Bagian 38 : Berantem

1032 Kata
"Mbak Jena ngapain kok bisa ada disini?" Tanya Leon yang ke-puluhan kalinya. Jena dan Leon posisinya sedang samping-sampingan dengan masing-masing membawa kardus besar di tangan mereka. Jena berdecak mendengar pertanyaan Leon, "lo nanya mulu kayak Dora, intinya gue sering kesini." Setelah mengatakan hal tersebut, ia pergi meninggalkan leon sendirian disana. Jena berjalan menuju Juna dan juga Zana yang sedang membuat minuman. Jadi panti asuhan sedang melakukan renovasi di beberapa bagian. Dan berakhirlah jena membantu memindahkan barang-barang. "Sini mbak, Juna bantu," Juna mengambil alih kardus besar tersebut dari tangan Jena lalu membawa nya ke gudang. Jena mendekati Zana yang sibuk membuat es. "Deket banget kelihatannya sama Juna, padahal baru tadi ketemu," goda Jena "Gak gitu Nyojen..." kata Zana dengan pipi yang memerah akibat godaan Jena. Jena yang melihat zana tersipu mulai menertawainya. "Oh iya Nyojen! kalau boleh tau, hubungan Nyojen sama pak Leon apa ya? kok kelihatannya kayak adik kakak gitu." Jena diam, tidak lama dari itu orang yang baru di bicarakan tadi datang dengan wajah polos dan keringat yang bercucuran pada pelipisnnya. "Mbak, ini mau di taruh dimana?" tanya Leon pada Jena. "Segitu doang udah ngos-ngosan, lemah?" Zana menganga tidak percaya mendengar ucapan Jena yang terkesan ketus dan judes. Dia panik kalau semisal Leon akan tersinggung, mengingat mereka adalah rekan kerja. "Tadi Leon di ganggu adik-adik lain jadi ya ngos-ngosan. Lemah-lemah gini Leon kuat kalau dalam masalah men---" Jena menatap datar kearah Leon, "apa?" tanya Jena ketika Leon tiba-tiba diam dan tidak melanjutkan ucapannya. "Gak papa mbak, ini nasib kardusnya gimana mbak?" Jena menunjuk kearah gudang yang lumayan jauh dari tempat Leon berdiri. "Yaudah kalau gitu permisi ya mbak," pamit Leon, Jena mengangguk. "Assisten tuh anak kemana Zan?" tanya Jena pada Zana yang sedang menuangkan minuman ke beberapa gelas. "Pak Jilan maksud Nyojen? dia tadi kalau gak salah lagi bantu renovasi bangunannya bareng kuli-kuli lainnya. Ini minumannya mau saya antar kesana," jawab Zana. Jena berdiri lalu mengambil satu nampan berisi sembilan gelas minuman dan beberapa gorengan. "Biar saya yang bawa satu nampan," kata Jena. Jena berjalan membawa nampan berisikan gelas es tersebut menuju tempat kuli bekerja. Disana Jena bertemu dengan Leon dan juga Juna yang sedang berbicara berdua dengan asik. Jena bingung, bukannya tadi mereka sedang menaruh barang di gudang tapi, kenapa mereka bisa ada disitu. Tapi memang jarak antara gudang dan tempat yang direnovasi dekat. "Kalian kalau memang gak bantu apa-apa mending pulang," sindir Jena ketika melewati mereka berdua. Sindiran itu Jena khususkan untuk Leon. "Eh mbak Jena! kita tadi mau bantu, tapi bunda gak ngasih. Jadi yaudah kita ngobrol, kalau ada kerjaan lain bisa mbak kasih tau biar kita kerjain," balas Juna ketika melihat Jena dan menyindir dirinya dan juga Leon. "Adik-adik panti yang lain butuh teman main tuh, dari pada kalian gak punya kerjaan mending kalian bantu jagain mereka." Jena meninggalkan mereka dan membawa nampan berisikan gelas tersebut pada para kuli-kuli tersebut, "ini pak, silakan diminum esnya," ucap Jena. "Terimakasih!" Jena mengangguk lalu pergi dari sana. Satu hal Jena ingat, Juna dan Leon sudah tidak ada di tempat tadi, Jena yakin mereka mendengarkan perintah jena dengan baik. ### Jena, bu Yanti, dan juga Zana sedang memasak sambil ngerumpi layaknya ibu-ibu lainnya. Jena mengupas buah-buahan, Zana sedang memotong sayuran dan bu yanti sedang memasak makanan inti. Sebenarnya banyak pekerja panti yang membantu bu yanti untuk mengurus panti asuhan tapi, banyak dari mereka yang tidak bisa ikut ataupun pulang kampung. "Bu, ini Dirga katanya lapar," Leon masuk ke dapur sambil menggendong satu anak kecil laki-laki yang bernama---Dirga. Jena dan yang lainnya secara serempak menoleh kearah Leon. "Siniin!" ucap Jena sambil menepuk pahanya. Leon mendekati Jena sembari membawa Dirga menuju Jena. Selepas itu, Leon menyerahkan Dirga ke Jena dan di ambil oleh Jena. Jena mendudukkan dirga ke pahanya lalu menyuapi anak itu beberapa buah yang dia kupas. "makan buah dulu ya, nasinya nanti." Leon mengusak rambut Dirga yang sedang menikmati buah yang diberikan oleh Jena. Tiba-tiba Zana berceletuk, "Kalian di kantor kayak rekan kerja, kalau berdua kayak tom dan jerry, sekarang kayak pasutri." bu Yanti yang mendengar celetuk 'kan dari Zana tersebut hanya tersenyum. sedangkan Jena menatap Zana tatapan garangnya. "Mau potong gaji kamu Zan?" Zana tersenyum canggung sambil memberikan gestur tangan meminta maaf. "Maaf Nyojen, saya bercanda," "Udah lo pergi aja sana, nanti bu Yanti panggil kalau makanan udah siap. Ini bawa juga ke adik-adik yang lain kalau mereka lapar," kata Jena pada Leon sambil memberikan Leon dua piring berisikan buah-buahan yang telah dia kupas. "Oke mbak," Leon membawa dua piring berisikan buah-buahan yang sudah di kupas oleh Jena ketempat adik-adik panti berkumpul. Jena terus mengupas buah-buahan dengan Dirga di pangkuannya. "Masih belum akrab sama Leon?" pertanyaan yang tiba-tiba di lontarkan oleh bu Yanti dan di tujukan pada Jena. Jena diam, lalu membalas pertanyaan bu yanti dengan seadanya. "Dia udah deket sama Jena, tapi Jena nggak." "Mami mu kadang cerita ke ibu masalah kalian," kata bu Yanti. Zana hanya diam tidak tahu apa-apa, takutnya jika dia bertanya maka gajinya akan menjadi tumbal. "Ya begitulah," bu Yanti menggelengkan kepalanya ketika mengingat Wenda---ibunya Jena bercerita tentang jena yang susah menerima Leon dalam keluarga mereka. "Ayo bantu ibu membagi lauk dan juga nasinya," kata bu Yanti. ### "Nyojen, hari ini kita ada rapat masalah salah satu artis dari crill entertaiment untuk menjadi brand ambassador," ucap Zana pada Jena yang sedang menyuapi salah satu anak panti sana. "Oh iya? Ok, selesai ini kita langsung ke kantor." Leon yang tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Zana dan juga Jena mulai ikut gabung dalam pembicaraan. "Pemilihan artis juga harus di rapatkan?" Jena menatap kearah Leon dengan satu alis yang terangkat. "Memangnya kenapa? Saran dari para karyawan itu penting." "Menghabiskan banyak waktu? Lebih baik waktunya di gunakan untuk meningkatkan kualitas produk," Jena menatap Leon dengan datar. "Lalu? itu adalah perusahaan saya sendiri. Jadi saya berhak atas apapun mengenai perusahaan saya. Menurut saya kesepakatan dengan karyawan adalah yang terpenting dan bukannya mengambil keputusan sendiri," jawab Jena dengan tegas. Jilan, Zana, Juna, bahkan bu Yanti menatap kearah Jena dan juga Leon. Leon langsung gegelapan ketika seluruh atensi jatuh padanya dan juga Jena. "Maaf cuman menyarankan." kata Leon, Jena hanya mengangguk dan kembali menyuapi adik panti tersebut. Zana bernapas lega karena tahu atasannya ini berdarah dingin tapi tidak terpancing emosi begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN