"Selamat siang."
"Selamat siang juga nyojen," Zana membalas sapaan dari atasannya dengan senyuman terbaiknya.
"Maaf terlambat, tapi di jalan ada orang kecelakaan makanya macet," kata Jena.
Zana mengangguk, "tidak apa-apa Nyojen. bagaimana dengan hasil sidangnya?" tanya Zana setelahnya.
"Lulus. dan bagaimana perkembangan kantor selama saya tidak ada?"
"Perkembangan kantor meningkat, banyak konsumen yang tertarik dengan produk kita. Nyojen, Aditama'corp terus mengirimi email permintaan kerja sama. Kalau boleh tau alasan nyojen menolak apa ya? maaf sebelumnya, tapi kerja sama ini sangat menguntungkan bagi kita."
"Intinya terus tolak email kerja sama dari aditama'corp," kata Jena dengan final.
Jena berjalan menuju ruangan per-team untuk memeriksa perkembangan produk baru dalam per-team atau per-divisi.
"Team foundesion, bagaimana perkembangannya?" tanya Jena.
Salah satu dari mereka yang jena ketahui adalah kepala team membalas pertanyaan jena dengan senyuman yang ramah, "aman Nyojen. Kami sudah menyiapkan beberapa sample dan dokumen dari sample untuk Nyojen pertimbangkan."
"Bagus kalau begitu, langsung antarkan dokumennya saja ke ruangan saya. Semangat terus!"
"Terimakasih Nyojen!"
Jena pergi dari ruangan team tersebut dan jangan lupa di iringi oleh Zana dari belakang. Selesai dari team foundesion, jena juga bergerak untuk menuju ruangan team-team lain.
Selesai berkeliling menuju ruangan per-team, akhirnya Jena kembali ke ruangannya. Jena duduk di kursinya sambil merebahkan badannya disana untuk merehatkan diri sebentar. Tidak lama dari itu, suara ketukan di pintu ruangannya membuat Jena kembail menegakkan tubuhnya.
"Zan, suruh dia masuk!' perintah Jena pada Zana. Zana pun segera melaksanakan perintah yang diberikan oleh Jena.
"Silakan masuk," kata Zana sambil membukakan orang tersebut pintu.
Orang tersebut masuk lalu, berjalan mendekat sambil membawa tumpukan kertas berfolder atau dokumen ke meja Jena, "saya kepala team foundesion mau memberikan dokumen sample team kami," kata orang tersebut.
"Pastikan semuanya sudah lengkap dan memiliki data salinan."
"Seperti biasa sudah Nyojen. kalau begitu saya permisi dahulu, mari."
Jena mengangguk, kini ia mengambil satu dokumen dan membaca dengan seksama. Jena adalah tipikal orang yang tidak suka menunda-nunda pekerjaannya. karena bagi dia, waktu luang lebih baik dari apapun.
"Nyojen, crill entertaiment baru saja memberikan beberapa list artis yang cocok untuk menjadi brand ambassador kita," kata Zana.
"Kirimkan ke surel saya, besok sebisa mungkin adakan rapat. Optini dari paa karyawan sangat berguna bagi saya," tukas jena dengan tegas.
Zana mengangguk lalu, ia menyiapkan undangan rapat untuk para karyawan di dalam grup chat. Sedangkan Jena fokus memeriksa segala dokumen yang menumpuk di atas mejanya.
Jena tiba-tiba terpikirkan untuk membuat syukuran kecil-kecilan atas kelulusannya di panti asuhan. Dengan segera Jena kembali mengerjakan segala tugasnya agar cepat selesai.
###
Sudah sore dan Jena sudah menyelesaikan segela tugasnya. Ia memanggil Zana untuk membantunya membereskan dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja kerjanya.
"Zana setelah membereskan dokumen-dokumen ini bisa ikut saya tidak? tenang saja nantii gaji kamu saya naikkan," ucap Jena. mendengar kata gaji, Zana langsung menatap binar dan mengangguk dengan semangat kearah Jena.
Jena pun bersiap-siap dengan memperbaiki penampilannya di depan kaca besar yang dia taruh di dekat meja kerjanya.
Setelah semuanya beres, Jena mengajak Zana untuk langsung ke mobil. Zana duduk di samping kursi samping kursi supir agar dirinya tidak dimarahi oleh boss kesayangannya.
"Ngomong-ngomong kita mau kemana Nyojen?" tanya Zana.
"Kita ke toko makanan dulu baru ke panti asuhan. Saya butuh bantuan kamu untuk berbelanja doang sih. Kalau semisal kamu mau ikutan pergi ke panti asuhan juga saya tidak masalah, malah itu adalah pilihan yang bagus," ucap Jena dengan jelas.
"Tentu saja saya mau Nyojen!" kata Zana dengan semangat. Jena mengangguk dengan senyuman manisnya dan mula menancapkan gas mobilnya menuju toko makanan. Mereka selesai belanja pada malam hari, jadi Zana mengusulkan untuk pergi ke panti asuhannya besok. selain karena sudah malam dan mereka adalah wanita, anak-anak panti juga sekarang sudah pada terlelap.
Jena menyetujui hal tersebut, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Dengan Jena yang mengantarkan zana pulang lalu di susul oleh dirinya.
Kepulangan dirinya langsung di sambut baik oleh bi Kisum. bi Kisum juga sempat bertanya ketika melihat Jena membawa dua plastik besar yang berisikan jajan-jajanan dan beberapa minum s**u untuk anak-anak.
"Itu apa non? sini bibi bantu bawakan," Jena menyerahkan satu kantong plastik, dan di sambut baik oleh Kisum.
"Ini apa? Non, kalau boleh tau."
"Sesuatu bi, hehehehe... oh iya, mami gak ada tanda-tanda mau pulang gitu bi? minggu depan anak sulungnya wisuda, hehehe,'' kata Jena dengan kekehan dan nada yang lirih.
"Loh jadwal wisudanya udah dapet non?" tanya Kisum. Jena mengangguk sebagai jawabannya.
"Wah! nanti coba bibi hubungi nyonya besar. bibi pastiin nyonya besar buat dateng ke acara wisudanya nona!" tukas Kisum dengan semangat yang membara.
"Gak usah bi kalau di memang tidak bisa, tadi jena sudah mengirimkan jadwal wisuda Jena ke mami. kalau dia sadar itu penting, pasti dia bakal dateng. kalau gitu Jena tidur dulu ya bi, goodnight."
Jena melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri. bi Kisum hanya menatap punggung Jena dengan tatapan lirih dan sedih mendengar ucapan Jena. ia tidak heran mengapa jena jarang sekali pulang ke rumah. karena Jena mencari kehangatan di luar sana yang tidak bisa ia dapatkan dirumahnya sendiri.
###
Jena berangkat sekitar jam sembilan pagi menuju panti asuhan. Sebelum itu, dia sempat menjemput Zana terlebih dahulu karena perempuan itu ingin ikut dari kemarin. Sekarang disinilah Jena, menunggu Zana sedang bersiap dengan di temani oleh ibunda dari Zana yang ramah seperti anaknya.
"Bu bos, maaf semisal Zana agak lemot dalam mengerjakan tugas yang bu bos kasih. Dia emang berkepribadian kayak gitu.''
"Bu astaga jangan panggil saya bu bos, saya diluar kantor hanya temannya Zana. panggil Jena saja bu," kata Jena mengoreksi panggilan yang di berikan oleh ibu assistennya.
"Tetap saja,"
"Nyojen, maaf menunggu, sekarang saya sudah siap."
"Astaga panggil Jena aja Zan, ini diluar kantor."
"Udah Nyojen gak papa. bu, Zana pergi dulu ya!" pamit Zana sambil menyalami tangan ibunya. begitu juga dengan Jena yang ikut menyalami dan berpamitan dengan ibunya Zana.
"Hati-hati ya kalian!"
Mereka berdua pergi dari sana dan membawa mobil menuju panti asuhan. ternyata jarak rumah Zana dengan panti asuhan cukup dekat, jadi mereka hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk sampai.
Sesampainya di sana, hal tidak terduga terjadi. di mana hal itu adalah bertemunya ceo yuan'corp dan juga pemilik crill entertaiment.
"Lo ngapain di sini?" tanya Jena dengan nada ketusnya.
"Harusnya Leon yang tanya, mbak Jena ngapain di sini?" tanya Leon balik.
Kedua asissten mereka menatap kedua atasan mereka dengan tatapan terkejut, "mereka adik kakak?" tanya mereka berdua dalam benak mereka.
"Loh ada apa ini?" bu Yanti keluar dari panti asuhan dengan Juna yang sedang mengangkat sebuah kardus.