedua nya dengan lemas. Ariel dengan sigap meraih kedua lengan sahabat nya. Lalu pergi membawa mereka ke tempat karaoke.
"Lupain dulu semua nya!"
Jena tersenyum sambil menganggukkan kepala nya. Ariel membawa mereka berdua ke beberapa tempat yang ada di mall. Mulai dari toko baju, hingga toko aksesoris. Oh, jangan lupakan mereka pergi ke Timezone.
Semua tempat di mall sudah di kunjungi. Kini, saat nya mereka mengisi perut mereka.
"Mau makan dimana?" Tanya Ariel. Nana menempelkan jari telunjuk nya di pelipis, dia membuat gestur memikir.
"Asli gue bosen makan disini, i mean di mall. keluar yuk! cari makan nya di luar mall." Usul Jena, yang mendapatkan anggukan oleh Nana.
"Gue ada rekomen rumah makan sih, baru buka, dari seminggu yang lalu pengen makan disana, tapi gue pengen ngajak kalian kesana."
"Ok, cool! kita ke rumah makan yang di rekomen sama Nana."
Mereka bertiga berjalan menuju luar mall, saat berada di eskalator, Jena melirik ke arah eskalator di seberang nya, eskalator naik.
"kok mirip seseorang ya cowok nya," gumam Jena. ia sibuk memikir kan siapa laki-laki yang berada di seberang eskalator itu. saking asik nya berfikir, Ariel menyuruh Jena fokus sedari tadi, bahaya melamun di eskalator.
"Ayo cepat!"
Nana menarik tangan Jena hingga menuju ke arah parkiran mall. Ariel tak henti-henti mengomeli Jena yang melamun di eskalator.
"Bahaya heh! lo mikirin apa? sampai bersikap teledor kayak tadi, kalau lo kenapa-napa gimana? lain kali jangan gitu, khawatir tau ga? denger ga lo?" sungut Ariel. Nana menyenggol jena.
"Hah? apa?" Ariel menjitak dahi Jena. Jena pun meringis kesakitan. sedangkan Nana hanya menertawakan Jena..
Mereka berjalan mencari mobil milik Ariel, tapi, saat mencari, Nana melihat satu mobil yang tampak tidak asing. seperti mobil seseorang yang ia kenal.
"Riel, Jena, gue kok kayak kenal mobil ini ya?"
Ariel menghentikan aksi menjewer telinga Jena. "Tuhkan, Gue juga ngelihat cowok di eskalator seberang. mirip seseorang."
Sepertinya, Ariel mengetahui itu siapa, ia menarik tangan Jena dan Nana. Ariel membawa mereka ke mobil nya. "Cepat masuk, gue laper!" kata Ariel dengar suara yang gemeteran, tapi kedua gadis itu berfikir kalau Ariel memang sedang kelaparan.
"Lo kelihatan nya laper banget Riel, sini gue aja yang nyetir, kan yang tau rumah makan nya gue," kata Nana sambil tersenyum.
"No, please, biar Jena aja deh yang nyetir. Lo kasih dia arahan aja." ucap Ariel yang di setujui oleh kedua nya.
###
Sesampai nya di rumah makan, Nana berjalan ke arah resepsionis, "Permisi mbak, yang punya rumah makan nya dimana ya?" Tanya Nana.
"Disini Nana!"
"Bibi!"
Nana dan bibi itu berpelukan sambil bertanya kabar. Jena dan Ariel yang kadang di tanya-tanya oleh bibi itu hanya menjawab dengan se-ada nya dan senyuman canggung.
"bi, mereka teman-teman Nana, beda jurusan dan fakultas sih, ketemu pas SMA, hehe.."
"halo tante, saya Jena teman Nana, dan dia Ariel,"
"santai saja nak, ayo duduk dulu, mau di atas? atau di bawah? kalau bibi saranin sih di atas angin nya enak banget."
"Boleh tuh bi, di atas aja, ayo!" Ucap Ariel tak sabar, jujur saja Ariel sangat menyukai outdoor, daripada indoor.
"Ok, menu nya random ya nak, saya buatkan yang ter-enak dan ter-hits akhir-akhir ini."
Setelah itu mereka bertiga langsung pergi ke atas. Mereka mengambil tempat paling pinggir, agar dapat menikmati pemandangan pantai yang lumayan dekat dengan rumah makan ini.
Jena berjalan mengitari meja makan nya sambil menghirup udara. "hah... segar banget! sering-sering kesini yuk!"
"Boleh tuh, atur jadwal aja. btw, gue masih penasaran sama mobil tadi."
Mendengar ucapan Nana, Jena dan Ariel saling tatap. Ok, sekarang Jena ingin membocorkan nya. tetapi, bibi nya Nana datang dengan banyak makanan di nampan nya.
"Ngobrol nya nanti saja, ini makan dulu menu terlaris dari rumah makan kami."
Ariel dan Jena tersenyum membalas ucapan bibi nya Nana. tanpa aba-aba, Ariel langsung mengambil peralatan makan nya dan langsung melahap makanan nya.
"ENAK! enak banget sinting," ucap Ariel dengan makanan di sendok nya dan jangan lupakan senyum sumringah nya. Karena penasaran, Jena coba mencicipi makanan tersebut.
Dan benar saja, Jena mengakui bahwa makanan itu sangat enak. bahkan, Jena dan Ariel merebutkan makanan itu. makanan yang mereka makan adalah abalone.
"Na, parah, lo sembunyiin tempat se keren ini?! parah."
Ariel menyetujui perkataan Jena. Nana tersenyum melihat respon teman-teman nya yang memuaskan.
"Lain kali, gue ajak kalian kesini lagi, okay?"
"OK/COOL," Ujar mereka dengan semangat.
###
balik dari rumah makan mereka bertiga balik kerumah masing-masing. Jena sebenarnya sangat malas di rumah. Karena hanya ia yang tinggal di rumah itu.
Dia benar-benar bosan, Jena pun mengambil handphone nya lalu menyetel sebuah lagu dengan volume yang tinggi. Hari ini, ia menjadi penguasa rumah.
"Lagu udah.. volume nya tinggi lagi. Dan kenapa GUE MASIH NGERASA Bosan?!" teriak Jena dengan frustasi.
Disaat seperti ini pikiran nya hanya tertuju pada sang ibu, dengan segera ia mematikan lagu nya, lalu beralih menelfon ibu nya.
"Kenapa nelpon?" ucap ibu nya di seberang sana sambil tertawa.
"Happy banget disana, apa anaknya kesepian disini," sungut Jena dengan nada yang merajuk.
"Sepi ya? dulu kamu suka ninggalin Leon sendirian di rumah, anggap karma saja, hahaha...,"
Jena mendengus mendengar penuturan ibu nya. "ishh... terus sekarang gimana? Jena ga berani disini sendirian, minimal taruh pembantu kek, Mi. Jena juga gak bisa beberes sama masak, nanti yang urus Jena siapa?" Adu Jena.
"gak ada. kamu harus mandiri, dah, Mami ada urusan, Mami tutup dulu, dah...,"
Jena terduduk di atas kasur nya sambil menghela nafas. di lirik nya buku Dairy milik Leon. ohh iya... Leon apa kabar?