"Saya---"
'tok' 'tok' 'tok'
"Masuk.'
"Pak, hari ini ada rapat sekitar lima menit lagi."
Ucapan Jena terpotong kala sekretaris Deva mengetuk pintu.
Deva menganguk, "Baik, saya segera bersiap-siap."
Sekretaris itu keluar dari ruangan. Sedangkan Deva menghela napas sambil menatap kearah Jena yang menunduk.
"Kamu kembali bekerja, dan ingat kami tidak akan membiarkan kalian memata-matai perusahaan kami, sudah sana kembali!"
Jena menganguk, lalu pamit dengan Deva. Saat keluar dari ruangan Deva, banyak mata yang melirik ke arah Jena. Jena pun berlalu menuju ruang magang dengan menunduk.
"Itukan yang di panggil pak deva dan yang neriakin pak Deva."
"Eh iya bener, kayaknya dia habis di marahin sama pak Deva deh," suara bisik-bisik terdengar jelas dari telinga Jena, tapi Jena bersikap biasa dan lebih memilih tak tersulut oleh ucapan orang-orang tersebut.
###
"Wait! gue gak salah denger kan? lo habis nabrak direktur di tempat lo magang? dan parah nya lagi lo malah neriakin sambil marahin dia? wah! Arjena.. luar biasa!'
"Ya habis gimana sifat kasar gue masih ada, aduh! harus gimana gue sekarang?" ucap Jena sambil mengacak rambut nya frustasi. Ariel dan Nana terkekeh mendengar nya.
"Makanya dari sekarang sifat kasar lo di kurangin, semoga aja lo gak ada kendali pas penilaian entar,"
"Ayo hibur gue dong, haduh.... ayo belanja kek, apa kek," kesal Jena kepada dua teman nya. Nana membuat gestur seperti ingin memberi tahu sesuatu, ia mengeluarkan ponsel pintar nya dari tas. lalu, memberi tunjuk Jena dan Ariel sebuah foto.
"Apaan nih? gak paham gue coba kasih tahu dong,"
"Ini itu adalah menu makanan yang akhir-akhir ini lagi hits, gue mau coba masak!" Kata Nana dengan sumringah saat memberitahu 'kan tujuan nya. "Masak? Gak!" Ucap Jena dengan tegas.
"Yah... kenapa nggak? masih baik gue mau hibur lo sama masakan gue," masakan Nana.. enak. Sangat enak! Tapi, Jena tidak mau atau sangat malas mencuci piring. Karena Ariel dan Nana pasti masak... jadi tugas Jena selalu mencuci piring karena ia tidak bisa memasak.
"Gini deh, kali ini gue yang cuci piring, biar Nana yang sepenuhnya masak. Kebetulan gue gak tau resep makanan nya apa," ucapan Ariel sukses membuat Nana menganguk dan Jena setuju.
Akhirnya karena mendapat persetujuan dari si pemilik rumah, Nana berjalan menuju dapur dan dengan lihai memasak. Sedangkan, Ariel, duduk di depan televisi. Ariel tengah menonton acara kesukaan nya di televisi.
Karena bosan, Jena berjalan menuju kamar nya, untuk beristirahat sebentar.
###
Langkah kaki terdengar dengan grasak-grusuk menuju pintu utama. Pintu utama di bel beberapa kali dengan cepat, Jena... melirik kesana kemari mencari keberadaan dua teman nya, tapi nihil. Dia tidak menemukan dua teman nya.
"Kemana mereka ya? Bukan nya tadi ada, kok udah ilang aja," Gumam Jena kebingungan, tapi suara bel pintu semakin kuat. Akhirnya, Jena berlari membuka pintu.
Dua orang laki-laki berdiri di depan pintu dengan wajah yang sama-sama kesal. Kedua orang yang Jena kenal, sedang memperebutkan sesuatu.
"Pak Deva? Leon?" Kedua orang itu menatap Jena yang masih kebingungan di depan mereka berdua.
"Mbak! Halo!"
"Halo Jena!"
Ucap kedua nya secara bersamaan, Kerutan semakin terlihat jelas di dahi Jena, semakin bingung dengan ini semua. Pertama, kedua teman nya yang tiba-tiba menghilang, lalu di hadiahi dengan Leon yang masih di luar kota, dan Deva yang tidak tahu alamat rumah nya di mana.
"Mbak jadi aku---"
"Jen, Jalan-jalan yuk!" Ucapan Leon terputus oleh Deva yang mengajak Jena untuk jalan-jalan. Tentu saja, Leon kesal dengan itu.
"Pak, saya duluan yang datang, bapak sadar diri saja sudah tua."
"Kamu yang anak kecil yang minggir, ganggu orang dewasa saja!" Balas Deva tak kalah sinis. "ADUH! APASIH? MENDING KALIAN BALIK DEH!"
"Jen, kok gitu sih? Jen! JEN!" Pintu rumah di tutup Jena dengan terpaksa. Jena memejamkan mata nya sambil menghela nafas, namun teriakan nama nya semakin kencang. Tetapi, bukan suara Deva, melainkan suara cempreng milik--- "JENA BANGUN! MAKANAN NYA UDAH JADI!" Suara Nana.
"Hah? Apa?" Kata Jena dengan tatapan bingung nya.
"Makanan nya udah jadi, oh, iya, tadi ada ibu-ibu yang dateng kesini. Katanya dia ART disini. Emang bener?"
"Iya bener, dia dimana sekarang?" Tanya Jena.
"Ada dibawah sama Ariel, tadi dia datang tiba-tiba sambil minta maaf karena balik pulang kerumah," Jena menganguk mendengar penjelasan Nana, dia berjalan dengan gontai menuju dapur tapi dengan sigap Nana memopong Jena yang hampir terjatuh.
"Kumpulin nyawa dulu,"
"Na, masa gue mimpi... Aneh banget,"
"Mimpi apa?" Tanya Nana sambil memopong Jena hingga dapur.
"Gue mimpi, rumah gue di gedor Pak Deva sama Leon," Kata Jena dengan wajah yang terlihat serius dan kebingungan menjadi satu.
"Hah? Demi apa? Pak Deva yang direktur tempat lo magang?" Jena menganguk.
"Terus, Leon, adik angkat lo yang baru-baru ini ke luar kota kan?" Lagi dan lagi Jena menganguk, Nana menutup mulut nya tidak percaya.
"Jangan-jangan..."
"Apa?"
"Cuman mimpi biasa, ayo turun!" Nana meninggalkan Jena, ia berjalan lebih dulu. Jena mengepalkan tangan nya ke Nana yang sudah duluan berjalan.
"Sambit juga lo!"
"Gak boleh kasar!" Sahut Nana dengan nada yang sedikit bercanda.
Sesampainya Jena di dapur, ia melihat banyak sekali makanan dan tentu saja dua teman dan ART di rumah nya.
"Widih, kayak nya enak nih. Ayo makan!" Jena berserta kedua teman nya duduk di meja makan, bersiap untuk makan. Sedangkan bibi Kisum berjalan menuju ruang tamu.
"Bi, ayo ikut makan sama kita!" Ajak Jena dengan senyuman manis nya.
"Lanjut non," Kata bi Kisum dengan senyuman yang tak kalah manis.
"Ih, ayo bi, ikut makan bareng kita!" Kali ini Ariel ikut bicara, dan Nana juga mengajak "duduk dulu bi, ayo coba masakan Nana."
"Yaudah kalau nona-nona maksa, duduk dimana saya non?"
"Di mana-mana bi, bebas."
Bi Kisum pun duduk di depan bangku Jena. "Bi Kisum, coba deh cake buatan Nana!" Nana mengambilkan Kisum kue bikinan nya. Kisum pun menerima dengan senang hati lalu mencicipi nya.
"Gimana?" Tanya Nana dengan sumringah. "Menurut gue Na..."
"Suttt, biar bi Kisum yang nilai!" Nana menyuruh Ariel yang mau mengutarakan penilaian nya untuk diam.
"Ini.... Eum... Enak!"
'Ting'
Jena yang sedang fokus makan, kini melihat ke arah handphone nya yang mendapatkan pesan.
Nomor tidak di kenal ;
Arjena betul?
Saya Kadeva, saya rasa pembicaraan nya kita belum selesai.
Saat mengetahui pesan dari siapa lewat lockscreen, dengan segera Jena mematikan paketan dan handphone nya.
"Jen! Ada apa?" Tanya Ariel yang tidak sengaja menatap Jena yang terlihat agak panik.
"Gapapa," Jawab Jena dengan seyakin mungkin, tapi tetap saja. Ariel tidak secepat itu untuk percaya.
###
Thank you buat para readers! Sambil baca jangan lupa cerita nya di masukkin ke perpustakaan yaa, biar tau kapan aku uptade! Dan jangan lupa buat follow akun ini. See you! ?