Jena datang ke pemakaman, tepat saat orang-orang sudah pada pulang dan yang tersisa hanya maminya. Leon sedari tadi memegang infus Jena agar tidak copot. Sedangkan Jena berjalan dengan sangat cepat agar dapat menghampiri maminya. "Mami!" Wenda yang tengah menangis, menatap kearah orang yang memanggilnya sembari menghapus bekas air matanya. Wenda memberikan Jena senyuman sendunya. Jena langsung merengkuh badan maminya dan mengusap nya beberapa kali. "Mami adalah istri sekaligus mama terkuat yang Jena pernah lihat, di saat ada masalah mami tetap ngeluarin senyuman mami," Puji Jena yang bermaksud untuk menghibur ibunya. "Terimakasih, kamu juga Nak. Ada yang mau kamu ucapkan?" Tanya Wenda sambil menunjuk kearah tumpukan tanah dengan batu nisan yang berdiri di atasnya, dengan dagunya.

