"Terus gimana ... Papi...." Lirih Jena, ia tidak akan menyangka hal ini akan terjadi cepat pada papinya. "Kita tunggu sampai jenazahnya di bawa besok pagi ke rumah," Kata Leon. Jena terlalu blank dalam hal seperti ini. Buktinya dia tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang di katakan oleh Leon. Di pikiran nya hanya papinya. Leon mendekat, lalu mengelus telapak tangan Jena sebelah kiri, guna untuk Sedikit menenangkan Jena. "Udah kak, ikhlas ya," Hibur Leon. "Lo gak ngerti posisi gue, jangan sok ngehiburin deh!" Ucap Jena dengan emosi yang membludak. Bahkan tangan Leon di hempas begitu saja. Leon menghela napas, dia tau mbaknya sedang dalam masa terpuruknya jadi emosi yang dimiliki mbaknya naik turun seperti sekarang. "Leon tau mbak rasanya, bahkan Leon ditinggal dua-duanya. Da

