Jena terbangun saat sinar matahari dengan tidak sopan masuk kedalam jendela kamarnya. Ia merentangkan tangan nya, guna, untuk melemas kan otot dan sendi-sendi nya.
Setelah itu dia melirik ke arah jam di dinding kamar nya. Sudah jam setengah enam. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju kamar mandi yang berada di kamarnya. Menggosok gigi lalu membasuh wajahnya, lalu mandi. Selesai membersihkan diri, Jena turun menuju dapur.
"Non, sudah bangun?" Ucap seseorang dengan suara yang halus. Jena terperanjat kaget saat itu juga. Dia menatap orang itu berkali-kali memastikan apakah dia benar-benar manusia atau bukan.
"Ini orang kan?" Tanya Jena dengan wajah polos dan kaget nya. Orang tersebut mengangguk 'kan kepala nya.
"Saya Kisum. ART disini. Saya di tugaskan oleh mami nona," Ujar Kisum dengan sopan dan senyuman manis nya.
'Oh, akhirnya mami menuruti perkataan ku,' ucap Jena dalam hati.
Ia pun membalas senyuman bi Kisum tak kalah manis. "Jadi bi Kisum di suruh mami saya buat jadi ART?"
"Benar non, tapi ini atas kemauan saya juga non. Oh, kalau begitu ayo di santap sarapan nya."
Jena berjalan menuju kursi di meja makan lalu menyantap makanan nya. "Enak bi! Masakan nya waenap pol! Kenapa gak ikut master chef, bi?"
"Ah, non, bisa saja. Saya tidak se handal itu kok non, biasa saja."
Jena tersenyum dan kembali menyantap makanan nya. Akhirnya rumah ini ada isi nya, setidaknya dengan kehadiran bi Kisum rumah ini jadi tidak terlalu sepi.
"Agenda nona hari ini apa?" Tanya bi Kisum yang sedang membereskan peralatannya.
"Magang bi, eh bentar lagi telat. Bi, saya berangkat duluan ya! Hati-hati di rumah!" Jena meminum air sebelum benar-benar pergi. Setelah itu barulah ia berangkat.
Tapi, ia melihat seorang pria duduk di mobil nya. "Ayo non, saya antar ke tempat magang nya."
Karena tidak ada waktu, Jena tersenyum lalu masuk kedalam mobil. "Jadi ga hanya ART, ternyata supir juga. Syukur deh jadi gak perlu bawa mobil." Ucapan Jena dalam hati nya.
Jena menghela napas saat tahu dirinya tidak terlambat, ralat, hampir terlambat. Sejujurnya, ia bersyukur indentitas dirinya sebagai anak dari rival perusahaan ini tidak di ketahui oleh segenap staff.
Jena yakin, yang mengetahui nya hanya pemilik dari perusahaan ini. Dunia perbisnisan tidak semenyenangkan itu untuk di lihat, apalagi yang sering kita lihat di drama Korea. Dunia perbisnisan juga kejam.
"Nona, sudah sampai."
Dengan cepat Jena turun dari mobil lalu mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal ke supir baru nya. Setelah itu ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju kedalam kantor. Absen sebentar, lalu berjalan menuju ruangan khusus para magang.
Saat menuju ke sana, Jena tidak sengaja tertabrak oleh seseorang. Dengan emosi yang membuncah ia memaki orang tersebut.
"Mas nya gimana sih!? Lihat baju saya jadi kotor kena kopi Anda!" Ucap Jena dengan suara yang lantang akibat emosi.
"Maaf mbak, sini saya bantu bersihkan," Kata pria tersebut dengan baik. Tapi, Jena menggelengkan kepala nya.
"Gak perlu," Dengan acuh, Jena pergi dari sana meninggalkan pria tersebut dan banyak mata menatap ke arah nya.
Jena yang awalnya ingin berjalan menuju ruangan magang kini memutar balik ke arah kamar mandi kantor.
Sepanjang jalan, Jena tak henti-henti nya ngedumel, hari ini Jena kena s**l. Sehabis dari toilet, banyak yang menatap Jena sambil berbisik. Tapi, Jena tetap acuh dan berjalan ke arah ruangan magang.
Sesampainya di ruang magang, salah satu teman magang nya yang perempuan menghampiri Jena dengan tatapan khawatir.
"Jena! Saya dengar tadi kam---" Belum sempat kalimat teman nya di lanjutkan Jena sudah menutup mulut teman nya dengan jari milik nya.
"Sudah jangan di bahas,"
"Tapi kamu beneran di tabrak pak Deva?" Tanya Andini sekali lagi.
"Pak Deva siapa? Gak kenal saya."
"PAK DEVA ITU DIREKTUR DI PERUSAHAAN INI, DAN DIA ANAK DARI PEMILIK PERUSAHAAN INI!"
"Ciri-ciri nya pak Deva kayak gimana?" Tanya Jena. Ok, sekarang bisa di bilang Jena lumayan panik.
"Pak Deva ya? Hm.. Punya t**i lalat di bawah mata, rada sipit, putih, tinggi nya sekitar 175? Terus... Hidung nya mancung."
Ok bagus sekali, berkat informasi dari Andini, Jena sekarang mematung tegang dan panik karena orang yang menabrak dia itu adalah—Pak Deva.
"yaAllah.. Semoga saya baik-baik saja," Tiba-tiba pintu ruang magang terbuka. Dan nampak lah seorang pria dengan wajah tegas menyapa para magang.
"Halo, sudah sampai mana?" Seketika Jena di landa kepanikan. Dia mengalihkan pandangan nya dari Deva. Iya, pria yang datang ke ruang magang itu adalah Deva.
"Kalian berdua yang di pojok, cepat duduk, dan kerjakan tugas kalian!" Andini dengan langkah cepat duduk kembali ke kursi nya. Sedangkan Jena masih diam di tempat.
"Itu yang masih berdiri di pojok, membelakangi saya. Kamu dengar tidak saya habis bicara apa?"
Dengan cepat Jena membalikan tubuh nya sambil menutup mata, lalu duduk di samping Andini. Tapi, Deva malah semakin masuk kedalam ruangan.
Ia berjalan ke arah Jena---oh tidak, dia berjalan ke arah Fero. Entah mereka membahas apa inti nya Jena dapat bernapas lega.
"Baik, kalau begitu selamat bekerja."
Deva berjalan menuju pintu, tapi, sedetik kemudian dia diam. Deva berbalik lalu menunjuk Jena.
"Kamu, sehabis istirahat ke ruangan saya."
Setelah itu, Deva benar-benar pergi dari ruangan ini. Jena sudah lemas, tidak tahu mau berbuat apa.
Sedangkan Andini dan para magang yang lain hanya dapat membantu menyemangati nya. Tapi, tanpa di sadar, ada yang tersenyum puas melihat kejadian ini.
Sesuai perintah Deva, Jena berjalan menuju ruangan Direktur. Atau ruangan Deva, seperti tadi, di sepanjang jalan menuju ruangan Deva, banyak yang menatap Jena dengan tatapan mengasihani.
Untung nya Andini mau mengantarkan Jena hingga ruangan Deva. Kalau tidak, rasanya dia perlu menyelamkan diri nya ke kolam ikan nya pak Ihwan—tetangga sebelah.
Saat sampai di depan ruangan pak Deva, Jena mengetuk pintu tersebut dengan perlahan, lalu menyuruh Andini balik dan mengucapkan terimakasih kepada Andini.
"Masuk!" Jena membuka knok pintu dengan perlahan.
"Duduk!" perintah Deva. Dengan perintah Pak Deva, Jena duduk di kursi yang kosong.
"Kamu tahu kenapa saya menyuruh kamu ruangan saya?" Tanya Deva dengan suara yang dingin. Jena menggukkan kepala nya.
"Kenapa?"
"Saya gak sengaja pak marahin bapak tadi sana, karena ke palang emosi... maaf pak,"
"Kamu magang ya?" Jena mengangukan kepala nya.
"Arjena Aditama. anak dari pak Aditama yang magang di perusahaan musuh ayahnya, apa kamu mata-mata?" selidik Deva.
"Saya---"
###
don't forget to follow my ig, @MOCHEERA and dreame account @MOCHEERA
see you!