Bagian 36 : Kerja Sama

1099 Kata
Hari ini adalah hari yang menegangkan bagi Jena. enapa demikian? karena hari ini Jena akan sidang skripsi. Bi Kisum yang memang mengetahui hal tersebut malah panik dan gugup. "Non Jena sini saya pilihkan baju yang rapi." "Gak perlu bi, Jena bisa cari sendiri pakaian Jena. Bibi siapkan sarapan saja biar cepat," jawab Jena dengan senyuman manis nya. "Sarapan mah udah beres non dari subuh tadi, apa nona Jena mau tambahan makanan?" tanya bi Kisum. "Eh! jangan bi, udah segitu aja. Makan banyaknya nanti aja selesai sidang, biar keburu." "Kalau gitu bibi turun kebawah ya, ajak nona ngobrol malah nyita banyak waktu," kata bi Kisum yang di balas anggukan oleh Jena. Setelah di tinggal turun oleh bi Kisum, Jena langsung bersiap menggunakan pakaian bebas rapi dan bersih. Ia hanya mengandalkan kepercayaan diri dan juga pemahaman tentang skripsi nya. Selesai bersiap, Jena langsung turun kebawah untuk sarapan dan sudah ada bi Jisum yang merapikan semua hidangan untuk Jena santap diatas meja. Jena menyapa bi Kisum dengan senyuman manisnya. "Selamat pagi," "Pagi nona, tadi sudah di atas tapi gak papa. Ayo nona langsung duduk dan makan sarapan nya biar gak terlambat kesana," Jena menganggukkan kepalanya lalu, duduk seperti apa yang bi Kisum perintahkan. Bi Kisum terlihat seperti robot yang bekerja terus menerus. Sedari tadi ia juga tidak henti-hentinya mengajak Jena berbicara. Entah itu sekadar petuah atau bahkan kata-kata penyemangat. "Intinya ya non, kalau semisal gak keterima tapi semoga aja gak kejadian ... kalau di keadaan kayak gitu jangan langsung putus asa non. Masih ada kesempatan lainnya." Jena megangguk, "iya bi, iya. Jena tau kok. Nanti sepulang jena dari sidang, bibi harus masakin jena masakan terenak bibi. Entah apapun hasilnya." "Siap kalau gitu non!" kata Bi Kisum dengan semangat yang masih membara. Tiba-tiba satpam depan rumah masuk dengan sopan, "nona Jena. sudah waktunya berangkat," kata satpam tersebut dengan senyuman. Jena bangun dari posisi duduknya lalu ia ikut dengan satpam itu menuju luar. "Nona Jena jangan lupaiin kata-kata bibi tadi," kata bi Kisum sedikit teriak karena Jena yang hampir menjauh dari dirinya. "Iya bi!" jawab Jena yang ikut teriak karena takut bi Kisum tidak dapat mendengar suaranya. Jujur sebenernya Jena berharap mami nya ada saat ia akan melaksanakan sidang yang dimana hanya terjadi satu kali seumur hidup Jena. tapi nasib mami dan juga papi nya yang sama-sama sibuk. "Kasian nona Jena, pasti di keadaan kayak gini dia berharap di temani oleh kedua orang tuanya," ucap bi Kisum dengan lirih dan pandangan yang tertuju pada pintu utama. ### Sepulangnya Jena dari sidang bi Kisum memasakkan banyak sekali makanan dan minuman untuk Jena. Jena saja sampai tertegun melihat banyaknya makanan di atas meja makan. "Bi, ini mah banyak banget tau bi." "Udah non Jena makan dan minum aja sepuasnya, kalau bersisa nanti bibi bawa pulang dan bibi bagi ke tetangga bibi nanti," kata bi Kisum dengan senyuman manisnya. Kisum tidak menanyakan hasil dari sidang skripsi Jena, ia malah terus mengajak Jena membahas hal lain, seperti sekarang ia membahas tentang salah satu resep makanan nya. "Bibi gak penasaran sama hasil sidang Jena?" tanya jena. "Apa pun hasilnya, bibi tau itu yang terbaik untuk nona Jena," kata bi Kisum. tentu saja jena yang mendengarnya tersentuh saat itu juga. "Jena lulus, bi. besok Jena tinggal wisuda doang, hehehe...." "Wah syukurlah ... kan, bibi bilang juga apa, pasti hasilnya adalah yang terbaik untuk nona Jena," kata bi Kisum dengan wajah sumringahnya. "Iya---" "Permisi!" Jena dan bi Kisum otomatis menatap kearah pintu utama yang memang berdekatan dengan ruang makan. "Bibi lihat dulu ya non," Jena mengangguk. Ia melanjutkan makan nya dan bi Kisum yang pergi untuk melihat siapa yang bertamu seginian. Tidak lama dari itu, bi kisum kembali dengan membawa satu surat. bi Kisum langsung memberikan surat tersebut pada Jena. "Mas-mas tadi yang ngasih. Kalau gak salah inget, mas-mas itu pernah dateng pas ada Leon," kata bi Kisum. Jena memperhatikan surat yang ada di atas meja dengan tatapan bertanya-tanya dengan isi surat yang dia dapatkan. Karena sebelumnya, nama pengirimnya sudah tertanda jelas di pinggiran surat. Tidak mau terlalu memusingkan Jena memilih untuk menghabiskan makanan nya dengan cepat, dan pergi membaca suratnya nya setelah itu. Beberapa menit kemudian, dia merasa bahwa kapasitas perutnya sudah cukup dan pamit untuk ke atas pada Bi Kisum. di kamarnya, Jena duduk di atas kasur dengan yang berisi surat dari mantan direkturnya sekaligus teman SMPnya dulu. "Deva tumben ngasih surat," gumam Jena. ia membuka surat tersebut lalu membacanya. Isi surat tersebut adalah ucapan selamat atas kelulusan nya dan juga sebuah undangan pernikahan. Jena baru membaca setengah isi surat tersebut, dia pun menaruh surat tersebut di atas meja begitu saja. Dan persekian detik dia tertidur. ### Jena terbangun pada pagi hari. Tidur panjang membuat badannya terasa kaku dan sakit. apa lagi di bagian leher. Tapi hari ini dia harus kembali mengurusi perusahaannya sendiri. Ah, jena lupa memberitahukan kepada maminya tentang kelulusan dirinya. Jena yakin, jika maminya mengetahui hal tersebut, pasti Jena akan langsung di suruh untuk memimpin perusahaan papinya, hal ini karena Jena adalah satu-satunya ahli waris yang sah. Jena bangun dan bersiap untuk menuju ke kantornya. Tidak butuh waktu lama untuknya bersiap, hanya membutuhkan beberapa menit saja. Karena jena adalah orang yang mengandalkan parfum bukannya sabun. "Nona Jena mau kemana?" tanya bi Kisum ketika tidak sengaja melihat Jena bersiap saat dirinya sedang mengepel lantai atas. "Oh, ini mau ke rumah temen dulu, bantuin dia skripsian." "Kalau gitu hati-hati ya non," ucap bi Kisum dengan ramah. "Iya bi," balas jena. Selesai bersiap, Jena tidak sengaja menatap kearah surat yang berada di atas mejanya. Dengan tergesa, Jena mengambil surat itu dan memasukkannya kedalam tas bersamaan dengan ponsel dan juga dompetnya. Setelah itu barulah Iena berangkat tanpa sarapan pagi, karena dirinya yang sudah kenyang akibat makan terlalu banyak kemarin dan berakhir dia meminta bi kisum untuk tidak membuatkannya sarapan. Di perjalanan, Jena terkena macet dengan alasan yang tidak di ketahui jena. Jena pun menurunkan kaca mobilnya lalu bertanya ke salah satu pengguna sepeda motor di sampingnya. "Pak! kalau boleh tau di depan ada apa ya? soalnya saya lihat macet sekali sampai dari tadi gak selesai-selesai." "Di depan ada kecelakaan bu, kalau gak salah kecelakaan motor mobil," balas orang tersebut. "Yaudah kalau gitu pak, terima kasih." "Iya bu, sama-sama," balas orang tersebut. Jena menaikan kaca mobilnya, lalu menghela napas sembari menyederkan badannya ke kursi pemudi. Tiba-tiba dia mendapatkan pesan dari Zana---atau assistennya Jena kalau perusahaan keluarganya atau aditama'corp lagi dan lagi memaksa mereka untuk bekerja sama. Jena sampai tidak habis pikir dengan yang terjadi. Kenapa perusahaan keluargnya sangat memaksa perusahaan kecilnya untuk bekerja sama? pikir Jena dalam hati. Setelah itu Jena kembali menghela napas lalu, memejamkan matanya sejenak untuk mensegarkan pikirannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN